Download
Download Faithfreedompedia versi offline (17.7MB):

Faithfreedompedia.zip
Link Utama
FFI | Portal | Forum

Zakaria Boutros: Kebiasaan Sex Menyimpang sang Nabi

Dari Faithfreedompedia
Langsung ke: navigasi, cari
Pendeta Koptik Mesir Zakaria Boutros.

Sumber:

Tayangan Life TV : Father Zakaria Botros mengenai:

“Kebiasaan Seks Menyimpang sang Nabi”


Baru-baru ini Father Zakaria Botros menyiarkan sebuah tayangan TV yang didedikasikan utk mendiskusikan moralitas dan bagaimana seharusnya hal itu menjadi salah satu pilar penunjang dari “KENABIAN”.

Awalnya, dia mengajukan pertanyaan:

“Apakah Muhammad sang nabi adalah manusia bermoral – manusia paling lurus, pantas utk ditiru oleh seluruh dunia?”

Dia membuka tayangan TV ini dengan mengutip Ibn Taymiyaa, yang menyebutkan pertanda dari kenabian. Taymiyya mengungkapkan bahwa banyak terdapat nabi-nabi palsu, seperti Musailima “si pembohong”, yang sejaman dengan Muhammad. Taymiyya menyebutkan pula bahwa mereka yang mengaku nabi2 itu, pada kenyataannya, ‘kerasukan’ belaka, dan satu-satunya cara utk menentukan keaslian nabi adalah dengan memeriksa/meneliti biografinya (sira-nya) dan perbuatan2 baiknya, dan amatilah apakah orang itu pantas menyandang gelar nabi atau tidak.

Karena ini adalah satu dari beberapa episode yang ditujukan utk menelaah konsep moral dan kenabian (dengan pemikiran bahwa yg pertama (moral) memperkuat yang kedua (kenabian)), tema utk episode ini adalah ‘kesucian’ (tahara): “Apakah Muhammad adalah manusia ‘suci’?” – dalam konteks ini, sebuah pertanyaan mengenai kebiasaan2 seksualnya mencuat.

Setelah pendahuluan tsb, Botros menatap kamera tajam2 dan memberikan peringatan:

“Episode ini untuk orang dewasa! Saya akan mendiskusikan banyak hal yang akan membuat saya sendiri malu,
jadi, please! Wanita dan anak-anak dipersilahkan keluar.”

Lalu dia meminta para muslim yg menonton utk terus bertanya dalam hati “Inikah nabi yang kuikuti?” ketika pada mereka ditampilkan kebiasaan-kebiasaan seksual muhammad.

Bagian Pertama

Pertama, dari Quran, Botros membaca ayat-ayat yang tak pelak lagi menyatakan bahwa Muhammad adalah “Suri Tauladan yang sempurna dalam hal kebaikan dan moral. “[68.4] Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Lalu dia mengutip dari para Ulama, seperti Ibn Kathir, yang berkeras bahwa Muhammad adalah “termulia diantara para manusia dan terbesar diantara para nabi.”

Botros dan seorang presenter TV – Father Botros berkeras meminta presenter tersebut seorang pria, khusus untuk acara ini saja, dia takut lebih malu lagi menceritakan kebiasaan2 seks yg menyimpang dari Muhammad jika sang presenter itu adalah wanita – lalu

mendiskusikan ayat Quran 4.3, yang ‘membatasi’ jumlah istri muslim hingga Empat Orang,
plus ‘apa yang tangan kananmu miliki,’ yaitu para budak wanita.

'Tapi ternyata itu saja tidak cukup bagi Muhammad, tegas Botros; seluruh isi ayat itu ‘harus diturunkan’ hanya utk membenarkan dan/atau mengesahkan lebih banyak lagi wanita untuknya (Quran 33.50 Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).

Malah, Father Botros telah dengan cermat menyusun seluruh wanita
– semuanya ada 66 orang – yang tercatat pernah punya hubungan seks dengan Muhammad.

Botros bilang itu adalah normal; menurut Sirat al-Halabi, Muhammad bisa mendapatkan wanita manapun juga, bahkan jika si wanita itu tidak mau sekalipun; dan jika Muhammad kepingin wanita istri orang lain, sang suami harus menceraikannya. Menurut Ibn Sa’ad, yang menulis biografi resmi lain tentang Muhammad, “Sang Nabi tidak akan mati hingga semua wanita membolehkan dia” (lihat Kitab Al-Tabaqat Al-Kubra, v.8, hal 194).

Sang Presenter TV, dengan tiba-tiba, menginterupsi –

“Bagaimana dengan gosip tentang Muhammad memperlihatkan kecenderungan homoseksual?”

Botros menjatuhkan wajahnya ketangan dan bergumam, “So, kau masih berkeras ingin kita membicarakan itu?” sang Presenter memaksa sambil berkata bahwa ini demi kebaikan para muslim sendiri yang patut mengetahui segalanya.

Dengan demikian Botros, setelah berkali-kali meminta maaf pada para pemirsa muslimnya, sambil mengatakan betapa hal ini sangat memalukan baginya berkata:

“Look! Kami cuma pembaca doang disini, membacakan apa yang kami dapat sendiri dari buku-buku islam!
Jika para muslim tidak suka, mereka harus membakar buku-buku islam itu langsung, jangan membakar orang yang membacanya.”

Anekdot pertama yang dibicarakan sang Father berputar sekitar sebuah hadis yang, oleh sementara Ulama disebut ‘lemah’, tapi meski demikian, menurut Botros telah muncul dalam 44 buah buku-buku islam dunia – termasuk beberapa koleksi yang sangat dihormati seperti Hadis Sunan Bayhaqi dan Al-Halabi.

Menurut Hadis ini, seseorang bernama Zahir,

yang selalu mengatakan pada setiap orang bahwa “sang nabi mencintaiku,”
berkata bahwa satu hari Muhammad mengendap-endap dibelakangnya dan memeluk dia dengan ketat.
Zahir, yang kaget, berteriak sambil meronta untuk melepaskan diri, “Lepaskan aku!”
setelah berpaling dia melihat bahwa yang memeluknya adalah Muhammad, dia berhenti meronta
dan langsung “menyandarkan punggungnya pada dada Muhammad – doa-doa dan berkah untuknya.”

Hadis ‘nyeleneh’ lainnya ada dalam Sunan Bayhaqi dan bisa dilacak hingga ke Hadis Sunan Abu Dawud (satu dari enam koleksi Hadis tersahih), yang menyatakan bahwa Muhammad mengangkat baju depannya bagi seorang pria yang mana pria itu langsung menciumi seluruh tubuhnya, “dari pusar hingga ke ketiak.”

Botros menatap kamera dengan muka yang ‘aneh’ sambil berkata, “bayangkan jika Sheikh Al Azhar (Persamaan paling dekat bagi para muslim untuk Sang Pausnya kaum Katolik) berkeliling mengangkat-angkat bajunya agar para pria bisa menciumi tubuh itu” (sang Father Botros lalu membuat bunyi-bunyian seperti ciuman, utk menambah efek perkataannya).

Sang Presenter berkata: “Pastinya masih ada yang lain lagi?”

Botros: “Tentu saja ada. Tidak kurang dari 20 buku Islam – seperti hadisnya Ahmad Bin Hanbal – menyatakan bahwa Muhammad suka mengisap lidah2 anak lelaki dan anak perempuan”…

Bagian 2

Botros lalu membacakan keras-keras hadis-hadis tersebut dari beberapa sumber, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huraira (orang yang dianggap paling diandalkan sebagai periwayat hadis), dimana Muhammad mengisap lidah dua anak Ali (calon Kalifah masa depan), Hasan dan Hussein.

Lalu dia membacakan sebuah hadis dimana Muhammad mengisap lidah anak perempuannya sendiri, Fatima. Father Botros juga menambahkan bahwa kata Arab utk ‘mengisap” (muss) tidak bisa, seperti yang disebutkan oleh para pembela islam, berarti lain selain dari ‘mengisap.’ Lagipula, tambahnya, “ini adalah kata yang persis dipakai ketika membicarakan ‘kegiatan’ Muhammad bersama istri-istrinya, khususnya dengan ‘istri bocah’ kesayangannya, Aisha.”

Dengan tampang yang sepertinya jijik, Botros berpaling pada kamera dan berkata:

“Wahai para wanita, bayangkan sejenak, anda pulang kerumah lalu mendapatkan suamimu
mengisap lidah anak perempuanmu? Apa yang akan kau lakukan? Lebih gila lagi:
Nabimu sendiri – orang yang katanya “PALING BERMORAL SEDUNIA”, orang yang katanya,
harus diikuti suri tauladannya oleh dunia! Orang yang ada tercatat dalam hadis,
mengisapi lidah istri-istrinya, anak perempuannya, dan anak2 lelaki:
Apakah kegiatan-kegiatan orang ini dijelaskan oleh Quran sebagai puncak dari KESEMPURNAAN MORAL?”

Presenter: “Lanjutkan!”

“Muhammad tidak akan tidur sebelum dia mencium anak perempuannya Fatima dan menggesekkan kepalanya
pada dada sang anak (Father memberikan sumber-sumber sahihnya). Dear Lady! Kalian mau berkata apa
jika suamimu tidur dengan muka didada anak perempuanmu? Apakah ini moral tinggi?!”

Lalu Father Botros, menunduk, dan meminta maaf berkali-kali, katanya: dia bisa membayangkan bagaimana semua ini pasti menyusahkan orang-orang muslim, yang mana lalu sang presenter menenangkan dia: “bukan salahmu Father, tapi lebih dari kesalahan para muslim yang mencatat semua kejadian-kejadian ini. Tapi bagaimanapun para muslim harus mengetahui ini. Silahkan lanjutkan.”

Botros melanjutkan membaca hadis-hadis selanjutnya, termasuk satu dari Musnad Ahmad bin Hanbal, yang mencatat bahwa Muhammad melihat anak perempuan berumur 2-3 tahun digendong ibunya.

Muhammad begitu ‘tertarik’ oleh anak itu hingga berkata, “Demi Allah, jika anak ini mencapai umur cukup
untuk dinikahi dan aku masih hidup, aku pasti akan menikahi dia.”

Hadis lain mengatakan bahwa Muhammad ternyata telah meninggal sebelum anak perempuan yang disebutkan hadis diatas cukup umur, sang Father pada saat ini tak tahan utk tidak berkata (sambil bertampang sedih), “Awwwwww! Nabi yang malang! Lolos deh satu tuh!”

Botros lalu mengatakan pada pemirsa utk mengingat hadis terakhir itu, karena utk ‘konteksnya’ kemudian nanti, seraya dia membaca hadis lain dari Sunan Bin Said, yang mencatat bahwa Muhammad berkata “Kupeluk sianu dan sianu ketika dia (perempuan) masih anak-anak dan kurasakan aku sangat terangsang oleh anak itu.” “Nabi apa yg kalian ikuti ini?!” Teriak pendeta Koptik ini. “Mana moralitasnya? Inikah manusia yang jadi tauladan muslim dg mati-matian? Pake otak!”

Hari sudah malam, tapi Fr. Botros belum selesai mengkatalogiskan temuan2nya mengenai kebiasaan menyimpang sang nabi (tayangan TV ini selama 1,5 jam).

Dia membaca sebuah hadis yang menyatakan bahwa Muhammad berbaring disebelah perempuan yang meninggal dikuburannya, juga menunjuk sebuah hadis yang menyatakan tentang “seks dengan mayat wanita,”, dll.

Saya matikan TV dan mulai membuat catatan yang lebih lengkap dari coretan2 saya ketika menonton tadi utk menyiapkan laporan ini

Bagian 3

Pada episode ini, dia mulai dengan kecenderungan ‘banci’ sang nabi. Dia membaca dari beberapa hadis, termasuk Sahih Bukhari – Father Botros klaim bahwa ada tidak kurang dari 32 referensi berbeda mengenai fenomena ‘kebanci-bancian’ ini dalam buku2 islam – dimana Muhammad sering tidur diranjang memakai pakaian wanita, khususnya pakaian sang istri bocah, Aisha.

Father Botros: “mungkin para muslim pikir bahwa dia hanya memakai pakaian Aisha saja? Karena bocah perempuan itu ‘favorit’nya, mungkin setelah berhubungan intim dengannya, dia Cuma berbaring memakai pakaiannya?” (disini sang father menutupi mukanya dengan tangan, menandakan bahwa dia terpaksa menceritakan hal memalukan ini).

Lalu dia memberikan sebuah hadis yang menarik, dari Sahih Bukhari (2/911), yang mencatat bahwa Muhammad berkata, “Wahyu (Quran) tidak pernah datang padaku jika aku memakai pakaian wanita – kecuali pakaiannya Aisha.” Ini menandakan kebiasaan sang Nabi utk memakai pakaian wanita.

Father Botros lalu melanjutkan pada beberapa komentar dalam Tafsir al-Qurtubi –

sebuah tafsir resmi dalam islam. Dia baca sebuah kisah dimana Aisha mengatakan bahwa, satu hari,
ketika Muhammad telanjang di ranjang, Zaid mengetuk; Muhammad, tanpa memakai baju, membuka pindu
dan ‘memeluk serta menciumnya’ – sambil telanjang. Ditempat lain lagi, Qurtubi menyimpulkan bahwa,
‘sang nabi pbuh – terus menerus disibukkan dengan wanita-wanita.’

Father Botros berkata pada para muslim:

“Jadi inikah nabi kalian – yg bermoral paling tinggi? Bukannya disibukkan dengan,
misal doa atau perbuatan baik, dia malah disibukkan dengan wanita-wanita?”

Lalu dia membaca dari Faid al-Qabir (3/371), dimana Muhammad tercatat berkata, “Kesukaanku terbesar adalah wanita dan parfum: rasa lapar terpuaskan dari makan dan minum – tapi bukan dari wanita.” Setelah membaca hadis ini, Father Botros Cuma menatap kamera tanpa berkata apa-apa, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Lalu dia membaca sebuah riwayat yg menarik (ada dalam Umdat al-Qari dan Faid al-Qabir). Diriwayatkan, Allah mengirim Jibril dengan semacam makanan surga (disebut al-kofid) pada Muhammad, lalu memerintahkan Muhammad utk “Makan!” – mirip ketika jibril mendatangi Muhammad dengan menyuruh “Baca!” (iqra, kata dari Quran). Riwayat ini terus mengutip perkataan Muhammad yang berkata bahwa makanan yg diberikan padanya “memberikan potensi seksual sama dengan 40 lelaki surga.” Father Botros lalu membaca dari sunan al-Tirmidhi, dimana dikatakan bahwa ‘lelaki surga’ itu punya potensi seks 100 lelaki dunia.

Sang Father bertanya-tanya: “Jadi, pake hitungan matematika, 40x100, kita bisa memastikan bahwa Muhammad, setiap memakan makanan perangsang ala surganya, punya kekuatan seks 4000 lelaki? Reaaaalllyy, O Ummat, inikah pengakuan nabi terkenal kalian – bahwa dia adalah seorang seks maniak?” Lalu, dengan becanda, “bayangkan kekagetan orang bule, bahwa Muhammadlah yang pertama-tama menemukan VIAGRA!”

Zakaria Botros melanjutkan membaca dari sumber2 lain lagi, seperti Sunan al-Nisa’I, dimana Muhammad dalam satu malam suka ‘mengunjungi’ semua wanita2nya, tanpa membasuh diri. Sang Father bertanya: “Ngapain lagi mencatat hal2 yang menjijikan dan memalukan seperti ini?”

Mungkin yg paling menarik, Father Botros menganalisa sebuah riwayat yg dicatat dalam karya Ibn Kathir, al-Bidaya we al-Nihaya. Berikut adalah terjemahan dari riwayat yg panjang tsb:

Setelah menaklukan yahudi Khaybar dan menjarah harta mereka, diantaranya ada sebuah keledai yang menjadi harta jarahan jatah sang nabi, sang nabi lalu bertanya pada sang keledai: “Siapa namamu?”

Sang Keledai menjawab, “Yazid Ibn Shihab. Allah telah membuatku dari 60 keturunan keledai, keledai-keledai yang hanya dikendarai oleh nabi-nabi saja. Tak satupun yang tersisa dari keturunan-keturunan itu kecuali aku, dan tak seorangpun nabi tersisa kecuali anda dan aku harapkan anda mengendaraiku. Sebelum anda, aku adalah milik orang yahudi, yang kujatuhkan sebegitu seringnya hingga dia suka menendang perut dan memukul punggungku.”

Sampai disini, sang Father yang menahan ketawanya menambahkan, “seekor keledai ahli taqiyya!” dia melanjutkan membaca, “Sang Nabi –mpbuh – berkata padanya, ‘Aku akan memanggilmu Ya’foor. O Ya’foor!’ Ya’foor menjawab, ‘Aku patuh.’ Sang Nabi bertanya, ‘Apa kau birahi pada betina?” Sang Keledai menjawab, ‘No!”

Sang Father berkata:

“Bahkan keledai sekalipun merasa malu ditanya tentang seks oleh sang Nabi kelebihan seks ini!
Disini ‘harusnya’ adalah sebuah mukjijat – keledai yg bisa bicara; dan dari semua benda yang
berkomunikasi dengan binatang ini, pertanyaan yang paling penting yg ditanyakan nabimu adalah
apakah sang keledai birahi pada betina?”

Berikut, membaca dari Sahih Bukhari (5/2012), Father Botros menceritakan sebuah riwayat dimana Muhammad mendatangi rumah seorang wanita muda bernama Umaima Bint Nua’m dan memerintahkan wanita itu utk “berikan tubuhmu padaku!” sang wanita menjawab, “mungkinkah seorang ratu memberikan dirinya pada rakyat jelata?” sambil mengangkat tangannya, Muhammad mengancam dia, dan mengirim dia pada orang tuanya.

Zakaria Botros: “You see, teman-teman, bahkan zaman dulu sekalipun, yg katanya jaman kegelapan, masih ada orang yg berpinsip, yang tidak menyerah pada ancaman dan paksaan. Tapi, pertanyaan yg sebenarnya adalah, kenapa Muhammad menentang perintah dari Qurannya sendiri – “perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi” (33.50) – mencoba memaksa wanita muda ini?”

Terakhir, dengan tampang jijik, sang Father membaca dari sebuah hadis al-Siyuti (6.395), dimana Muhammad menyatakan bahwa,

“Di surga, Maria ibunya Yesus, akan menjadi salah satu istriku.”

“Please, O Nabi,” kata sang Pendeta Koptik Ortodoks, “jangan bawa-bawa orang-orang suci kami kedalam praktek-praktek menjijikanmu…”

Akun
Ruang nama
Varian
Tindakan
Navigasi
faithfreedompedia
Peralatan