Serangan-serangan Lain - Tahun 630M
Dari Faithfreedompedia
Teror 73 : Penghancuran al-Uzza di Nakhla oleh Khalid b. al-Walid—January, 630M
Dua minggu setelah Muhammad menaklukkan Mekah ((lihat Teror 72, Bagian 16), keaslian pandangan Muhammad tentang kebebasan beragama dan toleransi jadi tampak nyata. Setelah menguasai Mekah, dia mengirim bala tentara ke segala daerah sekitar Mekah untuk menghancurkan patung2 berhala dan memaksa orang masuk Islam. Tindakan pertama dari ‘pembersihan agama’ ini terjadi 5 hari sebelum akhir Ramadhan dan yang dihancurkan adalah al-Uzza oleh panglima perang yang ditakuti yakni Khalid b. al-Walid. Al-Uzza adalah dewi terbesar di Nakhla, lebih baru daripada al-Lat dan dipuja dan disembah oleh suku B. Shayban, cabang suku B. Sulaym, Quraysh, Kinanah dan al-Mudar, yang semuanya tinggal di sekitar Mekah. Ibn Kalbi menulis argumen bahwa Muhammad pernah sekali memberikan persembahan kepada al-Uzza. Dia menulis:
“Kita telah diberitahu bahwa Rasul Allah pernah sekali mengucapkan tentang al-Uzza dan berkata, “Aku telah mempersembahkan seekor domba putih kepada al-Uzza ketika aku masih jadi penganut agama masyarakatku.”’ (Ibn al-Kalbi, hal. 16)
Atas perintah Muhammad, Khalid menjarah kuil dan menghancurkan berhala. Dia menjarah kuil ini dua kali. Di kali pertama, dia potong sebuah pohon dalam kuil, menghancurkan berhala dan membunuh para jemaat dan kembali ke Medina. Karena tidak puas akan ini, Muhammad sekali lagi mengirim Khalid ke sana. Kali ini, Khalid datang dengan segala kebuasan, menghancurleburkan kuil di hadapan pengurus kuil dewi al-Uzza yakni Dubayyah al-Sulami yang menangis melihatnya. Khalid membunuhnya, memotong sebuah pohon lain di lingkungan kuil. Ketika Khalid sedang sibuk menghancurkan, seorang wanita Ethiopia telanjang menyerbu Khalid. Khalid memenggal kepalanya, mengambil perhiasannya dan menyerahkannya kepada Muhammad. Melihat perhiasan2 itu, Muhammad merasa sangat senang dan berkata bahwa wanita telanjang itu sebenarnya adalah al-Uzza itu sendiri.
Teror 74 : Penghancuran Suwa di Ruhat oleh Amr b. al-As—January, 630M
Hampir pada waktu yang bersamaan kala Muhammad mengirim Khalid untuk menghancurkan al-Uzza, dia juga mengirim Amr b. al-As untuk menghancurkan berhala batu dewi Suwa di Ruhat yang jaraknya sekitar 3 km. dari Mekah. Suwa adalah sebuah arca yang berbentuk wanita untuk mewakili perubahan dan keindahan [259]. Suwa dipuja oleh suku Hudhayl. Pengurus kuil Suwa adalah seorang dari B. Lihyan [260]. Amr b. al-As menghancurkan berhala batu sampai hancur berkeping-keping dan memaksa pengurus kuil dengan ancaman pedang untuk masuk Islam. Amr merasa kecewa karena tidak menemukan barang berharga dalam kuil itu.
258 Foundation (1951)
259 Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Appendix xiii, p.1619
260 Ibn al-Kalbi, p.8
Teror 75 : Penghancuran al-Manat di al-Kadid oleh Sa’d b. Zayd al-Ashhali—January, 630M
Lalu Muhammad mengirim Sa’d b. Zayd pergi ke al-Kadid bersama 20 tentara berkuda dan menghancurkan dewi Manat yang disembah orang2 suku al-Aws al-Khazraj dan Ghassan. Manat adalah dewi yang paling purba dari semua dewa dewi di daerah sekitar Mekah. Ketika tentara Muslim tiba di kuil, mereka berjumpa dengan seorang wanita kulit hitam yang rambutnya berantakan. Sa’d menebasnya dengan pedang dan membunuhnya. Lalu Sa’d mengobrak-abrik kuil itu guna mencari harta berharga tapi tidak mendapatkan apapun. Beberapa penulis mengatakan bahwa Manat telah dihancurkan oleh Ali. Ali menemukan dua batang pedang di bawah fondasi kuil Manat dan Muhammad memberikan kedua pedang itu kepada Ali.[261]
Teror 76 : Penyerangan Terhadap B. Jadhimah di Tihamah oleh Khalid b. al-Walid—January, 630M
Karena puas atas hasil kerja Khalid, Muhammad mengirimnya lagi dengan 350 pasukan untuk menyerang Banu Jadhimah yang tinggal di dataran rendah Tihamah. Mereka bukanlah penganut pagan atau politheisme, melainkan Sabean. Orang2 Sabean percaya bahwa diri mereka adalah keturunan dari Seth, anak Adam. Mereka memuja Matahari, Bulan dan Bintang, percaya bahwa agama mereka adalah agama Nabi Nuh. [262] Muhammad memerintah Khalid untuk 'meminta' mereka masuk Islam dengan sukarela. Akan tetapi ketika Khalid tiba di tempat itu, dia mengungkit-ungkit masalah permusuhan lama dan tidak bersikap baik terhadap mereka. Karenanya masyarakat B. Jadhimah tidak mau memeluk Islam dan bangkit melawan Khalid.
Tapi setelah beberapa anggota senior masyarakat membujuk, akhirnya masyarakat B. Jadhimah menyerah. Meskipun sudah menyerah, Khalid b. Walid tetap saja membunuh beberapa orang dari mereka. Haykal [263] menulis bahwa mereka yang menyerah tapi tidak mau masuk Islam akan dibunuh. Ketika Muhammad menerima berita pembunuhan yang dilakukan Khalid, dia merasa tidak senang dan meminta pada Allah untuk membebaskan dirinya dari kesalahan atas tindakan kekerasan yang dilakukan Khalid, yang dianggap berdosa atas tindakan itu. Dia berkata, “Bunuh orang2 selama kau tidak mendengar Muadhdin (panggilan sembahyang Islam) atau melihat sebuah mesjid.” [264] Ini hadisnya yang mengungkapkan kekejaman yang dialami B. Jadhimah oleh Muslim:
Hadis Sahih Bukhari, Volume 5, Book 59, Number 628:
Dikisahkan oleh ayah Salim:
Sang Nabi mengirim Khalid bin Al-Walid ke suku Jadhima dan Khalid mengundang mereka untuk memeluk Islam tapi mereka tidak sanggup mengatakan, “Aslamna (yakni kami memeluk Islam),” dan mereka mulai berkata, "Saba'na! Saba'na (yakni kami telah meninggalkan agama lama dan memeluk agama baru).” Khalid terus-menerus membunuh (beberapa dari mereka) dan menahan sebagian dari mereka dan menyerahkan setiap tawanan kepada kami. Ketika suatu hari Khalid memerintah setiap orang (tentara Muslim) untuk membunuh tawanan2 itu, aku berkata, “Demi Allah, aku tidak akan membunuh tawananku, dan tiada kawan2ku yang mau membunuh tawanan2 mereka pula.” Ketika kami datang kepada Nabi, kami menyampaikan seluruh cerita. Mendengar itu, Muhammad mengangkat kedua tangannya dan berkata dua kali,”Ya Allah! Aku bebas dari apa yang telah dilakukan Khalid.”
261 Ibn al-Kalbi, p.14
262 Hughes Dictionary of Islam, p.551
263 Haykal, Ch. The Conquest of Mecca
264 Ibn Sa’d, vol. ii, p.182
Lalu Muhammad meminta Ali pergi ke B. Jadhimah untuk membayar ganti rugi pembunuhan yang dilakukan Khalid. Ali membayar uang darah terhadap B. Jadhimah dan barang2 kepunyaan mereka yang dihancurkan Khalid.
Tapi menurut Ibn Ishak [265], Muhammad telah memerintahkan Khalid untuk membunuh B. Jadhimah karena tidak mau memeluk Islam. Inilah kisah kekejaman tentara Muslim seperti yang dikisahkan oleh seorang Jihadi [266] ketika Khalid menyerang B. Jadhimah:
Menurut Sa’id b. Yahya al-Umawi …. Abdallah b. Abi Hadrad, yang berkata:
Aku termasuk diantara tentara berkuda di bawah pimpinan Khalid hari itu. Seseorang dari pemuda2 mereka, - dia adalah salah satu dari para tawanan, kedua tangannya terikat di lehernya dengan seutas tali, dan beberapa wanita dikumpulkan tidak jauh dari dirinya – dia berkata kepadaku, “Anak muda!” “Ya, “ kujawab. Dia berkata, “Sudikah kau memegang tali ini dan menuntunku ke arah para wanita itu, sehingga aku bisa berbicara dengan mereka? Setelah itu kau bisa membawaku kembali dan berbuat sekena hatimu atas diriku.” Aku berkata, “Demi Tuhan, yang kau minta adalah hal sepele.” Aku pegang talinya dan membimbingnya sampai berada dekat kaum wanita itu. Dia berkata, “Selamat tinggal, Hubayshah, karena nyawaku sudah habis!”
Saat orang itu bertemu dengan kekasih hatinya, dia lalu melantunkan sajak bagi wanita itu dan wanita itu menjawab, “Dan engkau – semoga engkau hidup selama 10 tahun, lalu 7 tahun tanpa gangguan, dan 8 tahun lagi setelah itu!”
Setelah itu para Jihadi membawanya pergi dan memenggal kepalanya. Sang wanita yang sedih itu berlari menghampiri kekasihnya yang sudah putus kepalanya, menjatuhkan dirinya dan terus menciuminya sampai diapun mati di sebelah kekasihnya.
Teror 77 : Penyerangan Kedua terhadap B. Hawazin atau Perang Hunayn oleh Muhammad—January, 630M
Suku B. Hawazin merupakan kelompok besar suku2 Arabia utara yang bermusuhan dengan B. Quraysh. Permusuhan ini gara2 persaingan dagang antara Mekah dan Taif. Tempat berlangsungnya pertempuran adalah sebuah lembah yang disebut Hunayn dan jauhnya tiga hari perjalanan dari Mekah. Perang ini disebut di ayat Qur’an 9:25-26. Muhammad tinggal di Mekah selama dua minggu setelah menaklukkan Mekah. Selama itu dia mengirim bala tentaranya ke daerah sekitar Mekah untuk menyingkirkan sisa2 masyarakat yang masih menganut politheisme dan memaksa masyarakat non-Quraish yang tinggal di sekitar Mekah untuk memeluk Islam. Dia melakukan penindasan agama ini dengan mudah karena kebanyakan masyarakat pagan tidak siap menghadapi serangan mendadak yang ganas itu. Suku2 Hawazin dan Thaqif sangat marah akan penghancuran berhala2 mereka di Mekah dan daerah sekitar. Mereka mengambil keputusan untuk tidak membiarkan penindasan dan perlakuan barbar tentara Muhammad ini berlangsung tanpa perlawanan.
265 Tabari, vol.viii, p.190
266 Tabari, vol.viii, p.191
Ditulis bahwa ketika Malik b. Awf dari B. Nasri (cabang dari suku Hawazin), mendengar takluknya Mekah di bawah kekuasaan Muhammad, dia lalu menggalang kekuatan yang terdiri dari B. Tharif, B. Nasr dan B. Jusham dan suku2 kecil lainnya. Dengan harapan bergabungnya suku2 cabang dari Hawazin, suku2 lainnya yang tinggal di daerah itu bergabung dalam rencana perang ini untuk menentang serangan Muhammad. Di hari2 terakhir dia tinggal di Mekah, Muhammad menerima berita bahwa suku Hawazin dan Thaqif ke luar untuk melawan Mekah dan sudah tiba di Hunayn untuk menantang Muhammad.
Suku Hawazin dengan 20.000 pasukan tentara [267] di bawah pimpinan Malik b. Awf berbaris untuk melawan Muhammad dan membawa para wanita, anak, dan ternak mereka. Ini berarti mereka bertekad perang sampai mati. Begitu Muhammad mendengar berita berkumpulnya B. Hawazin dan Thaqif, dia mengirim Abd Allah b. Abi Hadrad al-Aslami untuk memata-matai mereka dan mencari keterangan akan apa yang mereka rencanakan. Mata2 Muslim menyelusup ke dalam masyarakat Hawazin dan Thaqif dan kembali kepada Muhammad bahwa mereka memang hendak perang. Ditulis oleh Tabari bahwa ketika mata2 Muhammad, Abd Allah b. Abi Hadrad al-Aslami membawa informasi tentang B. Hawazin, Umar b. Khattab tidak percaya dan menyebut mata2 Muslim itu sebagai pembohong. Karena sakit hati dituduh begitu, mata2 Muslim ini mengungkapkan rahasia bahwa Umar dalam beberapa kejadian juga memanggil Muhammad sebagai pembohong pula. Inilah yang dikatakan Abd Allah, “O, Umar, jika kau menuduh aku berbohong, maka kau telah banyak kali menyangkal kebenaran. Kau pun telah menuduh orang yang lebih baik dari aku (yakni Muhammad) berbohong.” [268]
Tabari [269] menulis lebih lanjut bahwa kaum Hawazin dan suku2 lain Mekah menganggap Muhammad seorang yang murtad di jamannya karena dia memisahkan diri dari agama Quraish. Malik bersumpah kalau dia tidak menang melawan orang murtad (yakni Muhammad) maka dia akan bunuh diri. Prajurit2 Malik juga setuju untuk melakukan hal yang sama, menang atau mati. Setelah mendapat dukungan penuh dari masyarakatnya, Malik memberi perintah kepada tentaranya bahwa kalau mereka melihat musuh, maka mereka akan menyerang mereka dalam satu kesatuan pasukan dan karenanya mempertahankan kesatuan yang utuh dalam berperang.
Setelah itu mata2 Malik ke luar untuk mendapat keterangan tentang gerakan tentara Muhammad. Dongengnya mengatakan bahwa mereka melihat orang2 putih (malaikat?) naik kuda putih dan hitam dan setelah itu mereka jadi tidak bisa melihat lagi sehingga harus cepat2 balik lagi. [270]
Setelah Muhammad mendengar berita dari mata2 Muslim tentang B. Hawazin dan sekutunya, dia bertekad untuk menghadapi musuh. Karena pada saat itu dia hanya punya sedikit uang, dia datang kepada Safwan b. Umayyah (Safwan kena hukuman mati yang dibatalkan oleh Muhammad – lihat Teror 72, Bagian 16), yang punya usaha membuat peralatan perang. Safwan menganut agama politheisme. Dia meminjamkan para tentara Muslim peralatan perang yang dibutuhkan. Safwan menerima perjanjian peminjaman peralatan perang dari Muhammad dan menyuplai (sebagai pinjaman) dan membawa semua senjata yang diperlukan Muslim untuk berperang.
267 Rodinson, p.263
268 Tabari, vol. ix, p.6, footnote 45
269 Tabari, vol ix, p.5, footnote 38
270 Tabari, vol. ix, p.6
Setelah mendapat persenjataan dari orang kafir, Muhammad bersama 10.000 tentara Medinah dan 2.000 tentara Mekah yang baru saja masuk Islam, jadi total adalah 12.000 Jihadi, bergerak maju untuk menghadapi B. Hawazin dan b. Thaqif. Ini adalah pertempuran kedua terhadap B. Hawazin oleh Muslim
(yang pertama dapat dibaca di Teror 54, Bagian 14). Dia memerintah Attab b. Asid yang baru saja masuk Islam untuk mengawasi keadaan Mekah selama perang berlangsung. Yang terbayang di benak para prajurit Muslim adalah barang jarahan yang banyak sekali dari B. Hawazin dan sekutunya. Ini hadisnya yang menerangkan bagaimana Muhammad memotivasi prajuritnya dengan barang jarahan (arena panjang sekali, maka aku kutip bagian yang relevan saja).
Hadis Sahih Sunaan Abu Dawud, Book 14, Number 2495:
Dikisahkan oleh Sahl ibn al-Hanzaliyyah:
Di hari Hunayn kami melangsungkan perjalanan bersama Rasul Allah dan kami bergerak lama sampai malam tiba. Aku melakukan sembahyang bersama Rasul Allah.
Seorang penunggang kuda datang dan berkata: Rasul Allah, aku berangkat sebelum kau pergi dan mendaki sebuah gunung di mana aku lihat suku Hawazin bersama-sama dengan kaum wanita, unta2, sapi2 dan kambing2, berkumpul di Hunayn.
Rasul Allah tersenyum dan berkata: “Itu adalah barang jarahan Muslim besok jika Allah menghendaki.” Lalu dia bertanya: “Siapa yang harus jaga malam?”……….
Muhammad tiba di Hunayn pada sore atau malam hari dan berkemah di sana. Ibn Ishak [271] (Ibn Ishak, hal. 565) menulis bahwa saat beristirahat dalam perjalanan, kaum Muslim meminta Muhammad untuk membuat sebuah pohon untuk menggantung pedang2 mereka, seperti tradisi kaum Mekah yang biasa menggantung pedang2 mereka dan memotong hewan kurban pada pohon itu. Muhammad membandingkan permintaan para pengikutnya ini dengan permintaan pada Musa untuk membuat patung lembu untuk dipuja sewaktu Musa memimpin bangsa Israel menyeberangi laut Merah. Allah menurunkan ayat Q 7:138 tentang hubungan ini. Diwaktu subuh sebelum matahari terbit (kebiasaan Muhammad untuk melakukan teror di pagi hari) Muhammad mengendarai Duldul (keledai putihnya) menuju bagian belakang pasukan. Dibagian depan adalah pasukan B. Sulaym yang dipimpin oleh Khalid b. Walid.
Ketika kaum Muslim mendekati lembah Hunayn dan melampaui celah bukit, tiba2 dari kegelapan tentara Hawazin datang menyerang mereka semua. Kaum Muslim sangat ketakutan dan melarikan diri. Setiap orang berusaha menyelamatkan diri sendiri sambil berlari. Tidak ada satu Jihadipun yang peduli akan Jihadi lain. Kekacauan karena serangan mendadak itu begitu hebat sehingga tidak ada seorang pun yang mau mentaati perintah Muhammad yang berteriak-teriak kepada kaum Jihadi yang melarikan diri untuk kembali berperang. Dia berkata, “Ke manakah kalian? Kembalilah padaku! Aku utusan Tuhan! Aku adalah Muhammad, anak Abd Allah!” Tapi permintaannya yang memelas itu tidak didengar pengikutnya. (Tabari, vol. ix, p.8 )272. 271 Ibn Ishak, p.565
Hanya sekelompok Jihadi yang diam di tempat, sedangkan yang lain melarikan diri dari medan perang. Yang tetap tinggal bersama Muhammad adalah beberapa Muhajir, beberapa Ansar dan saudara2 terdekatnya seperti Abu Bakr, Umar, Ali, al-Abbas dan anaknya al-Fadl, Abu Sufyan b. al-Harith dan Usamah b. Zayd b. Haritha.
Ketika Muslim saling injak-menginjak berlarian tanpa kontrol, Abu Sufyan b. Harb berkata, “Mereka saling injak dan tidak akan berhenti sampai mereka mencapai lautan!” Abu Sufyan b. Harb hampir menggunakan sihir tapi saudara angkatnya yakni Safwan b. Umayyah b.Khalaf berkata bahwa sihir tidak ada gunanya lagi hari itu. Safwan masih seorang pagan pada saat itu. Ini adalah termasuk dalam senjang waktu yang diberikan Muhammad padanya sebelum masuk Islam (lihat Teror 72, Bagian 16). Tapi Abu Sufyan b. Harb panik karena dia lebih memilih dipimpin orang dari suku Quraish daripada jatuh di bawah pimpinan orang Hawazin. Desas-desus tersebar bahwa Muhammad telah dibunuh, dan ini menambah kepanikan dan rasa teror dalam diri para Muslim.
Akan tetapi segera setelah terdengar kabar bahwa usaha membunuh Muhammad pada keadaan panik ini ditengahi oleh kekuasaan Ilahi – begitu katanya. Pada saat ini, Muhammad bertemu dengan seorang wanita hamil yang bernama Umm Sulaym bt Milhan yang adalah istri dari Abu Talhah. Umm Sulaym menasehati Muhammad untuk membunuh para Jihadi yang melarikan diri dari medan perang sama seperti Muhammad membunuh musuhnya dalam perang. Tapi Muhammad tidak tertarik untuk melakukannya dan berkata bahwa Allah sudah cukup baginya. Di hari itu, Umm Sulaym dan suaminya telah bersenjata lengkap untuk membunuh orang pagan sebanyak mungkin dan mengambil jarahan perang milik korban. Suaminya Abu Talhah mengambil jarahan perang dari 20 orang yang dia bunuh.
Ketika Muhammad mengetahui bahwa panggilannya terhadap para Jihadi sia2 belaka, dia memanggil pamannya al-Abbas, untuk meneriakkan panggilan dengan suara yang sangat keras bagi para Muslim untuk kembali dan melanjutkan perang. Al-Abbas lalu melakukannya dan akhirnya 100 orang Muslim kembali berkukmpul mengelilingi Muhammad. Merekapun mulai bertempur melawan musuh dengan semangat baru dan Muhammad menonton peperangan dengan berdiri di atas pedal keledainya.
Ketika peperangan berlangsung, Ali b. Abi Talib menyerang seorang pemimpin Hawazin dari belakang yang sedang bertarung dengan sengitnya dengan tombaknya. Ali menahan unta orang itu. Orang2 Muslim berloncatan menyergapnya dan memotong pergelangan kakinya dan separuh betisnya. Orang Hawazin ini tetap bertempur sampai akhirnya mati.
Ketika perang semakin sengit, Muhammad turun dari keledainya, si Duldul, memungut beberapa kerikil dari tanah dan melemparkannya ke arah musuh (ingat perang Badr II?) dan mulai melafalkan ayat Sura Ha-Mim (Sura 41); pihak musuh mulai mundur – begitu lho katanya. Lalu seperti kain hitam tampak turun dari langit, oh ternyata itu adalah kumpulan semut2 hitam! Mereka adalah malaikat2 dari surga yang datang untuk membantu para Muslim, demikian kata Muhammad. Sebenarnya kumpulan semut hitam ini tampaknya adalah awan gelap di langit, seperti yang ditulis oleh Ibn Sa’d [273] bahwa hujan turun pada saat perang Hunayn berlangsung (Ibn Sa’d, vol. ii, hal.194). Dengan bantuan malaikat2 yang menyamar jadi semut hitam ini, para Muslim akhirnya mengalahkan B. Hawazin – demikian ditulis sejarawan Muslim. Beberapa sejarawan Muslim bahkan menulis bahwa malaikat2 pakai sorban merah di saat perang Hunayn!
272 Tabari, vol. ix, p.8
273 Ibn Sa’d, vol. ii, p194
Setelah mengalahkan B. Hawazin, terjadi pembunuhan terhadap mereka. 70 orang dibunuh ketika bendera Hawazin tumbang. Ibn Ishak [274] (Ibn Ishak, p.566-576) menulis bahwa panglima perang Khalid b. Walid yang ganas membunuh beberapa wanita dan anak kaum pagan. Muhammad memperingati Khalid karena melakukan hal itu. Malik berusaha sebaik mungkin tapi tetap tidak dapa menyelamatkan kaum wanita dan anak2. Karena itu dia melarikan diri. Kaum wanita dan anak2 jatuh ke tangan Muhammad, juga barang2, perkemahan dan ternak mereka. 6.000 orang ditawan. Ibn Ishak [275] (Ibn Ishak, p.837) menulis bahwa beberapa orang yang diikat tangannya dipancung karena menyinggung perasaan orang2 Muslim. Para prajurit Jihadi lalu merampasi baju2 perang, persenjataan dan barang2 berharga lainnya dari mayat2 musuh yang dibunuh dengan tangan mereka sendiri. Seorang Jihadi membeli tanah dari barang jarahan ini. Ini Hadisnya:
Hadis Muwatta Malik, Book 21, Number 18.299
Yahya menyampaikan padaku dari Malik dari Yahya ibn Said dari Amr ibn Kathir ibn Aflah dari Abu Muhammad, dari Abu Qatada bahwa Abu Qatada ibn Ribi berkata,
“Kami pergi bersama Rasul Allah (SAW) di tahun Hunayn. Ketika pasukan bertemu, pihak Muslim jadi kacau balau. Aku melihat orang pagan yang sedang mengalahkan seorang Muslim, lalu aku berbalik dan datang dari belakangnya dan menusuknya dengan pedangku ke bagian bahunya. Dia berbalik padaku dan menerjangku begitu keras sampai aku jatuh dan mencium bau kematian. Lalu orang itu mati dan melepaskanku.”
Dia melanjutkan, “Aku bertemu Umar ibn al-Khattab dan berkata padanya, “Apa yang terjadi dengan orang2?” Dia menjawab, “Perintah Allah.” Lalu orang2 meninggalkan perang dan Rasul Allah berkata, “Siapapun yang membunuh musuh dan dapat membuktikannya, dia boleh mengambil barang2 pribadi musuh itu.” Aku berdiri dan berkata, “Siapa yang bisa jadi saksiku?” lalu aku duduk. Rasul Allah mengulangi, “Perintah Allah.” Lalu orang2 meninggalkan perang dan Rasul Allah berkata, “Siapapun yang membunuh musuh dan dapat membuktikannya, dia boleh mengambil barang2 pribadi musuh itu.” Aku berdiri dan berkata, “Siapa yang bisa jadi saksiku?” dan Rasul Allah berkata, “Ada apa, Abu Qatada?” Lalu kusampaikan kisahku padanya. Seseorang berkata, “Dia bicara jujur, Rasul Allah. Aku menyimpan harta orang yang dibunuhnya, maka kiranya berilah dia barang gantinya, Rasul Allah.”
Abu Bakr, berkata, “Tidak, demi Allah! Dia tidak bermaksud bahwa satu dari singa2 Allah harus berperang demi Allah dan RasulNya dan lalu memberimu barang2 jarahannya.” Rasul Allah berkata, “Dia bicara benar, serahkan kepadanya.” [[Dia memberikan (barang jarahan) kepadaku, dan aku menjual baju perang dan kubeli sebuah taman di daerah Banu Salima dengan uang itu. Itu adalah kekayaanku yang pertama, dan kudapat itu karena Islam.]]”
Beberapa penulis menyatakan bahwa pihak Muslim hanya kehilangan sedikit kerugian, tapi penulis lain berkata mereka kehilangan sangat banyak orang – dua suku musnah dan karenanya Muhammad mengadakan sembahyang khusus. Muhammad kehilangan pembantunya yakni Umm Ayman di perang ini.
274 Ibn Ishak, p.566-576
275 Ibn Ishak, p.837
Sisa2 tentara pagan beserta pemimpin mereka Malik, melarikan diri ke Taif. Beberapa yang lain pergi ke Nakhla, dan yang lain ke Awtas. Di hari kemudian, orang2 Awtas dikalahkan melalui pertarungan sengit.
Tentara Muhammad mengejar musuh yang melarikan diri ke Nakhla tapi balik kembali setelah mengejar dalam waktu singkat. Ketika mengejar musuh, tentara2 Muslim menangkap Durayd b. Simmah, orang tua yang tidak bertempur sama sekali di perang itu. Durayd bertanya kepada seorang Jihadi muda bernama Rabiah b. Rufay apakah yang dia ingin lakukan terhadap Durayd. Rabiah menjawab bahwa dia ingin membunuhnya. Lalu Rabiah menggunakan pedangnya untuk membunuh Durayd tapi tebasan pedang tidak membunuhnya. Durayd tertawa melihat cara Rabiah menggunakan pedang. Durayd lalu minta Rabiah memberikan pedang itu padanya dan Durayd menunjukkan cara yang tepat menggunakan pedang untuk membunuh. Kemudian Durayd berkata pada Rabiah bahwa setelah dia membunuhnya, Rabiah harus kembali kepada ibunya sendiri dan memberitahunya tentang pembunuhan terhadap Durayd, karena Durayd sebelumnya telah menyelamatkan banyak nyawa wanita2 dari tempat Rabiah berasal.
Setelah membunuh Durayd, Rabiah menghadap ibunya dan menceritakannya tentang apa yang baru saja dia lakukan. Ibunya berkata, “Demi Tuhan, dia telah membebaskan tiga ibu2mu.” [276] (Tabari, vol. ix, p.17).
Inilah contoh bagaimana Jihadi fanatik memperlakukan musuh mereka yang lanjut usia di waktu perang. Di Hadis sahih bisa kita baca bahwa dalam Jihad diijinkan untuk membunuh kafir usia lanjut, tapi anak2nya tidak boleh dibunuh. Ini Hadisnya.
Sunaan Abu Dawud: Book 14, Number 2664:
Dikisahkan oleh Samurah ibn Jundub:
Sang Nabi berkata: Bunuh orang2 tua yang pagan, tapi jangan bunuh anak2 mereka.
[Catatan: Hukum Sharia (hukum Islam) mengijinkan pembunuhan orang usia lanjut dalam Jihad. Lihat hukum o9.10, p.603, Reliance of the Traveller]
Akan tetapi di Hadis sahih yang lain kita baca bahwa dalam penyerangan malam hari, Muhammad mengijinkan pembunuhan anak2 kafir. Ini Hadisnya.
Hadis Sahih Muslim Book 019, Number 4322:
Dikisahkan oleh Sa'b b. Jaththama bahwa dia berkata (kepada sang Nabi suci): “Rasul Allah, [[kami membunuh anak2 pagan dalam serangan2 malam hari]].” Dia berkata: “Mereka (anak2 tsb.) berasal dari mereka (kaum pagan).”
Seperti yang dikisahkan sebelumnya, setelah kalah dalam perang Hunayn, Malik b. Awf melarikan diri bersama prajuritnya. Seorang pria Hawazin bernama Bijad juga melarikan diri bersamanya. Muhammad mengincar Bijad karena dia menuduh Bijad telah memotong-motong tubuh seorang Muslim dan membakarnya. Muhammad memberi perintah siapapun yang menangkap Bijad tidak boleh melepaskannya.
276 Tabari, vol. ix, p.17
Pihak Muslim mengejar Bijad yang lari bersama saudara perempuannya yakni Shayma bt. al-Harith. Tentara Muslim akhirnya berhasil menangkap mereka, lalu mengikat mereka dan membawa mereka ke hadapan Muhammad. Ternyata Shayma bt. al-Harith adalah saudara angkat Muhammad (yakni Shayma adalah anak Halima, wanita yang menyusui Muhammad sewaktu bayi) tapi pihak Muslim tidak percaya atas pengakuan Shayma. Muhammad minta bukti bahwa Shayma memang benar saudara angkatnya. Lalu Shayma menunjukkan pada Muhammad bekas gigitan di punggungnya yang dilakukan Muhammad ketika dia memanggul Muhammad di pinggangnya. Bukti ini meyakinkan Muhammad dan dia lalu menawarkan pada Shayma pilihan untuk hidup dengan Muhammad atau kembali ke masyarakatnya sendiri. Shayma memilih kembali ke masyarakatnya. Muhammad memberinya seorang budak pria bernama Mukhul dan seorang budak wanita. Setelah dia pergi, dia menjodohkan kedua budak ini untuk menikah. Versi kisah yang lain mengatakan bahwa akhirnya Shayma memeluk Islam dan Muhammad memberinya 3 budak. Tidak diketahui apa yang terjadi pada Bijad.
Kemenangan Hunayn menghasilkan jumlah tawanan dan jarahan yang jauh lebih banyak daripada yang pernah dilihat Muslim sebelumnya. Jarahan perangnya besar sekali: 22.000 unta, 42.000 kambing, 4.000 ons perak. Pihak Muslim merampas semuanya. Barang jarahan (yang kira2 bernilai sekitar US$ 9 juta) dan 6.000 tawanan (berjumlah sekitar US$12 juta), terdiri terutama atas kaum wanita dan anak dikawal tentara Muslim dan dibawa ke lembah Jirana dan ditempatkan di sebuah gudang penyimpanan di sana. Pihak Muslim mabuk keserakahan. Mereka merayakan kemenangan mereka dan menunggu pembagian harta jarahan. Akan tetapi Muhammad memerintahkan orang2nya untuk bergerak ke Taif untuk menangkap Malik. Mereka harus menunggu menerima barang jarahan sampai usaha menangkap Malik berhasil – begitu perintah Muhammad.
Orang2 Thaqif yang berhasil selamat dari perang Hunayn kembali ke Taif dan menutup diri mereka dalam benteng yang kokoh. Mereka trampil dalam melakukan perang modern dan bersiap untuk menjalani perang jangka panjang. Untuk menyaingi mereka, Muhammad mengirim Urwah b. Masud dan Ghaylan b. Salamah ke Jurash untuk belajar teknik perang menggunakan ketepel dan testudo – tank primitif dari kayu. Dua orang Muslim ini tidak ikut perang Hunayn atau Taif karena tugas untuk mempelajari teknik perang modern.
Teror 78 : Penghancuran Berhala Yaghuth di Dhu al-Kaffyan oleh Tufayl ibn ‘Amr al-Dawsi—January, 630 M
Ketika Muhammad mengirim Urwah b. Masud dan Ghaylan b. Salamah (lihat Teror 77, Bagian 17) ke Jurash untuk mempelajari tekni perang menggunakan ketepel dan Testudo, dia juga mengirim al-Tufayl ibn ‘Amr al-Dawsi untuk menghancurkan patung berhala Dewa Yaghuth di Dhu al-Kaffyan. Patung berhala ini berbentuk seekor singa (atau kerbau) yang memperlihatkan kekuatan fisiknya [278] (Yusuf Ali, The holy Quran, appendix xiii, hal.1619) dan berhala ini dimiliki masyarakat Amr ibn Humamamh al-Dawasi (suku asal Tufayl). Muhammad memerintahkan Tufayl untul mengumpulkan orang2 untuk menghancurkan berhala ini. Setelah itu Tufayl harus bergabung bersama Muhammad di Taif. Dengan bantuan 400 orang, Tufayl menghancurkan patung berhala dengan membakarnya. Lalu Tufayl dengan 400 prajuritnya pergi ke taif untuk bergabung bersama Muhammad. Mereka juga membawa ketepel dan Testudo ( diserahkan kepada Tufayl oleh Urwah di Taif).
Teror 79 : Penyerangan Atas Taif oleh Muhamad — Januari, 630M
Seperti yang telah ditulis sebelumnya (Teror 77, Bagian 17), tentara pagan dari suku Thaqif dan B. Hawazin dan beberapa suku yang lain yang melarikan diri dari Perang Hunayn berlindung di Taif. Kota Taif terkenal akan perkebunan anggurnya yang subur dan dikelilingi perbentengan yang kokoh. Ali Dashti [279] menulis bahwa Taif merupakan tempat pariwisata bagi masyarakat Mekah. Masyarakat B. Thaqif tidak berpihak kepada Muhammad karena hubungan baiknya dengan masyarakat Mekah. (Dahsti, hal. 77). Para pelarian perang berlindung dalam benteng Thaif yang kokoh, dan pintu2 benteng ditutup dan mereka bersiap untuk melakukan perang. Kota itu dapat bertahan menghadapi pengepungan yang lama sampai berbulan-bulan jika perlu, karena mereka punya persediaan air yang cukup. Para pelarian perang menimbun bahan makanan yang cukup untuk waktu setahun lebih. Diantara para pelarian terdapat pemimpin mereka yakni Malik dari B. Hawazin, dan Adry yang adalah anak laki filantropis terkenal yakni Hatim dari B. Tayii.
277 Sebastian Melmoth (1904)
278 Yusuf Ali, The holy Quran, appendix xiii, p.1619
279 Dashti, p.77
Di lain pihak, setelah memenangkan Perang Hunayn, Muhammad langsung menuju Taif. Ketika dia tiba di sana, Muhammad mendapatkan bahwa masyarakat Thaqif dan para pelarian perang telah masuk ke dalam benteng2 mereka yang kokoh. Jadi Muhammad mengadakan pengepunganselama 15 (atau 20) hari. Dalam perjalanan menuju Taif, dia meninggalkan jejak teror, darah, dan penghancuran. Mula2 dia berhenti di Bahrat al-Rugha dan membangun sebuah mesjid dan sembahyang di sana. Di tempat ini Muhammad memerintahkan pembunuhan atas seorang Hudhayl yang sebelumnya telah membunuh seorang Muslim dari B. Layth. Lalu dia mengumumkan tata cara hidup untuk hidup atau hukum balas dendam karena pembunuhan. Di ayat Q 2:178, Allah merestui aturan keadilan yang ditetapkan Muhammad.
Setelah itu dia berhenti di Liyyah dan memerintahkan penghancuran istana milik ketua Hawazin yakni Malik. Seperti yang telah diterangkan sebelumnya, Malik telah melarikan diri ke Taif dan bersembunyi dalam benteng Thaqif. Dari Liyyah Muhammad pergi ke Nakhb. Di perjalanan, dia mengubah nama beberapa tempat dengan alasan sepele hanya karena dia tidak suka akan nama2 aslinya. Ketika di Nakhb, Muhammad memerintahkan penghancuran taman yang dikelilingi tembok milik seseorang hanya karena orang itu tidak mau ke luar dari rumahnya ketika Muhammad memerintahkannya begitu. Dalam perjalanan berikut, Muhammad berhenti di Taif dan mendirikan tendanya dekat benteng utama di mana masyarakat Thaqif berlindung. Orang2 yang tinggal di sekeliling benteng terpaksa menyerah padanya.
Tentara Thaqif menghujani tentara Muhammad dengan panah2 dan membunuh beberapa Muslim. Karena itu, Muhammad mundur lagi dan mendirikan tendanya di tanah yang lebih tinggi. Dia mendirikan mesjid di sana dan mendirikan dua tenda merah bagi istri2nya Umm Salamah dan Zaynab bt. Jahsh. Dia terus mengepung perbentengan Taif, sambil sembahyang di mesjid yang baru dan tinggal bergiliran di kedua tenda istri2nya.
Pada saat ini, Tufayl ibn Amr al-Dawsi dengan 400 tentara tiba dan bergabung dengan Muhammad. Sebelumnya mereka berada di Dhu al-Kaffayn untuk menghancurkan patung berhala (lihat Teror 78, Bagian 17). Mereka membawa ketepel dan Testudo. Tentara Thaqif terus-menerus menyerang Muslim dengan panah dan api dari balik bentengnya, dan tidak pernah ke luar. Tentara Muslim tidak bisa mendekati tembok benteng.
Lalu Muhammad menggunakan mesin2 perangnya yang baru: ketepel dan Testudo.
Tentara Taif sudah bersiap penuh untuk menghadapi serangan semacam ini. Tentara Muslim yang baru datang menggunakan ketepel dan melemparkan batu ke dinding benteng sampai berlubang. Lalu tentara Muslim dikirim masuk lewat lubang ini dengan menggunakan Testudo. Ketika tentara Muslim ke luar dari Testudo, tentara Thaqif menyiram mereka dengan besi meleleh dan menghujani mereka dengan anak panah, sehingga beberapa Muslim mati dan banyak yang terluka. Dikisahkan bahwa anak Abu Bakr yakni Abd Allah luka parah di perang ini. Dia tidak pernah pulih dari lukanya dan akhirnya mati. Akibat disiram besi cair dan hujan panah, tentara Muslim berlarian menyelamatkan diri.
Muhammad menutup jalur jalan suplai makanan ke Thaqif. Tapi masyarakat Thaqif tenang2 saja. Mereka sudah menimbun cukup banyak makanan untuk pengepungan jangka panjang. Lalu Muhammad memerintahkan perkebunan anggur Thaqif yang terkenal itu dipotong dan dibakar. Dia sudah pernah melakukan cara potong dan bakar pohon seperti ini sewaktu mengepung B. Nadir dan dia ingat betapa efektifnya cara itu. Perintahnya dilaksanakan dengan penuh semangat oleh para prajuritnya. Orang2 Thaqif mulai merasa takut dan mencoba berkomunikasi dengan Muhammad. Untuk mengatur perjanjian keamanan dengan orang2 Thaqif, Muhammad lalu mengirim Abu Sufyan b. Harb dan al-Mughira b. Shuba untuk berdiskusi dengan mereka.
Anak wanita Abu Sufyan yang bernama Amina menikah dengan pria Thaqif bernama Urwa b. Masud dan mereka berdua memiliki seorang anak laki. Selain mereka, terdapat sejumlah wanita2 Quraish dan B. Kinanah di dalam benteng. Abu Sufyan ingin mengungsikan para wanita dan anak2 karena dia tidak mau mereka semua jatuh ke tangan tentara Muslim. Pemimpin Thaqif meminta Muhammad berhenti membabati pohon2 anggur mereka yang berharga. Sebagai gantinya, para wanita dan anak2 Quraish dan B. Kinanah boleh ikut ke luar benteng bersama Abu Sufyan. Muhammad berhenti memotongi pohon2 anggur. Abu Sufyan meminta para wanita Quraish meninggalkan benteng, tapi mereka tidak mau ke luar dan lebih memilih tinggal bersama masyarakat Thaqif. Karenanya misi perdamaian Abu Sofyan gagal membuahkan hasil.
Pengepungan terus berlanjut. Muhammad menawarkan kemerdekaan bagi budak2 Thaqif jika mereka mau meninggalkan para majikan Thaqif mereka dan memeluk Islam. Sebagian besar para budak tidak menanggapi tawaran Muhammad. Hanya 13 sampai 23 budak yang bersedia ke luar dan memeluk Islam. Muhammad pun memberi mereka kemerdekaan.
Pada saat ini, seorang Muslimah mendekati Muhammad dan memintanya jika Allah menganugerahkan kemenangan bagi Muslim, maka Muhammad hendaknya memberinya perhiasan milik wanita2 Thaqif. Demikianlah motivasi kaum Muslim dalam melakukan Jihad!
Setelah mengepung selama 15 hari, Muhammad mulai jadi tak sabar. Para pengikutnya juga sudah tidak sabar ingin cepat2 menikmati barang jarahan dari Perang Hunayn yang dikumpulkan di Jirana. Mereka mulai mengomel pada Muhammad dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Lalu tiba2, dia mendapat sebuah mimpi buruk dan Abu Bakr mengartikan mimpinya sebagai tanda sial akan pengepungan jangka panjang ini. Muhammad setuju dengan interpretasi Abu Bakr atas mimpinya. Dia lalu memerintahkan pembongkaran perkemahan tentara Muslim dan meninggalkan tempat itu untuk pergi ke Jirana. Yang sebenarnya terjadi adalah seorang ahli perang menasehati Muhammad bahwa tentara Thaqif dapat dikalahkan dengan mudah di kemudian hari jika mereka sedang tidak bersembunyi di dalam bentengnya. Keadaan saat mereka berada dalam benteng itu seperti seekor rubah bersembunyi dalam liangnya (sukar dikalahkan atau ditangkap). Muhammad yang cerdik mengetahui kebenaran nasehat ini dan memutuskan untuk mengakhiri pengepungan sambil bersumpah untuk menghukum Thaqif setelah dia selesai membagi-bagikan harta jarahan Perang Hunayn. Beberapa pengikutnya mengeluh karena mereka tidak dapat harta jarahan dan wanita2 cantik Thaqif. Muhammad menghibur dan membujuk mereka untuk bersabar guna mendapat kemenangan di kemudian hari. Dia tidak terburu-buru.
Dua belas tentara Muslim tewas dalam pengepungan Taif. Mereka terdiri dari 7 orang Quraish, 4 orang Ansar, dan 1 dari B. Layth. [280]
280 Ibn Ishak, p.591
Dari pengepungan ini kita bisa melihat motif terbesar para Jihadi yang bergabung dengan Muhammad yakni keserakahan untuk mendapatkan barang jarahan. Hal ini misalnya tampak pada pernyataan wanita yang datang menghadap Muhammad untuk minta jarahan perhiasan wanita2 Thaqif. Karenanya muncul anekdot yang mengatakan bahwa para Jihadis terutama mengincar kaum wanita pihak musuh!
Ketika masyarakat Thaqif melihat tentara Muhammad meninggalkan tempat, mereka menangis penuh rasa bahagia. Mendengar sorakan kegembiraan itu, seorang Muslim baru bernama Uyaynah b. Hisn menunjukkan rasa solidaritas dengan masyarakat Thaqif dengan mengaku bahwa mereka memang menang. Seorang prajurit Muslim menegurnya karena berkata begitu, tetapi Uyaynah menjawab bahwa sesungguhnya dia ikut perang ini untuk menikmati wanita2 Thaqif. Dia berkata, “Demi Tuhan, aku tidak datang untuk berperang melawan Thaqif bersamamu, tapi aku berharap agar Muhammad menang sehingga aku bisa dapat seorang budak wanita Thaqif yang nantinya akan kuhamili dan dia akan melahirkan seorang anak laki bagiku karena orang2 Thaqif terkenal sebagai orang2 yang cerdas.” Ketika Umar menyampaikan apa yang dikatakan Muhammad kepada Uyaynah, Muhammad berkata, “[Orang ini menunjukkan] kebodohan yang dapat dimaklumi.” [281]
281 Tabari, vol.ix, p.25
Di bagian berikut akan kita lihat keserakahan tanpa batas para Jihadi terhadap barang jarahan.
Pembagian Harta Jarahan Perang Hunayn
Setelah meninggalkan Taif, Muhammad langsung menuju Jirana di mana semua barang jarahan dari Perang Hunayn dikumpulkan (lihat Teror 77, Bagian 17). Ini adalah salah satu hasil jarahan terbesar yang pernah didapat para Jihadis. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, jarahan terdiri dari 6.000 wanita dan anak2, 24.000 unta, 40.000 domba, dan 4.000 ons perak. Para Muslim sangat tidak sabar lagi untuk menikmati barang jarahan ini dan Muhammad harus segera meninggalkan Taif untuk menyenangkan hati mereka.
Ketika Muhammad tiba di Jirana, sekelompok utusan Hawazin menjumpainya untuk memintanya melepaskan kaum wanita dan anak2 mereka. Sebelum diperkenankan menghadap Muhammad, mereka diharuskan memeluk Islam terlebih dahulu. Seorang dari para utusan itu yakni B. Sa’d b. Bakr tersungkur di lantai sambil memohon atas dasar hubungan darah. Muhammad menjawab bahwa mereka harus memilih:
para wanita dan anak2 mereka atau harta benda mereka.
Mereka tidak bisa mendapatkan keduanya, begitu ketetapan Muhammad. Para pria B. Hawazin ingin mendapatkan keluarga mereka kembali, dan tidak peduli akan ternak dan harta benda mereka. Dikisahkan bahwa B. Sa’d b. Bakr berasal dari suku yang sama dengan Halima, wanita yang menyusui Muhammad sewaktu bayi. B. Sa’d b. Bakr mengingatkan Muhammad bahwa sebagian tawanan adalah saudara2 Muhammad berdasarkan hubungannya dengan Halima. Pada saat perundingan tentang para tawanan inilah Muhammad bertemu dengan saudara wanita angkatnya Shyama (lihat Teror 77, Bagian 17).
Karena permintaan yang penuh harapan dan hubungan darah tak langsung ini, hati Muhammad tergerak (sedikiiit saja). Dia mau melepaskan bagian tawanannya (yakni seperlima atau 1.002 wanita dan anak2) dan dia juga meminta para Muslim lain secara sukarela melepaskan tawanan mereka pula. Sebagian Muslim melakukannya dengan rela, tapi sebagian besar tidak mau. Ketika Muhammad mengetahui hal ini, dia mengadakan negosiasi dengan para Muslim. Dikatakannya jika seorang tentara Muslim bersedia melepaskan seorang tawanan, maka dia akan menerima 6 ekor unta. Dengan perjanjian ini, sebagian besar tawanan wanita dan anak2 akhirnya bisa bebas. Ini Hadisnya.
Hadith Sahih Bukhari, Volume 3, Book 46, Number 716:
Dikisahkan oleh Marwan dan Al-Miswar bin Makhrama:
Ketika utusan2 dari suku Hawazin datang menghadap sang Nabi dan mereka memintanya untuk mengembalikan barang2 dan tawanan2 perang. Sang Nabi berdiri dan berkata kepada mereka, “Aku punya orang2 lain yang berkepentingan dengan hal ini (seperti yang kau lihat) dan keputusan yang paling arif daripadaku adalah yang benar. Kau boleh memilih antara barang2mu atau tawanan2 perang karena aku telah menunggu pembagian jarahan.” Sang Nabi telah menunggu mereka lebih dari 10 hari sejak ia tiba dari Ta’if. Karenanya, setelah jelas bagi mereka bahwa sang Nabi tidak akan mengembalikan keduanya tapi hanya salah satu saja, mereka berkata, “Kami memilih para tawanan.”
Sang Nabi berdiri diantara para pengikutnya dan memuji Allah sebagaimana Dia layak menerimanya dan berkata, “Orang2 ini telah datang kepada kita dengan pertobatan, dan aku melihat selayaknya untuk mengembalikan tawanan2 perang. Jadi, barang siapa yang bersedia melakukan hal ini dengan rela hati, dia boleh melakukannya, dan barang siapa yang tetap mau memiliki bagiannya sampai kami menggantinya dengan jarahan perang yang pertama yang Allah berikan kepada kita, maka dia boleh melakukannya (menyerahkan tawanan perangnya).” Orang2 menjawab, “Kami mau melakukannya (mengembalikan tawanan perang) dengan suka rela.” Sang Nabi berkata, “Kami tidak tahu yang mana dari kalian yang setuju dan yang mana yang tidak setuju. Jadi kembalilah dan biarkan pemimpinmu menyampaikan keputusanmu.” Lalu orang2 kembali dan berdiskusi akan hal ini dengan para pemimpin mereka yang lalu kembali menghadap Muhammad dan memberitahu bahwa semua orang rela membebaskan tawanan perang mereka. Inilah yang kami dengar tentang tawanan2 Hawazin. Dikisahkan oleh Anas bahwa Abbas berkata kepada sang Nabi, “Aku membayar uang tebusan bagi kebebasanku dan kebebasan Aqil.”
Dari bagian tawanan2 wanita miliknya, Muhammad menghadiahi menantunya, Ali, seorang budak wanita bernama Raytah bt. Hilal untuk dinikmati Ali semaunya. Muhammad juga menghadiahi menantunya yang lain Uthman b. Affan seorang budak wanita bernama Zaynab bt. Hayyan. Dia juga menghadiahi Umar b. Khattab seorang budak wanita yang dimerdekakan. Umar lalu memberikan wanita ini kepada anak lakinya, Abd Allah. Abd Allah lalu mengirim wanita ini kepada pamannya agar wanita ini siap melayaninya setelah dia menjalani ibadah mengelilingi Ka’abah! Kebanyakan rekan2 elit Muhammad menerima hadiah budak2 wanita. Dikabarkan bahwa Abd Allah kemudian melepaskan budak seksnya setelah dia mendengar Muhamad meminta para Muslim untuk melepaskan tawanan2 mereka.[282]
Uayanah b. Hisn menerima seorang janda tua sebagai tawanan, dan dia berhadap dapat uang tebusan bagi wanita ini. Ketika dia mendengar permintaan Muhammad untuk membebaskan tawanan wanita, dia sangat kecewa dan tidak mau mengganti janda ini dengan 6 ekor unta. Seorang rekannya lalu memintanya “untuk melepaskannya karena mulut janda itu tidak dingin dan buah dadanya tidak montok, dia tidak bisa mengandung lagi, air susunya sudah kering dan suaminya pun juga tidak peduli.” Karena sedih mendengar penjabaran wanita ‘tiada guna’ ini, Uayanan b. Hisn akhirnya membebaskannya dan dapat ganti 6 ekor unta. Lalu Uayanah bertemu kawannya di al-Aqra dan mengomel atas permintaan Muhammad. Kawannya menjawab, “Demi Tuhan, kau kan tidak mendapatkan wanita itu ketika dia masih perawan dan tidak juga ketika tubuhnya penuh di usia lanjut!” [283]
Muhammad lalu menawarkan Malik, ketua kaum Hawazin, yang sedang bersembunyi di Taif untuk ke luar menemui Muhammad. Jika Malik bersedia memeluk Islam, maka Muhammad akan mengembalikan keluarganya dan harta bendanya. Ketika berita ini didengar Malik, dia meninggalkan Taif diam2 dan menghadap Muhammad di Jirana. Malik memeluk Islam dan dia mendapatkan keluarganya kembali. Setelah jadi Muslim, dia membantu Muhammad memerangi masyarakat Thaqif.
Rupanya kaum Muslim tidak senang dengan kemurahan hati Muhammad terhadap musuhnya. Mereka khawatir sikap Muhammad akan mengurangi jatah jarahan dan tawanan perang yang seharusnya mereka dapat. Mereka merasa bagian upah mereka diambil setelah melakukan perang sengit. Maka ketika Muhammad pergi setelah membebaskan tawanan Hunayn, para Muslim mengejarnya dan berkata, “O Rasul Allah, bagi2lah unta2 dan ternak2 diantara kami.” [284] Mereka sangat bersikeras dan memaksa sampai2 mereka mendorong Muhammad sampai punggungnya bertumbuk pada sebuah pohon, lalu mereka mengambil mantelnya. Para Jihadis mengamuk karena barang jarahannya diambil dari mereka. Muhammad dengan putus asa berteriak, “Kembalikan mantelku, orang2, karena demi Tuhan jika kau punya domba sebanyak pohon2 di Tihama, aku akan membagi-bagikannya diantaramu. Aku tidak bersalah atau bersikap pengecut.” [283] Untuk menenangkan gerombolan Jihadis yang haus jarahan ini, Muhammad bahkan terpaksa berjanji pada mereka untuk menyerahkan bagiannya (1/5 jarahan total = khums) pada para Jihadis. Setelah mendengar janji itu, para Jihadi melepaskan Muhammad yang sangat amat tertekan.
282 Tabari, vol. ix, pp.29-30
283 Tabari, vol. ix, pp.29.30
Muhammad memberi hadiah2 khusus sebagai sogokan kepada mereka yang baru saja masuk Islam, yakni kaum Quraish, agar mereka senang. Untuk mendukung tindakannya ini, dia berkata bahwa iman Islam kaum Quraish kurang kuat, jadi dia harus menyogok mereka dengan harta untuk mengambil hatinya. Ini Hadis yang menerangkan usaha menyogok yang dilakukan Muhammad.
Hadith Sahih Bukhari, Volume 4, Book 53, Number 374:
Dikisahkan oleh Anas:
Sang Nabi berkata, “Aku beri orang2 Quraish agar mereka lebih kuat dalam Islam, karena hidup mereka penuh ketidakpedulian (artinya mereka baru saja masuk Islam dan belum begitu kuat imannya)”
Allah dengan gesit menyetujui penyogokkan ini dengan menurunkan ayat Q 9:60. Bahkan kaum Quraish yang masih pagan juga menerima hadiah. [286] Dia memberikan 100 unta bagi orang2 terkemuka yang baru masuk Islam seperti Abu Sufyan b. Harb, dua putranya Muawiyah dan Yazid, Safwan b. Uumayyah, Suhayl b. Amr, Uyayanah b. Hisn dll. Ketika Abu Sufyan mengomel dan minta tambah hadiah baginya dan kedua putranya, Muhammad memberi mereka 40 ons emas (harga jaman sekarang sekitar US$ 16.000). Safwan b. Umayyah minta hadiah lebih dan Muhammad memberinya tambahan lagi 200 unta, jadi seluruhnya dia menerima 300 unta. [287] Mereka lalu dikenal sebagai “Orang2 Ratusan.”
Muhammad tidak hany menyogok Muslim baru dengan uang dan harta benda, tapi dia juga memberi kedudukan yang penting. Putra Abu Sufyan yang bernama Yazid jadi gubernur Tayma dan putranya yang lain Muawiya jadi sekretaris Muhammad. [288] Muslim2 baru di bawah ranking sosial para elite Quraish menerima kurang dari 100 unta per orang. Sebagian hanya menerima 50 unta. Beberapa Muslim baru tidak suka akan “penyogokan diskriminasi” ini dan mereka menghadap Muhammad. Untuk menutup mulut para Muslim baru ini, Muhammad memberi mereka lebih banyak unta2 sampai mereka puas dan berhenti mengritiknya.
284 Tabari, vol. ix, p.31
285 Ibn Ishak, p.594
286 (Rodinson, p.264
287 Mubarakpuri, p.484
288 Rodinson, p.272
Ketika Jihadi sejati bernama Juayl b. Suraqah mengomel tentang ketidakadilan Muhammad tentang pembagian harta jarahan B. Hawazin, Muhammad menjawab, “Demi Dia yang memiliki jiwaku, Juayl b. Suraqah lebih berharga daripada seluruh dunia penuh dengan orang2 seperti Uyayanah b. Hisn dan al-Aqra b. Habis, tapi aku harus memperlakukan mereka dengan murah hati agar mereka memeluk Islam, dan aku telah percaya akan iman Islam Ju’ayl b. Suraqah.” [289]
Semua jarahan Hunayn dibagi-bagikan diantara kaum Quraish dan Bedouin. Kaum Ansar tidak dapat apa2! Mereka sangat tidak senang dan perasaan tak suka mereka terdengar Muhammad. Kaum Ansar khawatir bahwa sekarang Muhammad lebih memilih orang2 sukunya, Quraish. Muhammad lalu mengumpulkan orang2 Ansar dan berkata kepada mereka bahwa orang2 lain mendapatkan barang jarahan, tapi orang2 Ansar memiliki Muhammad, dan ini lebih berharga daripada barang jarahan. Lalu Muhammad meneteskan airmata (buaya – Adadeh) bagi mereka dan berjanji bahwa dia adalah bagian kaum Ansar. Mendengar itu, kaum Ansar merasa puas. Lihat Hadis Sahih Muslim, book 4, Hadith number 2303 untuk penjelasan lebih lanjut.
Setelah bertemu dengan orang2 Ansar, Muhammad meninggalkan Jirana untuk melakukan Umroh. Dia memerintahkan sisa jarahan disimpan di Majanna, suatu tempat yang aman. Setelah menjalankan Umroh, dia kembali ke Medina dan meninggalkan Muadh b. Jabal di Mekah untuk mengajar tentang Islam kepada kaum Muslim baru. Muhammad mengangkat Attab b. Asid, seorang Muslim baru, sebagai gubernur Mekah dengan bayaran 1 Dirham per hari. Sisa jarahan lainnya dibawa ke Medina. Muhammad tiba di Medina di bulan April, 630. [290]
289 Tabari, vol. ix, p.34
290 Tabari, vol ix. p.38
Dari jarahan Jirana, setiap Jihadis mendapat 4 unta dan 40 domba. Setiap prajurit pengendara kuda mendapat tambahan lebih bagi kudanya. Prajurit berkuda menerima 12 unta dan 120 domba. Kalau dihitung dalam nilai uang US$ saat ini, maka mudah dimengerti mengapa para Jihadis itu begitu giat untuk ikut Muhammad.
Setelah Muhammad kembali ke Medinah, dia menunjuk beberapa penagih pajak untuk mengumpulkan pajak Jizyah, kalau perlu dengan paksa, dari suku2 yang menolak masuk Islam.
Teror 80 : Serangan Atas B. Tamim oleh Uyana b. Hisn — Juli, 630M
Ketika tagihan pajak paksa Jizyah terhadap para kafir jadi semakin berat, beberapa suku berontak melawan Muhammad. B. Tamim tidak mau membayar Jizyah dan mengajak beberapa suku untuk melawan penagih pajak Muslim. Maka Muhammad mengirim Uyana b. Hisn dengan 50 pasukan berkuda untuk menghukum B. Tamim dan menarik Jizyah dari mereka. Uyana menyerang B. Tamim ketika mereka sedang menggembalakan unta2 mereka. Kebanyakan orang2 B. Tamim melarikan diri ketakutan. Uyana mengambil unta2 dan ternak2 lain, menangkap 11 pria, 21 wanita, dan 30 anak2 sebagai barang jarahan ke Medina. Muhammad memenjarakan semua orang ini. Ketika masyarakat B. Tamim mendengar tentang nasib saudara2 mereka, mereka mengirim 10 orang utusan menghadap Muhammad dan meminta agar tawanan dilepaskan. Orang ini datang ke Medinah dan berteriak keras2 memanggil Muhammad yang sedang beristirahat di rumahnya. Allah tidak suka akan tindakan mereka yang tak sopan ini dan cepat2 mengirimkan Q 49:4, menegur sikap kasar orang2 Arab Bedouin dan melarang orang berteriak dengan suara lebih keras dari suara Muhammad. Dengan jengkel Muhammad bicara singkat dengan mereka dan lalu dia sembahyang. Allah juga menurunkan Q 49:6 memperingatkan Muhammad untuk menelaah kenyataan sebelum memutuskan sesuatu. Lalu Muhammad melakukan negosiasi panjang dengan utusan B. Tamim.
Pertandingan puisi dilaksanakan untuk menentukan agama siapa yang lebih baik: Islam atau Pagan. Tentu saja Islam yang menang pertandingan dan utusan B. Tamim memeluk Islam. Muhammad lalu melepaskan para tawanan pria, wanita, dan anak2. Setelah mereka masuk Islam, Muhammad memuji mereka dan lalu Aisha membebaskan seorang budak dari B. Tamim. Ini Hadisnya.
Sahih Bukhari, Volume 3, Book 46, Number 719:
Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Aku mengasihi masyarakat suku Bani Tamim setelah kudengar tiga hal yang Rasul Allah sebut tentang mereka. Aku mendengar dia berkata, “Orang2 ini (dari suku Bani Tamim) akan berdiri teguh melawan Ad-Dajjal.” Ketika Sadaqat (memberi uang sumbangan) dari suku itu datang, Rasul Allah berkata, “Ini adalah Sadaqat dari kawan2 kita.” Aisha memiliki seorang budak wanita dari suku itu, dan sang Nabi berkata pada Aisha, “Merdekakan dia karena dia adalah keturunan Ismael (sang Nabi).”
Teror 81 : Teror Terhadap B. al-Mustaliq untuk dapat Jizya — Juli, 630M
Seperti yang tersirat dalam hukum Islam tentang perlakuan terhadap orang2 non-Muslim, penagih pajak datang ke masyarakat B. al-Mustaliq untuk minta Jizyah. Orang2 itu mengelilingi penagih pajak. Untuk menghindari kekerasan, penagih pajak melarikan diri ke Medinah. Muhammad lalu mengancam orang2 B. al-Mustaliq dengan teror dan balas dendam. Orang2 B. al-Mustaliq yang ketakutan lalu menerima penagih pajak dengan hormat dan membayar Jizyah padanya.
Teror 82 : Serangan Mendadak atas B. Khatham di Talabah oleh Qutbah ibn Amir ibn Hadidah—August, 630M
Muhammad mengirim Qutbah ibn Amir dan 20 tentara untuk melakukan serangan mendadak terhadap B. Khatamah yang tinggal di Tabalah, dekat Turbah. Alasan penyerangan adalah semata-mata untuk menjarah. Para tentara Muslim membunuh seseorang yang pura2 tampak bodoh. Lalu mereka menyerang masyarakat B. Khatham pada saat mereka tidur. Tentara Muslim membunuh siapapun yang mereka temui dan merampok sejumlah besar unta, kambing dan wanita sebagai barang jarahan.
Teror 83 : Penyerangan Atas B. Kilab di al-Zuji oleh al-Dahak ibn Sufyan al-Kilabi—August, 630M
Muhammad mengirim al-Dahak ibn Sufyan ke al-Zuji untuk 'mengajak' orang2 B. Kilab memeluk Islam. Ketika mereka menolak, tentara2 Muslim menyerang mereka dan memaksa mereka berlarian pergi ketakutan. Diantara para Muslim terdapat seorang Jihadi sejati bernama al-Asyad. Dia bertemu dengan ayahnya yang bernama Salamah yang sedang mengendarai kuda. Al-Asyad meminta ayahnya masuk Islam. Tapi ayahnya malah menegurnya karena memeluk Islam. Al-Asyad jadi marah dan dia memotong kuda ayahnya. Ketika ayahnya terjatuh, dia lalu menangkapnya sampai para Muslim yang lain tiba di tempat itu dan membunuhnya. Untuk menyembunyikan kejadian pembunuhan yang barbaris dan memalukan ini, sejarawan Muslim seperti Ibn S’ad dengan jelas menulis bahwa al-Asyad tidak membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri. [292]
Teror 84 : Pemaksaan Agama terhadap Penyair Ka’b — Agustua, 630M
Ka’b ibn Zuhayr, seorang penyair Mekah biasa menyusun puisi satir yang menyerang Muhammad (Ingat? Para penyair pada jaman itu adalah seperti jurnalis di jaman sekarang).
Ketika Muhammad menaklukkan Mekah, dia memaksa saudara laki Ka’b yakni Bojayr (yang juga seorang penyair) untuk masuk Islam. Setelah jadi Muslim, Bojayr jadi tidak suka akan saudaranya dan lalu pergi ke Medinah. Lalu dia menulis surat pada Ka’b bahwa sang Nabi membunuhi orang2 yang telah menghinanya atau mengejeknya, dan setiap penyair yang dulu melakukan hal itu sekarang lari meninggalkan Mekah dan karena itu sebaiknya Ka’b datang ke Medinah, memeluk Islam atau menghadapi ancaman kematian. Muhammad memang sangat merasa terganggu dengan tulisan puisi Ka’b. Karena ketakutan, Ka’b mencari tempat pelarian di mana2 tapi tidak berhasil. Setelah usahanya gagal, dia akhirnya datang menghadap Muhammad dan minta maaf. Setelah dia masuk Islam, Muhammad memaafkannya.
Teror 85 : Penyerangan Atas Abysinia di Pantai Jeddah oleh Alaqamah b. Mujazziz—September, 630M
Sekelompok orang2 Abysinia (Ethiopia) tiba di kota pantai Jeddah. Kaum Muslim takut kalau mereka adalah bajak laut sehingga mereka lari meninggalkan kota. Ketika Muhammad mengetahui hal ini, dia mengiri Alaqamah b. Mujazziz mengepalai 300 tentara Muslim. Alaqamah mengejar orang2 Abysinia (atau al-Habasha) dan memaksa mereka mundur ke sebuah pulau. Ketika air pasang, orang2 Abysinia itu melarikan diri.
291 Radio Times, 1992
292 Ibn Sa’d, vol. ii p.201
Teror 86 : Pembalasan Pembunuhan di Dhu Qarad oleh Alaqamah b. Mujazziz—September, 630M
Setelah berhasil dalam tugas mengusir orang2 Abysinia di tepi pantai Jedah oleh Alaqamah b. Mujazziz, Muhammad mengirimnya untuk membalas pembunuhan anak laki Abu Dhar Ghifari (Teror 40, Bagian 11) di Dhu Qarad. Alqama dan prajuritnya kembali tanpa pertarungan.
Teror 87 : Penghancuran Berhala Yakut Milik B. Tayii idol Yakut di al-Fuls oleh Ali b. Talib—September, 630M
Muhammad mengirim Ali bersama 200 pasukan berkuda untuk merampok tempat ibadah masyarakat B. Tayii. Meskipun banyak masyarakat B. Tayii yang bergama politheis (pagan), ketua mereka yang bernama Adi b. Tayii, anak filantropis Arab legendaris bernama Hatim Tayii, beragama Kristen. Sebelumnya dia bergabung dalam benteng masyarakat Thaqif di Nakhla yang hampir semuanya pagan. Ini jelas menunjukkan hal yang bertentangan dengan yang ditulis oleh sejarawan Muslim bahwa di jaman Jahiliyah (sebelum Muhammad) tidak dikenal toleransi agama di Jazirah Arabia. Ketika Muhammad menyerang Thaqif, Adi b. Hatim Tayii melarikan diri dan tinggal bersama masyarakatnya di al-Fuls. Ali melakukan serangan tiba2 di pagi hari di kuil al-Fuls di mana berhala Yakut berada. Yakut digambarkan sebagai dewa yang berbentuk seekor kuda yang melambangkan kegesitan. [293] Tentara Muslim menghancurkan patung berhala ini, membakar kuil al-Fuls sampai habis, menjarah tempat tinggal masyarakat B. Tayii dan mengambil banyak barang rampasan, termasuk 3 pedang termashyur di bawah reruntuhan berhala Yakut. Mereka juga menawan sejumlah pria, wanita dan anak2. Ketua B. Tayii, Adi b. Hatim Tayii, melarikan diri ke Syria untuk bergabung dengan sekutu2 Kristen.
Diantara para tawanan terdapat saudara wanita Adi b. Hatim. Ali membawanya beserta beberapa tawanan lain menghadap Muhammad. Mereka disekap di dalam sebuah mesjid. Saudara wanita Adi b. Hatim in sudah berusia sangat lanjut dan dia memohon ampun dari Muhammad dan memintanya untuk mencari saudara lakinya Adi. Karena permohonannya yang terus-menerus, akhirnya Muhammad membebaskannya dan membantunya untuk mencari Adi. Ali menyediakan seekor unta baginya untuk mencar Adi di Syria. Sewaktu bertemu, dia meminta Adi untuk memeluk Islam karena Muhammad telah bermurah hati padanya. Adi menyetujui anjuran saudara wanitanya dan dia datang menghadap Muhammad. Muhammad menguliahi dia tentang Islam. Seperti yang telah ditulis sebelumnya, Adi b. Hatim adalah penganut Kristen. Dia juga sering mengambil ¼ bagian dari barang jarahan. Muhammad menuduhnya melanggar ajaran Kristen karena melakukan hal itu (bagian jarahan Muhammad adalah 1/5).
293 Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Appendix xiii, p.1619
Ketika Muhammad menanyakan mengapa Adi merasa ragu memeluk Islam, Adi menjawab bahwa saat itu hanya sedikit sekali orang yang memeluk Islam. Lalu Muhammad menjanjikannya banyak harta jika dia pindah agama. Dia juga menjanjikan akan menaklukkan Babylon. Mendengar janji banyak harta, Adi cepat2 pindah agama dan masuk Islam. Muhammad lalu menunjuknya lagi untuk jadi ketua suku B. Tayii.
Pada saat ini, Muhammad meramalkan bahwa lambang akhir dunia adalah seekor wanita mengendarai unta tanpa perlindungan.
Teror 88 : Penyerangan Atas al-Jinab dan B. Udrah di Bali oleh Ukkash b. Mihsan — Oktober, 630M
Muhammad mengirim sekelompok tentara yang kuat, dipimpin oleh Ukkash b. Mihsan ke Bali untuk menundukkan suku Udrah dan al-Jinab. Tidak ada tulisan sejarah yang menerangkan kegiatan teror ini lebih detail.
Teror 89 : Membunuh Orang Berhala merupakan Tindakan Terpuji — Oktober, 630M
Sewaktu berbagai suku di Jazirah Arabia menyadari kebuasan tentara Muhammad, mereka mengambil keputusan untuk masuk Islam. Alasan lain karena mereka dapat tambahan harta karenanya. Banyak para ketua suku yang menghadap Muhammad dan menawarkan persekutuan dengan imbalan pembagian barang jarahan dan pajak paksa Islam yakni Jizya dan Zakat. Beberapa raja2 Himyar (para pemimpin Arabia Selatan: Yemen, Hadhramaut, Oman, Bahrain, etc.) melakukan hal ini. Raja2 ini adalah pengikut Kaisar Persia. Pada saat itu Kekaisaran Persia sedang melemah dan para raja haus harta ini dengan cepat berpihak kepada Muhammad dengan maksud untuk mendapat harta lebih banyak sambil mempertahankan kedudukan mereka. Mereka mengirim surat2 kepada Muhammad yang menyatakan mereka masuk Islam dan ingin mendapat bagian barang jarahan dan uang yang masuk dari pajak paksa.
Muhammad menyatakan rasa sukanya karena raja2 Himyar ini masuk Islam. Dia memuji mereka karena mereka membunuhi orang2 pagan dan memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan RasulNya, bayar Zakat, beri Khums (1/5 jarahan) kepada Muhammad, hak spesial bagi Muhammad untuk memilih barang yang disukainya dari jarahan (Safi) sebagai tambahan Khums.
Muhammad kemudian menjabarkan lebih lanjut mengenai Zakat. Jika seorang Yahudi atau Kristen memeluk Islam, maka hak orang itu akan sama dengan orang Muslim lainnya. Orang Yahudi dan Kristen tidak perlu dipaksa masuk Islam asalkan mereka bayar Jizyah. Jika mereka tidak mau bayar Jizyah, maka mereka menjadi musuh Allah dan Muhammad sehingga harus dibunuh.
Lalu Muhammad memerintahkan raja2 Himyar untuk menyerahkan Zakat dan sumbangan dana lain kepada penagih pajak Muslim sampai Muhammad puas dengan uang yang diterima. Dana Alm dipungut bukan untuk Muhammad dan keluarganya, tapi untuk kepentingan para Muslim yang tak mampu. Muhammad juga menulis surat terima kasih kepada raja2 Himyar yang membunuhi orang2 pagan. Begini isi suratnya:
“Malik B. Murrah al-Rahawa telah melaporkan padaku bahwa engkau adalah yang pertama dari masyarakat Himyar yang memeluk Islam dan engkau telah membunuh orang2 pagan. Karenanya bergembiralah atas nasib baikmu. Rasul Allah adalah ketuamu pada saat kau kaya dan miskin.”[294]
Bookmark halaman ini dengan:
Delicious
Digg
Stumbleupon
Reddit
Newsvine
Facebook
Google
Yahoo
Technorati

