Download
Download Faithfreedompedia versi offline (17.7MB):

Serangan-serangan Lain - Tahun 625M

Dari Faithfreedompedia

Langsung ke: navigasi, cari

Teror 22 : Penyerangan atas HAMRA al-ASWAD oleh Muhamad — Maret, 625M

Seperti yang telah ditulis sebelumnya, Muhammad sangat gundah akan kekalahan pihak Muslim di [UHUD] Karena itu, untuk mengangkat moral para Muslim dan tetap membuat takut orang2 Yahudi dan orang2 munafik (orang2 yg berpura2 Muslimin, dia merencanakan beberapa serangan terhadap musuh untuk membalas kekalahan di Uhud.

Jadi pada hari Minggu, tanggal 8 Shawal, AH 3 (24 Maret, 625), sehari setelah perang Uhud, ketika para Muslim bangun, mereka mendengar Muhammad memanggil mereka untuk mengejar tentara Quraysh. Dia memerintahkan para tentara untuk bersiap, tapi hanya mereka yang ikut perang Uhud di hari sebelumnya yang boleh bergabung dengan operasi militer baru ini. Tak dapat disangkal bahwa dia melakukan hal ini untuk membangkitkan semangat para Jihadi untuk menghilangkan ingatan kekalahan mereka yang memalukan di Uhud dan untuk membakar moral prajurit2nya yang tadinya hilang. Seorang Muslim yang tidak ikut perang Uhud karena ayahnya tidak memberi ijin baginya untuk berperang Jihad, diijinkan ikut masuk tentara Muslim. Seorang anak laki dari Jihadi yang mati terbunuh di Uhud minta ijin Muhammad untuk ikut operasi militer ini dan dia pun diijinkan ikut. Selain mereka, beberapa Jihadi yang terluka juga ikut barisan tentara ini.

Tak lama sebelum Muhammad mengejar tentara Mekah, dia mengirim tiga orang pengintai yang semuanya berasal dari B. Aslam untuk memeriksa jejak kaki tentara Mekah. Dua dari mereka bertemu dengan tentara Mekah di Hamra al-Asad, sekitar 8 (atau 10 menurut Ibn S’ad) mil dari Medina. Abu Sufyan sudah mengetahui tentang usaha Muhammad untuk mengejar tentara Mekah. Dua pengintai mendengar percakapan diantara orang2 Quraysh: apakah mereka harus kembali dan menghabisi para Muslim untuk selamanya atau kembali ke Mekah. Abu Sufyan sebenarnya ingin kembali dan menghancurkan tentara Muslim tapi setelah bertukar pikiran dengan Safwan ibn Umayyah, dia tidak jadi melakukan hal itu dan melanjutkan perjalanan kembali ke Mekah. Ini terjadi sehari sebelum Jihadi Muslim tiba di Hamra al-Asad. Sebelum berangkat dari Hamra al-Asad, tentara Quraysh menemukan dua pengintai Muslim, menangkap dan membunuh mereka, lalu melemparkan mayat2 mereka di jalan. Tidak diketahui bagaimana nasib pengintai ketiga. Tampaknya dia melarikan diri kembali ke Muhammad.

Para Jihadi di bawah pimpinan Muhammad yang berbalut perban pergi ke Hamra al-Asad dan menemukan mayat2 kedua pengintai yang dikirim Muhammad untuk mengintai tentara Quraysh. Setelah Muhammad tahu bahwa tentara Quraysh tidak ada disana untuk menyerangnya lagi, dia merasa lega dan mengambil keputusan untuk diam di tempat itu selama 3 malam (atau 5, menurut Ibn Sa’d) sampai hari Rabu (25-27 March, 625) sebelum kembali ke Medinah. Ketika dia sedang menunggu kesembuhan dari luka yang didapatnya di perang Uhud, dia memerintahkan pembakaran 500 kayu bakar yang ditumpuk tinggi untuk mengirim pesan pada tentara Quraysh bahwa dia masih tetap kuat.

Ketika Muhammad sedang berada di Hamra al-Asad, dia membuat persetujuan dengan Mabad al-Khuzaah di Tihamah. Orang2 Muslim dan pagan dari Tihamah adalah sekutu terpercaya Muhammad. Mereka setuju untuk tidak menyembunyikan apapun dari Muhammad.
107 Masterminds of terror, p116; Ramzi Binalshibh was one of the planners of 9/11

Lalu, Mabad pergi ke Mekah dan bertemu dengan Abu Sufyan. Mabad memberi keterangan palsu bahwa Muhammad sedang mengumpulkan kekuatan untuk memerangi Abu Sufyan. Pada saat itu Abu Sufyan dan kawan2nya sedang merencanakan serangan hebat ke Medinah untuk menghabisi total pihak Muslim. Mendengar bualan Mabad tentang kekuatan militer Muhammad, Abu Sufyan menarik kembali rencananya untuk segera menyerang para Muslim.[108] Jadi Muhammad sekali lagi membuktikan bahwa penggunaan teror dan tipuan memang efektif.

Setelah menunjukkan keberaniannya di Hamra al-Asad, Muhammad kembali ke Medinah. Seorang serdadu Quraysh berkeliaran di Hamra al-Asad. Dia adalah penulis puisi yang bernama Abu Azzah al-Jumahi, yang adalah seorang yang miskin yang mempunyai 5 anak perempuan. Dia tertinggal rombongan tentara Quraysh. Sebelumnya, dia adalah tawanan perang Badr II. Karena dia miskin dan tidak mampu membayar uang tebusan bagi dirinya sendiri, maka dia memohon untuk dimerdekakan. Muhammad membebaskannya asalkan dia berjanji tidak akan melawan pihak Muslim lagi. Akan tetapi dia tergoda oleh orang2 Mekah untuk berperang lagi melawan Muslim karena dijanjikan upah yang besar kalau menang atau untuk mengurus ke 5 anaknya jikalau dia mati terbunuh. Setelah pihak Muslim kalah telak di Uhud, dia memohon ampun kepada Muhammad, tapi Muhammad tidak menaruh kasihan padanya dan memerintahkan agar Abu Azzah dibunuh karena dia telah melanggar janjinya. Hazrat Ali lalu membunuhnya.[109]

Seoarang Quraysh lain ketika kembali ke Mekah kesasar di jalan dan bermalam di dekat Medinah. Di pagi harinya dia pergi ke rumah Uthman ibn Affan (menantu Muhammad). Uthman menjumpainya, memberinya kemurahan hati selama 3 hari, menyediakan unta dan kebutuhannya untuk perjalanan kembali ke Mekah. Setelah sepakat tentang itu, Uthman berangkat dengan Muhammad ke Hamra-al-Asad. Orang Quraysh yang sial ini berlambat-lambat dan tinggal di Medinah lebih dari 3 hari. Muhammad yang mendengar keterlambatannya lebih dari sehari itu menangkapnya dan memerintahkan agar dia dibunuh.

Al-Harith b. Suwayd adalah seorang yang munafik. Dia pergi ke Uhud bersama Muslim tapi membunuh beberapa Muslim. Lalu dia lari ke Mekah, bergabung dengan kelompok Quraysh. Setelah itu, Al-Harith mengirim saudara lakinya menghadap Muhammad untuk minta ampun, sehingga dia boleh kembali ke Medinah. Muhammad mengijinkannya kembali, tapi belum mengambil keputusan tentang nasibnya, dan memilih menunggu sampai dia kembali dari Hamra al-Asad. Atas keraguannya ini, Allah dengan cepat mengirim ayat Q 3:86 yang memutuskan bahwa siapa yang menolak iman Islam setelah menerimanya harus dihukum mati. Karenanya, setelah kembali ke Medinah, Muhammad memerintahkan pembunuhan atas al-Harith b. Suwayd karena dugaan pembunuhan atas al- Mujaddzir of B. Aws. Pembunuhan (yakni dugaan pembunuhan yang tak terbukti atas al-Mujaddzir) terjadi 9 atau 10 tahun sebelumnya. Muhammad memerintahkan Uthman b Affan, menantunya, untuk memenggal kepala al-Harith. Hazrat Uthman memenggal al-Harith di pintu gerbang mesjid, tepat di hadapan Muhammad.[110]
108 Tabari, vol. vii, p.140
109 Tabari, vol. vii, p.141-142

Sukses perampokan Badr II dilihat orang sebagai bukti pengakuan ilahi Muhammad. Sekarang, kekalahan di Uhud menjatuhkan pengakuan bahwa dirinya adalah nabi. Orang2 Yahudi mulai menyebarkan pertentangan ini. Muhammad sekarang sangat perlu untuk menegakkan reputasinya yang goyah dan membangkitkan moral para pengikutnya. Dia mulai berkhotbah bahwa kekalahan di Uhud adalah karena para munafik. Dia mengaku bahwa Allah di Surat 3 telah memberitahu kebenaran baginya. Lalu dia melanjutkan dengan memisahkan para pengikutnya yang sejati dari para munafik dengan menyalahkan mereka yang tinggal di rumah dan tidak ikut Jihad di Uhud. Dengan menyatakan bahwa andaikata dia mati sekalipun, tujuan tindakannya tetap berlaku, dia menjanjikan keberhasilan di masa depan kepada para pengikutnya jika mereka tetap teguh dan berani. Tujuannya itu sendiri adalah kehidupan fana dan ilahi – dia sangat tegas akan hal ini. Nasehatnya memberi pengaruh yang kuat pada para Jihadi sejati, dan mereka sekarang jadi lebih yakin. Muhammad merasa puas karena dia benar2 dapat membuat para pengikutnya yang gampang dikibulin itu menerima teori apapun yang dikarangnya sebagai suatu kebenaran.


Teror 23: Perampokan atas B. ASAD IBN KHUZAYMAH di Katan daerah Nejd oleh Abu Salma b. Abd al Asad al-Makhzumi — April, 625M

Bani Asad ibn Khuzaymah, yakni para penduduk di Katan, di dekat daerah Fayd yang ada sumber mata airnya, adalah suku bangsa yang kuat yang punya hubungan erat dengan kaum Quraysh. Mereka tinggal di bukit Katan di daerah Nejd. Muhammad mengaku bahwa dia menerima laporan pengintainya tentang rencana suku ini untuk menyerang Medinah. Jadi dia mengirim 100 pasukan tentara di bawah pimpinan Abu Salma b. Abd al Asad al-Makhzumi untuk menyerang suku ini tiba2. Di hari pertama Muharram [111] ketika mereka sedang tidak siap sama sekali, Abd al-Asad menyerang dan meneror mereka and merampas jarahan rampokan.

Akan tetapi operasi teror ini tidak sukses besar. Ketika para Jihadi tiba di tempat itu, para calon korban melarikan diri dan orang2 Muslim hanya menemukan tiga gembala dengan kelompok unta dan kambing yang besar. Mereka mengambil semua ternak itu sebagai barang jarahan, dan ketiga gembala sebagai tawanan. Lalu para unta, kambing, dan ke 3 tawanan dibawa ke Medina. Muhammad mengambil seorang tawanan (sebagai budak) bagi dirinya sendiri, mem-bagi2kan unta dan kambing diantara para Jihadis sambil mengambil 1/5 bagian barang jarahan untuk dirinya sendiri. Keberhasilan usaha perampokan ini mengembalikan harga diri sebagian Muslim yang tadinya hilang setelah perang Uhud. Abu Salamah tidak hidup lebih lama lagi setelah perampokan ini karena infeksi luka yang diterimanya di perang Uhud.

Sehubungan dengan penjarahan ini, perlu diutarakan bahwa berdasarkan hukum Islam tentang penjarahan, semua barang jarahan yang dapat dipindahkan harus dibawa dan dipindahkan dari tempat penjarahan. Berdasarkan hukum Islam, tidak merampas kekayaan kafir setelah keberhasilan perampokan adalah perbuatan yang bertentangan dengan hukum. Dalam aturan Ghanimah (penjarahan), Dictionary of Islam menulis,

“Jika Imam atau ketua tentara Muslim menaklukkan suatu negara dengan kekuatan bersenjata, dia 
bebas untuk membiarkan tanah tetap dimiliki pemilik aslinya, selama orang ini bayar upeti/jizyah,
atau dia (Imam/ketua tentara Muslim) harus membagi-bagikannya diantara orang2 Muslim; tapi tentang 
barang2 yang dapat dipindahkan, adalah termasuk pelanggaran hukum jika dia(Imam/ketua tentara 
Muslim) membiarkan barang2 ini tetap dimiliki kafir, jadi dia harus mengambilnya ke luar bersama 
tentara Muslim dan membagi-bagikannya diantara para tentara Muslim.”[112] 

110 Ibn Ishaq, pp.755- 756, Ibn Hisham’s note
111 Ibn Sa’d, vol.ii, p.150


Teror 24: Pembunuhan atas SUFYAN IBN KHALID, ketua BANU LIHYAN di Urana (serangan pertama atas Banu Lihyan) oleh Abd Allah b. Unays — April, 625 M

Banu Lihyan adalah cabang dari suku kuat Hudhayl (bagian dari kaum Quraysh), yang menempati daerah sekitar Mekah. Ketika teror Jihadi Muhammad menjadi tak tertahankan, mereka membujuk ketua suku mereka yang bernama Khalid ibn Sufyan al-Hudhayli di Urana untuk melakukan perang mencontoh dari kemenangan perang Uhud.

4 hari setelah perampokan di Katan (yakni hari ke 6 Muharram), Muhammad mengetahui bahwa Sufyan ibn Khalid (atau Khalid b. Sufyan) sedang mengumpulkan orang2 di Nakhla untuk menyerangnya. Jadi dia memanggil Abd Allah b. Unays untuk pergi ke Nakhla atau Urana untuk membunuh ibn Khalid.

Ketika Abd Allah b. Unays menanyakan seperti apa sosok calon korbannya, Muhammad menjawab, “Kalau kau melihat dia, kau akan takut dan terkejut dan kau akan ingat Setan.”[113] Abd Allah b. Unays berkata ia tidak takut akan ibn Khalid, tapi untuk membunuhnya, dia (Abd Allah) harus menggunakan tipu muslihat. Dia minta ijin Muhammad untuk berbohong dan melakukan penipuan. Muhammad tanpa ragu mengijinkannya berbuat itu.[114] Abd Allah b. Unays berdoa pada Allah sebelum pergi untuk membunuh musuhnya.

Dia menghabiskan hampir 18 hari untuk mencari jalan untuk masuk ke dalam tentara baru yang direkrut ibn Khalid. Lalu dia menemukan ibn Khalid di suatu tempat perhentian. Ketika dia bertemu dengannya, dia menundukkan kepala tanda hormat pada ibn Khalid. Lalu ibn Khalid menanyakan siapa dia, dan Abd Allah menjawab bahwa dia adalah orang Arab yang ingin bergabung sebagai sukarelawan dalam tentara ibn Khalid untuk bertempur melawan Muhammad. Sufyan ibn Khalid percaya padanya dan menyediakan tempat bernaung baginya. Lalu ketika sedang bercakap-cakap, Abd Allah b. Unays berjalan dekat ibn Khalid, dan ketika kesempatan datang, dia menikamnya dengan pedangnya dan membunuhnya.

Setelah membunuh ibn Khalid, dia memenggal kepalanya dan membawanya kepada Muhammad. Ketika itu Muhammad sedang berada di mesjid. Abd Allah melemparkan kepala ibn Khalid ke dekat kaki Muhammad.

Berkas:Religionofpeace.jpg

Ketika dia menceritakan detail upaya pembunuhan, Muhammad memujinya dan memberinya hadiah sebuah tongkat sebagai tanda antara Muhammad dan Abd Allah di hari akhir. Abd Allah mengikatkan tongkat itu pada pedangnya dan tongkat itu terus bersamanya sampai ajalnya. Ketika dia mati, tongkat itu pun dikubur bersama mayatnya.[115]

Pembunuhan ini berakibat diamnya Banu Lihyan untuk beberapa saat. Tapi cabang lain Banu Liyhan ingin balas dendam atas kematian ketua mereka Sufyan ibn Khalid.
112 Hughes, dictionary of Islam, p.459
113 Ibn Sa’d, vol.ii, p.60
114 Ibid
115 Ibn Ishaq, p.664-665


Teror 25 : Pembunuhan di al-RAJII — Mei atau Juli, 625 M

Ini adalah bagian penting dalam awal sejarah Islam. Di bagian teror dan pembunuhan ini kita bisa melihat sedikit tentang masyarakat Bedouin/Badui Arab yang sangat gampang melakukan kekerasan. Mencurahkan darah adalah kegiatan rutin dalam budaya barbar, tidak peduli siapa yang memulainya atau siapa yang salah atau benar. Pada saat kau membaca bagian ini tentang Islam yang ‘damai’, ingatlah kekerasan yang tak kunjung reda yang terjadi di seluruh dunia, dilakukan oleh Jihadi Islam. Ada beberapa versi dari kisah ini. Ini adalah inti sari berbagai versi tsb dari versi Tabari dan Ibn Ishaq. Variasi ditandai dengan referensi yang sesuai.

Tak lama setelah perang Uhud, sekelompok orang dari Adal dan al-Qarah datang menghadap Muhammad, memintanya untuk mengirim untuk mereka beberapa guru untuk mengajar Islam kepada masyarakat mereka yang ingin memeluk Islam. Muhammad dengan segera menyetujui hal ini dan dengan cepat mengirim 6 orang (atau 10 menurut Ibn Sa’d [116]) bersama mereka. Tapi sebenarnya, kelompok orang ini dikirim oleh Banu Lihyan yang ingin balas dendam atas pembunuhan ketua mereka, Sufyan ibn Khalid al-Hudhayli (lihat Teror 24). Orang2 ini adalah agen2 bayaran dari Bany Lihyan. Diantara 6 guru yang dipilih Muhammad adalah Asim b. Thabit, saudara laki dari B. Amr b. Awf, Marthad b. Abi Marthad (atau Asim b. Thabit menurut Ibn Sa’d [117]) ditunjuk sebagai ketua kelompok guru ini.

Ketika rombongan Muslim tiba di al-Raji, mereka bermalam di situ. Orang2 Adal dan Qarah yang adalah sekutu Hudhayl, pemilik sumber mata air, tiba2 menyerang dengan pedang ke 6 guru Muslim untuk merampok uang yang mereka miliki. Mereka berjanji untuk tidak membunuh, tapi hanya menuntut uang. Akan tetapi orang2 Muslim tidak percaya akan janji mereka dan balik melawan. Semua Muslim kecuali Zayd b. al-Dathinnah, Khubyab b. Adi dan Abd Allah b. Tariq dibunuh. Ketiga orang Muslim ini menyerah dan dibawa sebagai tawanan untuk dijual di Mekah. Setelah membunuh Asim b. Thabit, Hudhayl ingin menjual kepalanya kepada Sulafah bt. Sad b. Shuhayd karena Sulafah telah bersumpah untuk minum dari batok kepala Asim b. Thabit. Ini adalah tindakan balas dendam atas kematian anak2 lakinya (Ingat? Kedua anak Sulafah yang bernama Musafi dan Julas dibunuh Asim b. Thabit di Uhud) di Uhud. Mereka tidak dapa memotong kepala Asim b. Thabit karena lebah2 penyengat melindunginya dan 'Allah mengirim banjir yang lalu membawa tubuh Asim' ! Dikatakan bahwa Asim bersumpah bahwa tiada satupun dari orang pagan yang layak menyentuh tubuhnya atau tubuhnya tidak akan bersentuhan dengan tubuh orang pagan.

Ketika rombongan dan para tawanan perang tiba di al-Zahran, Abd Allah b. Tariq mencoba melarikan diri, tapi para penawannya membunuhnya dengan melempari batu sampai mati. Kedua tawanan lain dibawa ke Mekah dan dijual sebagai budak. Hujayr b. Abi Ihab membeli Khubayb atas nama Uqbah b. al-Harith, sehingga Uqbah dapat membunuh Khubyab sebagai balas dendam atas pembunuhan ayahnya di Uhud. Safwan b. Umayyah membeli Zayd b. al-Dathinah untuk dibunuh sebagai balas dendam atas pembunuhan ayahnya yang bernama Umayyah b. Khalaf di Badr II.
116 Ibn Sa’d vol.ii, p.66
117 Ibid

Sejarawan Islam seperti Ibn Ishak menyatakan bahwa Khubyab adalah budak yang dapat dipercaya karena dia tidak melukai anak laki yang masih kecil milik keluarga al-Harith sewaktu anak itu bersamanya dan Khubyad sedang memegang pisau untuk memotong rambutnya. Di kemudian hari, ibu anak itu mengaku bahwa dia belum pernah bertemu dengan seorang tawanan yang budinya seluhur Khubyab. Tentu saja kisah2 ini dilebih-lebihkan dan terserah pada pembaca untuk menilai. Khubyab dipenjara sambil menunggu waktu disalib dan tetap dipenjara sampai bulan2 suci berlalu, dan lalu orang2 Quraysh membunuhnya.[118]

Pada waktu dia akan dibunuh di Ka’abah, Khubyab mohon diijinkan berdoa. Dia diijinkan sembahyang dan ini jadi tradisi bagi kaum Muslim untuk sembahyang dulu sebelum mereka dihukum mati. Setelah selesai sembahyang, Abu Sirwaah b. al-Harith b. Amir membawa Khubyab ke luar dan memancungnya. Tawanan lain Zayd b. al-Dathinah diberikan pada pelayan Safwan yang bernama Nastas untuk dibunuh. Sebelum pembunuhan Zayd b. al-Dathinah, Abu Sufyan ingin menyelamatkan nyawanya untuk ditukar dengan nyawa Muhammad. Tapi kasih Zayd terhadap Muhammad demikian besar sehingga dia tidak mau Muhammad disakiti sedikit pun. Akhirnya Nastas membunuh Zayd b. al-Dathinah.

Muhammad dan masyarakat Muslim sangat sedih mendengar berita kematian ke 6 Jihadi. Hassan ibn Thabit, sang penulis puisi Muslim mengarang sebuah puisi untuk mengingat mereka. Muhammad sadar bahwa hal ini dapat menggoyahkan kewibawaan Muslim andaikata terulang lagi. Untuk melawan rasa takut itu, Allah dengan cepatnya mengirim jaminanNya di ayat Q 2:204.

Ketika berita penculikan dan penjualan kedua budak Muslim itu terdengar Muhammad, dia dengan segera mengirim Abu Kurayb ke Quraysh untuk mengintai. Dikisahkan bahwa dia melepaskan ikatan pada mayat Khubyab yang tergantung di kayu salib. Dikisahkan pula bahwa tubuh Khubyab jatuh ke tanah dan hilang untuk selamanya.


Teror 26: Usaha Pembunuhan atas ABU SUFYAN b. HARB oleh ‘Amr b. Umayyah al-Damri —Juli, 625M

Setelah pembunuhan atas Khubyab (setelah pembunuhan di al-Rajii) dan kawan2nya, Muhammad memerintah seorang pembunuh bayaran yang bernama Amr b. Umayyah al-Damri [119] bersama dengan seorang Ansar untuk membunuh Abu Sufyan b. Harb. Dikisahkan pula bahwa pada waktu yang bersamaan Abu Sufyan juga mengirim seorang pembunuh untuk menghabisi Muhammad. Orang2 Muslim menangkap pembunuh ini dan dia minta diampuni. Muhammad mengampuninya dan dia pun lalu memeluk Islam.[120] Tapi Muhammad mau membalas dendam kepada Abu Sufyan. Dia mengirim dua orang pembunuh yang dipimpin oleh pembunuh sewaan Amr b. Umayyah untuk membunuh Abu Sufyan secara diam2 ketika dia sedang istirahat atau tidur. Dua Jihadis pembunuh ini lalu pergi naik unta.

Menurut Tabari, orang Ansar yang ikut serta menderita sakit kaki. Mereka melanjutkan perjalanan naik unta sampai di lembah Yajaj di mana mereka sepakat bahwa Amr harus pergi ke rumah Abu Sufyan untuk membunuhnya. Jika ketahuan atau ada bahaya, maka orang Ansar itu harus segera kembali ke Muhammad untuk melaporkan dan mendapat perintah selanjutnya. Usaha Amr untuk membunuh Abu Sufyan gagal dan dia kembali kepada kawannya orang Ansar.
118 Ibn Ishak, p.761
119 Tabari vol. vii, p.148
120 Ibn Sa’d, vol ii, p.116

Mereka masuk Ka’abah dan melakukan ibadah haji. Ketika ke luar, seorang (yang menurut Ibn Sa’d bernama Muawiyah) mengenal Amr b. Umaya dan berteriak keras karena Amr adalah orang yang sangat ganas dan liar. Orang2 di sekitar Ka’aba mulai mengepung Amr. Amr dan kawannya orang Ansar lari ke gunung lalu masuk suatu gua sehingga berhasil menghindari orang2 Mekah dan mereka bermalam di gua itu. Ketika mereka berada di gua, seorang Quraish pergi ke sana untuk memotong rumput bagi keledainya. Dia pergi dekat dengan letak gua di mana Amr berlindung. Amr ke luar dari gua dan membunuhnya tanpa alasan apapun. Jeritan orang Quraish ini menarik perhatian orang2 Mekah yang sedang mencari Amr. Ketika orang2 Mekah datang untuk menolong, orang Quraish yang terluka parah ini mengatakan bahwa Amr menusuknya lalu dia pun mati. Orang2 Mekah begitu sibuk menolong orang Quraish itu sehingga mereka tidak sempat mencari Amr. Setelah dua hari berdiam di gua itu, Amr dan kawannya ke luar, dan ketika mereka mencapai al-Tanim, mereka menemukan salib Khubyab. Seorang menjaga salib itu. Amr menasehati orang Ansar temannya yang ketakutan untuk naik unta dan kembali ke Muhammad dan melaporkan apa yang terjadi. Amr sendiri lalu mendekati salib dan melepas ikatan tali di mayat Khubyab dan memanggul mayat itu. Tapi tak lama kemudian orang2 Mekah mengetahuinya sehingga Amr cepat2 membuang mayat Khubyab dan melarikan diri ke arah al-Safra dan berhasil menghindar orang2 Mekah. Kawannya orang Ansar berhasil kembali ke Muhammad dan melaporkan apa yang terjadi.

Amr melanjutkan jalan kaki sampai tiba di sebuah gua lain dan berlindung di situ dengan membawa panah dan busurnya. Seorang gembala yang bermata satu dari Banu al-Dil datang untuk bernaung di gua itu pula. Amr berbohong padanya dengan mengatakan dirinya berasal dari Banu Bakr (teman suku Quraish). Orang bermata satu itu juga mengaku berasal dari Banu Bakr. Lalu dia berbaring di samping Amr dan menyanyikan lagu yang menyatakan dia tidak akan pernah mau jadi Muslim seumur hidupnya. Nyanyian ini membuat Amr marah dan ingin menghabisi orang mata satu itu. Segera setelah orang itu tidur, Amr bangun dan membunuh orang itu dengan menusukkan anak panahnya ke mata orang itu yang masih bagus, menembus ke dalam sampai ke luar dari lehernya. Setelah membunuh gembala Bedouin itu, Amr lari ke lua gua dan menuju ke dusun yang tak jauh dari situ, lalu ke Rakubah dan akhirnya ke al-Naqi. Ketika di sana, dia melihat dua mata2 Mekah yang dikirim untuk mengawasi Muhammad. Amr meminta mereka menyerah. Satu orang tidak mau dan Amr membunuhnya dengan panahnya. Yang satu lagi menyerah dan Amr mengikatnya dan membawanya pada Muhammad. Ketika Amr tiba menghadap Muhammad dengan tawanan seorang Mekah, Muhammad memberkati Amr karena melaksanakan tugas dengan baik.


Teror 27: Pembunuhan di Bir Maunah — Juli, 625M

Bagian ini merupakan kisah tragis orang2 Muslim. Ini melibatkan pembantaian 40 (menurut Ibn Ishaq) atau 70 misionaris Muslim yang dibunuh oleh kafir. Meskipun begitu, jika kita melihat penghancuran dan teror yang dilakukan Muhammad terhadap mereka yang tidak percaya padanya, sudahlah jelas bahwa Muhammad memang membangkitkan keinginan korban2nya untuk membalas dendam padanya. Bagaimana pun juga tidak ada orang yang tahan dan bisa terus menahan diri atas kegiatan perampokan, teror, penyiksaan, pembunuhan politik, penyerangan, dll yang dilakukan tanpa henti oleh Muhammad. Sudah saatnya bagi para kafir untuk membalas dendam dan memberi pelajaran yang layak bagi Muhammad.

Sewaktu aku memeriksa beberapa sumber2 Islam tentang detail kisah ini, aku menemukan banyak kisah yang bertentangan dan tidak jelas. Tulisanku ini adalah hasil kesimpulanku yang terbaik tentang kejadian penting awal sejarah Islam.

Empat bulan setelah perang Uhud, dan kembalinya pembunuh bayaran Amr b. Umayyah, ketua rombongan Banu Amir b Sasaah yang bernama Abu Bara yang telah lanjut usia datang menghadap Muhammad dan memberinya hadiah. Abu Bara menginap di Medinah. Muhammad tidak bersedia menerima hadiah sebab pemberinya adalah orang pagan dan meminta Abu Bara untuk memeluk Islam. Abu Bara menolak meskipun dia menyadari beberapa hal yang baik dalam Islam. Dia meminta Muhammad untuk mengirim beberapa Muslim kepada orang2 Najd agar mereka memeluk Islam. Awalnya, Muhammad sangat ragu akan permintaan ini karena takut hal buruk akan menimpa orang2 Muslim (misionaris Islam) yang dikirim ke sana. Karena melihat keraguan Muhammad, Abu Bara menjamin keselamatan misionaris Islam. Setelah mendengar itu, Muhammad mengirim 40 pengkhotbah Islam (yang lain bilang 70), dan menunjuk al-Mundhir b. Amr sebagai ketua tim misionaris ini. Dikisahkan bahwa mereka adalah Muslim2 terbaik dalam kelompok Muhammad.

Para ahli Qur’an ini naik kuda sampai mereka mencapai sumur Bir Maunah. Bir Maunah terletak dekat perbatasan B. Amir dan B. Sulaym. Di Bir Maunah, orang2 Muslim mengirim utusan yang membawa sebuah surat dari Muhammad untuk Amir b. Tufayl, yakni saudara sepupu Abu Bara dan pemimpin B. Amir. Ketika utusan itu bertemu dengan Amir b. Tufayl, Amir segera membunuh utusan itu tanpa membuka surat dari Muhammad. Amir b. Tufayl lalu meminta suku B. Amir untuk menolongnya memerangi orang2 Muslim. Mereka menolak memenuhi permintaan Amir b. Tufayl karena tidak mau mengkhianati janji keselamatan yang telah mereka berikan untuk Abu Bara bagi orang2 Muslim. Jadi Amir b. Tufayl minta tolong pada B. Sulaym untuk melawan orang2 Muslim. Permintaan dipenuhi dan mereka lalu bersama-sama menyerang orang2 Muslim. Pihak Muslim melawan kembali tapi akhirnya semuanya mati kecuali Ka’b b. Zayd. Dia dalam keadaan sekarat sewaktu musuh meninggalkannya. Tapi dia tidak mati dan akhirnya bisa kembali ke Medina.

Sahih Bukhari mengisahkan kejadian ini.

Hadith Sahih Bukhari Volume 2, Book 16, Number 116: 
Dikisahkan oleh 'Asim:
Aku bertanya pada Anas bin Malik tentang Qunut. Anas menjawab, “Itu pasti dilafalkan.” Aku bertanya, “Setelah atau sebelum menyembah?” Anas menjawab, “Sebelum menyembah.” Aku berkata lagi, “Orang ini dan itu memberitahuku bahwa kau memberitahu mereka setelah menyembah.” Anas menjawab, “Dia bohong (atau salah mengerti, menurut dialek Hijazi). Rasul Allah melafalkan Qunut setelah menyembah dalam suatu periode dalam sebulan.” Annas menambahkan, “Sang Rasul mengirim 70 orang (yang tahu dan hafal tentang Qur’an) kepada kaum pagan (di Najd) yang jumlahnya lebih sedikit daripada mereka dan ada perjanjian damai diantara mereka dan Rasul Allah (tapi orang pagan melanggar perjanjian itu dan membunuh ke 70 orang Muslim). Lalu Rasul Allah melafalkan Qunut selama suatu periode dalam satu bulan meminta Allah untuk menghukum mereka.”

Ketika berita pembantaian itu didengar Muhammad, dia sangat sedih dan mengirim Amr. b. Umayyah (Ingat? Sang pembunuh bayaran) dan seorang Ansar untuk menyelidiki seluruh kejadian itu. Mereka mendekati tempat pembunuhan dan menemukan mayat2 para Muslim dari melihat burung2 bangkai yang terbang di atasnya. Mereka menyaksikan mayat2 itu terbaring dalam genangan darah dan para pembunuhnya berdiri tak jauh dari situ. Dengan marahnya kedua orang itu menyerang orang pagan. Tapi orang2 pagan dengan cepat sekali membunuh orang Ansar dan menangkap Amr b. Umayyah sebagai tawanan. Tapi tak lama kemudian dia dibebaskan oleh Amir b. Tufayl karena mereka saudara dekat. Sebelum membebaskan Amr, Amir memotong rambut bagian depannya.

Setelah dibebaskan, Amr b. Umayyah kembali ke Medina. Di tengah jalan, dia berhenti di Qarkarat yakni tempat sebuah oasis. Di sini dia bertemu dengan dua orang dari B. Amir yang berhenti di dekat Amr b. Umayyah. Suku B. Amir punya perjanjian perlindungan dengan Muhammad, tapi Amr b. Umayyah tidak tahu akan hal ini. Ketika kedua orang dari B. Amir ini tertidur, Amr menyerang dengan cepat dan membunuh kedua orang ini dengan berpikir bahwa dia sudah membalas dendam. Ketika Muhammad tahu apa yang telah Amr perbuat, dia berkata pada Amr bahwa dirinya (Muhammad) harus membayar uang darah. Muhammad menyalahkan semua peristiwa pembunuhan pada Abu Bara. Ketika Abu Bara mendengar hal ini, dia sangat menyesal akan pengkhianatan Amir b. Tufayl.

Orang mungkin akan bertanya mengapa hanya Muhammad yang harus bayar uang darah untuk pembunuhan kedua orang B. Amir tapi dia (Muhammad) sendiri tidak menerima uang darah atas pembunuhan misionaris Muslim? Tabari menjelaskan aturan uang darah yang membingungkan ini dalam catatan kaki.[121] Dia menulis:

“Muhammad harus membayar uang darah atas pembunuhan kedua orang dari suku B. Amir karena kedekatan 
hubungannya dengan suku B. Amir. Dia tidak bisa menuntut uang darah bagi para Muslim yang 
tampaknya dibunuh oleh orang2 B. Sulaym bahkan meskipun jika Amir b. Tufayl meminta B. Sulaym 
untuk melakukannya.” 

Untung mengenang pembantaian para misionarid Muslim, Hassan b. Thabit (penulis puisi pribadi Muhammad) menyusun sebuah puisi tentang nasib naas mereka dan membujuk anak2 laki Abu Bara untuk melawan Amir b. al-Tufayl. Ketika anak laki Abu Bara yang bernama Rabiah mendengar puisi Hassan b. Thabit, dia menyerang Amir b. Tufayl tapi gagal membunuhnya. Amir lalu menyalahkan Abu Bara dan bersumpah untuk balas dendam dengan membunuh sendiri atau dengan orang lain.

Muhammad tentu saja sedih sekali dengan terjadinya pembunuhan di Bir Maunah. Para pengikutnya patah semangat ketika mengetahui kejadian ini. Untuk membangkitkan moral mereka, Allah dengan cepat mengirim ayat2 Q 3:169-173, di mana Dia mengumumkan bahwa para Jihadis tidak mati, dan tetap hidup bersamaNya di surga. Dikatakan bahwa Allah mengeluarkan ayat satu lagi yang mengatakan para Jihadis memberitahu orang2 bahwa mereka telah bertemu Allah, tapi ayat ini kemudian dibatalkan.[122] Mubarakpuri [123] mendapat penjelasan dari para ahli Islam yang mengutip ayat yang dibatalkan itu berbunyi seperti ini: “Beritahu orang2 kami bahwa kami telah bertemu Tuhan. Dia sangat senang akan kami dan Dia telah membuat kami bahagia.” Tidak diketahui mengapa Allah tiba2 berubah pikiran dan membatalkan ayat ini. Pembatalan ayat ini tidak dikisahkan dalam Qur’an.
121 Tabari, vol. vii, p.153, footnote 219
122 Tabari, vol. vii, p.156
123 Mubarakpuri, p.354

Muhammad sekarang mulai cari dukungan untuk mengumpulkan uang darah bagi para Muslim dan sekutu2nya orang Yahudi. Karena orang2 Yahudi jauh lebih kaya daripada orang2 Muslim, Muhammad mengatur rencana cerdik untuk meminta uang darah dari kaum Yahudi B. Nadr, yang hidup di tempat mereka yang tak jauh dari tempat orang2 Muslim. Muhammad telah mengambil keputusan untuk mengenyahkan orang2 Yahudi dan merampas tanah dan harta benda mereka, dan tidak hanya untuk membayar uang darah, tapi juga untuk memperkaya para Jihadisnya yang sedang merosot moralnya karena tragedi di Bir Maunah. Muhammad harus cepat2 berbuat sesuatu untuk membangkitkan semangat mereka dan menyelematkan mukanya sendiri di hadapan para pengikutnya yang fanatik. Pengalamannya dengan B. Qaynuqa (baca Teror 14) membuatnya sadar betapa mudahnya untuk menteror seluruh masyarakat kafir, mencuri tanah dan harta mereka tanpa ada hukuman apapun bagi dirinya dan tanpa sedikitpun rasa sesal. Muhammad sekarang siap menggunakan teror lagi untuk mencapai tujuannya.

Bookmark halaman ini dengan:
Delicious Delicious Digg Digg Stumbleupon Stumbleupon Reddit Reddit Newsvine Newsvine Facebook Facebook Google Google Yahoo Yahoo Technorati Technorati
Peralatan pribadi