Serangan-serangan Lain - Juli 627M
Dari Faithfreedompedia
Teror 34 : Perampokan Atas al-Qurata di Dariyaah oleh Muhammad ibn Maslama--Juli, 627 M
Para pembaca mungkin ingat nama Muhammad ibn Maslama. Dia adalah pembunuh yang disewa untuk membunuh Ka’b b. al-Ashraf, penulis puisi Yahudi (lihat Teror 17, Bagian 5). Sejak itu, Muhammad ibn Maslama jadi orang yang sangat spesial bagi Muhammad, sang utusan Allah. Kapanpun Muhammad butuh orang untuk melakukan pembunuhan, dia (Muhammad ibn Maslama) adalah orang yang paling dipercaya untuk melaksanakan tugas pembunuhan. Setelah puas atas kemampuan Muhammad ibn Maslama dalam melaksanakan tugas Islam yang sempurna (via teror), maka Muhammad sang Rasul Allah mengambil keputusan untuk menugaskannya melakukan pekerjaan yang lebih menantang dan lebih menguntungkan, yakni (apa lagi kalau bukan) melakukan penjarahan atau Ghanimah.
Maka dia mengirim Muhammad ibn Maslama, sang pembunuh bayaran, untuk mengepalai 30 Jihadi [184] untuk mengepung dan merampok al-Qarata, cabang dari suku Kilab yang tinggal di tempat bernama Dariyyah, sekitar 50 atau 60 mil dari Medinah. Muhammad ibn Maslama berangkat di malam hari, bersembunyi di siang hari, dan ketika tiba di Dariyyah, dia menyerang suku al-Qurata secara tiba2, mengakibatkan kepanikan dan teror diantara masyarakat suku tersebut. Dalam perampokan ini, pihak Muslim membunuh 10 orang sedangkan yang lain melarikan diri tanpa melawan. Barang jarahannya besar jumlahnya: 150 unta (sekitar US$52.000) dan 3.000 kambing (sekitar US$ 105.000) ditambah harta benda rumah tangga (jumlahnya tidak disebutkan pasti, mungkin sekitar US$ 50.000). Muhammad ibn Maslama terus melaksanakan penjarahan sampai 19 hari, lalu dia kembali ke Medina membawa barang jarahan. Muhammad sang Rasul Allah mengambil bagiannya (Khums, seperlima barang jarahan) dan membagi-bagikan sisanya diantara pengikutnya. Seekor unta berharga sama dengan 10 kambing. Pihak Muslim juga membawa seorang tawanan yang merupakan murid Musaylamah, saingan Muhammad yang juga mengaku sebagai utusan Allah. Muhammad sang Rasul Allah menuduh tawanan ini bekerja sama dengan Musaylamah untuk membunuhnya. Dikatakan bahwa kemudian orang ini akhirnya memeluk Islam. [185]
Teror 35 : Serangan Pertama Atas B. Thalabah di Dhu al-Qassah oleh Muhammad ibn Maslama—July, 627 M
Setelah sukses melakukan beberapa perampokan, unta2 milik Muhammad jadi bertambah banyak sekali. Dia mengirim unta2 ini untuk merumput di dekat daerah Hayfa, [186] tempat yang jauhnya sekitar 7 mil dari Medina yang punya ladang rumput yang subur. Karena kemarau terus-menerus di daerah sekitarnya, suku B. Thalabah, yang merupakan bagian dari suku Ghatafan, tampaknya ingin mencuri unta2 Muhammad. Muhammad merasa curiga atas orang2 dari suku Thalabah, dan dia mengirim letnannya yang terpercaya, Muhammad ibn Maslama dengan 10 orang untuk merampok di daerah Dhu al-Qassah tempat tinggal B. Thalabah. Mereka melakukan perjalanan di malam hari dari Medina. Orang2 B. Thalabah sudah mendengar akan rencana penyerangan ini, jadi mereka bertiarap di tanah menunggu tentara Muslim. Ketika akhirnya Muhammad ibn Maslama dan tentaranya tiba di daerah tujuan, 100 orang B. Thalabah menyerang mereka pada saat tentara Muslim sedang bersiap-siap untuk tidur. Setelah pertempuran singkat, orang2 B. Thalabah berhasil membunuh semua tentara Muhammad ibn Maslama. Dia sendiri terluka parah di pergelangan kakinya dan dia tidak bisa bergerak. Dia ditinggalkan di tempat itu untuk mati. Seorang Muslim yang kebetulan lewat tempat itu menemukannya dan membantunya kembali ke Medinah.
183 Masterminds of Terror, p.128; Ziad was a 9/11 terrorist
184 Mubarakpuri, p.382
185 Mubarakpuri, p.382
186 Ibn Sa’d, vol.ii, p.106
Teror 36: Serangan Kedua Atas B. Thalabah di Dhu al-Qassah oleh Ubayda b. al-Jarrah— Agustus, 627M
Ketika Muhammad sang Rasul Allah mendengar tentang peristiwa ini (Teror 35), dia segera mengirim 40 tentara bersenjata lengkap di bawah pimpinan Abu Ubayda b. al-Jarrah untuk menghukum orang2 B. Thalabah. Kelompok tentara ini tiba di Dhu al-Qassah sebelum subuh. Begitu sampai, mereka segera menyerang penduduk suku itu yang akhirnya melarikan diri ke gunung2. Tentara Muslim mengambil ternak2, pakaian2 mereka dan menangkap seorang tawanan. Mereka membawa barang jarahan kepada Muhammad. Setelah mengambil bagiannya, dia membagi-bagikan sisanya kepada para pengikutnya. Tawanan itu akhirnya memeluk (mungkin dengan paksa) Islam dan Muhammad membebaskannya.
Teror 37 : Perampokan Atas B. Asad di al-Ghamr oleh Ukkash b. Mihsan—Agustus, 627M
Muhammad mengirim 40 Jihadi di bawah pimpinan Ukkash b. Mihsan untuk menjarah daerah al-Ghamr (dekat perbatasan Syria), daerah mata air milik B. Asad b. Khuzaymah. Ketika Ukkash tiba di daerah itu, masyarakat B. Asad sudah melarikan diri. Para Jihadi merampas ternak mereka, termasuk 200 ekor unta (berharga sekitar US$70.000) dan membawanya ke Medinah. Mereka juga menangkap seorang pengintai yang kemudian mereka bebaskan.
Teror 38 : Penyerangan Kedua Atas Banu Lihyan di Ghiran oleh Muhammad — September, 627M
Enam bulan setelah pembantaian B. Qurayza, Muhammad pergi untuk membalas dendam kepada kaum B. Lihyan yang membunuh orang2nya yakni Khubayb b. Adi dan Zayd b. al-Dathinnah (lihat Teror 25, Bagian 7) di al-Rajii. Setelah dapat bertahan di perang Parit dan membersihkan ras Yahudi B. Qurayzah, Muhammad merasa dia kuat secara militer untuk melakukan pembalasan dendam atas suku ini.
Dia memilih 200 tentara berunta dan berkuda. Untuk menipu dan mengadakan serangan mendadak yang mengejutkan musuh, dia pura2 bergerak ke utara ke arah Syria. Setelah bergerak sebentar ke arah utara dan ketika dia sudah merasa aman bahwa baik pihak Quraish atau daerah tetangga tidak sadar akan tujuan aslinya, dia tiba2 bergerak ke arah kiri dan menuju jalur langsung ke Mekah yang akhirnya ke kota Ghiran, tempat tinggal suku B. Lihyan. Tapi masyarakat B. Lihyang sudah tahu niat Muhammad, dan begitu mereka melihat tentara Muslim, mereka melarikan diri ke puncak2 gunung sambil membawa ternak mereka untuk menghadapi tentara Muslim. Muhammad mengirim orang2nya untuk melacak jejak masyarakat B. Lihyan, tapi tidak dapat menemukan apa2.
Setelah gagal menyerang B. Lihyan secara tiba2 dan teror, Muhammad merasa frustasi. Supaya perjalanan tidak sia2, dia pikir dia perlu menakut-nakuti orang2 Mekah dengan mendekati Mekah dan memamerkan kekuatan militernya yang baru. Lalu dia pergi dengan 200 tentaranya dan berhenti di Usfan. Di Usfan, dia mengirim 2 tentara berkuda menuju Mekah. Mereka tiba di Kuraul Ghamin dan lalu kembali ke Usfan. Kemudian Muhammad balik ke Medina. Ibn Sa’d [187] menulis bahwa Muhammad mengirim Abu Bakr dan 10 tentara berkuda ke Mekah untuk meneror mereka.
Teror 39 : Perampokan Atas Unta Perah Milik Muhammad di al-Ghabah oleh Uyana b. Hisn — September, 627M
Beberapa hari setelah Muhammad kembali ke Medinah setelah gagal merampok B. Lihyan, sekelompok orang bersenjata Ghatafan dipimpin oleh Uyanah b. Hisn menyerang daerah pinggir kota. Mereka merampok [188] 20 unta perah milik Muhammad yang sedang merumput di daerah al-Ghabah. Mereka juga membunuh gembala unta dan mengambil istrinya sebagai tawanan. Seorang Muslim bernama Amr ibn al Akwa melihat perampokan ini dan dibawanya unta2 tsb. Dia menembakkan panah2 pada mereka dan minta pertolongan. Muhammad mendengar permintaan tolongnya yang menyiagakan orang2 Medinah.
Teror 40 : Penyerangan Kedua Atas Ghatafan di Dhu Qarad oleh Sa’d b. Zayd/Muhammad—September, 627M
Ketika Muhammad mendengar untanya dirampok di al-Ghabah oleh Uyanah b. Hisn, dia segera mengirim 500 tentara di bawah pimpinan Sa’d b. Zayd untuk mencari dan menghabisi Uyanah b. Hisn dan orang2nya. Dia mengatakan pada mereka bahwa dia akan menjumpai mereka tak lama kemudian. Tentara Muslim berjumlah jauh lebih banyak daripada para perampok. Mereka mengejar dan mendapatkan para perampok sedang beristirahat di lembah Dhu Qarad. Setelah satu atau dua hari, Muhammad menyusul orang2nya dan berhenti di lembah Dhu Qarad untuk bergabung dengan para tentara Muslim. Setelah itu mereka menyerang orang2 B. Ghatafan dan membunuh beberapa perampok dan mendapatkan kembali unta2 mereka. Di pertempuran ini, anak Uyanah yang bernama Abd al-Rahman dibunuh. Tentara Muslim hanya kehilang seorang tentara. Dia adalah anak laki Abu Dhar Ghifari, salah satu panglima perang Muhammad yang paling dipercaya. Tentara Muhammad mengejar para perampok sampai jauh ke Khaybar. Setelah menang bertempur, mereka membebaskan tawanan wanita dan mengambil persenjataan kaum perampok sebagai barang jarahan. Kemudian Muhammad tinggal di Dhu Qarad selama sehari semalam, dan lalu kembali ke Medina dengan unta2 yang berhasil dirampas kembali.
187 Ibn Sa’d, vol.ii, p.97
188 Ibn Sa’d, vol.ii, p.99
Teror 41: Perampokan Atas B. Sulaym di Nakhl oleh Zayd ibn Haritha — September, 627M
Zayd ibn Haritha adalah bekas budak yang dimerdekakan dan diangkat anak oleh Muhammad. Nantinya Muhammad menikahi istri Zayd yang bernama Zaynab. Saat itu tiba waktunya untuk menghadiahi Zayd dengan jarahan rampokan. Maka Muhammad memerintah Zayd ibn Haritha memimpin sekelompok Muslim untuk usaha perampokan di Jamum, dekat Nakhl. Dia menangkap seorang wanita yang kemudian mengantarnya ke tempat B. Sulaym. Para tentara Zayd lalu merampok tempat ini dan menangkap sapi2, domba2, dan unta2 dan banyak orang B. Sulaym dijadikan tawanan. Diantara para tawanan terdapat suami dari wanita yang mengantar tentara Muslim ke tempat perampokan. Zayd membawa semua tawanan dan jarahan rampokan kepada Muhammad. Ketika Muhammad mendengar seluruh cerita, dia menganugerahkan wanita itu kebebasan dan melepaskan suaminya, karena wanita itu telah membantu pihak Muslim dalam merampok.
Teror 42: Perampokan atas Kaum Quraysh di al-Is oleh Zayd ibn Haritha—September, 627M
Setelah Zayd ibn Haritha sukses merampok B. Sulaym, Muhammad mempercayakannya untuk melakukan operasi perampokan yang jauh lebih menguntungkan. Muhammad telah dapat informasi bahwa kafilah Quraish yang mengangkut banyak harta sedang melakukan perjalanan pulang dari Syria, dan dia tentunya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Jadi di musim semi 627, Muhammad memerintahkan Zayd dengan 170 tentara berkuda untuk pergi ke al-Is, yang merupakan pusat perdagangan penting untuk mencegat kafilah Quraish. Perjalanan berlangsung selama 4 malam dari Medinah. Para perampok Muslim menyergap kafilah dan merampok segalanya [189]. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa ini tentunya adalah perampokan yang sangat sukse dan tentara Muslim pulang dengan membawa barang jarahan yang sangat besar nilainya, termasuk banyak uang perak milik Safwan b Umayyah dan juga banyak tawanan Quraish.
Diantara para tawanan terdapat Abu al-As, yakni menantu Muhammad, suami dari anak wanita Muhammad tertua yang bernama Zaynab. Abu al-As adalah keponakan Khadija (istri pertama Muhammad) dan seorang pedagang sukses di Mekah. Ketika Muhammad menjadi nabi, Abu al-As tidak mau memeluk Islam. Tapi dia juga tidak mau menceraikan Zaynab karena besarnya rasa cinta pada Zaynab. Rasa cinta kasih itu pun ada pada diri Zaynab terhadap Abu al-As dan Muhammad senang melihat hal ini. Ketika Muhammad hijrah ke Medinah, Zaynab dan suaminya Abu al-As tetap tinggal di Mekah. Di Perampokan Badr II, Abu al-As dijadikan tawanan. Zaynab mengirim kalung Khadija kepada Muhammad sebagai harta tebusan untuk membebaskan suaminya. Kisah ini sudah ditulis di Teror 9, Bagian 3.
Sekarang adalah 3 sampai 4 tahun setelah peristiwa Badr II itu dan Abu al-As tertangkap lagi sebagai tawanan di al-Is. Ketika rombongan tawanan tiba di Medinah, Abu al-As diberi ijin di malam hari untuk bertemu dengan bekas istrinya. Lalu dia kembali bergabung dengan para tawanan lain. Di malam hari ketika para Muslim sedang berkumpul di mesjid untuk sembahyang, Zaynab berteriak keras bahwa dia telah memberi perlindungan atas Abu al-As. Muhammad setuju bahwa dia boleh memperlakukan Abu al-As sebagai tamu terhormat tapi tidak sebagai suami. Dia meminta penangkap2 Abu al-As untuk membebaskan Abu al-As dan harta bendanya, jika mereka bersedia. Jika tidak, maka mereka diperbolehkan untuk tetap menawan Abu al-As sebagai hasil rampokan. Penangkap Abu al-As segera bersedia melepaskannya. Abu al-As sangat berterima kasih atas ini dan dia pun kembali ke Mekah, menyelesaikan urusan dagangnya di sana dan kembali ke Medina dan memeluk Islam. Dia lalu bersatu kembali dengan istrinya Zaynab. Akan tetapi, Zaynab meninggal dalam waktu setahun setelah bergabung kembali dengan suaminya – kemungkinan karena sakit yang dideritanya akibat keguguran dulu di Mekah. 189 Mubarakpuri, p.385
Muhammad marah sekali akan kelakuan dua orang Quraish yakni Huweirith dan Habbar. Muhammad terutama marah pada Habbar yang melukai anaknya (Zaynab) saat hendak meninggalkan Mekah. Dia memberi perintah agar kedua orang itu dibakar hidup2. Tapi di malam harinya dia merubah keputusan dan menetapkan bahwa mereka harus dijatuhi hukuman mati dengan cara yang biasa gaya Islam, yakni dipancung. Ali nantinya membunuh Huweirith ketika Muslim menguasai Mekah.
Teror 43 : Serangan Ketiga Atas B. Thalabah di al-Taraf oleh Zayd b. Haritha — Oktober, 627M
Dengan dua kali keberhasilan usaha perampokan atas Zayd b. Haritha, Muhammad tentunya sangat senang akan anak angkatnya. Karena itu, dia mengirim Zayd bersama 15 tentara Muslim ke Al-Taraf yang jauhnya 36 mil dari Medina untuk menghukum dan merampok B. Thalabah sekali lagi (lihat Teror 35, 36 di atas). Ketika perampokan ini terjadi, suku Bedouin B. Thalabah melarikan diri. Jarahan yang berhasil dirampas Zayd adalah 20 ekor unta. Dia menghabiskan 4 malam untuk merencanakan serangan ini dan akhirnya kembali ke Medina dengan unta jarahan.
Teror 44: Penyerangan Atas B. Judham di Hisma oleh Zayd b Haritha — October, 627M
Di Sirah Rasul (biografi) Muhammad, tertulis bahwa setelang menandatangai perjanjian damai Hudaibiya dengan orang Quraish di Mekah, Muhammad ingin menunjukkan dirinya sebagai utusan tulen Allah. Untuk membuktikan ini, dia mengirim beberapa utusannya ke beberapa suku tetangga untuk mengajak mereka masuk Islam. Dia mengirim Dhiyah b. Khalifah al-Kalbi, satu dari pengikut2nya yang setia untuk mengunjungi gubernur Syria dan membicarakan kebijaksanaan dagang dengan propinsi Romawi. Dalam suratnya kepada Heraklius, kaisar Bizantium, Muhammad menulis:
“Dalam nama Tuhan yang maha pemurah dan penyayang. Dari Muhammad, utusan Tuhan, kepada Heraklius, penguasa Romawi. Damai kepada siapapun yang mengikuti teladan yang baik! [[Menganjurkan: menyerahlah, dan kamu akan selamat. Menyerahlah, dan Tuhan akan menghadiahimu dua kali lipat. Tapi jika engkau berpaling, dosa dari orang2mu akan dibebankan padamu.”]] [190]
190 Tabari, vol viii, p.104
Meskipun isi suratnya mengancam dan menghina, Dhiya tetap diterima dengan baik dan bahkan diberikan baju kehormatan. Setelah menyelesaikan tugasnya di Syria, Dhiya kembali ke Medinah membawa hadiah2 mahal dari sang Kaisar. Tapi segerombolan bandit dari B. Judham merampok semua barang milik Dhiya ketika dia sampai di Hisma, daerah yang menuju Syria dan terletak di sebelah barat Tabuk. Dihya lalu mendekati suku tetangga (yang berteman dengannya) untuk minta tolong. Mereka menyerang B. Judham, mengambil kembali barang jarahan dan mengembalikannya kepada Dhiya. Ketika Muhammad mendengar kabar perampokan oleh B. Judham ini, dia segera mengirim Zayd ibn Haritha bersama 500 tentara untuk menghukum mereka. Tentara Muslim bertempur melawan B. Judham, membunuh beberapa dari mereka, termasuk ketua suku yakni Al-Hunayd ibn Arid dan anak lakinya. Zayd juga membunuh 3 orang lain dan menjarah ternak dalam jumlah besar. Ketua B. Judham yang lain yang tak lama sebelumnya memeluk Islam memohon pada Muhammad agar tawanan2 dibebaskan. Muhammad mengirim Ali untuk membebaskan para tawanan.
Teror 45 : Penyerangan Pertama di Wadi al-Qura oleh Zayd b. Haritha — November, 627M
Setelah berkali-kali sukses dalam melakukan aksi teror, Muhammad memberi Zayd b. Haritha gelar Amir (pemimpin) daerah sekitar yang bernama Wadi al-Qura. Ini adalah daerah oasis yang penting, terletak 70 mil dari Medina, di lembah Qura dan di jalur perjalanan ke Dumat al-Jandal (Duma) dan ke arah Syria. Muhammad perlu mendirikan pengawasan militer di sini untuk mengamankan posisinya. Zayd pergi bersama 12 tentaranya untuk menelaah daerah ini dan mengawasi gerakan2 musuh Muhammad, yakni suku2 non-Muslim yang tinggal di daerah itu. Akan tetapi, para penduduk daerah ini tidak bersikap ramah terhadap Zayd dan Islam. Mereka menyerang dan membunuh 9 tentara Muslim, dan sisanya termasuk Zayd sempat menyelamatkan diri dan kembali ke Medina.
Teror 46: Perampokan atas Bani al-Mustaliq oleh Muhamad — Desember, 627M
Bani al-Mustaliq adalah bagian dari suku Yahudi Khozaa. Dua bula setelah Muhammad kembali dari Dhu Qarad (lihat Teror 40, Bagian 11), Allah tiba2 mengatakan padanya bahwa B. al-Mustaliq yang dipimpin oleh kepala suku yang bernama Haritha b. Abi Dirar sedang mengumpulkan kekuatan untuk melawan Muhammad. Sampai saat itu, masyarakat B. al-Mustaliq bersikap ramah kepada Muhammad. Tapi tahu2 bagaikan petir di siang hari bolong, Muhammad menyebarkan kabar bahwa B. al-Mustaliq sekarang bergabung dengan kaum Quraish untuk menyerang pihak Muslim. Bahkan kemudian kaum Muslim membunuh seseorang dari B. al-Mustaliq karena curiga diintai oleh mereka. [192] Dengan alasan ini , Muhammad mengumpulkan seluruh kaum pria yang sanggup berperang untuk menyerang B. al-Mustaliq. Tidak jelas mengapa Allah tiba2 berubah pendapat tentang B. al-Mustaliq. Akan tetapi, alasan sebenarnya adalah B. al-Mustaliq merupakan suku Yahudi yang sangat kaya raya dan punya banyak harta benda dan Muhammad sudah lama mengincar harta mereka sebagai sasaran empuk penjarahan.
Selama ini, Muhammad tidak yakin apakah kampanye terornya terhadap suku Yahudi yang cinta damai ini akan berhasil atau tidak. Ketika usaha pembersihan ras Yahudi di Medinah sukses besar, suku2 Yahudi di sekitar Medina jadi merasa takut diserang Muhammad. Jadi kaum Yahudi B. al-Mustaliq mengambil tindakan pencegahan akan serangan terhadap diri mereka. Dapat dimengerti bahwa mereka kemudian mencari pertolongan dari suku2 lain pula. Sekarang setelah Muhammad menjadi sangat kuat secara militer, dia merencanakan untuk merampok masyarakat Yahudi ini untuk terus memperkaya para pengikutnya. Kita dapat mengambil kesimpulan ini dari kenyataan bahwa Muhammad tidak memberi kesempatan bagi suku ini untuk memeluk Islam sebelum mengalami pembasmian rasial gaya Islam. Di perampokan2 terdahulu, biasanya dia mengikuti aturan memberikan waktu tiga hari bagi para kafir untuk mengambil keputusan mau menerima Islam atau kalau tidak akan menghadapi penghancuran. Kenyataannya, Muhammad sekarang tidak suka jika suku yang kaya raya ini masuk Islam, karena ini berarti tidak ada barang jarahan bagi para Jihadisnya. Bagi Muhammad memang jauh lebih baik jika B. al-Mustaliq tidak memeluk Islam sehingga kaum Muslim bisa menjarah apa saja melalui serangan mendadak. Ini Hadisnya:
Sahih Muslim Book 019, Number 4292:
Ibn ‘Aun mengisahkan: Aku menulis pada Nafi’ menanyakan keterangan dari dia apakah perlu untuk mengajak (kaum kafir) untuk menerima (Islam) sebelum memaksa mereka lewat pertempuran. Dia menulis (jawabannya) padaku bahwa hal ini perlu di hari2 awal Islam. Rasul Allah menyerang Banu Mustaliq pada saat mereka tidak siap dan unta2 mereka sedang minum air. Dia membunuh mereka yang melawan dan menawan selebihnya. Pada hari yang sama, dia menangkap JUWAIRIYA bint al-Harith. Nafi’ mengatakan bahwa tradisi ini disampaikan padanya oleh Abdullah b. Umar yang (dia sendiri) berada diantara para tentara yang menyerang.
191 Broadcast, 1936
192 Mubarakpuri, p.386
Hadis berikut menegaskan sekali lagi penyerangan yang tiba2 itu:
Hadis Sahih Bukhari Volume 3, Book 46, Number 717:
Dikisahkan oleh Ibn Aun:
Aku menulis sebuah surat kepada Nafi dan Nafi menulis jawaban suratku bahwa sang nabi tiba2 menyerang Bani Mustaliq tanpa peringatan ketika mereka sedang tidak siap dan ternak mereka sedang diberi minum di tempat air. Para pria mereka yang melawan dibunuh dan kaum wanita dan anak2 mereka ditawan; sang Nabi mendapatkan Juwairiya di hari itu. Nafi mengatakan bahwa Ibn ‘Umar telah mengatakan kisah di atas dan Ibn ‘Umar ada dalam kelompok tentara (Muslim) tersebut.
Karena itu, dengan tujuan jelas untuk merampok dalam pikirannya, Muhammad mengumpulkan semua tentaranya untuk menyerang B. al-Mustaliq. Banyak para Jihadis yang bergabung dengannya karena berharap dapat bagian jarahan. Muhammad memberi Abu Bakr bendera untuk penyerangan ini. Anehnya, Abdullah ibn Ubay, musuh bebuyutan Muhammad (dan dianggapnya sebagai seorang munafik) jadi salah satu pemimpin dalam serangan ini. Tentara Muslim mulai bergerak dengan 30 kuda. Setelah 8 hari berjalan, mereka berkemah di dekat sumur2 Muraysi dekat pantai, tak jauh dari Mekah. Muhammad mendirikan tenda2 baginya, Aisha dan Umm Slam, dua orang istrinya yang ikut dengannya. Ketika masyarakat B. al-Mustaliq mendengar kedatangan para tentara Muhammad, mereka tercengang, tapi melawan dengan gagah berani. Setelah saling melepas anak2 panah dalam waktu yang singkat, tentara Muslim maju dan dengan cepat mengepung B. al-Mustaliq. Tak lama kemudian tentara B. al-Mustaliq berantakan dan mereka banyak yang terbunuh. Ali b. Talib membunuh beberapa orang B. al-Mustaliq yang terluka, diantaranya adalah Malik dan anak lakinya.[193] Muhammad merampas kumpulan unta2 mereka, menangkap banyak tawanan dan membagi-bagikannya diantara para Jihadi. 200 keluarga ditawan, 200 unta (US$700,000) dan 500 domba dan kambing (US$ 175,000), juga banyak harta benda (kira2 US$ 100,000) dirampas. JUWARIYAH, anak perempuan pemimpin B. al-Mustaliq yang muda, cantik, dan menarik termasuk salah seorang tawanan.[194] Harta benda dilelang bagi pembeli yang bersedia membayar paling mahal. Dalam usaha perampokan ini, seorang Muslim terluka parah karena Muslim lain secara tak sengaja. Tentara2 Muslim lapar akan seks dan Muhammad mengijinkan mereka memperkosa tawanan2 B. al-Mustaliq.
Hadis Sahih Bukhari, Volume 5, Book 59, Number 459:
Dikisahkan oleh Ibn Muhairiz:
Aku masuk ke dalam mesjid dan melihat Abu Khudri dan lalu duduk di sebelahnya dan bertanya padanya tentang coitus interruptus (AZL). Abu berkata, “Kami pergi bersama Rasul Allah untuk Ghazwa (menyerang) Banu Mustaliq dan kami menerima tawanan2 perang diantara para tawanan perang dan kami berhasrat terhadap para wanita itu dan sukar untuk tidak melakukan hubungan seksual dan kami suka melakukan coitus interruptus. Maka ketika kami bermaksud melakukan coitus interruptus kami berkata: “Bagaimana kami dapat melakukan coitus interruptus tanpa menanyakan Rasul Allah yang ada diantara kita?” Kami bertanya padanya tentang hal ini dan dia berkata: “Lebih baik kalian tidak melakukan itu, karena jika jiwa (dalam hal ini jiwa bayi) manapun (sampai hari Kebangkitan) memang ditentukan untuk menjadi ada, maka jiwa itu pun akan ada.’”
193 Tabari, vol.viii, p.56
194 Muir, vol. iii, p.238
Setelah memperkosa gadis tawanannya, Said al-Khudri membawa gadis muda ini ke pasar budak terdekat untuk dijual cepat2. Inilah lanjutan kisahnya, seperti yang dikatakan oleh al-Waqidi (vol.i, p.413) dan dikutip oleh Rodinson: [195]
“Seorang Yahudi berkata padaku, Abu Said, tidak heran mengapa kau mau menjual dia (tawanan wanita) karena apa yang dikandungnya dalam perutnya adalah bayi dari kamu.” Aku berkata, “Tidak, aku melakukan ‘azl.” Mendengar ini dia menjawab (dengan kasar), “Itu hampir sama dengan pembunuhan anak!” Ketika aku sampaikan kisah ini kepada sang Nabi, dia berkata, “Orang2 Yahudi itu bohong. Orang2 Yahudi itu bohong.”
Masih berhubungan dengan hal di atas, perlulah kiranya untuk menyinggung isi Hukum Syariah tentang tawanan wanita dan anak2;
Hukum o9.13 : Jika seorang anak atau seorang wanita dijadikan tawanan, mereka jadi budak2 bagi penangkapnya, dan pernikahan wanita itu sebelumnya dianggap batal. [196]
Pernikahan Muhammad dengan JUWARIYAH, istrinya yang ke-tujuh
Tawanan2 B. al-Mustaliq dibawa ke Medinah. Diantara para tawanan terdapat 200 wanita. Para pria dari B. al-Mustaliq tak lama kemudian datang untuk membuat perjanjian agar kaum wanita mereka dibebaskan. Awalnya, tanpa diketahui Muhammad, Juwariyah yang cantik jatuh ke tangan Jihadis bernama Thabit b. Qays, seorang Ansar dan saudara sepupunya. Juwariyah adalah gadis muda, putri ketua suku B. al-Mustaliq dan telah menikah dengan Musab b. Safwan. Begitu dia dijadikan tawanan, maka pernikahannya pun batal – berdasarkan hukum Islam/Sharia (lihat di atas) dan di diserahkan kepada kedua Jihadis ini untuk diperlakukan sesuka mereka. Agak mengherankan mengapa seorang tawanan gadis muda diserahkan kepada dua Jihadis pada saat yang bersamaan. Aku tidak menemukan kasus lain di mana seorang tawanan wanita dibagi dua orang tentara Muslim. Akan tetapi, sebuah catatan di buku Ibn Sa’d [197] mengatakan:
“Jika seorang tawanan wanita diberikan kepada lebih dari satu orang, tidak ada seorang pun yang boleh berhubungan seks dengannya.”
Sudah jelas bahwa ini adalah karangan buatan para penulis biografi Muhammad selanjutnya untuk sekedar menyatakan bahwa Muhammad 'mengawini' Juwariyah sebelum Juwariyah ‘dikotori’ oleh Jihadi2 lain.
Karena status sosial Juwariyah yang tinggi, penangkapnya meminta uang tebusan 9 ons emas (hari ini senilai dengan US$3.600). Juwariyah tidak dapat mengumpulkan uang sebanyak itu. Jadi dia mendekati Muhammad ketika dia sedang istirahat di rumah Aisha dan minta pengurangan akan harga tinggi yang dituntut oleh penawannya. Seketika saat Aisha melihat Juwariyah, dia merasa cemburu. Muhammad menjawab bahwa dia akan membayar uang tebusan dan mengawininya. Juwariyah setuju akan usul ini. Uang tebusan lalu dibayar dan Muhammad segera mengawiniya dan membangun halaman ke tujuh bagi tempat tinggal Juwariyah dalam kumpulan haremnya yang terus bertambah. Begitu berita perkawinan Juwariyah terdengar orang2, mereka menganggap ini sebagai pertalian hubungan dengan masyarakat B. al-Mustaliq dan dengan begitu semua tawanan dibebaskan. Nama Juwariyah yang asli adalah Barra (Suci). Setelah Muhammad 'menikahinya', dia memberinya nama Islam yakni Juwariyah. Dia berusia 20 tahun dan Muhammad berusia 58 ketika menikahinya. Aisha saat itu baru berusia 13 tahun! Ini Hadis Abu Daud yang mengisahkan bagaimana Muhammad menikahi Juwariyah:
195 Rodinson, p.197
196 Reliance of the Traveller, p.604
197 Ibn Sa’d, vol.ii, p.77
Hadis Sunaan Abu Dawud Book 29, Number 3920:
Dikisahkan oleh Aisha, Ummul Mu’minin:
Juwariyyah, putri al-Harith ibn al-Mustaliq, jatuh ke tangan Thabit ibn Qays ibn atau kepada saudara sepupunya. Dia mengadakan perjanjian (dengan penawannya) untuk membeli kemerdekaannya. Dia adalah wanita yang cantik, yang paling menarik dipandang mata. Aisha berkata: Dia lalu datang kepada Rasul Allah, memintanya untuk membeli kemerdekaannya. Ketika dia berdiri dekat pintu, aku memandangnya dengan rasa tidak senang. Aku menyadari bahwa Rasul Allah akan memandangnya sama seperti dia memandangku. Dia berkata: Rasul Allah, aku adalah Juwariyyah, putri al-Harith dan sesuatu telah terjadi padaku, dan kaupun mengetahuinya. Aku jatuh ke tangan of Thabit ibn Qays ibn Shammas, dan aku membuat persetujuan untuk membeli kemerdekaanku. Aku datang kepadamu untuk meminta bantuan untuk membeli kemerdekaanku.
Rasul Allah berkata: Akankah kau setuju dengan yang lebih baik?
Dia bertanya: Apakah yang lebih baik itu, Rasul Allah?
Dia menjawab: Aku akan membayar kemerdekaanmu atas nama dirimu, dan aku akan menikahimu.
Dia berkata: Aku akan lakukan itu.
Dia (Aisha) berkata: Orang2 lalu mendengar bahwa Rasul Allah telah menikahi Juwariyyah. Mereka membebaskan para tawanan dan melepaskan mereka pergi dan berkata: Mereka adalah anggota keluarga Rasul Allah dengan adanya pernikahan ini. Kami tidak pernah melihat wanita yang membawa anugrah kepada masyarakatnya sebesar Juwariyyah. 150 keluarga B. al-Mustaliq dibebaskan karena dia.
Ini adalah versi lain dari cerita ini:
Harith ibn Abu Dirar, ayah dan ketua B. al-Mustaliq datang menghadap Muhammad untuk menebus anak
wanitanya, dan setelah bicara dengan Muhammad, dia pun jadi Muslim. Dikisahkan bahwa dia kagum
akan pengetahuan supernatural Muhammad yang tahu di mana Harith b. Abu Dirar menyembunyikan
unta2nya. Lalu Juwariyyah mengikuti ayahnya dan memeluk Islam pula. Seketika setelah Juwariyyah
menjadi Muslimah, Muhammad menikahniya dan menawarkan uang mas kawin sebesar 400 Dirham. [198]
198 Haykal, Ch. The Campaign of B. al-Mustaliq
Versi lain mengatakan begini:
Ayah Juwariyah tidak setuju atas rencana perkawinannya dengan Muhammad dan salah seorang anggota
keluarganya melanggarnya dan memberikan Juwariyah kepada sang Nabi tanpa persetujuan ayahnya.
[199]
Untuk mendapat keterangan lebih detail tentang 'perkawinan' Muhammad dengan tawanan wanitanya (Juwariyah), silahkan baca di sini: http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/Juwairiyah.htm
Juga silakan baca versi Islam tentang penyerang terhadap B. al-Mustaliq di: www.trueteachings.com
Dari penyerangan ini kita juga tahu adanya pertentang antara kaum Muhajir dan Ansar. Sejarah Islam seringkali mengatakan kerukunan hubungan antara migran Quraish (Muhajir) dan penduduk asli Medinah (Ansar). Ini tidak sepenuhnya benar jika kita lihat detail yang ditulis oleh beberapa sejarawan Muslim. Ini kisah singkat tentang hubungan buruk yang meledak jadi pertikaian dalam penjarahan terhadap B. al-Mustaliq.
Dari buku Tabari [200] kita ketahui:
Pertikaian terjadi diantara kaum Ansar dan kaum Mohjir dan pedang2 dihunuskan ketika mereka menimba air dari sebuah sumur. Terdapar rasa ketidaksukaan yang besar terhadap kaum Muhajir di Medina. Abd Allah ibn Ubayy (penduduk Medinah) merasa sangat terganggu dengan kedatangan para migran baru Muslim yang jumlahnya lebih banyak dari penduduk Medina dan bertindak hendak mengambil alih kekuasan sepenuhnya atas Medina. Ketika percekcokan mulut terjadi diantara seorang Ansar dan seorang Muhajir, dan Abd Allah ibn Ubayy lebih merasa jengkel lagi ataus kekurangajaran kaum Muhajir, dia berkata, “Apakah mereka benar2 telah melakukan itu? Mereka telah mencoba menurunkan kedudukan kita dan melebihi jumlah orang kita di tanah kita sendiri. Demi Tuhan, kata kiasan,’Buat anjingmu gemuk dan dia akan memakanmu!’ cocok betul dengan keadaan kita dan (pemakai) jilbab Quraish. Demi Tuhan jika kita kembali ke Medina, yang kuat akan mengusir yang lemah.” Lalu dia berpaling kepada orang2 sesukunya yang ada bersamanya dan berkata, “Inilah yang kau telah lakukan terhadap dirimu sendiri! Kau ijinkan mereka tinggal di tanahmau dan membagi kekayaanmu dengan mereka. Kalau saja kau simpan milikmu dari mereka, demi Tuhan, mereka akan pergi ke tanah lain dan bukan ke tanah milikmu.”
Tak lama kemudian, kebencian yang diutarakan Abd Allah ibn Ubayy sampai ke telinga Muhammad yang sedang duduk bersama Umar b. Khattab. Umar sangat marah dan minta ijin Muhammad untuk membunuh Abd Allah ibn Ubayy. Tapi Muhammad tidak mengijinkannya dan mengatakan bahwa membunuh Abd Allah ibn Ubayy hanya akan memperburuk suasana karena kaum Ansar akan marah. Untuk meredakan permusuhan dan menghindari pertumpahan darah, Muhammad menyuruh para pengikutnya kembali ke Medinah tanpa menunda lagi.
Di sini kita ketahui tentang jalan pikiran fundamentalis Islam. Anak laki Abd Allah ibn Ubayy yakni Abd Allah ibn Abd Allah ibn Ubayy adalah seorang fundamentalis. Ibn Sa’d [201] menulis:
Abd Allah ibn Abd Allah ibn Ubayy maju ke muka dan menunggu ayahnya datang. Ketika dia melihat ayahnya, dia menyuruhnya duduk dan berkata: “Aku tidak akan membiarkan kau pergi asalkan kau sadar bahwa kau telah direndahkan dan Muhammad adalah yang terhormat.”
Ini berarti, bagi seorang Jihadi sejati, tidak ada, bahkan tidak pula ayahnya sendiri, yang lebih dicintai daripada Muhammad.
199 Ibid
200 Tabari, vol. viii, pp.52-53
201 Ibn Sa’d vol.ii, p.79
Ketika Abd Allah ibn Ubayy tahu bahwa Muhammad telah mengetahui apa yang dikatakannya di depan orang2 Ansar, dia langsung mendatangi Muhammad sendiri dan menyangkal segala tuduhan atas dirinya. Muhammad sekarang bersikap ramah terhadap Abd Allah ibn Ubayy ketika orang2 mengatakan pada Muhammad bahwa dia (Muhammad) telah melenyapkan harapan Abd Allah ibn Ubayy yang tadinya telah ditentukan untuk jadi raja Medinah.
Tentara2 Muslim melakukan perjalanan non-stop selama sehari semalam sampai subuh. Mereka lalu berhenti di suatu tempat dan lalu tidur. Muhammad sengaja melalukan perjalanan panjang ini sehingga kaum Muslim lelah dan melupakan perkataan tentang Abd Allah ibn Ubayy. Di malam harinya, tentara Muslim bangun dan melanjutkan perjalanan ke Hijaj dan berhenti di tempat air bernama Naqa. Di sore harinya, ketika Muhammad berada di Naqa, angin bertiup kencang sekali dan menyusahkan pihak Muslim. Mereka jadi takut dan mengira ini adalah kutukan Allah. Tapi Muhammad dengan cerdik mengatakan bahwa angin kencang itu datang bagi Muhammad untuk mengumumkan kematian salah satu dari orang2 penting kaum kafir. Ketika para Jihadi tiba di Medina, mereka mendengar bahwa Rifaah b. Zayd, orang terkemuka dari kaum Yahudi B. Qaynuqa dan yang menyediakan tempat berlindung bagi kaum pagan telah meninggal. [catatan: kisah ini tidak masuk akal sama sekali karena Muhammad telah mengusir semua kaum Yahudi B. Qaynuqa dari Medinah]. Selama perjalanan mengarungi padang pasir, kaum Muslim tidak punya air untuk membersihkan diri, sehingga Allah mengeluarkan ayat Q 4:43 tentang Tayammum (membersihkan diri dengan tanah). Pada saat ini, seluruh Sura 63 diturunkan Allah untuk Abd Allah ibn Ubayy dan orang2 munafik semacamnya.
Ketika anak laki Abd Allah ibn Ubayy yakni Abd Allah b. Abd Allah b. Ubayy mendengar apa yang terjadi, dia mendekati Muhammad dan menawarkan diri untuk membunuh ayahnya sendiri. Dia berkata, “Rasul Allah, aku diberitahu bahwa kau ingin membunuh Abd Allah b. Ubayy karena apa yang dikabarkan padamu tentang dirinya. Jika kau memang ingin melakukan itu, perintahkan aku untuk melakukannya dan aku akan membawa kepalanya padamu. Demi Tuhan, al-Khazraj tahu bahwa tidak ada seorang pun diantara mereka yang lebih berbakti kepadanya ayahnya daripada aku. Aku khawatir engkau akan memerintah orang lain untuk membunuh ayahku dan dia akan melakukannya; dan aku akan tidak tahan melihat pembunuh Abd Allah b. Ubayy berjalan diantara orang2. (Karena itu) Aku bersedia membunuhnya, membunuh seorang Muslim untuk membalasdendam seorang kafir, dan karenanya (aku) akan masuk Api [neraka].” [202] Mubarakpuri [203] menyatakan bahwa tipe Jihadis fanatik seperti ini sebagai Muslim yang ‘alim’.
Akan tetapi, Muhammad secara diplomatis menasehati Abd Allah (anak ibn Ubayy) untuk tidak melakukan hal itu tapi bersikap lembut terhadap ayahnya selama dia (Abd Allah ibn Ubayy) tetap seorang Muslim, meskipun hanya sedikit saja.
202 Tabari, vol. viii, p.55
203 Mubarakpuri, p.391
Setelah Muhammad tiba di Medinah, seorang pagan dari Mekah yang bernama Miqyas b. Subbah datang ke Medinah dan menjadi Muslim. Dia datang untuk minta uang darah atas saudara lakinya Hisham b. Subbah yang baru saja jadi Muslim tapi secara tak sengaja dibunuh tentara Muslim dalam penyerangan terhadap B. al-Mustaliq. Muhammad membayar uang darah itu pada Miqyas. Setelah menerima uang darah atas saudara lakinya, Miqyas tinggal di Medinah untuk waktu singkat. Lalu dia membunuh pembunuh saudara lakinya, jadi murtad, dan kembali ke Mekah. Kita perlu ingat nama Miqyas ini karena sebentar lagi kita lihat dia akan jadi salah satu dari orang2 yang dibidik Muhammad untuk dibunuh ketika dia menaklukkan Mekah. Miqyas dibidik untuk dibunuh bukan karena pembunuhannya atas pembunuh saudara lakinya, tapi karena dia murtad.
Selama penyerangan ini, terjadi peristiwa yang berhubungan dengan perserongan Aisha, yakni istri tersayang dan termuda Muhammad, dengan seorang Bedouin muda. Akan tetapi karena tulisan ini hanya membahas tentang perampokan dan teror, maka kisah perserongan itu tidak dibahas di sini.
Teror 47: Penyerangan Kedua di Dumat al-Jandal oleh Abd al-Rahman b. Awf — Desember, 627M
Abd al-Rahman b. Awf adalah salah satu sahabat terdekat Muhammad. Muhammad memerintah dia untuk melakukan serangan kedua terhadap Dumat al-Jandal (Duma). Dia memerintah Abd al-Rahman, “Perangi semua dalam jalan Tuhan dan bunuh semua yang tidak percaya akan Tuhan. Janganlah kau terlena dengan jarahan, jangan berkhianat, jangan memotong-motong (mayat korban), jangan bunuh anak2. Ini adalah perintah Tuhan dan yang dilakukan nabimu diantaramu.”[204]
Abd al-Rahman b. Awf pergi bersama 700 tentara dalam penyerangan ke Dumat al-Jandal (Duma), yang terletak di jalur jalan ke Khaybar, Fadak dan kemudian bercabang ke Syria dan Iraq. Duma adalah pusat perdagangan besar. Penduduknya terutama adalah Kristen dan dipimpin oleh Raja yang beragama Kristen. Dengan mengikuti hukum Islam, ketika Abd al-Rahman b. Awf tiba di Duma, dia memanggil penduduk suku itu untuk memeluk Islam dalam waktu 3 hari atau menerima penghancuran. Orang2 tidak punya pilihan melainkan tunduk pada ancaman maut ini. Di bawah ancaman itu, Al-Asbagh, pemimpin Kristen Bani Kalb menurut dan banyak pengikutnya yang lalu melakukan hal yang sama. Suku2 lain membayar pajak (Jizyah) pada Abd al-Rahman. Dengan setuju membayar Jizyah secara terus-menerus, mereka diperbolehkan untuk terus memeluk Kristen. Ketika kabar baik ini terdengar oleh Muhammad, dia memerintahkan Abd al-Rahman untuk menikahi Tamadhir, putri dari pemimpin Kristen Al-Asbagh. Dalam suratnya kepada Abd al-Rahman, Muhammad menulis, “Jika mereka tunduk padamu, nikahilah putri raja mereka.”[205] Maka Abd al-Rahman menikahi Tamadhir bt.al-Asbagh, putri raja Kristen dan membawanya ke Medinah. Dia jadi salah satu dari istri2nya yang banyak, semuanya berjumlah 16, belum lagi para gundik2nya. [206]
Teror 48 : Penyerangan di Fadak terhadap B. Sad oleh Ali ibn Talib—December, 627M
Muhammad menerima kabar dari pengintainya bahwa B. Sa’d b. Bakr, yakni suku yang tinggal di Fadak merencanakan untuk menolong kaum Yahudi Khaybar. Jadi dia lalu mengirim Ali b. Abi Talib untuk menghukum mereka. Setelah melakukan perjalanan di malam hari dan menyembunyikan diri di siang hari, Ali tiba di tempat itu dan bertiarap menunggu mereka di siang hari. Pihak Muslim menangkap mata2 yang memberitahu mereka bahwa B. Sa’d b. Bakr telah setuju untuk membantu kaum Yahudi Khaybar dengan imbalan hasil panen Khaybar. Ali kembali ke Medinah bersama tawanannya.
204 Ibn Ishak, p.672
205 Tabari, vol. viii, p.95
206 Muir, vol. iv, p.12, Waqidi’s note
Bookmark halaman ini dengan:
Delicious
Digg
Stumbleupon
Reddit
Newsvine
Facebook
Google
Yahoo
Technorati

