Download
Download Faithfreedompedia versi offline (17.7MB):

Serangan-serangan - Tahun 632M

Dari Faithfreedompedia

Langsung ke: navigasi, cari

Teror 98 : Pemaksaan Agama di Najran, Yaman Utara oleh Khalid b. Walid — Februari, 632M

Penyerangan ini terjadi di hari2 terakhir hidup Muhammad di Medinah. Muhammad mengirim Khalid ke Najran, di daerah Utara Yaman untuk menyerang Bani al-Harith b. Ka’b untuk 'mengajak' masyarakat Najran (yang beragama Kristen dan pagan dan tidak punya perjanjian damai dengan Muhammad) memeluk Islam atau harus berperang melawan Muslim. Najran terkenal akan komunitas Kristennya yang besar dan makmur. Banyak orang pagan tinggal berdampingan dengan orang2 Kristen dengan damai. Semua masyarakat Najran berasal dari suku B. al-Harith. Setibanya di Najran, Khalid mengumumkan ancaman, memberi masyarakat Najran waktu 3 hari untuk memilih masuk Islam atau mati.

Dia mengumumkan, “Wahai kalian, terimalah Islam, dan kau akan selamat.”[310] Masyarakat Najran tak punya banyak pilihan selain masuk Islam. Khalid tinggal bersama mereka untuk beberapa lama dan mengajar Qur’an dan Sunnah Muhammad. Lalu Khalid menulis surat kepada Muhammad bahwa masyarakat Najran masuk Islam di bawah ancaman pedang. Muhamad senang mendengar masyarakat B. al-Harith masuk Islam dengan hanya diancam dan tidak usah diperangi segala. Dia membalas surat Khalid dan memerintahkannya agar kembali ke Medinah dan membawa rombongan utsan B. al-Harith. Ketika Khalid datang bersama rombongan utusan, Muhammad bertanya kepada Khalid siapakah orang2 ini sebab muka mereka lebih mirip orang India. Ketika Khalid mengatakan kepada Muhammad bahwa mereka adalah orang2 Arab Yaman, Muhammad mengomeli mereka berulang-kali karena mereka dulu melawan Muhammad. Dia berkata, “Jika Khalid b. al-Walid tidak menulis surat padaku bahwa kalian telah menyerah dan tidak melawan, sudah kubanting kepala2 kalian ke bawah kakiku.” [311]
310 Tabari, vol.ix, p.82
311 Tabari, vol.ix, p.84

Masyarakat B. al-Harith adalah keturunan budak2 dan mereka tidak pernah melakukan penyerangan atau perampokan. Tapi Muhammad bersikeras menuduh mereka dahulu melawannya sebelum dia menjadi kuat. Akan tuduhan ini mereka menjawab, “Wahai Rasul Allah, kami dahulu biasa mengalahkan mereka yang menyerang kami karena kami adalah keturunan para budak dan kami bersatu, tidak terpecah-belah, dan tidak pernah melakukan hal yang jahat kepada siapapun.” Muhammad akhirnya setuju dengan yang mereka katakan dan dia menunjuk Qays b. al-Husayn sebagai pemimpin baru B. al-Harith.

Muhammad menunjuk Amr b. Hazm al-Ansari untuk mengajar B. al-Harith tentang Islam dan untuk mengumpulkan Zakat dari mereka. Dia menulis beberapa perintah kepada Amr sebelum Amr berangkat ke Najran: untuk memenuhi kontrak (Q 5:1), takut akan Allah (Q 16:128), hanya yang bersih yang boleh menyentuh Qur’an (Q 56:79), bersikap tegas pada mereka yang tidak adil dan memberitahu orang2 akan kabar baik tentang surga (Q 11:18) dan memperingatkan mereka akan neraka, melarang orang2 untuk sembahyang dengan mengenakan satu pakaian kecuali jika pakaian itu ujungnya dapat dilipat sampai ke bahu, tidak boleh meminta kepada suku2 musuh tapi minta hanya kepada Allah saja, siapa yang minta tolong kepada suku2 musuh harus dibunuh pakai pedang, melakukan wudhu dengan menggunakan banyak air, sembahyang tepat waktu, melakukan Ghusl sebagai kewajiban untuk boleh sembahyang bersama, penagih pajak berhak 1/5 dari barang jarahan dan Zakat dari hasil ladang – 1/10 dari hasil ladang yang diairi oleh sungai dan hujan, 1/20 dari ladang yang diairi dengan kantung kulit, 2 domba bagi tiap 10 unta, 1 sapi dari setiap 40 sapi dan 1 sapi jantan dari setiap 30 sapi, 1 domba dari setiap 40 domba yang digembalakan.

Versi lain dari penaklukan ini mengatakan bahwa al-Harith adalah seorang pendeta Kristen yang tidak mau masuk Islam. Lalu utusan mereka datang ke Medinah untuk mendiskusikan tentang masalah ketuhanan. Dikatakan bahwa para Muslim kaget dan bingung melihat kemewahan pendeta B. al-Harith ketika dia datang ke Medinah. Allah menurunkan Q 3:61 untuk menegur mereka yang bertengkar dengan RasulNya. [312] Akhirnya, al-Harith dan orang2nya setuju untuk bayar pajak Jizyah agar tidak dibunuh. Muhammad menerima keputusan mereka dan utusan Kristen kembali ke Najran.[313]

Pajak Jizya ditentukan sebesar 1 dinar (atau boleh diganti dengan pakaian) untuk setiap orang dewasa, laki atau perempuan, merdeka atau budak. Jika orang Yahudi atau Kristen tidak mau bayar Jizyah maka mereka menjadi musuh Allah (dan tentunya boleh dibunuh). 312 Rodwell p.438, note 19
313 Mubarakpuri, p.527

Teror 99 : Penghancuran Berhala di Dhul Khalasa di Yaman and Pemaksaan Agama pada Berbagai Suku oleh Jarir ibn Abd Allah—April, 632M

Setelah menyaksikan kegiatan teror, perampokan dan pembantaian massal yang dilakukan tentara Islam yang kuat itu, suku2 Yaman lainnya tidak punya pilihan selain akhirnya menyerah kepada Muhammad dan masuk Islam. Diantara suku2 yang menyerah itu adalah suku B. Murad, B. Zubaid, yang tinggal di daerah pantai Yaman, suku B. Kahlan yang tinggal di Khaulan dan suku B. Bajila. Muhammad mengirim Jarir ibn Abd Allah ke Dhul Khalasa dan memaksa masyarakat B. Bajila untuk menghancurkan patung berhala mereka yang terkenal dengan tangan mereka sendiri. Patung berhala yang mahsyur ini dikenal sebagai Ka’aba Yemen yang terbuat dari batu kwarza putih dan terletak diantara Mekah dan Sa’na. Tentara Muslim menghancurkan kuil, lalu membakarnya, dan membunuh seratus jemaat B. Bajila termasuk penjaga kuil. Selain itu, 200 orang B. Qubafah juga dibantai. Suku lain bernama B. Jorsh di Yemen dipaksa pula masuk Islam. Ini Hadisnya.

 Hadis Sahih Bukhari, Volume 5, Book 59, Number 641: 
Dikisahkan oleh Jarir:
Di jaman sebelum Islam terdapat sebuah bangunan yang disebut Dhu-l-Khalasa atau Al-Ka'ba Al- Yamaniya atau Al-Ka'ba Ash-Shamiya. Sang Nabi berkata padaku, “Bersediakah engkau membebaskanku dari Dhu-l-Khalasa?" Maka aku pergi bersama 150 tentara berkuda, dan kami menaklukkannya dan membunuhi siapapun yang ada di sana. Lalu aku kembali menghadap sang Nabi dan memberitahukan akan hal itu padanya, dan dia berdoa untuk keselamatanku dan (suku) Al-Ahmas.

Hadis yang sama juga bisa dilihat di Sahih Bukhari 5.59.642.

Setelah selesai membantai di Dhu Khalasa, Jarir kembali ke Medinah. Di perjalanan dia bertemu dengan seorang utusan yang mengabarkan bahwa Muhammad telah mati. Sahih Bukhari 5.59.645

KESIMPULAN

Kumpulan tulisan yang dapat dipercaya tentang sejarah awal Islam ini membuktikan tanpa ragu sama sekali bahwa doktrin utama di belakang semua teror, pembunuhan, dan pembantaian masal yang dilakukan para Jihadis masa kini berakar dalam pada sistem agama Islam. Pendapat yang mengatakan bahwa perang melawan teror Islam bukanlah perang melawan Islam adalah omong kosong belaka. Seorang Muslim teladan (yakni Muslim yang melakukan ajaran Qur’an) adalah seorang teroris – ini adalah pesan utama Qur’an, buku suci agama Islam. Bacalah Qur’an dari awal sampai akhir, beberapa kali, dan kau akan mengerti mengapa teroris Islam masa kini melakukan apa yang mereka lakukan sekarang di seluruh dunia. Bacalah semua bagian di laporan ini sekali lagi dan kamu pasti, tanpa ragu, mendapat gambaran jelas tentang Rasul Allah, tujuannya, pendapat2nya, dan yang paling penting adalah rencana2nya, cara2nya, tindakan2nya, dan semua kebutuhan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang dia ingin setiap Muslim untuk mencapainya, yakni membuat Islam menjadi agama dunia walaupun harus membunuh jutaan orang sekalipun.

Seorang Muslim yang tidak melakukan Jihad (yi. kekerasan, teror dan pembunuhan) untuk memaksakan Islam ke seluruh masyarakat dunia bukanlah seorang Muslim. Kebanyakan Muslim tidak melakukan apa yang diperintahkan Qur’an dan karenanya mereka tidak menjadi teroris. Begitu mereka menyadari tentang “Islam yang sesungguhnya” – yakni Islam yang diajarkan dan dipraktekkan oleh Muhammad – mereka akan kaget sekali dan merasa bingung – mereka bertanya-tanya mana nih Islam yang katanya ‘damai, penuh toleransi, anti-kekerasan’ yang dahulu mereka percayai itu. Astaga! Ternyata tiada kedamaian dalam Islam, tiada toleransi dalam Islam, tiada kompromi dalam Islam, tiada negosiasi dalam Islam. Yang ada hanyalah ‘tunduk’ dalam Islam – tunduk di bawah pedang Islam, seperti yang dikatakan Muhammad, Surga terletak di bawah bayangan pedang (Sahih Bukhari; 4.52.73)

...

Di kala dunia menghabiskan biaya milyaran dollar untuk memerangi terorisme Islam, tidakkah lebih masuk akal untuk menyisihkan sepercik dari dana sebesar itu untuk mengupas wajah fasis Islam dan dotrin terorisme sebagai bagian dari usaha melawan terorisme Islam? Biarlah sebagian besar Muslim yang tak berdosa dan bukan teroris dan tidak tahu apa2 tentang Islam mengetahui akan pesan asli Islam dan bukan yang biasanya mereka percayai dulu – bahwa Islam adalah agama damai. Secepatnya mereka mengetahui kebenaran ini, secepatnya pula mereka menjadi bagian masyarakat dunia beradab dan terhormat. Selama mereka masih hidup dalam penyangkalan, maka mereka akan terus menjadi bagian dari kelompok yang dimusuhi dan dicurigai. Biarlah kaum Muslim sendiri yang memerangi terorisme Islam dari akarnya.

TAMAT


Terorisme Islam setelah Muhammad mati diteruskan oleh para penggantinya, antara lain Khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali : KRONOLOGI PENYEBARAN ISLAM LEWAT PEDANG PASCA MUHAMAD

Bookmark halaman ini dengan:
Delicious Delicious Digg Digg Stumbleupon Stumbleupon Reddit Reddit Newsvine Newsvine Facebook Facebook Google Google Yahoo Yahoo Technorati Technorati
Peralatan pribadi