Download
Download Faithfreedompedia versi offline (17.7MB):

Serangan-serangan - Tahun 629M

Dari Faithfreedompedia

Langsung ke: navigasi, cari

Teror 57: Penyerangan Ke-4 Atas B. Thalabah di Mayfah oleh Ghalib b. Abd Allah—Januari, 629M

Mayfah terletak 96 mil dari Medinah, ke arah Nejd. Muhammad mengirim Ghalib b. Abd Allah memimpin 130 tentara untuk merampok suku2 B. Uwal dan B. Thalabah yang hidup di daerah itu. Usamah b. Zayd (anak Zayd b. Haritha, anak angkat Muhammad) bergabung dengan pasukan ini. Penyerangan ini sangatlah mendadak dan kaum Muslim membunuh tanpa belas kasihan siapapun yang mereka jumpai dan lalu mengambil unta2 dan kambing2nya ke Medinah.

Usamah dan seorang kawannya membunuh seorang pria yang merupakan sekutu dari B. Murrah yang mengucapkan ‘La ilah illa Allah’ yang berarti orang ini memeluk Islam pada saat hendak ditusuk pedang.[232] Ketika Usamah kembali ke Medinah dan melaporkan kisah ini kepada Muhammad, Muhammad tidak merasa senang dan berkata, “Usamah, siapa yang akan mengatakan padamu ‘Tidak ada tuhan lain selain Tuhan’?” [233]
232 Ibn Sa’d, vol ii, p.149
233 Tabari, vol.viii, p.132


Teror 58 : Penyerangan Ke-2 Atas B. Murrah di Fadak oleh Ghalib b. Abd Allah—Januari, 629M

Setelah kegagalan usaha perampokan oleh Bashir ibn Sa’d (lihat Teror 55) terhadap B. Murrah, Muhammad mengutus Ghalib b. Abd Allah, yang adalah seorang pembunuh bengis, untuk menyerang B. Murrah di Fadak. Muhammad berkata kepada al-Zubayr, pemimpin lain dari 200 tentara ini: “Jika Allah membuat kalian menang, jangan tunjukkan ampun kepada mereka.” [234]. Usamah b. Zayd juga bergabung dalam usaha perampokan ini. Kaum Muslim menyerang B. Murrah di pagi hari; tanpa ampun membunuhi banyak orang2 B. Murrah; mencuri unta2nya, dan membawa ternak mereka ke Medinah.


Daftar isi

Teror 59 : Penyerangan Atas Ghatafan di al-Jinab daerah Yaman oleh Bahir b. Sa’d — Februari, 629M

Pada saat mengepung Khaybar (lihat Teror 52, Bagian 13), Muhammad mendengar dari pemandunya di Khaybar yakni Husayl b. Nuwayrah bahwa sekelompok orang Ghatafan di bawah pimpinan Uyanah b. Hisn telah berkumpul di al-Jinab, daerah sebelah Khaybar dan Wadi al-Qura. Maka Muhammad mengirim Bashir b. Sa’d bersama 300 orang tentara bersama pandu Husayl b. Nuwayrah untuk menyerang kaum Ghatafan. Tentara Bashir bergerak di malam hari dan menyembunyikan diri di siang hari sampai mereka tiba di tempat dekat pihak musuh. Tentara Muslim meneror suku itu, merampok sebagian besar unta2 mereka dan mengusir para penggembalanya. Melihat tentara Muslim yang mengacau itu, kaum Ghatafan lari berlindung di puncak2 gunung dan dataran2 tinggi. Tentara Muslim merampok, menjarah dan membunuh seorang budak milik Uyanah b. Hisn. Mereka menawan dua pria dan membawa mereka beserta unta2 ke Medinah.


Teror 60 : Penyerangan Ketiga Atas B. Sulaym di Fadak oleh Ibn al-Awja al-Sulami — April, 629M

B. Sulaym merupakan kerabat dekat suku B. Hawazin dan bertempat tinggal di daerah Najran dan Turbah. Setelah melakukah ibadah Umrah dan kembali ke Medina, Muhhamad segera mengirim Ibn al-Awja al-Sulami bersama 50 tentara untuk menyerang B. Sulaym. Ketika Ibn Awja tiba di daerah B. Sulaym, dia 'meminta' mereka memeluk Islam. Ketika para kafir menolak, tentara Muslim menyerang mereka. Tentara B. Sulaym menyerang balik, menghujani dengan panah dan membunuh banyak tentara Muslim. Ibn Awja terluka tapi berhasil melarikan diri ke Medinah meskipun dengan susah payah. Akan tetapi, setahun kemudian B. Sulaym memeluk Islam setelah mengetahui bahwa Muhammad menjadi semakin kuat secara militer.
234 Ibn Sa’d, vol.ii, p.156


Teror 61 : Penyerangan Atas B. al-Mulawwih di al-Kadid oleh Ghalib b. Abd Allah- Mei, 629M

Muhammad mengirim Ghalib b. Abdallah al-Laythi, dengan sekitar 13 sampai 19 orang untuk menyerang B. al-Mulawwih di al-Kadid. Ketika tentara Muslim tiba di al-Kadid, mereka bertemu dengan orang yang bernama al-Harith b. Malik dan lalu menawannya. Dia memberitahu Ghalib bahwa dia baru saja memeluk Islam. Meskipun mengaku begitu, Ghalib tetap mengikat dirinya dengan tali untuk berjaga-jaga. Lalu Ghalib memerintahkan seorang budak Negro untuk menjaga al-Harith dan memenggal kepalanya jika dia membuat onar. Ghalib lalu mengirim seorang Muslim untuk mengamati tempat tinggal musuh. Di siang hari dia berbaring menyembunyikan diri dengan muka menghadap tanah. Tak lama kemudian, seorang Bedouin datang dari tempat tinggal masyarakat B. al-Mulawwih dan melihat pengintai Muslim itu dan menduga ia tentunya seorang penyerang. Lalu dia menembakkan dua buah panah ke pengintai Muslim. Dengan cerdiknya pengintai Muslim itu tetap tidak bergerak sehingga orang Bedouin ini menyangka dia adalah benda mati dan lalu meninggalkan tempat itu. Pengintai itu menunggu sampai masyarakat B. al-Mulawwih kembali dengan ternak unta dari padang rumput. Lalu pada malam harinya ketika keadaan tenang dan masyarakat B. al-Mulawwih sedang beristirahat, tentara Muslim melakukan serangan mendadak. Mereka membunuh beberapa orang dan mencuri unta2nya. Pada saat itu, orang2 lain jadi waspada dan berteriak-teriak minta tolong.

Karena takut pihak lain datang menolong, para perampok Muslim cepat2 meninggalkan tempat itu. Sewaktu pergi, mereka sempat membawa tawanan al-Harith b. Malik yang tadi dijaga seorang budak Negro. Tak lama kemudian memang pihak tentara al-Harith b. Malik datang menyerang tentara Muslim. Pada saat itu turunlah hujan lokal dan hampir membanjiri lembah itu sehingga membuat usaha penyerangan kepada pihak Muslim jadi sukar. Dengan memanfaatkan keadaan ini, tentara Muslim cepat2 melarikan diri. Mereka mengambil semua unta2 dan membawanya ke Medina. Di samping itu mereka juga membawa banyak harta jarahan. Jeritan perang Muslim di malam itu adalah “Bunuh! Bunuh!” [235]

Teror 62 : Penyerangan Atas B. Laith di al-Kadid — Mei, 629M

Beberapa minggu kemudian, tentara Muslim melakukan penyerangan atas B. Laith. Mereka diserang di al-Kadid ke arah jalan ke Mekah. Tentara Muslim menyerang tiba2 dan mencuri unta2 mereka. Tidak ada keterangan lebih lanjut dari perampokan ini. 235 Tabari, vol.viii, p.142


Teror 63 : Pemaksaan Jizyah Atas Para Pemeluk Zoroastria - kasus 1 - Juni, 629M

Setelah merampok B. al-Mulawwih mengirim Jihadi bernama al-Ala b. al-Hadrami membawa surat ancaman kepada Mundhir b. Sawa al-Abdi, ketua suku B. Tamim yang memeluk agama Zoroastria untuk membayar pajak Jizyah kepada Muhammad. Muhammad menulis: “Dalam nama Tuhan, yang Maha Pengampun dan Penyayang. Dari Muhammad sang Nabi, Utusan Tuhan, kepada al-Mundhir b. Sawa: Damai kepadamu! Melanjutkan: Aku telah menerima suratmu dan utusanmu. Barang siapa yang melakukan sembahyang sesuai dengan sembahyang kami, makan korban (binatang) kami, dan menghadap ke Qiblah kami adalah orang Muslim: orang ini diijinkan melalukan apa yang diijinkan bagi para Muslim, dan barangsiapa yang menolak (menjadi Muslim) harus bayar pajak.[236] Sebuah Hadis di Sunan Abu Daud mungkin berhubungan akan hal ini dan cocok dengan doktrin Muhammad yang berbunyi ‘bayar Jizyah atau mati’ (perlu diketahui bahwa kata Magia di bawah berarti Zoroastria):

Hadis Sunaan Abu Dawud, Book 13, Number 3038: 
Dikisahkan oleh Abdullah ibn Abbas:
Seorang yang berasal dari Usbadhiyin dari masyarakat Bahrayn, yang beragama Magian dari Hajar, datang menghadap Rasul Allah dan berbicara dengannya (selama beberapa saat) dan lalu ke luar. Aku bertanya kepadanya, “Apa yang telah ditetapkan Rasul Allah bagimu?” Dia menjawab, “Yang jahat.” Aku berkata, “Diam.” Dia berkata, “Islam atau dibunuh.” Abdur Rahman ibn Awf berkata, “Dia (Muhammad) menerima jizyah dari mereka.” Ibn Abbas berkata,”Orang2 mengikuti apa yang dikatakan Abdur Rahman ibn Awf, dan mereka mengabaikan apa yang kudengar dari Usbadhi.

Karena tidak punya punya pilihan lain, maka orang2 Zoroastria ini setuju untuk membayar pajak ‘perlindungan’ kepada Muhammad. Muhammad lalu memutuskan bahwa orang Muslim tidak boleh memakan kurban sembelihan orang Zoroastria dan tidak boleh menikahi kaum wanita Zoroastria.

Teror 64 : Pemaksaan Jizyah Atas Para Pemeluk Zoroastria —kasus 2 — Juni, 629M

Muhammad mengirim Amr b. al-As ke Jayfar dan Abbad. Mereka adalah dua bersaudara Zoroastria di Uman. Mereka berkata kepada Amir bahwa mereka percaya Muhammad adalah seorang Nabi dan apa yang diajarkannya. Karena tidak puas akan hal ini dan tidak ada harta jarahan yang dapat dirampas dari mereka, Muhammad memaksakan Zakat dan pajak Jizyah dari mereka. Tentang Zakat ini, perlu disimak bahwa Abu Bakr memerintahkan pajak Islam ini harus dikumpulkan dengan paksa, dan jika tidak mau bayar, maka akan diperangi. Ini Hadis dari Muwatta Malik (dari bagian tentang Pengumpulan Zakat dan Bersikap Tegas dalam Melakukannya) tentang Zakat:

Hadith Muwatta Malik, Book 17, Number 17.18.31: 
Yahya menyampaikan padaku dari Malik bahwa dia mendengar Abu Bakr as-Siddiq berkata, “Jika mereka menahan bahkan tali kekang sekalipun, maka aku akan berkelahi dengan mereka untuk mengambil benda itu.”

236 Tabari, vol.viii, p.142


Teror 65 : Penyerangan Atas B. Amir di al-Siyii oleh Shuja ibn Wahb al-Asadi — Juli, 629M

Muhammad mengirim Shuja b. Wahb yang memimpin 24 tentara untuk merampok B. Amir (cabang dari suku Hawazin) di al-Siyii. Al-Siyii berjarak 5 malam naik kuda dari Medina. Setelah tiba di tempat itu, Shuja melakukan serangan tiba2 pagi hari atas B. Tamim. Setelah meneror dan menjarah selama 15 hari, tentara Muslim mengambil unta2 dan domba2 sebagai barang jarahan. Dalam pembagian penjarahan ini harga 10 kambing sama dengan seekor domba. Setiap Jihadis mendapat bagian 15 unta.


Teror 66 : Penyerangan Atas B. Qudah di Dhat Atlah oleh Amr b Ka’b al-Ghifari — Juli, 629M

Muhammad mengirim Amr b. Ka’b al-Ghifari yang memimpin 15 tentara untuk menyerang orang2 B. Qudah di Dhat Allah, di perbatasan Syria. Setelah tiba di sana, Amr meminta para penduduk untuk masuk Islam. Para kafir menolak. Lalu Amir mengepung pihak musuh. Tapi dia mendapat perlawanan keras dari mereka. Di pertempuran ini pihak Muslim dikalahkan. Pihak musuh berhasil membunuh semua tentara Muslim kecuali seorang yang berhasil melarikan diri dan kembali ke Medina. Muhammad merasa sangat sedih atas kejadian ini dan merencanakan untuk mengirim pasukan Jihadis yang besar untuk balas dendam. Rencana ini batal setelah Muhammad mendengar pihak musuh sudah meninggalkan daerah tempat tinggal mereka.


Teror 67 : Penyerangan Atas Mu’tah oleh Zayd ibn Haritha — September, 629M

Mu’tah adalah desa kecil di dekat al-Balqa di Damascus, Syria. Setelah kegagalan tim perampok Muslim yang dipimpin oleh Amr b. Ka’b al-Ghifari di Dhat Allah, Muhammad mencari kesempatan untuk menyerang bagian daerah Kekaisaran Byzantium dan untuk memberi pelajaran penduduk daerah ini yang kebanyakan beragama Kristen. Ini adalah usaha pertama Muhammad menyerang daerah Kekaisaran Byzantium.

Versi lain alasan penyerangan ini adalah karena Muhammad mengirim seorang utusan dengan surat kepada Gubernur Byzantine di Busra. Utusan ini dibunuh oleh Shurahbil (anak Amr), ketua daerah Ma’ab atau Mu’ta. Muhammad dengan cepat membalas dendam dengan mengumpulkan 3.000 tentara. Dia juga merasa yakin dengan kekuatannya setelah sukses menaklukkan Khaybar. Kemenangan atas Khaybar memberi rasa percaya diri bahwa dia cukup kuat untuk mengalahkan Kekaisaran Byzantium yang perkasa di Syria.

Dia menunjuk Zayd b. Haritha untuk memimpin tentara ini, memerintahkan dia untuk bergerak ke daerah di mana utusan Muhammad dibunuh, meminta penduduknya masuk Islam dan membunuh mereka jika menolak Islam. Dia juga memberi pesan jika Zayd terbunuh, maka Jafar b. Abi Talib (saudara laki Ali dan saudara sepupu Muhammad) menjadi pemimpin berikutnya, dan jika Jafar terbunuh maka Abd Allah b. Rawaha jadi pemimpin. Lalu 3.000 Jihadi berbaris ke luar, dilengkapi dengan pedang2 dan kuda2. Khalid b. Walid juga ikut dalam operasi militer ini, tapi hanya sebagai prajurit biasa dan tidak punya kedudukan penting karena dia baru saja masuk Islam. Ketika mereka siap berangkat, Muhammad ke luar dan mengucapkan selamat jalan. Beberapa Jihadis ingat ayat Q 19:71, tentang nasib manusia. Muhammad menemani para Jihadis sampai Thaniyat di luar daerah Medina dan berkata, “Semoga Allah membelamu dan semoga kau kembali pulang dengan keadaan suci dan membawa barang jarahan.” [237]
237 Ibn Sa’d, vol.ii, p.159

Tentara Muslim bergerak maju dan berkemah di Mu’an, sebuah desa di Syria. Ketika sedang berada di sana, Zayd menerima berita mengagetkan tentang persiapan perang sekutu Surahbil. Dia mendengar bahwa pihak musuh berkemah di Ma’ab di daerah kekuasaan al-Balqa. Tentara Muslim juga mendengar kabar bahwa Surahbil dan Theodora, saudara laki Heraklius berada di sana bersama 100.000 tentara. Juga 100.000 tentara Romawi siap bergabung bersama mereka untuk berperang. Tentara Syria terdiri dari tentara Romawi dan sebagian tentara dari suku Kristen di padang gurun itu. Zayd juga mendengar banyak suku2 Arab lain seperti Lakham, Judham, Balqayn, Bahran dan Bali juga bergabung dengan tentara Heraklius.

Setelah mendengar berita tentang tentara Romawi yang sangat kuat dan para sekutunya, pihak Muslim jadi gelisah tapi tetap tinggal di Mu’an selama dua malam sambil merencanakan apa yang harus mereka lakukan. Beberapa dari mereka ingin mengirim pesan penting kepada Muhammad untuk minta tambahan kekuatan dalam melawan 100.000 tentara Kekaisaran Byzantium. Tetapi Abd Allah b. Rawaha membangkitkan semangat tempur dengan sumpah Jihad dan membujuk mereka untuk tidak merasa takut akan lawan yang besar itu. Ini adalah kesempatan terbaik untuk jadi martir – begitu katanya. Para tentara Muslim sangat setuju dengan apa yang dikatakan Abd Allah b. Rawaha dan mereka berkeputusan untuk melawan musuh.

Kaum Jihadis Muslim lalu berangkat dan ketika tiba di perbatasan Ma’ab, mereka bertemu dengan tentara Heraklius di desa yang bernama Masharif. Ketika tentara musuh mendekati tentara Muslim, pihak Muslim bersembunyi di desa Mu’tah. Pertempurang sengit terjadi di sana. Zayd b.Haritha bertarung dengan gagah berani tapi tak lama kemudian sebuah lembing dari pihak musuh meluncur menembus badannya sampai terpotong jadi dua dan dia pun mati. Sesuai perintah Muhammad, Jafar b. Abi Talib sekarang memimpin tentara Muslim. Dia juga bertarung dengan gagah berani tapi dia pun mati dalam pertempuran. Sekarang Abd Allah b. Rawaha mengangkat bendera Muslim dan maju ke muka medan tempur tapi dia pun lalu mati terbunuh. Lalu Thabit b. Arqam mengambil bendera dan mengajak pihak Muslim untuk memilih pemimpin dari antara mereka sendiri. Pihak Muslim memilik Khalid b. Walid sebagai pemimpin baru. Akan tetapi susunan tentara Muslim telah jadi kacau dengan terbunuhnya 12 Jihadis. Tidak diketahui pihak Byzantium kehilangan berapa tentara. Dengan mengambil beberapa keputusan cerdik dan tepat, Khalid berhasil mendisiplinkan barisan tentara Muslim. Dia lalu mengelabui tentara Romawi dengan berita bahwa tentara Muslim dalam jumlah besar akan segera datang. Pihak Romawi ternyata percaya akan berita palsu ini. Tentara Muslim lalu mengundurkan diri dan pihak Byzantium pun melakukan hal yang sama. Lalu Khalid memimpin tentara Muslim kembali ke Medina untuk menghindari kekalahan yang lebih besar lagi. Seorang utusan tentara Muslim melaju lebih dahulu ke Medina untuk mengabarkan berita buruk ini kepada Muhammad.

Di tengah2 masyarakatnya di mesjidnya, Muhammad memberitahu bahwa dia telah mendapat wahyu bahwa Zayd mendapat hadiah di surga sebagai martir. Dia juga mengatakan hal yang sama tentang Jafar dan Abdallah b. Rawaha. Dia berkata kepada orang2 [238], “Sekarang aku bisa melihat mereka duduk di singgasana menghadap satu sama lain seperti bersaudara. Diantara mereka kulihat kebencian menggunakan pedang. Dan aku lihat Jafar tampak seperti malaikat dengan dua sayap bernoda darah.” Kaum Muslim terpesona dengan ucapan Muhammad. Dia memberi julukan “Pedang Allah” kepada Khalid b. Walid. Lalu dia membujuk para pengikutnya untuk memperkuat dan bergabung bersama tentara Muslim di Syria. Karena bujukan itu, para Muslim bergabung dengan tentara Muslim dan pergi menuju perbatasan Syria di bawah terik matahari yang panas untuk membantu tentara Muslim di sana. Tapi sudah terlambat karena tentara Muslim di Syria sudah kembali pulang ke Medina.
238 Ibn Sa’d, vol.ii, pp.161-1612

Ketika tentara Muslim yang kembali tiba di daerah Medina, orang2 Muslim melempari mereka dengan tanah, sambil mengutuki mereka karena melarikan diri dari medan perang. Muhammad berusaha menenangkan masyarakat sambil menyerukan bahwa para tentara ini tidak lari tapi kembali untuk nantinya bertempur lagi. Tapi masyarakat tetap tidak puas, dan mereka malah mengejar Muhammad sehingga dia harus berlindung di kamar Umm Salamah, salah satu istri2nya. Ketika orang2 bertanya kepada Umm Salamah mengapa dia tidak sembahyang bersama Muhammad, dia menjawab [239], “Demi Allah, dia (Muhammad) tidak bisa meninggalkan rumah! Setiap saat dia ke luar, orang2 meneriakinya, ‘Apakah kau melarikan diri di jalan Tuhan?’ Sehingga dia dia di rumahnya dan tidak keluar.”
239 Tabari, vol viii, p.160

Teror 67 : Penyerangan Atas B. Qudah di Dhat al-Salasil oleh Amr b. al-As — September, 629M

Setelah mengalami kekalahan telak di tangan B. Qudah di Dhat Atlah, ditambah dengan pengunduran diri tentara Muslim yang memalukan dari Mu’tah, kehormatan Muhammad benar2 diuji. Selain itu ditulis bahwa dia juga menerima laporan mata2 yang mengatakan beberapa suku, termasuk suku Qudah, sedang mempersiapkan diri untuk menyerang Medina. Untuk menyelamatkan mukanya, Muhammad lalu memerintahkan Amr b. al-As yang baru masuk Islam untuk menyerang suku B. Qudah yang tidak mau juga tunduk itu. Amr b. al-As sangat berang mendengar beberapa suku Arab malah berpihak kepada pasukan Byzantium dalam peperangan Mu’tah. Muhammad memutuskan sekaranglah saatnya untuk memberi mereka pelajaran.

Amr b. al memimpin 300 pasukan termasuk 30 tentara berkuda untuk menundukkan pemberontakan B. Qudah yang berada di Dhat al-Salasil. Tempat itu berjarak 10 hari naik kuda dari Medina. Nenek Amr b. al-As (yakni ibu dari ayah Amr b. al yang bernama al-As b. Wail) berasal dari suku B. Qudah atau Bali dan Muhammad mengirim Amr b. al untuk mengubah agama neneknya dan masyarakat suku itu ke Islam dengan paksa. Ketika Amr b. al tiba di Dhat al-Salasil, dia menghadapi pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada pasukan Muslim. Karena itu, dia mengirim utusan untuk minta tambahan pasukan dari Muhammad. Rasul Allah dengan cepat mengirim Abu Bakr b. Quhafa dengan tambahan 200 pasukan untuk membantu Amr b. al. Jadi jumlah total tentara Muslim adalah 500 orang.

Versi lain kisah ini ditulis sebagai berikut:
Muhammad mengirim Amr b. al-As ke perbatasan Bali (Bali adalah salah satu cabang suku Qudah) dan Udhrah untuk mendapat bantuan mereka ke penyerangan ke Syria yang telah direncanakannya selama beberapa waktu. Nenek Amr b. al-As (yakni ibu dari ayah Amr b. al yang bernama al-As b. Wail) hidup di Bali. Muhammad mengirim Amr b. al-As kepada masyarakat neneknya untuk mengajak mereka memeluk Islam dan menerima maksud baik mereka. Setelah bergerak selama 10 hari, dalam perjalanan ke Bali, Amr b. al-As bertemu dengan B. Judham, yakni suku lain dari Dhat al-Salasil dan dia merasa takut akan jumlah pasukan dari suku ini yang amat banyak. Dia lalu mengirim pesan darurat kepada Muhammad untuk minta tambahan tentara dan Muhammad pun dengan segera memenuhinya.

Muhammad mengirim pasukan tambahan yang dipimpin oleh Abu Ubaydah b. al-Jarrah, Abu Bakr dan Umar. Abu Ubaydah adalah pemimpin pasukan tambahan itu, dan Muhammad berpesan kepada mereka agar tidak bertengkar atas soal kepemimpinan ketika mereka tiba di Dhat al-Salasil.Meskipun telah dipesan begitu, ketika Abu Ubaydah tiba di Dhat al-Salasil, tetap terjadi pertengkaran atas siapa yang berhak memimpin pasukan Islam. Amr b. al-As bersikeras bahwa Abu Ubaydah hanyalah membantu saja dan kepemimpinan harus tetap berada di tangan Amr b. al-As. Abu Ubaydah akhirnya setuju dengan pandangan Amr b. al-As dan Amr memimpin sembahyang. 240 Mein Kampf (1925)

Dengan tambahan tentara Muslim, Amr b. al-As menyerang pihak musuh dengan penuh semangat dan kebuasan. Pasukan B. Qudah panik dan kocar-kacir. Setelah menaklukkan pihak musuh, pasukan Muslim kembali ke Medina. Tidak ada penulis sejarah yang memberi keterangan detail tentang barang jarahan yang dirampas pihak Muslim dalam penyerangan ini.


Teror 68 : Penyerangan Atas B. Juhayna di al-Khabat (Penyerangan Ikan) oleh Abu Ubaydah ibn Jarrah —Oktober, 629M

Di bulan berikutnya, Muhammad mengirim Abu Ubaydah b. Jarrah beserta 300 tentara untuk menyerang dan menghukum suku Juhaynah at al-Khabat yang tinggal di tepi pantai, berjarak 5 malam perjalanan dari Medina. Tugas penyerangan ini sangat berat dan tentara Muslim mengalami masalah kelaparan yang hebat – sedemikian rupa sehingga mereka membagi-bagi biji kurma dengan jumlah tertentu. Mereka bahkan sampai makan dedaunan dari pohon2 selama sebulan. Akan tetapi tidak ada pertarungan yang terjadi dengan pihak musuh karena mereka telah melarikan diri saat mendengar kedatangan tentara Muslim.

Akhirnya tentara Muslim menangkap bangkai makhluk laut (ikan paus) yang terdampar di pantai dan memakannya selama setengah bulan (atau 20 hari, menurut Ibn Ishak). Karena inilah usaha penyerangan ini disebut sebagai ‘penyerangan ikan.’ Mereka membawa sebagian dari ikan busuk ini kepada Muhammad dan Muhammad pun memakannya pula. Sahih Bukhari menyebut bagaimana tentara Muslim makan gunungan yang tampak seperti ikan selama 18 hari. Ini Hadisnya.

Hadis Sahih Bukhari, Volume 3, Book 44, Number 663: 
Dikisahkan oleh Jabir bin 'Abdullah:
Rasul Alalh mengirim sejumlah tentara ke pantai Timur dan menunjuk Abu 'Ubaida bin Al-Jarrah sebagai pemimpin pasukan dan seluruh jumlah tentara adalah 300 orang termasuk diriku. Kami bergerak sampai mencapai sebuah tempat dan persediaan makanan kami sudah hampir habis. Abu 'Ubaida memerintahkan kami untuk mengumpulkan semua makanan yang dibawa di perjalanan. Bekal makananku adalah buah2 kurma. Abu 'Ubaida memberi kami setiap hari jatah makanan sejumlah kecil buah kurma, sampai semuanya habis. Bagian setiap orang hanyalah sebiji kurma setiap hari. Aku berkata, “Bagaimana bisa sebiji kurma bermanfaat bagiku?” Jabir menjawab, “Kita akan tahu nilainya jika kurma itu sudah habis semua.” Jabir menambahkan, “Ketika kami tiba di tepi pantai, kami melihat seekor ikan sangat besar seperti sebuah gunung kecil. Para tentara memakannya sampai selama 18 hari. Lalu Abu 'Ubaida memerintahkan tentara untuk memotong dua buah iga ikan dan mereka lalu memotongnya di atas tanah. Lalu Abu ‘Ubaida memerintahkan agar seekor unta betina ditunggungi dan unta itu berjalan melalui bagian bawah kedua iga itu (yang berbentuk seperti busur melengkung) tanpa menyentuhnya.

Teror 69 : Pemenggalan Ketua Suku B. Jusham di al Ghabah oleh Abd Allah ibn Hadrad – November, 629M

Seorang Jihadi bernama Abd Allah b. Abi Hadrad al-Aslami pergi menghadap Muhammad dan minta uang sejumlah 200 Dirham (US$ 1.000) sebagai uang mas kawin yang harus diberikannya kepada pengantin barunya. Sebelum memberi uang mas kawin ini, dia tidak berhak meniduri pengantinnya. Muhammad mengaku tidak punya duit untuk membantu Hadrad. Beberapa hari kemudian, sekelompok orang dari B. Jusham yang dipimpin oleh Qays b. Rifaah berkemah di Ghabah, di dekat padang rumput. Meskipun tanpa bukti, pihak Muslim menduga mereka berada di sana untuk menyerang Muhammad. Muhammad lalu memanggil Abd Allah b. Abi Hadrad al-Aslami dan dua orang Muslim lain dan memerintahkan mereka untuk menangkap dan menawan Qays b. Rifaah atau membawa keterangan lebih jauh tentang gerakan mereka.

Ketiga orang itu lalu pergi dengan membawa panah dan pedang mengendarai sebuah unta yang lemah. Ketika mereka mendekati perkemahan orang2 B. Jusham di sore hari, Hadrad menyembunyikan dirinya dari penglihatan musuh dan meminta kedua kawannya untuk juga bersembunyi di tempat lain. Dia lalu memberitahu kedua kawannya bahwa dia akan membunuh Qays b. Rifaah dan jika mereka mendengar teriakan “Allahu Akbar” dari jauh maka mereka pun harus pula berteriak “Allahu Akbar,” sambil ke luar dari tempat persembunyian dan menyerang musuh secara serentak dengannya.

Mereka menunggu sampai hari gelap. Pada saat ini Qays b. Rifaa sedang berada di luar kemahnya untuk mencari salah seorang sukunya yang terlambat kembali ke perkemahan. Qays berada di luar kemah tanpa menghiraukan peringatan kawan2nya untuk tidak berada di luar saat hari gelap. Ketika jaraknya sudah dekat, Abd Allah b. abi-Hadrad melepaskan sebuah anak panah dan mengenai jantung Qays sehingga dia seketika tewas. Abd Allah b. abi-Hadrad lalu lari ke luar dengan pedang terhunus dan memenggal kepala Qays sambil berteriak, “Allahu Akbar.” Kedua kawannya pun menyahut seketika dengan jeritan “Allahu Akbar.” Pihak musuh sekarang panik dan mereka lalu melarikan diri sambil membawa istri2 dan anak2nya. Abd Allah b. abi-Hadrad dan kedua kawannya membawa lari unta2, kambing2 dan domba2 musuh dan membawa semuanya kepada Muhammad. Abd Allah b. abi-Hadrad mempersembahkan kepala Qays b. Rifaa yang berlumuran darah. Muhammad amat senang melihat kepala Qays b. Rifaa itu dan menghadiahi Abd Allah b. abi-Hadrad 13 ekor unta (senilai US$ 4.550) dari bagian barang2 rampokan. Dari hasil merampok ini Abd Allah b. abi-Hadrad bisa membayar dan meniduri istri barunya.

Al-Waqidi menulis bahwa kaum Jihadis juga menculik 4 orang wanita, salah satunya sangat cantik dan menggairahkan. Muhammad memberikan gadis cantik ini kepada Abu Qatadah yakni seorang Jihadi. Ketika salah seorang sahabat Muhammad yakni Mahimiyah b. al-Jaz al-Zubaydi memberitahunya tentang kecantikan luar biasa gadis itu, Muhammad meminta gadis itu kembali dari Abu Qatadah. Tapi Abu Qatadah menolak sambil berkata [241], “Aku membelinya dari barang2 jarahan.” Rasul Allah berkata, “Berikan dia padaku.” Karena itu Abu Qatadah tidak punya pilihan selain memberikan gadis itu kepada Muhammad. Kemudian Muhammad menyerahkan gadis itu sebagai hadiah kepada Mahimiyah b. al-Jaz al-Zubaydi
241 Tabari, vol.viii, p.151


Teror 70 : Perampokan Atas Sebuah Kafilah di Batn al-Idam oleh Abd Allah b. Abi Hadrad — November, 629M

Muhammad merasa sangat puas dengan operasi terorisme yang dilakukan oleh Abd Allah b. Abi Hadrad al-Aslami (lihat Teror 69 di atas) dan juga atas pemancungan Qays b. Rifaa tanpa alasan jelas itu sehingga dia mengirim Hadrad bersama Abu Qatadah al-Harith b. Ribi bersama 8 Jihadis lain untuk merampok sebuah kafilah yang lewat Idam, di sebelah utara Medina. Kelompok perampok Muslim ini tiba di Idam dan menunggu kafilah itu datang. Sebuah kafilah Bedouin berlalu dan menyapa para Muslim dengan kata “Assalamu Alaikum.” Tapi para Jihadis/teroris ini tetap saja menyerang kafilah karena perseteruan masa lalu, membunuh pemimpin kafilah dan mencuri unta2 dan makanan. Mereka kembali kepada Muhammad dan menceritakan apa yang baru saja mereka lakukan. Allah mengeluarkan ayat Q 4:94 yang meminta pihak Muslim yang melakukan penyerangan untuk memeriksa terlebih dahulu sebelum melakukan penjarahan. Ahli2 sejarah seperti Ibn Sa’d mengatakan bahwa serangan ini adalah awal rencana serangan ke Mekah dan Muhammad ingin mengalihkan perhatian orang dari tujuannya yang sebenarnya pada saat dia diam2 mempersiapkan untuk menaklukkan Mekah.


Teror 71 : Perampokan Atas B. Khudra di Suria oleh Abu Qatadah — Desember, 629M

Ini adalah penyerangan berskala kecil terhadap B. Khudra yang merupakan bagian dari B. Ghatafan, tapi hasil rampokan berjumlah besar. Abu Qatadah memimpin penyeranganya dan berhasil merampas semua harta benda masyarakat B. Khudra. Dengan cara ini Muhammad membalaskan dendamnya pada B. Khudra yang berani berpihak kepada kaum Kristen Kekaisaran Byzantium.

Karena kekuatan militer Muhammad semakin meningkat, banyak suku2 Arab yang kecil yang takut padanya, dan bahkan akhirnya mereka mengambil keputusan untuk bergabung dengan pihak Muslim untuk menyelamatkan nyawa dan harta mereka dari serangan Muhammad di masa depan. Mereka pikir jika mereka tidak mampu melawannya, lebih baik bergabung saja. Mereka juga mendapat kesempatan baik untuk memperkaya diri mereka sendiri melalui penjarahan dan perampokan.

Selain alasan2 di atas, banyak suku2 yang dipaksa membuat perjanjian untuk bersekutu dengan pihak Muhammad. Diantara suku2 ini adalah: Bani Dzobian, B. Fazara dengan pemimpin mereka yang bernama Uyana. B. Hisn, Bani Sulaym, yakni suku yang kuat dari Hejaz juga dipaksa masuk Islam (lihat Teror 60, Bagian 14). Sang Nabi Muhammad sekarang benar2 jadi penguasa militer yang ditakuti.

Bookmark halaman ini dengan:
Delicious Delicious Digg Digg Stumbleupon Stumbleupon Reddit Reddit Newsvine Newsvine Facebook Facebook Google Google Yahoo Yahoo Technorati Technorati
Peralatan pribadi