Ali Sina: Apakah Islam Politik Adalah Fasisme
Dari Faithfreedompedia
Sumber:
- Faithfreedom Indonesia
- Diterjemahkan dari www.jihadwatch.org
Islam adalah sebuah agama dgn agenda yg sangat bernada politik. Tujuan akhir Islam adalah utk menguasai dunia. Tetapi pemerintahan macam apa akan dimiliki sebuah negara Islam?
Daftar isi |
Pendahuluan
Jelas, sebuah negara Islam tidak akan bersifat demokratis. Islam tidak kompatibel dgn demokrasi. Amir Taheri, wartawan kelahiran Iran, dlm sebuah debat ttg Islam & demokrasi berpendapat bahwa istilah ‘demokrasi’ tidak eksis dlm bahasa manapun yg digunakan Muslim.
“Untuk mengenal sebuah peradaban,” kata Taheri, “sangat penting bagi kita utk mengerti perbendaharaan kata mereka. Kalau kata itu tidak pernah berada pada bibir mereka, sangat mungkin kata itu juga tidak pernah ada dlm benak mereka.”
Arti Demokrasi
Demokrasi berarti persamaan derajad. Namun persamaan derajad tidak dapat diterima Islam. Mereka yg tidak dianggap se-iman tidak dapat dianggap sederajad dgn mereka yg dianggap beriman, bahkan wanita Muslim tidak sederajad dgn lelaki Muslim. Kaum Ahlul Kitab (Yahudi dan Kristen) dianggap sbg warga kelas dua dan diijinkan hidup dlm sebuah negara Islam, dgn syarat mereka membayar semacam pajak perlindungan yg dikenal dgn istilah : Jizyah. (baca : semacam pajak yg harus dibayar pemilik toko kpd mafia Italia atau Triad Cina.red) Namun kaum penyembah berhala (musyrik), polytheis dan atheis tidak dianggap sbg manusia penuh.
Menurut Quran, para penyembah berhala harus dibunuh dimanapun mereka ditemukan. (9:5)
Dalam terbitan April 9, 2002, The Wall Street Journal memaparkan konsep uang darah (‘diyah’) di Arab Saudi. Jika seseorang terbunuh atau mati akibat orang lain, si pelaku pembunuhan harus membayar (keluarga) korban kompensasi sesuai dgn daftar dibawah ini.
- 100,000 riyal jika korban adalah lelaki Muslim
- 50,000 riyal jika korban adalah wanita Muslim
- 50,000 riyal jika korban lelaki Kristen
- 25,000 riyal jika korban wanita Kristen
- 6,666 riyal jika korban lelaki Hindu
- 3,333 riyal jika korban wanita Hindu
Jadi menurut hirarki ini, nilai nyawa lelaki Muslim adalah 33 kali nilai nyawa wanita Hindu. Hirarki ini didasarkan pada definisi Islami bagi hak azasi manusia yg berakar di Quran dan Shariah. Nah, bgm kita dapat berbicara ttg demokrasi kalau konsep persamaan derajad saja dlm Islam tidak eksis?
Memang membunuh penyembah berhala "dimanapun mereka ditemukan" tidak selalu praktis.
Contoh: India. Kalau penjajah Muslim membunuh semua Hindu, tidak ada lagi yg tertinggal untuk diperbudaki (dan diperkosa.red). Jadi, Muslim sering mengambil jalan praktis, dan mempraktekkan semacam ‘toleransi’ terhdp penduduk jajahan mereka. Lagipula, sulit mencari penguasa Islam yg lebih keji daripada Muhamad sendiri. Penguasa Muslim membunuh kalau itu menguntungkan dimata mereka dan karena orang2 musyrik hidup lebih berguna daripada orang2 musyrik mati, eksterminasi total seperti yg diinginkan Muhamad tidak pernah tercapai.
Islam: Toleransi Hanya Untuk Kepentingan Politis
Namun toleransi ini dipraktekkan demi keperluan politis dan bukan karena itu merupakan hak azasi sang musyrikun. Di lain pihak, kedoyanan Muhamad membantai korban2nya memang bersifat ‘psychopathological.’ Ia telah membantai total sejumlah suku karena mereka menolak dirinya atau menyinggung egonya yg luar biasa narsistisk tanpa batas.
Kaum Ahlul Kitab, memiliki sejumlah hak bersyarat. Mereka harus membayar jizyah dan membeli perlindungan bagi diri mereka. Mereka tetap mengalami apartheid religius dan diperlakukan secara hina. Contoh, mereka dianggap najis dan tidak diijinkan keluar rumah selagi hujan, utk menjaga agar kenajisan mereka tidak luntur dan menyebar ke seorang Muslim yg juga membuatnya najis dan membatalkan solatnya. Yahudi dan Kristen diwajibkan utk turun dari kuda atau keledai mereka kalau berpapasan dgn Muslim dijalanan dan mereka diwajibkan utk menyalami sang Muslim dgn rendah diri sambil menunjukkan bahwa ia memang tunduk pada sang Muslim. Mereka juga disebut dgn ‘DHIMMI’ atau ZHIMMI. Dhimmi tidak diperbolehkan membangun rumah2 yg lebih tinggi dari tetangga2 Muslim mereka dan tidak diperkenankan membangun gereja2 dan sinagog2 baru dan bahkan utk memperbaiki tempat ibadat yg sudah ada mereka perlu ijin penguasa tertinggi.
(Ini masih juga dipraktekkan di Mesir : merestorasi pagar gereja Koptik harus minta ijin presiden. Ketika gereja melanggar perintah ini, para pendeta diikat, dimasukkan dlm sebuah truk dan diceburkan ke sungai. Mereka semua mati tenggelam….. link kasus. LIHAT FOOTNOTE DIBAWAH ***)
Taheri mengatakan: “Pernyataan bahwa Islam tidak kompatibel dgn demokrasi tidak boleh dianggap sbg penghinaan terhdp Islam. Malah sebaliknya, Muslim menganggapnya sbg pujian karena mereka benar2 mengira bahwa cara pemerintahan oleh Allah adalah superior terhdp pemerintahan yg diciptakan manusia dlm bentuk demokrasi.”
Menurut sebuah situs Islam: “Dalam demokrasi Barat, rakyat yg berkuasa; dalam Islam kekuasaan ada ditangan Allah dan pengikutnya adalah Kalif2nya atau wakil2nya. Hukum yg diberikan Allah lewat nabinya (Syariah) harus dianggap sbg prinsip2 konstitusi yg tidak boleh dilanggar.”
Taheri mengutip sejumlah pemikir Muslim yg menunjukkan kebencian mereka terhadap demokrasi.
Ayatollah Khomeini menyebut demokrasi sbg ‘sebuah bentuk prostitusi’ karena orang yg mendapatkan mayoritas suara mendapat kekuasaan yg sebenarnya merupakan milik Allah semata2.
Sayyed Qutb, orang Mesir yg merupakan tokoh dibelakang ideologi kaum Salafi, menghabiskan satu tahun di AS pd thn 50an dan menulis : "Amerika adalah sebuah bangsa yg telah lupa Tuhan dan ditinggalkanNya; sebuah bangsa arogan yg ingin memerintah diri sendiri."
Yussuf al-Ayyeri, salah seorang tokoh dibelakang gerakan2 Islamis kini, menerbitkan sebuah buku (bisa didapatkan dari Internet) dlm mana ia memperingatkan bahaya nyata terhdp Islam bukan datang dari tank2, helicopter atau kapal perang AS di Irak, tetapi dari gagasan demokrasi dan pemerintahan dari dan oleh rakyat.
Maududi, juga seorang pakar gerakan Islamis, memimpikan sebuah sistim politik dimana manusia akan bertindak sbg robot (otomaton) sesuai dng peraturan yg sudah ditetapkan Tuhan. Katanya, Tuhan sudah mengatur fungsi2 biologis manusia sedemikian rupa shg fungsi/pengoperasian manusia adalah diluar kontrol mereka. Bagi fungsi2 manusia yg non-biologis, spt politik, Tuhan sudah menetapkan aturan yg perlu diterapkan manusia utk selama2nya shg masyarakat kita bisa menjadi semacam auto-pilot.
Teolog Saudi, Sheikh Muhammad bin Ibrahim al-Jubair, percaya bahwa akar masalah dunia kontemporer saat ini datang dgn penyebaran demokrasi. “Hanya satu ambisi yg dianggap tinggi dlm Islam,” katanya, “yaitu, ambisi utk menyelamatkan dunia dari kutukan demokrasi : utk mengajarkan kpd manusia bahwa mereka tidak dapat memerintah diri sendiri atas dasar aturan yg dibuat manusia. Manusia sudah melenceng dari jalan Allah, kami harus kembali kepada jalan itu atau kami akan menghadapi anihilasi.”
Jadi macam pemerintahan apa yg ditawarkan Islam?
Demokrasi berarti kekuasaan ditangan rakyat. Ini bertentangan dgn Islam. Quran dgn jelas2 dan tegas mengatakan bahwa “semua wilayah & kekuasaan adalah milik Allah” (2.165, 35:10, 35:13, 64:1). Kata2 “Tidak ada hukuman kecuali dari Allah” (la hukm illa li-llah) didasarkan pada sejumlah ayat Quran (6.57; 12.40, 67 etc.) Kekuasaan ini diberikan kpd wakilnya yg dikenal dgn nama Khalifat al-Allah.
Sang Khalif tidak dapat mengeluarkan peraturan baru. Ia hanya bisa menafsirkan Hukum yg sudah tertera dlm Quran & Sunnah dan memberlakukannya. Problemnya, Quran BUKAN sebuah buku yg jelas, shg penafsiran bisa bermacam2. Ini alasan mengapa ada sedemikian banyak sekte2 & aliran2 yurisprudensi dlm Islam. “Tapi pada dasarnya” kata Taheri, “tidak ada satupun pemerintahan Islam yg demokratis dlm arti mengijinkan rakyat turut serta dlm penyusunan UU.”
Penduduk dianggap sbg orang ‘awam,’ sesuai dgn pernyataan ini: al-awwam kal anaam ! (Manusia spt binatang).
Terserah para pakar utk menginterpretasi Shariah dan menunjukkan kpd orang awam bgm mereka harus menjalankan hidup mereka dari hari ke hari. Jadi sang penguasa diberikan segala kuasa utk bertindak sbg wakil Allah di bumi. Oposisi terhdp kekuasaannya tidak dimungkinkan. Tidak seorangpun dapat menentang Tuhan atau wakilNya.
Dalam sebuah demokrasi, kepercayaan atau agama orang tidak relevan. Mereka boleh percaya apa saja, bahkan tidak mengikuti agama apapun, dan mampu mengurus diri sendiri dlm sebuah negara sekuler. Ini berbeda dgn masyarakat monotheistic dimana TUHAN adalah satu2nya pemberi Undang2. Kristen dan Yahudi berhasil memisahkan gereja/sinagog dari negara. Evolusi macam ini dlm Islam tidak dimungkinkan. Konsep Gereja (dgn huruf besar G) sebgm dimengerti Kristen, tidak eksis dlm Islam. Tidak ada otoritas spt Vatikan atau the Church of England dlm Islam. Para Mullah dan Imam adalah Muslim2 biasa yg lewat pengetahuan mereka dlm Quran dan Shariah mendapatkan reputasi diantara umat dan sesame rekan sejawat. ‘Agama’ Islam tidak dapat dipisahkan dari ‘Politik’ Islam. Kau tidak dapat memisahkan mesjid dari politik, karena pemisahan macam itu memang tidak eksis dlm Islam. Setiap Mullah dapat menafsirkan Shariah sesuai dng keinginannya. Namun ia tidak dapat merubah ajaran Islam yg sudah eksplisit.
Pada saat ini, Muslim tidak memiliki kalifat. Kalau mereka memilikinya, kalifat itu tidak akan mampu menghindari Quran dan mengumumkan pemisahan Quran dari politik.
Tujuan utama Islam adalah memberikan kekuasaan atas muka bumi ini pada pemiliknya yg "sah", Allah. Tidak ada otoritas di Bumi ini yg dapat merubah ini. Titik. Full Stop. Menghalangi Islam mencapai tujuan ini sama saja dgn menolak alasan eksistensi Islam, sama saja dgn penghujatan besar. Definisi Islam itu sendiri berarti imperialistik.
Islam harus maju, merebut dan menguasai seluruh permukaan bumi. Kalau tidak percuma saja eksistensi Islam.
Demokrasi adalah pluralistik. Penduduk memiliki berbagai agama, kepercayaan dan bebas utk saling mengritik, bukan hanya mengritik agama orang lain melainkan agama sendiri. Islam tidak mentolerir ini. Siapapun yg berani mengritik Islam menghadapi hukuman paling berat, termasuk eksekusi atau asasinasi.
Islam dianggap sbg satu2nya kebenaran yg ABSOLUT. Menyanggah kebenaran ini sama saja dgn menyanggah Tuhan dan itu tidak dapat ditolerir. Menantang otoritas wakil Tuhan sama saja dgn menantang Tuhan.
Tanggal 27 Mei 1999, Rafsanjani dari Iran mengatakan : "Jika sifat Islami dan tiang fundamental negara dan velayat-e faqih (versi Shiah bagi Khalifat) dirusak, tidak ada lagi yg tersisa (bagi Islam)."
Pada hari yg sama, Khatami, yg dielu2kan sbg presiden “reformis” Iran mengatakan dlm kota Qom: "Terpisahnya masyarakat dari agama dan para imam adalah permulaan kejatuhan kami." Khatami pd tgl 5 July 1998 mengatakan: “velayat-e faqih adalah poros dan tiang negara." Ditekankannya, "velayat-e faqih adalah raison d'être (alasan dasar) negara kami. Menentangnya adalah menentang fundamen dan tiang negara …. Tidak ada negara yg mentolerir serangan2 terhdp prinsip2 dan tiang2nya," katanya. [Iran Zamin News Agency]
Dlm sebuah komentar, iran-bulletin.org mendefinisikan konsep velayat-e faqis yg tidak berbeda dari sebuah khilafat/kafilah : “Dlm teori velayate faqih, tidak ada seorang dari kami yg bisa membedakan baik atau buruk, dan memang seluruh jajaran kepemimpinan religius dibentuk utk menangani “ketololan/kebutaan” kami. Pemimpin agama tertinggi adalah wali (qayyem) kami, dan kami spt domba yg kalau terpisah dari kelompoknya jelas akan sesat. Sang velayate faqih mencakup setiap hak dan kami hanya melakukan kewajiban kami. Jadi, sistim velayate faqih adalah pengekspresian kebutaan dan tidak adanya hak dipihak kami, dan kontras dgn pemimpin agama yg maha tahu dan maha kuasa."
Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, menjelaskan konsep velaya-e faqih, posisi yg didudukinya, dgn jujur : “Pemimpin berarti sebuah titik dimana semua cara menangani problema pemerintah berada dlm tangannya seorang. Dirinya merupakan sinar kebenaran bagi rakyat dan menguak persekongkolan oleh musuh.” [ibid]
Dalam sebuah negara Islam, agama adalah yg paling utama dan Allah adalah satu2nya sumber hukum yg sah. Penguasa2 sementara hanya memberlakukan hukum Islam yg sudah didikte Allah.
Artikel berikut dengan judul “Ciri2 Esensial Sistim Politik Islam” menggambarkan konsep khilafat spt yg dikenal Muslim. Sistim politik Islam didasarkan kpd tiga prinsip: Tauhid (keSatuan Allah), Risalat (keNabian) dan Khilafat (wakilNya).
Tauhid berarti bahwa hanya Allah adalah Pencipta, Pendukung dan Pemilik seluruh alam semesta dan segala isinya, baik yg hidup maupun tidak. Kekuasaan atas wilayahNya hanya berada pada diriNya. Hanya IA yg berhak memerintah atau melarang. Pemujaan dan kepatuhan hanya ada pada diriNya, dan tidak ada siapapun yg mendpt bagian dari kekuasaanNya ini. Kehidupan dlm segala bentuk, organ2 fisik kami dan bahkan kekuasaan atas apapun dlm hidup kami tidak diciptakan atau didapatkan manusia berdasarkan hasil kerjanya. Segala2nya telah diberikan kpd kami oleh Allah. Jadi, tujuan dan maksud eksistensi kami, bahkan pembatasan atas otoritas kami, ini semuanya bukan merupakan keputusan kami; dan tidak ada seorangpun yg berhak utk membuat keputusan2 bagi kami. Hak2 ini ada pada Allah, yg menciptakan, memberi kami kemampuan mental & fisik dan memberikan barang2 material utk keperluan kami.
Prinsip keSatuan Allah ini meniadakan segala konsep kemerdekaan hukum dan politik manusia, baik secara individu maupun secara kolektif. Tidak ada individual, keluarga, bangsa maupun suku yg dapat menempatkan diri diatas Allah. Hanya Allah yg berkuasa dan perintah2nya adalah hukum.
Hukum Allah diterima lewat media yg dikenal sbg Risalat. Kami menerima dua hal dari sumber ini : Buku dlm mana Allah memaparkan hukumNya, dan interpretasi otoritatif dan penjelasan terhdp Buku itu oleh sang nabi, dlm kapasitasnya sbg wakil Allah. Sang nabi, sesuai dgn tujuan Buku Suci tsb, memberikan kami sebuah model bagi cara hidup Islami dgn mengimplementasikan hukum dan segala detilnya, dimanapun diperlukan. Kombinasi kedua elemen ini disebut ‘Shari ‘ah.’
Nah, kini kita bahas Khilafat. Menurut lexicon Arab, ini berarti ‘representasi’. Manusia, menurut Islam, adalah wakil Allah di bumi, wakil pemerintahanNya. Dgn kata lain, dgn kekuasaan yg didelegasikan kpdnya oleh Allah, ia diwajibkan utk memberlakukan otoritas yg diberikan Allah kepadanya dlm batasan yg sudah diberikan Allah.
Sebuah negara yg didirikan sesuai dgn teori politik ini merupakan sebuah kalifat manusia dibawah kekuasaan Allah dan akan melakukan keinginan Allah dng bekerja dlm batasan yg dijabarkanNya dan sesuai dgn instruksi dan larangan2Nya.”
Definisi ini menjelaskan bahwa sebuah sistim pemerintahan Islam tidak terbatas pada Muslim tetapi pada semua hal yg hidup maupun mati dlm alam semesta ini. Ini tentunya mencakup non-Muslim. Dlm sebuah negara Islam, setiap orang harus hidup sesuai dgn diktat Islam.
Nah, dari bacaan diatas jelas bahwa khilafat atau velayat-e faqih tidak berbeda dgn sistim FASISME.
Menurut Columbia Encyclopedia, Fasisme adalah : “Sebuah filosofi pemerintahan yg totaliter yg memuja negara dan bangsa dan memberlakukan control negara atas setiap aspek kehidupan nasional.”
Sifat-sifat filosofi Fasisme
“Fasisme, khususnya dlm tahap2 dini, diwajibkan utk menjadi anti-teori dan opportunis guna membuat diri nampak menarik dimata golongan2 yg berbeda2. Namun, beberapa konsep kunci merupakan dasarnya. Yg paling utama adalah pengutamaan dan pemujaan negara serta penundukan (subordinasi) total sang individu kpd negara. Negara didefinisikan sbg suatu keseluruhan dimana individu harus dimanfaatkan bagi kepentingan diri dan negara. Metode negara macam ini adalah absolut dan tidak terbatas pada hukum dlm mengontrol penduduknya."
Konsep kedua fasisme tercakup dlm teori sosial Darwinisme. Doktrin ‘the survival of the fittest’ (keselamatan mereka yg terkuat) dan perlunya berjuang dlm kehdidupan diterapkan kaum fasis dlm kehidupan kenegaraan. Negara2 damai dan lalai dianggap mereka sbg diambang kehancuran. Oleh karena itu fasisme menyukai perjuangan dan militerisme agresif sbg sifat utama sebuah negara fasis. Imperialisme adalah hasil logis dogma ini.
Elemen ketiga fasisme adalah elitisme. Keselamatan dari kekuasaan oleh massa (rule by the mob) dan penghancuran tatanan sosial yg ada hanya dapat dicapai dgn seorang pemimpin otoriter yg mencerminkan tujuan paling tinggi bangsa itu. Konsep pemimpin sbg pahlawan atau superman ini dipinjam sebagian dari romantisisme Friedrich Nietzsche, Thomas Carlyle, dan Richard Wagner, dan mirip dgn penolakan fasisme atas pemakaian logika dan nalar dan malah menekankan pada visi, kreatifitas dan kemauan.”
Mari kita bandingkan Fasisme dgn Islam. Islam bersifat sangat oportunistik (opportunistic ‘par excellence’). Islam sangat DESEPTIF (bersifat menipu) dan walaupun merupakan sebuah doktrin perang, menggambarkan diri sbg agama damai. Islam ingin disukai secara universal. Padahal Islam merendahkan wanita dan Muhamad adalah seorang misogynist (pembenci wanita) yg paling terburuk dimuka bumi ini yg digambarkan pengkutnya sbg ‘JUARA bagi hak2 wanita.’ Quran adalah buku menggelikan yg penuh dgn omong kosong, sementara pembela2nya menganggapnya sbg MUKJIZAT yg mengandung fakta2 sains. Islam menentang pengetahuan dan teknologi, namun menunjukkan diri sbg agama yg mendukung ilmu tinggi. Muslim paling doyan mengulang2 bahwa Muhamad mengatakan utk “mengejar Ilmu sampai ke Cina.” Namun faktanya adalah bahwa setiap pengetahuan yg dianggap sbg menentang Quran dianggap datang dari iblis dan harus dihancurkan.
Perpustakaan (The Royal Library of Alexandria) di Mesir dulunya adalah yg terbesar di dunia ini. Perpustaan megah itu didirikan pada abad ke 3 Sebelum Masehi selama kekuasaan Ptolemeus II dariMesir . Pada masa kejayaannya, perpustakaan itu menyimpan 400.000 – 700.000 gulungan tulisan (scrolls). Th 640M, Muslim merebut kita itu dan setelah mengetahui bahwa ada "sebuah perpustakaan besar yg mengandung segala pengetahuan didunia ini," sang jendral meminta perintah Khalif Omar. Omar dikutip sbg mengatakan, "Isi perpustakaan itu entah akan meng-kontradiksi Quran, yg berarti mereka menghujat, atau mereka akan setuju dgn Quran, yg berarti mereka mubasir." Dan biar pasti, ia memerintahkan seluruh perpustakaan itu dihancurkan dan semua bukunya dibakar.
Silakan baca: Siapa yang Membakar Perpustakaan Paling Termasyur di Dunia di Alexandria
Inilah bagaimana Muslim mencoba menggambarkan kesan palsu Islam agar disukai masyarakat luas.
Namun, sifat yg paling utama Islam adalah glorifikasi/pemujaan terhdp negara Islam dan penundukan total sang individu kepadanya.
Seperti juga dlm fasisme, negara Islam digambarkan sbg kesatuan organic dimana semua individu harus tunduk pada Islam. Dlm Islam “kebebasan” berada dlm penundukan (submission) kpd Allah dan rasulNya. Kata Islam sendiri, yg diterjemahkan Muslim sbg ‘damai’, sebenarnya berarti ‘submission.’ Apa yg baik bagi Islam dan negara Islam adalah baik bagi Muslim dan apa yg buruk bagi Islam dan negara Islam juga dianggap buruk bagi Muslim. Islam dan pembentukan wilayah Islam adalah demi kepentingan umum dan tujuan utama yg harus diperjuangkan setiap Muslim.
Aturan Islam lainnya adalah konsep Jihad dan perlunya perjuangan utk memajukan dominasi Islam. Motto bahwa “Islam adalah agama damai” adalah sebuah slogan menjijikkan dan bagian dari strategi Islami “Game of Deception/Permainan Penipuan.” Islam tidak berarti damai, Islam tidak mengkotbahkan kedamaian, Islam belum pernah dan tidak akan pernah damai. Islam telah menyebar lewat militerisme agresif dan menganggap Jihad & mati shahid (menjadi martir) sbg tindakan yg paing mulia. Islam bersifat militant dan imperialistik.
Fasisme bersifat elitis. Islam bersifat elitis. Sang Khalifa atau velayat-e faqih adalah otoritas paling tinggi di Bumi ini. Ialah tokoh yg bisa baca buku2 suci dan satu2nya yg mengertinya dgn benar. Pernyataannya adalah hukum paling tinggi dan tidak dapat digubris. Spt juga dlm komunisme, siapapun bisa menjadi seorang Khalif. Khalif dlm sekte Sunni dipilih oleh rakyat, sedang velayate-e faqih dlm sekte Shi’ah dinominasi oleh sebuah badan yg terdiri dari Mullah2 yg berkuasa yg dinamakan: “Majelis para Pakar.” Tapi entah sang penguasa dipilih atau dinominasi, spt juga dlm rejim totaliter lainnya, ia menjabat seumur hidup dan tidak bertanggung jawab pada otoritas manusia manapun.
Persamaan Islam dgn Islam dan fasisme berikutnya adalah kebencian mereka atas logika dan nalar. Dlm Islam, tekanannya adalah pada agama dan kepatuhan tanpa tanya dlm segala hal yg menyangkut mandate Allah. Logika dianggap sbg penghujatan. Abu Hamid Al-Ghazali, (1058 - 1111 M) dianggap sbg pakar Islam paling besar. Dlm bukunya "Incoherence of the Philosophers" ia dgn geram mengecam Aristotle, Plato, Socrates dan pemikir2 Yunani lainnya sbg kafir dan mengecap siapapun yg menggunakan metode dan ide2 mereka sbg mem-fitnah terhdp Islam. Ia khususnya mengutuk Avicenna sbg seorang rasionalis yg banyak mencontek gagasan2 orang2 Yunani kuno. Dgn menekankan ketidakcocokan agama dng nalar, dan menyerang gagasan bahwa agama harus tunduk pada nalar, Ghazali mengabsahkan kepercayaan yg tidak memerlukan nalar dan oleh karena itu MEMUJA KETOLOLAN.
Pengetahuan
Catatan penting: kalau Muslim berbicara ttg pengetahuan, mereka berbicara ttg pengetahuan “yg diwahyukan”. BUKAN pengetahuan saintifik sekuler yg melahirkan peradaban kita. Kata ‘sains’ dlm bhs Arab adalah ‘Ilmu’. Orang yg memiliki Ilmu ini disebut dgn Ulama. Namun Ulama tidak berarti pakar sains. Ulama berarti pakar agama. Ilmu adalah sains agama. Islam sama sekali tidak mendorong pengajaran sains. Bahasa2 Islami bahkan tidak memiliki kata pantas bagi ‘sains’. Islam mendorong pengajaran sains AGAMA. Ini yg dimaksudkan Muhamad ketika ia berkata "kejarlah ilmu (sampai ke negara amoy)". Mengejar ilmu dlm Islam berarti : MENGHAFAL Quran & hadis.
Karena di-inspiraasi Quran, banyak kelompok2 Muslim melakukan kekerasan sectarian (kekerasan berdasarkan SARA-suku agama ras) utk mencapai tujuan politik. Kelompok pertama adalah Kharijiyya. Kharijiyya terdiri dari dua hal. Pertama, bahwa masyarakat Islam harus didasarkan pada Quran. Kedua, bahwa negara Islam memiliki kekuasaan atas hak2 individu.
Termotivasi oleh ayat2 Quran (32.13, 76:29-31, 3:39, 3:159, 16:93, 2:6-7, 4:88, dsb), mereka bersikeras bahwa kehendak Allah harus mendahului kehendak manusia dan bahwa masyarakat adalah pembawa nilai2 yg dianggap berarti. Maksudnya, kehidupan manusia hanya berarti kalau ia menjadi bagian dari masy Muslim.
Inilah caranya fasisme mendefinisikan posisi sang individu terhdp negara. Ide2 yg didasarkan pada Quran ini akhirnya diterima oleh sisa Muslim lainnya.
Kaum rasionalis Islam, spt kaum Mutazili menempatkan nalar/logika diatas wahyu. Dan lihat apa yg terjadi dgn mereka …mereka ditentang habis oleh Muslim2 lainnya dan akhirnya kaum Mutazili hilang tidak berbekas. Mereka diserang kelompok yg menamakan diri Ashariyya, kelompoknya al-Ghazali dan penyair ternama, Rumi. Rumi mengejek para rationalis dgn mengatakan bahwa mereka berdiri pada ‘kaki2 kayu.’ Kata2 ini sampai sekarang masih berbekas dlm masy Muslim.
Kaum Ashariyya memuja IRrasionalitas dan setia pada Quran. Mereka menolak kaum rasionalis, yg menurut mereka, memfitnah agama dan sesat dari jalan Allah. Jadi, obyektivitas rasional diinjak dgn ledekan dan kekerasan, buku2 rasionalis spt Zakaria Razi dihancurkan dan mereka harus bersembunyi demi keselamatan mereka. Kaum Ashariyya menang karena mereka mendapat dukungan Quran, sementara para rasionalis tidak.
Dgn sikap Ashariyyah ini, rasionalisme hilang. Kami tidak akan pernah tahu seberapa besar luka2 yg diakibatkan para pencinta agama Islam itu terhdp peradaban manusia.
Dlm sebuah artikel berjudul : [i]Is Rumi What We Think He Is?[/u] (Apakah Rumi Memang Spt Apa yg Kami Pikirkan ?), Massoume Price mengutip Dr. Shaffiee Kadkani yg menulis : “sayangnya, timbulnya jenius2 spt Rumi dan Urafa (mistik2 religius) yg mendukung Ashariyya secara penuh, tidak memberikan kesempatan kpd kebebasan berpikir”. Ia menyimpulkan, “Kalau bukan karena Ashariyya, sejarah kami akan berbeda.” [Creation and History, (Afarinesh va Tarikh, p.50)]
Price mengatakan: “Bukan sebuah kebetulan bahwa di Mathnavi, Rumi menyerang semua pemikir, termasuk atheis, naturalis & filsuf dsb…. Ketika Ibn Khadon [Khaldun] dlm (Mogadameh) [Muqaddimah] mengatakan bahwa orang Afrika adalah hitam karena keadaan geografis dan lingkunngan, kaum Ashariyya menghentikan pengamatan saintifik itu dgn menyatakan bahwa orang hitam karena memang Allah yg menciptakannya demikian. Ketika para dokter mencoba mencari hubungan antara otak dgn gerakan tangan, Imam Muhammad Ghazali mengolok2 pengamatan saintifik itu dng mengatakan “tangan bergerak karena Allah ingin mereka bergerak” (Alchemy of Happiness, Kimiyaya Saadat). Ashariyya juga yg menerapkan budaya penindasan yg masih eksis dan menghantui kita sekarang, bahkan di AS.”
‘Kamus Baru Bagi Kesadaran Budaya’ atau ‘The New Dictionary of Cultural Literacy,’ (Edisi ketiga, 2002) mengatakan: “Sbg pedoman, pemerintah2 fasis didominasi oleh seorang diktator, yg biasanya memiliki kepribadian memikat, mengenakan seragam menakjubkan dan membakar semangat pengikut dlm parade besar2an; memanfaatkan kebanggaan nasionalisme; dan mendorong kecurigaan atau kebencian terhdp baik orang asing, maupun orang2 “tidak murni” didalam negaranya sendiri, spt orang2 Yahudi di Jerman.”
Dlm Islam, sang Khalifa tidak mengenakan seragam menakjubkan. Malah menurut Sunnah, Muhamad mencoba mencerminkan dirinya sbg ‘contoh kesederhanaan.’ Kesederhanaan itu hanyalah sekedar ‘show’ dan cirri khas Islam. Semakin sederhana penampilanmu, semakin taat kau nampak. Namun solat Jumat dan rukun haji sam saja dgn parade2 besar2an yg dirancang utk menakjubkan sang pengikut, memercikkan rasa bangga dan rasa menjadi bagian dari sesuatu dan semakin meyakinkannya bahwa Islam adalah kuat.
Parade macam ini sangat penting bagi Muhamad, sampai mengatakan dlm hadis ini:
“Saya pikir bahwa saya harus memerintahkan dimulainya solat memerintahkan seseorang untuk memimpin solat, dan saya lalu akan pergi dgn beberapa orang membawa jerigen bensin ke orang2 yg tidak menghadiri solat dan akan membakar rumah mereka dgn api." [Muslim 4,1370; Bukhari 1,11,626]
Islam juga mendorong kecurigaan dan kebencian terhdp mereka yg dianggap ‘tidak beriman’ alias kafir. Muhamad mengatakan bahwa mereka adalah najis (9:28) dan menanamkan kebencian Yahudi dgn mengatakan bahwa Allah telah merubah mereka menjadi monyet dan babi. 2.65, 5.60, 7.166
Jelas sistim pemerintahan Islam adalah fasistik karena memiliki
- sentralisasi otoritas dibawah seorang pemimpin tertinggi dgn kekuasaan (Ilahi) yg tidak dapat dirubah.
- pengawasan ketat atas sosio-ekonomi dan semua aspek kehidupan warga, terlepas dari agama mereka
- menekan oposisi lewat teror dan sensor
- kebijakan memusuhi rakyat yg tidak se-iman/sependapat
- praktek apartheid religius
- benci logika/nalar
- sifat imperialistik
- sifat menindas/opresif
- sifat diktator dan
- sifat mengontrol segala aspek kehidupan.
Islam, seperti fasisme, disukai orang yg kurang yaking pada diri sendiri dgn intelektualitas rendah. Kedua ideologi adalah irasional. Mereka benci logika dan menyukai kepatuhan dan penundukan total rakyat. Seperti juga fasisme, Muslim bersifat 'triumphalis', suka gembar gembor, selalu merasa menang. Mereka mencari kekuasaan, dominasi dan kontrol. Mereka bangga akan besarnya jumlah anggota mereka, kepercayaan berlebihan dan tidak masuk akal kpd pahlawan2 mereka, mereka benci akan kehidupan dan rela mati demi tujuan mereka.
Islam adalah politis dan Islam politis adalah FASISME.
[1] Barnabas Fund melaporkan bahwwa seorang polisi menahan 5 Kristen dipagi buta, hari Minggu, 2 Mei 2005 di desa Taha El Omadeen, El Minia. Pastor Ibrahim Mikhaeil berusia 64 thn dan empat orang lainnya dituduh dgn konstruksi tidak sah atas pagar gereja.
Bagian dari pagar tsb runtuh akibat badai dan kelima orang itu mencoba mempercaikinya secepat mungkin, karena kalau ketahuan polisi, mereka akan ditangkap. Halangan dan penolakan atas ijin memperbaiki bagian2 gereja memang merupakan sebuah masalah besar di Mesir.
Sang polisi, Ahmed Kelani, datang ke gereja tsb pd pk 1 pagi setelah seorang penduduk Muslim melaporkan kegiatan pelaku2 gereja tsb. Tertuduh diikat dan dimasukkan dlm sebuah truk sewaan. Kelani mengusir sang pengendara dan mengendarai truk tsb.
Saat kendaraan mendekati pinggir Kanal Ibrahimiya, Kelani meloncat keluar.
Pastor Mikhaeil dan dua orang Kristen(Mahrous dan Nasef) tewas, sementara kedua pria lainnya berada dlm keadaan kritis di RS.
Bookmark halaman ini dengan:
Delicious
Digg
Stumbleupon
Reddit
Newsvine
Facebook
Google
Yahoo
Technorati

