. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

NII KW9 (Zaytun) & NII KW1 (PKS) Sejarah / Latar Belakangnya

Pelanggaran HAM terhadap sesama umat Muslim, kemiskinan dan keterbelakangan yang disebabkan oleh Islam dan penerapan Syariah Islam.

NII KW9 (Zaytun) & NII KW1 (PKS) Sejarah / Latar Belakangnya

Postby duren » Fri Apr 22, 2011 8:34 pm

Mumpung lagi dibahas dimedia .. saya letakkan diroom Pengaruh Islam Terhadap Muslim ... Dari SINI

Mungkin anda BUKAN termasuk salah satu muslim yang gabung dengan 400rb anggota NII


Pengikut harus hijrah.
"Kata kiai, NKRI negara 'kafir' sangat kotor bagai tong sampah."


Belasan mahasiswa di Malang, Jawa Timur menjadi korban pencucian otak kelompok yang menyebut diri sebagai Negara Islam Indonesia (NII), beberapa di antaranya bahkan dinyatakan hilang.

Prihatin dengan kasus yang menggegerkan ini, seorang mantan korban NII, sebut saja TW menceritakan pengalamannya dirangkul kelompok gerilya ini tahun 2000 lalu.

Pria 35 tahun, warga Jalan Perak, Surabaya Utara, Jawa Timur ini mengatakan, aksi cuci otak bukan hal yang baru. Sejak tahun 2000 silam gerakan ini masif, terstruktur, dan sistematis dilakukan di Surabaya dan sekitarnya.

"Saat itu saya duduk di kelas tiga SMA. Itu bermula dari ajakan teman yang mengatakan, kalau ingin mendapat banyak kenalan cewek cantik, bisa mengikuti kegiatan dan pengajian di kelompoknya," kata TW kepada VIVAnews.com.

Janji itu terbukti, memang banyak gadis cantik yang ia temui. "Bahkan, ada teman seangkatan saya yang kemudian menikahi jamaah perempuan di kelompok itu, dan berlanjut hingga sekarang," kata dia.

Namun, sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, harus memenuhi syarat mutlak: baiat. "Kalau sudah baiat, apa yang kita inginkan dikabulkan. Cukup mengatakan ke kiai, semuanya sudah beres."

Diceritakan dia, pengajian pertama yang diikutinya diselenggarakan di dilaksanakan di sebuah rumah di kawasan Jalan Rangkah Surabaya Timur. Lokasinya kemudian berpindah-pindah.

Dalam pengajian itu, TW mendapat uraian panjang tentang perlunya hijrah untuk memperbaiki keimanan, seperti yang dilakukan Rasullullah Muhammad SAW di zamannya.

Saat materi dipaparkan, dibentangkan gambar di hadapan santri. Di bagian tengah gambar ada tulisan 'Hijrah', di sebelah kirinya ada tulisan 'Mekah', dan di kanan bertuliskan 'Madinah'. "Itu dimaknai, manusia harus hijrah untuk menuju kesempurnaan keimanan," lanjutnya.

Juga ada gambar ke dua, komposisi mirip gambar pertama, bertuliskan 'NKRI' di sebelah kiri, tulisan 'Hijrah' di tengah, dan tulisan 'NII' di kanan. TW menjelaskan, gambar tersebut mengartikan semua warga Indonesia harus hijrah ke NII. "Karena, kata kiai, NKRI negara 'kafir' sangat kotor bagai tong sampah."

Dengan kondisi NKRI yang dianalogikan sebagai 'tong sampah', kiai mengatakan apa yang dilakukan warganya termasuk beribadah, salat dan haji tidak akan diterima Allah. "Percuma anda beribadah dan pergi haji dengan biaya mahal. Karena kalian tinggal di negara kafir semua itu tidak ada gunanya. Anda harus hijrah, dengan cara baiat ke Jakarta," lanjut TW, menirukan pernyataan kiai NII.

Kata dia, meski tak punya wilayah teritorial, NII memiliki sejumlah komponen pendukung yakni, presiden, menteri dan jajaran dibawahnya. "Tinggal melengkapi elemen-elemen lain yang belum ada, seperti walikota atau bupati, camat, lurah sampai RT. Temasuk tengah disiapkan untuk menambah jumlah personil tentara dan polisi (versi NII)," kata TW.

Juga diajarkan, bahwa selain membawa dosa asal, :shock: manusia juga dibebani dosa-dosa yang ia lakukan. "Pernah saya ditanya, berapa kali anda melakukan onani. Itu dosa dan harus dibersihkan. Caranya dengan 'kifarat' atau membayar denda. Kalau belum terbayar, dendanya terus berlibat dan harus terbayar saat hendak mengikuti baiat," urai TW.

Uang yang dibayarkan ke ke NII, selanjutnya dipakai untuk biaya mendukung perjuangan mewujudkan NII.

Pengikut juga dibebani infak tiap bulan, dan juga infak tahunan di tiap pergantian umur. "Kalau tidak terbayar, kita menanggung dosa sepanjang hidup dan mati kafir," tegas lelaki bertubuh tegap tersebut.

Penjelasan lain menyebut, yang tergabung di NII bebas melakukan apa saja. Bahkan, hukumnya wajib untuk menyokong terwujudnya NII menggantikan NKRI. Sekalipun merampas harta benda milik orang tua dan orang lain di luar NII. "Saya mendapat penjelasan itu hukumnya wajib guna mendorong terwujudnya NII," lanjutnya.

Dalam genggaman dan pengawasan NII, TW mengaku sempat bimbang. Hatinya berkecamuk antara yakin dan sebaliknya. Ia pun, sempat mengatakan niatnya pergi ke Jakarta untuk mengikuti baiat guna menyempurnakan keimanan sebagai warna NII. "Saya sempat bimbang, terus terngiang antara sholat tidak sah karena tinggal di negeri kafir NKRI. Dan, menghalalkan segala cara untuk mewujudkan cita-cita terbentuknya NII," urai TW.

Keberadaannya di NII saat itu, membuat gerak dan langkahnya seperti diawasi. "Saya selalu dijemput (orang-orang NII, pakai jubah putih terusan) termasuk ke rumah saat ada kegiatan yang perlu diikuti. Itu sempat menimbulkan kecurigaan orang tua. Dan saya selalu berbohong kepada orang tua," kenangnya.

Bahkan, ia mengatakan kerap mendapat ancaman. Jika khianat atau lari akan terus dicari. Dan, jika NII telah berdiri, dia akan ditangkap dan dipasung karena berkhianat. "Saya jadi semakin takut, karena saat bergabung saya juga diminta menyerahkan fotokopi KTP," terang TW.

Sebaliknya, jika mengikuti NII dan telah dibaiat dengan mengeluarkan biaya untuk ke Jakarta, ia mendapat perlakuan baik, termasuk mendapat kesempatan menduduki jabatan sesuai kecakapannya di kawasan tempat tinggalnya. TW mengatakan, saat itu ia diusulkan menjadi polisi wilayah di struktur NII. Saat itu biaya baiat mencapai Rp1 juta.

TW juga mengaku diminta merekrut orang lain. "Saya disarankan untuk mencari atau merekrut orang kaya, tapi ****, lemah akidah dan agamanya," kata TW.

Saat ini, meski kerap was-was apalagi dengan munculnya teror bom, TW mengaku beruntung lepas dari rangkulan NII. (eh)


============

Kembali fitnah FFI terbukti dan tak terbantahkan !!

Dengan mudah kita dapat menarik benang merahnya dengan perjalanan kenabian muhammad . Dan nyatanya di abad 21 ini hal itu masih tetep jadi basis utama ideologi Islam yang jelas tergambar dalam cara NII merekrut anggota .

1. Wanita
"Saat itu saya duduk di kelas tiga SMA. Itu bermula dari ajakan teman yang mengatakan, kalau ingin mendapat banyak kenalan cewek cantik, bisa mengikuti kegiatan dan pengajian di kelompoknya," kata TW kepada VIVAnews.com.

Janji itu terbukti, memang banyak gadis cantik yang ia temui. "Bahkan, ada teman seangkatan saya yang kemudian menikahi jamaah perempuan di kelompok itu, dan berlanjut hingga sekarang," kata dia.

Muslim selalu merasa terhina kalau kita memaparkan Islam adalah agama selangkangan .
Padahal ini lah tingkah laku rasul alias sunnah . Yang namanya sunnah tentu SANGAT DI ANJURKAN tuk jadi pegangan hidup muslim .
Ntahlah klo ente seperti teman gw .. Karena kalah debat denganku , dia TEGA berkata bahwa dia ga butuh sunnah muhammad :green:
Ngapain juga revot revot mati matian berdebat membantah bahwa urusan selangkangan bukanlah perintah awlloh yang DITURUNKAN DARI SORGA ... AKUI SAJA lha memang itu lah yang disunnah kan oleh muhammad .. hehehe


2. Kuasa
TW men gatakan, saat itu ia diusulkan menjadi polisi wilayah di struktur NII. Saat itu biaya baiat mencapai Rp1 juta.

Petuah sakti nkong PP ..Islam adalah :

_Agama ( ritual )
_Daulah ( Negara )
_Mushaf ( Undang Undang )
_Pedang ( Militer )..


Cuma Islam agama yang dengan bangganya mengklaim diri sebagai agama SEMPURNA , dan karenanya merasa berhak mengatur aspek aspek keduniawian.

Itu namanya PEMBAHLULAN atas peradaban !!

Sadar lah akan pembodohan ... KARENA hanya oknum oknum pimpinan lah yang PALING menikmati porsi keuntungan / kenikmatan / kekuasaan terbesarnya .
Omong kosong kalau ada unsur spiritualnya ... itu cuma basa basi tuk tameng
[-X
Output murni nya hanya akan dinikmati segelintir elit : Daulah ( Negara )

3. Harta
[/b] "Pernah saya ditanya, berapa kali anda melakukan onani. Itu dosa dan harus dibersihkan. Caranya dengan 'kifarat' atau membayar denda. Kalau belum terbayar, dendanya terus berlibat dan harus terbayar saat hendak mengikuti baiat," urai TW.
Penjelasan lain menyebut, yang tergabung di NII bebas melakukan apa saja. Bahkan, hukumnya wajib untuk menyokong terwujudnya NII menggantikan NKRI. Sekalipun merampas harta benda milik orang tua dan orang lain di luar NII. "Saya mendapat penjelasan itu hukumnya wajib guna mendorong terwujudnya NII," lanjutnya.
TW juga mengaku diminta merekrut orang lain. "Saya disarankan untuk mencari atau merekrut orang kaya, tapi ****, lemah akidah dan agamanya," kata TW.


TERBUKTI :
Memperbodoh manusia memang sudah menjadi tradisi / kodrat / target Islam
Orang sepinter apapun harus membodohkan diri untuk dapat menerima Islam

Resapi dikit peraturan yang AMAT menghina Tuhan ini :
20 % hasil jarahan untuk awlloh dan nabinya

Buka mata , ini abad 21.. hasil pendidikan ente lagi ditaroh kemana tuh . Mengapa ente tidak bertanya : Moso manusia abad 21 begitu mudahnya dan begitu butanya termakan tipuan ILMU KADAL abad ke 7 ini ? [-(

Ok .. Sekarang ente mungkin berkata : Saya adalah seorang muslim yang cinta / setia kepada Indonesia dan bukan anggota NII .

Di Metro tv seorang anggota legislatif marga Nababan lage nyampah sampai mulutnya berbusa busa dan berkata : Kalau ekonomi bagus .. NII dan Terorisme akan hilang
Hoiii NABABAN nyampah aja loe .. ente tau apa soal Islam !! :goodman:

CAMKAN INI
NII tukang goroknya dan MUSLIM MODERAT tukang pegang kaki korbannya !!

Sejarah di futu mekkah membuktikan :
SIAPAPUN Quraish yang ada di mekah DIPAKSA tunduk masuk kedalam system begitu muhammad berkuasa . Hal yang sama akan di berlakukan NII begitu mereka berkuasa !!

TAPI Inilah yang paling ku curigai dari muslim manapun :
Dalam lubuk hati muslim ... mereka MEMANG MENDUKUNG NII !! :partyman:
Last edited by duren on Sun May 08, 2011 1:30 pm, edited 3 times in total.
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Di Imingi Cewek Cantik - Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby Bigman » Fri Apr 22, 2011 8:59 pm

Mang ugama eslaam menyebabkan Rakyat Indonesia jadi ****.........

Kalo maseh berugama eslaam, ngga ferduli sarjana kek, mahasiswa kek, kalo diprovokasi pake ugama eslaam...... jadi pada idiot!

Kalo NON moslem seh, diprovokasi kek begicuh, ngga bakalan ngikut.......
Apelage udah sarjana, mahasiswa NON moslem ajah ngga bakalan ngikut!

Mang kalo difikir-fikir secara serious, jadi NON moslem lebeh baek..........
Ngga bakalan mau menjadikan Republik Indonesia menjadi Negara Ugama apapun! :lol:

Ane mangkin prihatin ame NKRI,
kalo ngga ada tanggapan & tindakan serious dari Pemerintah R.I keknya negara kite2 bakalan mangkin runyam.....

Ane jadi inget lage neh:
Image
PESAN SUAMI MURTAD:
SUAMI MURTAD wrote:Wahai Umat MUSLIM INDONESIA, sadarlah..... ISLAM adalah AGAMA BERBAHAYA....!
TINGGALKAN ISLAM, SONGSONGLAH KEDAMAIAN & KEMAKMURAN.
User avatar
Bigman
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3180
Joined: Sat Jan 03, 2009 8:19 pm

Re: Di Imingi Cewek Cantik - Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby Bigman » Fri Apr 22, 2011 9:59 pm

http://surabaya.detik.com/read/2011/04/ ... y991101465

Polisi Kejar 'Pencuci Otak' Mahasiswa UMM Hingga ke Lampung

Image

surabaya.detik.com wrote:Malang - Gagal menggerebek rumah pelaku 'pencuci otak' mahasiswa UMM di Jalan Klayatan Gang III, polisi membentuk tim untuk mengejar pelaku. Mereka disebar hingga daerah asal salah satu pelaku di Lampung.

"Kita tim ada 15 orang, dari intel dan serse. Semua disebar untuk memburu pelaku," kata Kasatreskrim Polres Malang, AKP Anton Prasetyo, dihubungi detiksurabaya.com melalui telepon seluler, Jumat (22/4/2011) petang.

Dari penyelidikan sementara, menurut Anton, tercatat sudah 11 saksi diperiksa, terkait kasus yang menimpa mahasiswa angkatan 2010 itu. Hingga kini modal awal penyelidikan polisi adalah laporan hilangnya Mahatir Rizki oleh keluarga Tanggal 12 April 2011 lalu.

"Mahasiswa yang menjadi korban penipuan, kami minta juga untuk membuat laporan kepolisian," tutur Anton.

Sebelumnya, polisi mengaku sudah mendatangi rumah pelaku yang diduga telah mencuci otak sejumah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sayangnya, penggerebekan itu tidak membuahkan hasil, karena rumah telah dalam keadaan kosong.

Selain menggerebek rumah pelaku yang mengaku bernama Fikri alias Feri alias Dani asal Cilacap dan Adam alias Muhayyin, asal Kabupaten Lampung, polisi juga memonitor seluruh tempat makanan cepat saji, dan mall yang ada di Kota Apel.

Untuk diketahui, korban mengalami kerugian terbanyak dari kasus pencucian otak ini adalah Reviana Efendi mahasiswa Teknik Informatika sebesar Rp 31 juta lebih. Kedua dialami Fitri Zakiyya, hampir sebesar Rp 22,5 juta, berikutnya adalah M. Ricky Kurniawan sebesar Rp 500 ribu, dan M. Hanif Ramdhani telah menyetor uang infaq senilai Rp 300 ribu, terakhir Wahyoe Darmawan sebesar Rp 100 ribu.

Mayoritas korban memberikan uang dibawah tekanan pelaku. Mereka diminta berbohong kepada orang tua, karena menghilangkan laptop temannya.

Cuba baca ntuh nyang ane merahin!
Reviana Efendi mahasiswa Teknik Informatika, maseh ajah mo ditepu ame ntuh ajaran ugame eslaam!
Jadi ape ntuh kalo lulus?!


Mangkenye jangan jadi moslem nyang sok ugame!
Mangkin sok ugame mangkin tulul ente!
:lol:
User avatar
Bigman
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3180
Joined: Sat Jan 03, 2009 8:19 pm

Re: Di Imingi Cewek Cantik - Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby Ahmadibejad » Fri Apr 22, 2011 11:44 pm

Liat aja..
Muslim gk akan ada yg berani nongkrong di Trit ini.
Karena memang sudah terbukti kebusukan Islam..
Sya yakin klo mereka kemari pasti mereka akan mati2an mengatakan "Itu Hanya Oknum" :vom:




"Bila dunia membenci engkau, Ketahuilah bahwa dunia telah membenci-Ku lebih dulu"
Ahmadibejad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1341
Joined: Sun Sep 06, 2009 9:16 am

Postby yvptgxj » Fri Apr 22, 2011 11:51 pm

bigman wrote:Reviana Efendi mahasiswa Teknik Informatika sebesar Rp 31 juta lebih.


Muslim yang jago IT biasanya banyak yang mendalami ilmu hitung waris pake java script ato integral.

Hayo ngaku!
yvptgxj
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1851
Joined: Fri Mar 06, 2009 8:58 pm

Re: Di Imingi Cewek Cantik - Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby duren » Sat Apr 23, 2011 9:11 am

Haiiiyaaaaaaa .... PELACURAN di NII

Baca debat seru para mantan santri PESANTREN ALZAYTUN INDRAMAYU di SINI


GR wrote :
hei bung yg diatas sana, klu ngomong tu yang bener jgn asal ngejeplak aja, cowo kok mulut nya kaya cewe demennya ngegosip yang gak bener, apa bedanya dengan ibu2 dipasar yg suka ngegosip sembarangan..
gw akui gw memang santri paling bandel disana, semua hukuman gw hadapi,gw jg tau seluk beluknya zaytun gmn, tp klu masalah ini gw jg tau kasus nya gmn, KALIAN ITU CUMA BESAR OMONG YG BS FITNAH, klu memang seperti yg anda bicarakan, bahwa ada prostitusi di Al-zaytun, tolong sebutkan nm2nya jgn cm krna segelintir org anda bs bilang zaytun sprti yg anda kt kan..
zaytun mangajarkan ajaran yg baik dan benar, tp kenapa gw jd org yang terbandel disana?,krna gw yang gak bs diatur, gw sadar karna gw intropeksi diri,jd gw anggap kejadian kenakalan gw yg lalu adalah kelabilan gw saat remaja,berarti akhlak gw kurang baik, begitu jg yang dilakukan oleh umi ulfa dan lainnya,apalagi ustdz ulfa banyal dikagumi oleh santri rizal. itu krna keburukan akhlak mereka, bukan karna ajaran alzaytun, klu anda mengaku org islam apakah ada ajaran untuk mencerca sesama agama?,tolong benahi dulu akidah anda baru anda mengukur akidah org lain,ngaku org islam tp kok bs mengumandangkan hal yg tdk benar,berfikirlah dgn bijak klu anda memang dewasa dan merasa org islam.
Khairul wrote :
Gimana dengan Noris santri asal malaysia yang hamil dan di gugurin ?

atau jangan jangan sudah menjadi milik bersama ? atau jangan jangan sang GR turut menumbangkan ya ? wah wah... :green:


Ini yang seru

Zee wrote :
kalian kenalkan foto ne??
dia ULFA SYAHIDAH, guru bahasa arab kalian di AL ZAYTUN, seorang lulusan AL AZHAR yang melakukan zina di dalam pesantren yang kalian cintai..sekarang dia juga berani memajang fotonya tanpa jilbab di media seperti facebook,ini yg masih kalian banggakan??apa yang diajarkan didalam zaytun?apa memakai jilbab hanya wajib didalam pesantren saja setelah itu lepas jilba,,iya???ayo berbicaralah kalian yang memang tau kebenaran
Zee wrote :
kalau mank fotonya ga bisa diupload,coba tolong cari sendiri facebooknya wanita murahan ini,facebooknya atas nama ulfa syahidah,fotonya ga pake jilbab dan berbaju merah,rambut panjang..sekarang tanya pada hati kalian,apa tu potret seorang bekas guru kalian di al zaytun??pp ta berjilbab??untuk seorang lulusan aL Azhar..tolong jangan tutup mata dan hati kalian atas kebenaran in

ghis memberi link :
(Duren > ini isi linknya)
Image
Alumni alzaytun wrote :

berita diatas adalah benar nyata dan bukan fitnah..saya punya bukti atas pengakuan santri laki2 yang telah berzina sama ulfa syahidah..dy guru yang berpacaran sama anak ipa bola angkatan II zaytun,jangan menutup mata dan hati hanya karena membela sekolah tercinta kalian..hal ini memang benar terjadi ditahun 2006 sebelum pelacur itu menikah dengan suaminya saat ini,jangan membilang fitnah kalau kalian memang tidak tahu,nanti kalian malu setelah semua memang terbukti benar..kalau memang kalian yakin tu benar bukan fitnah kalian tanya dengan wanita yang telah tidur dengan dua laki2 tu,ULFA SYAHIDAH..sumpah dia dengan sumpah poncong kalau memang dy tidak melakukan..bukankah kalian tahu zina tu hukumnya apa??knapa kalian juga tidak mencari tau dl sebelum berbicara berita ini fitnah..kalian juga punya bukti ini fitnah?ayo kita buktiin dengan bukti yang saya punya


Ane cuma baca sampai disitu ... eneghh
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Di Imingi Cewek Cantik - Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby duren » Sat Apr 23, 2011 9:51 am

Tamboh lagi dehh

Soalnya ini ada famili si Metalizer dari Medan
Masih dari link yang sama seperti diatas

Baiq maemunah wrote :

( Dan inilah isi post nya:)

Yang bertanda tangan dibawah ini kami,

Nama : Marwan Siregar
Alamat : Jl. Pelajar 100 - 027/014 Kel. Teladan Timur Kec. Medan Kota,
Sumatera Utara (HP: 0811609321)
Pekerjaan : Anggota Kepolisian RI SATSERSE POLTABES MEDAN
Pangkat : BRIPKA, NRP: 63080231
Status : Kawin / Orang tua Panusunan Siregar.

Nama Istri : Hj. Darma Taksiyah
Pekerjaan : Ikut Suami.
Status : Ibu Kandung Panusunan Siregar.
No. KTP : 02.5005.550467.0001
Alamat : Ibid.
Nama : Mokhtar Siregar.
Alamat : Ibid.
No. KTP/SIM : 380507140156
Status : Kakek dari Panusunan.

Bersama ini kami mengadukan kepada Bapak KAPOLRI u.p. KAKORSERSE dan KABAG INTEL KAM MABES POLRI sehubungan dengan apa yang telah menimpa kami sekeluarga khususnya anak kami,

Nama : Panusunan Siregar.
Lahir : Medan, 22 November 1988.
Status : Santri Ma had Al-Zaytun, Masuk tahun 2000 Klas I-EA2,
menempati asrama Al-Fajar km 323, dan naik kelas II- FA.03 asrama
Al-Fajar km. 218 F. Ditarik kembali tanggal 5 Oktober 2001.


Dengan ini menyatakan kami telah merasa diperlakukan secara semena-mena serta dibohongi dan dirugikan secara moril maupun materiel oleh YPI (Yayasan Pesantren Indonesia) melalui Ma had Al-Zaytun, Haurgeulis, Indramayu Jawa Barat. Mengingat setelah anak saya resmi diterima menjadi santri Ma’had Al-Zaytun yang menurut perjanjian akte notaris akan dididik, dibina dan dibesarkan serta dipelihara berdasarkan ajaran Islam.

Akan tetapi dalam kenyataan praktek pembinaan dan pembelajaran putra kami Panusunan Siregar tidaklah demikian. Anak kami tersebut tidak dididik, dibina, dibesarkan dan dipelihara sesuai dengan ajaran Islam, tetapi dibiarkan menjadi liar dan mendapat pelajaran liar serta memperoleh perlakuan yang liar dari dewan guru. Hal ini dapat kami paparkan sebagai berikut berdasarkan penuturan putra kami maupun dari apa yang kami alami (pengalaman kami) sendiri.

Pelajaran liar yang diterima anak kami antara lain adalah:

1. Wajib berpacaran pada setiap hari jum at.

2. Berpegangan tangan dan berciuman tidak dilarang, bahkan santri bernama Noris dari Malaysia sempat hamil, namun oleh para uustadz diperintahkan agar digugurkan.

3. Boleh membaca dan memiliki buku bacaan maupun gambar porno. Bisa pesan beli melalui para muwadzhaf (pasukan kuning).

4. Tidak dilarang memasuki asrama atau kamar nisa (santri putri).


5. Tidak diperintahkan mengambil air wudlu setiap hendak shalat, karena dicontohkan oleh para asatidz.

6. Diajak dan diberi contoh oleh asatidz kepada perilaku porno dan
jorok, maaf disuruh menghisap kemaluan ustadz yang akhirnyaa
berkelanjutan menjadi perilaku antar para santri.

( duren : BACA INI Vhee .. ga diperkosa loh ,cuma di suruh nyedot SE IHKLAS HATINYA :rofl: )

7. Perkelahian dan tawuran antar kelompok gank.

Diajarkan doktrin NII diantaranya:
1. Presiden Megawati adalah Ratu Balqis yang akan menyerahkan kekuasaannya kepada Nabi Sulaiman yang juga disebut Syaykhul Ma had AS Panji Gumilang.

2. Menyatakan bahwa Syaikh Panji Gumilang adalah Pemimpin yang akan membangkitkan Islam di Indonesia yang terletak di tengah-ttengah garis khatulistiwa.

3. Al-Zaytun kelak akan mengganti bendera Merah Putih Republik Indonesia dengan bendera berwarna hijau Negara Islam, dan sekaaligus menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam.

4. Di Al-Zaytun akan segera mencetak mata uang sendiri diberlakukannya mata uang logam perak dan emas yang bergambar Panji Gummilang dan lambang Al -Zaytun.

5. Telah ada latihan menembak setiap hari untuk Garda Mahad yang pelaksanaannya di Subang.


Perlakuan liar yang diterima anak kami,

Ketika putra kami melakukan kenakalan (membawa binatang ular ke dalam asrama) dikenakan hukuman pukulan, disel (dikurung dalam ruangan tanpa diberi baju maupun alas tidur serta tidak diberi kesempatan atau diajarkan untuk melaksanakan shalat fardlu).

Ketika putra kami telah dan sedang berada di dalam hukuman kurungan tersebut tiba-tiba salah seorang kakak kelasnya melemparkan uang hasil mencuri uang milik temannya, yang pada akhirnya kesalahan ditimpakan kepada putra kami. Dan karena putra kami pun menerima tuduhan tersebut akhirnya putra kami kembali menerima pukulan dari 12 orang anggota dewan guru di ruang 130 hingga anak kami sakit selama satu minggu.

Karena putra kami telah dihukum sekap selama 2 (dua) bulan lantaran tuduhan mencuri akhirnya barang-barang, pakaian dan buku serta perlengkapan sekolah putra kami dirusak entah oleh siapa dan sebagian besarnya raib entah kemana. Kami dapatkan putra kami sama sekali tidak memiliki satu helai pakaian pun, sekalipun yang hanya melekat di badannya. Maka selama dua bulan dalam kamar penyekapan tersebut putra kami tidak memakai baju (hanya pakai celana pendek
saja), anak kami tidak diberi kesempatan atau diperintahkan mengerjakan shalat apalagi mengikuti kegiatan sekolah maupun yang lainnya.

Putra kami pun pernah sempat dihajar secara fisik dan diancam oleh anggota dewan guru yaitu ustadz yang dikenal paling galak serta dijuluki Malaikat Maut Syaifuddin Ibrahim, setelah putra kami dinyatakan harus diambil kembali oleh orangtuanya dengan membayar denda Rp 15 juta.

Perilaku putra kami menjadi semakin **** dan liar
( Duren: Memang HARUS dibuat **** agar TIDAK MAU MURTAD dari Islam \:D/ )

Terhitung sejak 3 bulan setelah tahun awal pembelajaran, putra kami selalu minta kiriman uang, pernah pula meminta kiriman uang sebesar 1 juta dengan alasan untuk membayar hutang. Ternyata setelah didesak putra kami mengatakan, itu karena disuruh oleh ustadz, namun kami tahu hal itu memang sulit untuk membuktikannya.

Meminta dibelikan sepeda, walkman dan macam-macam itu pun karena disuruh oleh ustadznya.

Prestasi dan nilai raportnya pun sangat buruk, bahkan hafalan al-Qur annya cuma 60 ayat.
( Duren : di FFI banyak tuh alumni ponpes yang otaknya pas pas an :finga: )

Kami tidak terima dan kami menuntut. Apa yang terjadi pada putra kami saya yakin juga terjadi pada para santri yang lain, hanya saja mungkin karena para orangtua mereka belum bisa mendengar berbagai kejanggalan serta kejahatan yang berlangsung dalam ma’had Al-Zaytuntersebut.

Kami tidak bisa menerima perlakuan dari para pamong didik yang keras dan sewenang-wenang terhadap anak kami. Apakah kehidupan dan pembinaan pola pesantren modern itu harus dengan hukuman fisik yang berlebihan? Apakah ada padanan pesantren modern yang menerapkan hukuman fisik pukulan ataupun kurungan secara fisik tanpa pakaian dan tidak lagi diajarkan untuk melaksanakan shalat? Anak kami masih terlalu muda (14 tahun) untuk boleh diperlakukan sebagaimana layaknya hukuman ala Prayuana, dengan tanpa melalui sidang pengadilan, malah putra kami divonnis merusak dan mengotori pesantren.

Kami tidak terima karena justru putra kamilah yang telah dirusak mental dan akhlaqnya melalui pornografi dan seks bebas, ajaran NII dan budaya kafir jahiliyyah yang diajarkan dan diterapkan di ma had Al-Zaytun.

Kami menuntut kepada pemerintah, MUI dan para pimpinan ormas maupun orpol agar segera menindak serta mengusut secara tuntas terhadap kebohongan dan kejahatan serta pelanggaran HAM Anak yang sedang berlangsung di mahad sesat Al-Zaytun.

Sikap husnudzhan dan kepercayaan kami yang begitu besar kepada ma had Al-Zaytun telah disalahgunakan, sehingga seluruh wali santri hingga detik ini tidak satupun yang mendapatkan kwitansi serah terima uang titipan seharga seekor sapi, bahkan masih pula dikenakan beaya
ini dan itu serta masih banyak lagi infaq maupun shadaqah lainnya.

Kami sebelumnya adalah orangtua yang percaya sepenuhnya kepada ma had Al-Zaytun, bahkan sekalipun telah terbit buku yang menjelek-jelekkan Al Zaytun kami pun tetap percaya dan bertekad tetap mendukung Al-Zaytun. Namun setelah mushibah itu menimpa putra kami sendiri maka kami pun seperti baru tersadarkan dari mimpi-mimpi kami sendiri, apa yang terdapat dalam isi buku Pesantren Al Zaytun Sesat! sepenuhnya sama persis dengan apa yang diterima putra kami dan juga kami sendiri, bahkan yang kami dapatkan dari putra kami lebih dahsyat kesesatannya ketimbang yang ditulis dalam buku oleh Bapak Umar Abduh.

Maka untuk sementara kami bisa menerima kenyataan ini, akan tetapi apabila keberadaan ma had Al-Zaytun tidak mendapatkan tindakan dari pemerintah atau MUI dan masyarakat Islam, kami siap untuk mengambil tindakan sendiri, sebesar apapun resikonya kami siap untuk menghadapi.
(Duren : MUI dan Pemerintah diem aja ... TANDANYA MEREKA SETUJU loh pak :-s .. Jadi lakukan aja kebiasaan muslim >> BOM ajalah biar cepat beres :finga: )

Demikianlah surat pengaduan ini kami buat dengan sebenarnya untuk dapat digunakan bagi kepentingan pengusutan maupun keperluan lainnya. Kami siap untuk mempertanggung jawabkan kebenaran isi surat pengaduan ini di muka hukum, untuk itu tandatangan pada surat pengaduan ini kami bubuhi materai secukupnya.

Dibuat, di Jakarta tanggal 8 Oktober 2001.

Ditandatangani oleh:
MARWAN SIREGAR
Hj. DARMA TA SIYAH
H. MOKHTAR SIREGAR

—————————-
Berdasarkan Surat Pengaduan yang dibuat oleh Bapak Marwan Siregar, di tujukan kepada KAPOLRI cq KABAINTELKAM MABES POLRI
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Di Imingi Cewek Cantik - Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby duren » Sat Apr 23, 2011 11:26 am

Mari kita bongkar segala kebusukan di ponpes TERMEGAH DI ASIA TENGGARA ini.

Masih ingat dengan berita heboh PEMILU 2004 ??

========================
12 Juli 2004 - Suara Melimpah dari Zaytun


Hari sudah merambat petang ketika sebuah helikopter mendarat di pelataran kompleks pesantren Ma'had Al-Zaytun, Indramayu, pertengahan Juni lalu. Begitu kibasan baling-baling melemah, dari dalam heli turun Wiranto, calon presiden dari Partai Golkar. Ia hanya didampingi salah seorang anggota tim suksesnya, Suaidi Marasabessy, ajudan, dan beberapa pengawal. Bekas Panglima ABRI ini menjadi tamu istimewa. Sebab, sepanjang masa kampanye presiden, hanya dia yang bertandang ke pesantren terbesar di Asia Tenggara itu.

A.S. Panji Gumilang, orang nomor satu di Zaytun, menyambutnya dengan hangat. Rombongan kemudian bergerak menggunakan bus eksekutif menuju gedung serbaguna Al-Akbar. Di sana gemuruh tepuk tangan dari sekitar 15 ribu santriwan-santriwati langsung membahana begitu tamu spesial ini memasuki ruangan.

Jangan salah duga. Meski ada 15 ribu orang, kehadiran Wiranto ke sana bukan untuk berkampanye. Dia hanya bersilaturahmi biasa dalam acara bertajuk "Temu Ramah Mesra" itu. Suaidi Marasabessy menjelaskan kepada TEMPO, "Kita cuma diundang. Acara waktu itu terbuka dan legal karena dihadiri Panitia Pengawas Pemilu."

Wiranto kabarnya berbicara netral-netral saja. Menurut Suaidi, kalau Wiranto dekat dengan Zaytun, itu lantaran Wiranto pernah diangkat sebagai ajudan Presiden Soeharto. Zaytun sejak masa pemerintahan Soeharto telah menjalin hubungan baik dengan Golkar. Buktinya, di kompleks itu terdapat gedung Soeharto, Habibie, dan gedung Akbar Tandjung. Selain itu, pada Mei tahun lalu, Kepala Badan Intelijen Negara A.M. Hendropriyono pernah mewakili Presiden Megawati meresmikan pemancangan gedung pembelajaran Haji Ahmad Soekarno di kompleks Ma'had Al-Zaytun.

Dalam acara Wiranto di Zaytun, diam-diam Ketua Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan Gantar, Indramayu, Sudirman Gandaatmaja, ikut datang bersama ribuan orang tadi. Sudirman mengatakan bahwa Wiranto, saat memberikan sambutan, berbicara soal pembangunan bangsa dan masalah pendidikan secara umum. "Yang banyak bicara soal dukung-mendukung justru Panji Gumilang," kata Sudirman.

Sudirman inilah, bersama timnya, yang mengetahui gelombang ribuan orang yang memasuki wilayah Zaytun menjelang hari pencoblosan pemilu presiden pekan lalu. Hasilnya, Sudirman mencatat ada 580 kendaraan berbagai jenis dari sejumlah daerah, termasuk sekitar 20 bus dinas milik Markas Besar TNI.

Sebagai pengawas pemilu, Sudirman memang menaruh perhatian khusus pada Al-Zaytun. Pada pemilu legislatif 5 April, jumlah pemilih di Zaytun juga membengkak dari 4.962 menjadi 11.565 orang. Hasilnya, Partai Karya Peduli Bangsa, yang mengusung nama Siti Hardijanti Rukmana, meraih kemenangan mencolok untuk kursi DPR pusat, 10.661 suara atau 92,84 persen. :finga:

Menjelang pemilu presiden 5 Juli, pemilih di pesantren seluas 1.200 hektare yang berdiri pada 1993 itu bertambah lagi menjadi 24.843 orang. Dari total jumlah pemilih itu, duet Wiranto-Salahuddin meraih 24.794 atau 99,8 persen suara. Yudhoyono-Kalla memperoleh 21 suara, Amien-Siswono 16 suara, Mega-Hasyim 6 suara, dan Hamzah-Agum 2 suara.

Yang jadi pertanyaan adalah jumlah pemilih terdaftar itu. "Saya heran, kenapa data pemilih sebanyak ini bisa terjadi di Zaytun. Tanpa kecurigaan, ini langsung disetujui oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah Indramayu," kata Sudirman. Padahal warga terbanyak di Zaytun adalah santri. Dan santri angkatan tertua baru duduk di kelas III setingkat SMP dan kelas I setingkat SMU.

Tambahan besar ini, menurut Anto Sukanto dari Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam dan Athian Ali M., dai Forum Ulama Ummat Indonesia, berasal dari anggota gerakan Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah IX. Gerakan ini disebut-sebut berada dalam arahan A.S. Panji Gumilang alias Abu Toto. Mereka adalah pejabat struktural NII yang sebagian besar tinggal di Jakarta.

Mereka mendukung Wiranto, menurut Sukanto, karena Partai Karya Peduli Bangsa, yang mengusung Tutut, ternyata kalah dalam pemilu legislatif. Dukungan dialihkan kepada Wiranto karena dia dianggap punya kedekatan khusus dengan Keluarga Cendana. "Mereka mendukung Mbak Tutut karena tanah pertama untuk pembangunan Al-Zaytun berasal dari Cendana," kata Sukanto, yang mengaku pernah menjadi Lurah NII di wilayah Tebet, Jakarta Selatan, pada 1996-2001.

A.S. Panji Gumilang alias Abdul Salam bin Rasyidi tak mau berkomentar banyak soal itu. Ia cuma menegaskan tak ada penggalangan massa di lingkungannya. Kalau memang banyak penghuni Zaytun memilih Wiranto-Salahuddin, itu bukan merupakan penggalangan massa. "Tapi lebih merupakan hak kami untuk memilih yang ternyata memiliki kesamaan terhadap kriteria calon presiden dan wakilnya," kata Panji.

Dengan demikian, ia menegaskan, tak ada satu pun pihak yang bisa membatalkan hasil pemilihan presiden dan wakil presiden di tempat-tempat pemungutan suara di lingkungan Zaytun. "Jumlah 24.843 pemilih itu kecil dibandingkan dengan daerah lain. Tapi kok diutik-utik, sih," ujarnya kesal.

Sejauh ini, yang sudah bertindak barulah Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. :partyman: =D> :supz: Ia mengakui bahwa TNI sedikit kecolongan karena ada kendaraan dinas Markas Besar TNI yang digunakan untuk mengangkut massa ke tempat itu. Bus itu bisa keluar dari markas karena dalih untuk antar-jemput pengajian di hari libur. "Kalau sengaja mau mengerahkan massa, ngapain cuma ke situ? Mereka yang terlibat, kalau ada motif politik, kita pecat," kata Endriartono.

Setelah melakukan pengkajian beberapa hari, pihak Komisi Pemilihan Umum pun akhirnya menegaskan tak ada persoalan dengan apa yang terjadi di Zaytun. Soal tambahan sekitar 13 ribu pemilih di Zaytun, menurut anggota KPU Indramayu, Najib Bunyamin, yang didampingi Ketua KPU Pusat, Nazaruddin Syamsuddin, telah sesuai dengan prosedur.

Bertambahnya suara itu, menurut Najib, terjadi karena ada tambahan keluarga santri, saudara santri, pekerja di pesantren, ataupun teman santri yang ingin berkumpul saat libur bersama. Selain itu, ada pula tambahan dari pemilih yang belum berusia 17 tahun pada pemilu legislatif tapi pada pemilu 5 Juli sudah punya hak pilih. Sesuai dengan Pasal 22 ayat 2 Undang-Undang Pemilihan Presiden, seorang pemilih yang tinggal di dua tempat tinggal dapat memilih di tempat ia terdaftar. "Kemungkinan, karena mereka senang mencoblos di Zaytun, mereka mendaftarnya di sana," kata Najib.

Sayang, Najib tidak merinci detail angka-angka pertambahan pemilih itu?misalnya berapa jumlah teman, saudara, atau pemilih yang masuk usia 17 tahun. KPU dan Panitia Pengawas Pemilu pun tampaknya "tidak berselera" memeriksa lebih dalam. Mungkinkah karena kasus ini hanya menyangkut pemenang ketiga?


==========================

Hari Ini, Pencoblosan Ulang di Ponpes Al Zaytun

Jakarta - Rencananya, Minggu (25/7/2004) pagi ini akan digelar pencoblosan ulang di Pondok Pesantren Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat

. Pemilu ulang dilakukan karena terbukti ada pelanggaran administratif dalam proses pendaftaran calon pemilih tambahan di pondok pesantren terbesar di Asia Tenggara itu. Hal tersebut merupakan keputusan rapat pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 15 Juli lalu yang dihadiri oleh KPU Jawa Barat, KPU Indramayu, Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Gantar dan Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu). Rapat pleno KPU ketika itu menyimpulkan, merujuk pada temuan-temuan Panwaslu dan laporan investigasi KPU Jabar, ditengarai sejumlah pemilih dari 13.253 pemilih yang tidak memenuhi syarat untuk terdaftar sebagai pemilih tetap mencoblos di TPS Al Zaytun. Padahal, menurut aturan, mereka yang berhak menjadi pemilih di sebuah TPS yakni secara de facto telah atau akan tinggal paling sedikit 6 bulan sejak hari-H, dan de jure yang dibuktikan dengan KTP.

Kasus itu sempat menjadi pembicaraan hangat karena adanya mobilisasi pemilih dari luar ponpes.

Bahkan, mobilisasi itu menggunakan sejumlah bus milik Mabes TNI hingga membuat Panglima TNI marah besar.


Hasil pencoblosan di ponpes yang dipimpin AR Panji Gumilang ini juga terkesan aneh.

Dari belasan ribu pemilih, 99 persen mendukung pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid.

Sementara calon lainnya hanya mendapat suara tak lebih dari 30 suara. Namun pencoblosan hari ini ditengarai tidak akan berlangsung seramai pemilu 5 Juli lalu. Pasalnya, beredar rumor para pemilih di Ponpes Al Zaytun tidak akan menggunakan hak pilihnya untuk pencoblosan ulang. Selain itu, jumlah TPS yang dibangun di depan kompleks Ma'had Al Zaytun juga tidak sebanyak pemilu 5 Juli lalu. Untuk pencoblosan ulang hari ini, PPS setempat hanya membangun 39 TPS. Padahal pada 5 Juli lalu, TPS yang didirikan mencapai 83 unit. (ani/)


Tekad seseorang yang di post pada SEBUAH FORUM :-"

July 08, 2004, 11:39 JTQ wrote:
saya bersumpah untuk bikin Az zaytun 100% Wiranto


Ini data yang bikin heboh tuhh.

Berikut ini hasil penghitungan suara dari TPS di Ponpes Al Zaytun, Kecamatan Gantar, Indramayu, Jawa Barat :

Wiranto - Wahid 24.784 suara (99.85%)
Amien - Siswono 21 suara (0.09%)
SBY - Kalla 8 suara (0.03%)
Megawati - Hasyim 6 suara (0.02%)
Hamzah - Agum 2 suara (0.01%)


===========================
Baca juga ini :-"


:supz: :partyman:
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Di Imingi Cewek Cantik - Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby duren » Sat Apr 23, 2011 1:19 pm

APA KOMENTAR MANTAN ORANG DEKAT / PETINGGI NII


Kok FPI dan Al Zaitun Tidak Dibubarkan?

18 September 2010 Wahyudinugraha

Mengapa fpi didirikan dan sampai sekarang dipertahankan?
Pasti tidak banyak yang mengetahuinya.
Bahkan orang terdekat habib riziqpun belum tentu mengetahuinya. Yang jelas fpi didirikan setelah kejatuhan soeharto dan menjadi tangan besi yang mewakili pemerintah daerah bila ada masalah dengan penerapan perda, bahkan pemerintah pusat seperti pada kasus hkbp. Mereka pun berhadapan dengan pihak yang dituduh akan menyebarkan paham komunis.

Paska reformasi memang ada ketakutan akan membuminya lagi komunisme. Sayangnya penyebar ajarannya tidak dapat lagi ditindak seperti masa orba. Maka tidak menutup kemungkinan fpi ditujukan untuk berhadapan langsung dengan neo pki. Rakyat vs rakyat!

Selain fpi ada pula pesantren al zaytun yang belum juga disentuh, meskipun sejak lama pemerintah didesak oleh banyak aktivis Islam, baik yang moderat hingga radikal, untuk menutupnya. Mengapa pemerintah cuek terhadap desakan itu? Sekali lagi kita tidak pernah tahu. Dan hanya segelintir orang yang tahu.

Saat diresmikan oleh Habibie pesantren yang banyak disumbang oleh pejabat ini sudah menunjukan kemisteriannya. Memang saat saya menghadiri peresmiannya, saya bisaberjalan-jalan dan memasuki banyak ruangan dengan bebas. Saya pun bisa menikmati jamuan makan yang lezat-lezat. Tetapi, pada kunjungan berikutnya saya merasa seperti diawasi, bahkan saat saya masuk toilet. Memang pengawasan tersebut tidak terasa lagi pada kunjungan saya di tahun 2008 lalu. Tetapi, bukan berarti tidak ada pengawasan. Karena mungkin saja ada cctv yang tidak terlihat oleh pengunjung. Pesantren ini banyak dikunjungi pejabat dan mantan pejabat.
Hendropriyono saat menjabat kepala bin pernah tertangkap kamera (atau sengaja direkam) berkunjung ke al zaytun. Memang aroma intelijen sangat kental jika berbicara tentang al zaytun. Wiranto pun pernah menggunakan jaringan al zaytun saat pilpres 2004 lalu. Jaringan tersebut juga terungkap bermain pada pemilu 2009, walau data yang mendukung keterlibatannya minim.

Sebuah pertanyaan muncul jika al zaytun melakukan pengkaderan NII, seperti yang dituduhkan, mengapa aparat kita mendiamkannya? Adakah kepentingan pihak tertentu dari tetap aksisnya al zaytun?


=================
Simak puisi dari PENTOLAN " NII - crisis - center " Ken Setiawan


RINTIHAN DI BALIK MAY DAY (HARI BURUH INTERNASIONAL) MA’HAD AL ZAYTUN - MESIN PENINDAS MADE IN THOGUT


HARI INI Jakarta dikepung kaum buruh,
Ada yang berteriak, tertawa & menangis tapi tak sedikit yang berdiam diri
Kami ingin kesejahteraan yang cuma dijanjikan
Kami ingin lepas dari penindasan atas nama pembangunan & karya nyata
kami ingin merdeka dari eksploitasi penguasa & pengusaha pro kapitalis
Kami ingin UMR dan Jamsostek yang pantas bukan untuk ditindas

HARI INI Jakarta dikepung kaum buruh,
Tapi mereka tidak sendirian, buktinya mereka masih tertawa
Karena ratusan mata kamera wartawan mengepung sambil membidik
Bahkan ada yang LIVE menyuarakan penderitaan mereka
Sorenyapun semua Televisi menyiarkan nasib buruh kita
Keesokan pagi jutaan eksemplar koran menyebarkan tangis pilu mereka
Mereka masih beruntung dan harusnya bersyukur masih ada yang PEDULI

HARI INI Jakarta dikepung kaum buruh,
Mereka yang meninggalkan kuliahnya karena harus mengejar setoran
Mereka yang ‘menghilangkan diri’ tapi orangtuanya panik ‘anaknya hilang’
Mereka yang daftar gajinya ada ditangan INTEL, tapi jauh dibawah UMR
Mereka dari Bupati, Camat, Lurah & Stafnya digaji ala kadarnya
Mereka yang gajinya ‘gak pernah diambil’ karena dipotong setoran
Mereka yang pura-pura jadi karyawan, bersafari rekrut sana - rekrut sini
Mereka layaknya ROMUSHA dizaman kolonialisme Jepang
Mereka katanya ikhlas membela idealismenya untuk sebuah cita ‘FUTUH’

HARI INI Jakarta dikepung kaum buruh,
Tapi Buruh yang SATU ini BISU kebanyakan di Baiat & Tilawah
Buruh yang SATU ini TELAH HILANG HAK-HAK KEMANUSIAANNYA
Walau Pabriknya Al Zaytun sudah SEKARAT NYARIS BANGKRUT tetap tak mengusik akal sesatnya
REALITAS KEGAGALAN BISNIS - Terhibur oleh IDEALISME YANG PUDAR
Jangankan UMR, Jamsostek dan Bonus, gak FULL Setoran dihitung HUTANG
Cape Deh ! Tapi inilah Perjuangan membela Berhala bernama AL ZAYTUN
Disana 4700 eksponen & karyawan HIDUP SEGAN MATI TAK MAU

Sudah banyak yang teriak, tapi media masa mana yang mau dengar
Sudah banyak yang kabur, yah memang dikondisikan demikian
Sudah banyak yang berontak, GARDA & TIBMARA fakta tak terbantahkan

HARI INI Jakarta dikepung kaum buruh,
Mereka masih sangat beruntung, dibanding puluhan ribu BURUH NII KW9
Mereka masih bisa berteriak, dibanding warga NII yang membeli PENIPU
Mereka masih ada UMR, dibanding harus dikejar setoran INFAQ
Mereka masih dapat pesangon, dibanding buruh-buruh NII Al zaytun yang habis manis sepah dibuang (kalo ‘Kaslan’ / murtad dari KW9)


TAPI MEREKA ADALAH SAUDARA KITA JUGA
WALAU MUI, ORMAS ISLAM & ULAMA TAK PEDULIKAN PENDERITAANNYA
PENDERITAAN MEREKA, PENDERITAAN KITA JUGA
CITA-CITA MEREKA, CITA-CITA KITA JUGA
TANGIS MEREKA, TANGIS KITA SEMUA YANG PEDULI

TINGGALKAN BERHALA YANG BERNAMA MA’HAD AL ZAYTUN
TINGGALKAN PENINDASAN - TAPI TETAP TEGUHKAN CITA-CITA
JANGAN BIARKAN …

==============

KINI JAMAAH DAN CALEG NII KW9 AL-ZAYTUN GIGIT JARI MENUNGGU FUTUH YANG TAK JELAS

Kemarin pagi, saya mendapat informasi bahwa pada Sabtu, 11 April 2009, akhirnya Syaykh Al-Zaytun, YAB. Abdus Salam Rasyidi (Panji Gumilang) mengumpulkan para ‘pejabat’ NII (Negara Islam Indonesia) level wilayah (Gubernuran) bawahannya di Ma’had Al-Zaytun (MAZ) Indramayu. Mereka dikumpulkan setelah Partai RepublikaN dipastikan tidak mampu menembus batas ambang electoral threshold sebesar 2,5%. Itu artinya, kelima caleg dari NII (faksi Al-Zaytun) otomatis gagal menembus Senayan—berapapun jumlah suara yang mereka peroleh. Sang Imam mencoba membesarkan hati para pejabat bawahannya itu, yang saya peroleh dari seorang insider, intinya begini:

“Tidak perlu berkecil hati. Setidaknya, masyarakat telah mulai menerima kehadiran kita di kancah politik nasional.”

Kenyataan ini, jelas mengecewakan para jamaah NII faksi Al-Zaytun. Padahal, seluruh jamaah yang masih aktif sudah dikerahkan untuk ‘memilih’ di berbagai TPS di lima Dapil tempat kelima caleg itu dicalonkan. Bahkan, dengan persiapan hampir 7 bulan. Memang, berbagai komentar di facebook Imam Prawoto, salah satu caleg dari MAZ tersebut, para konstituen mencoba menghibur diri.

Siapa saja kelima caleg NII-MAZ yang gagal melenggang ke Senayan itu?

1. Imam Prawoto
Image

2. Drs. Miftakh
Image

3. M. Soleh Aceng, SH
Image

4. dr. Dani Kadarisman
Image

5. Ir. Asrurrifak
Image

Beberapa kader NII faksi Al-Zaytun (NII-MAZ) yang masih aktif di dalam ’struktur organisasi bercerita kepada saya tentang geliat Al-Zaytun untuk meloloskan caleg mereka. Namun, beberapa dari mereka menyesalkan: mengapa Imam Prawoto yang ditempatkan di Dapil Tangerang, yang otomatis Dapil paling gemuk—dan berpotensi besar menjadi lumbung suara serta meloloskan putra sulung Syaykh AS. Panji Gumilang itu, jika saja Partai RepublikaN lolos electoral threshold 2,5 %. Padahal caleg Drs. Miftakh dan M. Soleh Aceng S.H. jelas jauh lebih senior dan memiliki kompetensi leadership yang tidak kalah hebat.

“Mengapa tidak kader senior, seperti para pejabat setingkat Menteri atau eselon satu lainnya, yang sudah berjuang sejak tahun 1980-an. Apakah hanya karena beliau anak Syaykh Al-Zaytun. Kok jadi KKN gitu ?” keluh seorang kader NII faksi Al-Zaytun kepada saya.

“Ah, sudahlah. Tak perlu dikeluhkan. Lagi pula, kelima kader itu tak lolos juga, bukan?” jawab saya.

Sebagai catatan, tiga dari lima orang caleg tersebut memiliki kedudukan struktural penting dalam sistem organisasi NII faksi Al-Zaytun. Mohon maaf, jika saya tak bisa mengungkapkannya di sini.

Sebagai orang yang pernah memiliki kedekatan dengan kelima caleg tersebut di atas, juga dengan Syaykh A.S. Panji Gumilang, saya mencoba mengambil ibrah (pelajaran) dari kegagalan ini sehingga muncul pertanyaan: “Mengapa tidak sejak dulu saja memutuskan mengambil jalur kepartaian dalam berpolitik, ketika organisasi NII-MAZ masih begitu kuat? Padahal ketika itu ada momen yang begitu kuat untuk membentuk sebuah partai politik–yang akhirnya momen itu diambil secara cerdas oleh PKS.

Saya masih ingat betul, sehari setelah bertemu dengan Jusuf Kalla di kediaman beliau di Jalan Dharmawangsa pada masa Pilpres putaran kedua tahun 2004 lalu, Syaykh Al-Zaytun sempat berpikir untuk membentuk partai politik. Waktu itu, saya termasuk orang yang menjawab “setuju” ketika ditanya oleh “beliau”. Entah, mengapa kemudian rencana itu urung dilakukan.

Saya juga masih ingat betul, ketika berbagai pertemuan dilangsungkan di Wisma Fairbank Senayan, antara para pimpinan MAZ dan tokoh-tokoh politik Orba seperti Harmoko, Haryono Suyono, dan beberapa tokoh lain, yang sepertinya akan bermuara pada pembentukan sebuah partai politik. Namun, lagi-lagi saya hanya bisa bertanya dalam hati: “Entah, mengapa kemudian rencana itu pun urung dilakukan?”

Jika kemudian, artikel ini muncul, semata-mata karena saya resah dengan berbagai ketidakpastian yang dikeluhkan oleh beberapa teman di dalam barisan NII-MAZ–yang sepertinya juga dialami oleh sebagian besar kader-kader NII-MAZ–akan arah perjuangan mereka. Sementara di satu sisi, pengorbanan yang diberikan sudah begitu besar. Memang, meski saya sekarang berada di luar sistem, namun saya merasa bahwa masa 15 tahun keterlibatan saya di NII-MAZ (dengan berbagai konsekwensi terhadap diri dan keluarga saya) merupakan alasan bagi saya untuk tetap berhak ikut merasa resah.

Sekian dulu informasi singkat dari saya. Selengkapnya, nantikan saja sebuah buku yang sedang saya tulis—yang sementara ini akan saya beri judul “Mozaik Hitam Putih Al-Zaytun: Belajar dari Keunggulan dan Kelemahan NII Al-Zaytun”. Semoga, jika tak ada halangan, buku tersebut akan saya rampungkan pada akhir tahun ini.

Oh ya, bagi saya, buku tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral saya kepada seluruh jamaah dan mantan jamaah NII faksi Al-Zaytun. Melalui buku itu, kelak, saya ingin meluruskan berbagai informasi menyesatkan yang terlalu menghujat dan menempatkan kawan-kawan NII faksi Al-Zaytun sebagai orang sesat, serta mendudukkan organisasi itu sebagai organisasi tanpa nilai lebih. Padahal, organisasi ini memiliki begitu banyak potensi positif, yang bermanfaat bagi kemajuan umat dan masyarakat luas. Tapi, sebaliknya, saya juga ingin menyampaikan berbagai pergulatan internal (perpecahan, praktik KKN dan miss-orientation) yang pada akhirnya membuat organisasi ini melalui grafik menurun, setelah sempat mengalami era keemasan pada periode 1994-2002. Bagi saya, hanya satu hal yang membuat buku itu urung terbit, yakni jika terjadi rekonsiliasi di antara para elite NII-MAZ, antara mereka yang masih aktif “di dalam” dan yang berada “di luar sistem” untuk membicarakan masa depan organisasi, termasuk pertanggungjawaban aset organisasi yang saya perkirakan menyentuh angka triliun rupiah.
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: Di Imingi Cewek Cantik - Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby duren » Sat Apr 23, 2011 3:49 pm

Agar si Lady Rock mau mapir kemari , kita break music dulu deh. Ane curiga berat .. dia tuhh anggota KW9 - soalnya cakep benerr sih . Apa aku ni mo di kadernya jadi messanger NII ? :-k


Cyndi Lauper: "Money Changes Everything"

[youtube]3aK-UjR3Oj4&feature=related[/youtube]

==========
Anda pasti sudah banyak membaca / melihat pengakuan para korban di bebagai media .

Kita ambil dari yang gosip dulu yahh :partyman:
==========
BERITA DARI DALAM NII KW 9

kami di NII, setiap hari diberitakan informasi-informasi yang membuat semangat siapapun yang mendengarkan
sekarang berita terbaru nya yang saya dapatkan :

1. sapi dari new zealand akan segera di datangkan, apakah benar ?
2. lalu kemudian warga NII sekarang harus menghafalkan asmaul husna, ditambah yang ke-100 , yaitu Al-Mukri (Maha PemberI), temuan Panji Gumilang
3. Panji Gumilang bilang dia ingin hidup 100 tahun lagi
4. panji gumilang bilang negara ini butuh dia makanya dia nggak mau mati dulu
5. para mas’ul harus sedia setiap saat tak peduli istri dan anak yang masih berumur 3 bulan di tinggalkan tengah malam.
6. sholat shubuh tidak pernah
7. para mas’ul tak punya uang sama sekali
8. kalau sudah tak punya uang pinjam uang ke anggotanya
9. mengatakan keras kepala jika kami membantah
10. mereka selalu minta uang jika saya ketemu mereka
11. uang dan uang
12. uang lagi.. uang lagi
13. semakin banyak uang dosa kita makin tertebus

14. mencuci otaknya terlalu menyeramkan
15. sama sekali kasian
16. azaytun maunya apa?
17. bingung

============

Hasil Penelitian MUI tentang Pesantren (Mahad) Al-Zaytun yang Megah dan Mewah di Indramayu


Sejumlah negara tetangga telah mengambil sikap yang tegas terhadap pesantren Al-Zaytun (MAZ), Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat. Alim-ulama negara jiran Malaysia, misalnya, mereka menyatakan, pondok pesantren yang yang konon termegah se-Asia Tenggara itu berbahaya.

Bahkan, pemerintah Malaysia sudah menarik semua santrinya dari MAZ. “Istilah mereka adalah sudah meng-i’tiraf Al-Zaytun karena dianggap berbahaya. Kalau ada alumni MAZ di Malaysia, alumni itu tidak diakui ijazahnya,” kata K.H. Ma’ruf Amin, Ketua Tim Peneliti mahad Al-Zaytun Majelis Ulama Undonesia (MUI).

Hal itu bertolak belakang dengan kondisi di Indonesia. Dengan menangani kasus MAZ, pemerintah, dalam hal ini aparat berwenang, terkesan cuek alias acuh tak acuh. Lihat saja, sejumlah laporan dari masyarakat tidak ditanggapi. Bukti-bukti dan saksi-saksi, termasuk dari mantan pentolan dan korban Al-Zaytun juga tidak digubris. ](*,)

Sikap MUI, setali tiga uang, alias sami mawon. Tengok saja, Pimpinan Harian MUI terkesan lelet dan ogah-ogahan saat merespon hasil penelitian Tim Peneliti MAZ MUI, Tim bentukan MUI sendiri. Berbulan-bulan hasil Tim tersebut mandeg di MUI, alias tidak disosialisasikan ke masyarakat. Ada apa? \:D/

Padahal, Tim peneliti yang terdiri dari tiga belas orang ini kerjanya terbilang tidak mudah. Lihat saja, untuk menelusuri dan melacak berbagai informasi tentang MAZ, Tim melakukan kerja keras selama empat bulan. Kajian pustaka dan dokumentasi dilakukan dengan mengambil semua sumber yang dapat memberikan informasi komprehensif tentang sejarah, latar belakang berdirinya MAZ, sistem pendidikan MAZ, dan organisasi NII KW IX.

..........................

Keprihatinan K.H. Ma’roef Amin dan Prof. Ali Mustofa tentu saja beralasan. Pasalnya, hasil penelitian Tim MUI adalah jawaban yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Ada kesan, Pimpinan Harian MUI menunda-nunda publikasi hasil penelitian Tim MUI. Padahal, menunda-nunda sesuatu yang menjadi kepentingan masyarakat tanpa alasan yang jelas tentu saja tidak bisa diterima. “Tidak boleh menunda-nunda keterangan ketika umat membutuhkan. Ketika orang bertanya harus ada jawaban,” tegas Prof. Ali Mustofa.

Benarkah hasil Tim MUI telah merespon pertanyaan-pertanyaan umat? Mudahnya, kita lihat saja hasil penelitian yang sejak bulan Oktober tahun 2002 lalu telah diserahkan ke Pimpinan Harian MUI.

Kesimpulan dan Rekomendasi Tim MUI

Kesimpulan tersebut antara lain:

I. Ditemukan indikasi kuat adanya relasi (hubungan) antara ma’had Al-Zaytun (MAZ) dengan organisasi NII KW IX. Hubungan tersebut bersifat historis, finansial, dan kepemimpinan.

1. Hubungan historis: kelahiran MAZ memiliki hubungan historis dengan organisasi NII KW IX.

2. Hubungan finansial: adanya aliran dana dari anggota dan aparat teritorial NII KW IX yang menjadi sumber dana signifikan bagi kelahiran dan perkembangan MAZ.

3. Hubungan kepemimpinan: kepemimpinan di MAZ terkait dengan kepemimpinan di organisasi NII KW IX, terutama pada figur AS Panji Gumilang dan sebagai pengurus yayasan.


dst ... baca dilink tersebut

=================

KAMPUS BINUS SARANG NII SESAT


............Saya (TS) sangat lega karena dia akhirnya sadar, walaupun kehilangan 20 juta (dan sampai sekarangpun **** masih di teror oleh “mereka” untuk diajak ketemuan).”

Target korban mereka:
- Rata2 kebanyakan ialah mahasiswa yang baru masuk kuliah. Kenapa? karena mahasiswa yang baru masuk lebih cenderung “open minded”, mencari pergaulan dan sangat tertarik oleh hal-hal baru, yang tentu saja memudahkan mereka untuk mendoktrin sang mahasiswa baru tersebut, dan supaya mudah dilatih untuk mempengaruhi orang lain.
- Mereka tidak mencari orang yang **** untuk diajak berdialog, tapi justru orang yang antusias dengan hal-hal baru.
- Gak menutup kemungkinan anak SMA yang ditarget. Di SMA saya dulu juga ada korbannya.

Ciri – ciri sang “messanger”:
- Mereka adalah penipu kelas kakap, jika ditanya NII atau bukan, maka mereka akan menjawab semacam “maksudnya?” atau “wah, NII itu apa ya?”, dan hampir mustahil untuk menarik mereka kembali ke jalan yg benar.
- Cara berbicaranya sangat sopan.
- Sangat charming.
- Sangat memikat pada pandangan pertama.

- Membawa Al-Quran (Terkadang pakai mobile Qur’an lewat HP).
- Berpakaian rapih.
- Awalnya bisa juga dengan penawaran MLM.
- Mereka biasa beraksi di Mall, belakangan ini di kampus2 juga, yang sudah saya lacak seperti Bina Nusantara, Trisakti, Parmad, Untar, bahkan London School, kebanyakan mereka mengaku anak Psikologi (contoh: psiko UIN).
- Mereka selalu membuat anda kalah jumlah, ketika anda dipresentasikan, bersama beberapa orang, yang berpura2 mereka belum tahu ttg NII/NKA, padahal mereka adalah bagian NII juga.
- Terkadang mengaku berpendidikan tinggi (misal kuliah di mesir dll).
- Selalu bilang kalau kita itu “KAFIR”.
- Kalau ngutip Al-Quran, ayatnya selalu hanya sebagian. Ini senjata mereka yang paling dahsyat, karena mereka hanya mengutip sebagian2, mereka sambung2kan sehingga membuat definisi yang seperti keyakinan mereka. Ini contohnya http://members.tripod.com/darul_islam/ situs mereka, lihat cara mereka mengutip Al-Quran, selalu sebagian, dan terkadang tidak utuh.
- Mereka takut kalau kita terikat ke suatu organisasi seperti Abri, TNI, dll.
- Terkadang mereka menawarkan “quisioner” yang bertujuan supaya mengetahui sudut pandang kita terhadap agama. Dan biasanya tercantum kolom dimana anda harus mengisi alamat anda (Quisioner yang meminta alamat? Konyol sekali).
- Kalau lawan bicaranya perempuan, mereka akan mengirim laki-laki, sebaliknya kalau korbannya laki-laki, mereka akan mengirim perempuan, yang bertujuan supaya korban menjadi lebih simpatik.
- Jika mereka adalah teman dekat anda, biasanya dia akan menghubung2kan musibah yang menimpa anda (mungkin orang tua yang meninggal, atau orang dekat yg meninggal), dengan aliran NII/NKA mereka.( Duren : paling demen tuh klo ada semangka yang ber lafadz awlloh :lol: )
- Mereka biasanya juga adalah kakak kelas anda sendiri, yang memudahkan mereka karena sudah tau karakter anda.

Modus operasi mereka:
- Pertemuan pertama: Mereka memberi tahu kehebatan dan keajaiban (biasanya) tentang Al-Quran, yang bertujuan supaya si korban menjadi “open minded” dan mempercayai dan mengikuti mereka untuk pertemuan selanjutnya.

- Pertemuan kedua: Mereka mulai memberi tahu siapa mereka, bahwa kita masih belum hijrah (dan mengatakan kalau sekarang fase makkah, yang belum diwajibkan shalat dll) dan yang paling penting mereka mulai mengatakan kalau demi kelompok mereka, kita dihalalkan mencari uang sebanyak mungkin (bahkan uang orang tua) untuk kepentingan kelompok mereka (kenapa mereka ceplas ceplos berbicara seperti ini, karena di pertemuan pertama mereka telah membuat korban mereka terpikat).

- Pertemuan selanjutnya: Anda dibawa ketempat mereka. Saya tidak tau malapetaka apa yang tersimpan disana. Anda akan di”hijrah”kan oleh mereka. Setelah anda keluar dari tempat mereka, maka anda bukanlah orang yang sama lagi. Dan jika anda keluar/berbeda pendapat dengan mereka, mungkin anda di “murtad”kan oleh pemimpin mereka yang maksudnya ialah “halal/boleh dibunuh”.

Mohon sebarkan ini kesemua teman Muslim anda. Mereka dalam bahaya.

Kesaksian tentang NII/NSA:
- http://azaytun.wordpress.com/2005/01…lam-indonesia/ lihat, presiden NII saja kalau habis buang air tidak cebok, ( Duren: Cebok kok , tapi di gosok gosok pake batu ganjil ajah ) dan menterinya agamanya tidak bisa berbicara bahasa arab / inggris.
- http://www.commongroundnews.org/arti…=ba&sid=1&sp=0 tentang orang yang mengikuti mereka selama 10 tahun, dan akhirnya bebas.

Kalian tidak berhenti mempengaruhi orang lain, kami pun tidak akan berhenti memberitahu dan menolong orang lain tentang kejahatan kalian, CAMKAN ITU WAHAI PARA PENGIKUT NII

Saya mendengar kalian membicarakan tentang thread ini wahai para pengikut NII. Kalian kira saya hanya menyebarkan kebenaran lewat kaskus? SALAH BESAR. Sebentar lagi, khususnya anda para teman2 saya yang terbawa, anda tahu siapa saya, tetapi saya juga tahu siapa anda, sampai nama anda di NII-pun saya tahu, kalian akan mendapat ganjarannya.

===============

Mahasiswi Perekrut NII Ditangkap di Yogya


VIVAnews - Mahasiswi perekrut organisasi Negara Indonesia Islam (NII) ditangkap oleh Kepolisian Sektor Depok Barat, Sleman, Yogyakarta. Dia ditangkap di rumah kosnya di wilayah Gejayan, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perempuan berusia 21 tahun berinisial YT adalah mahasiswi semester VI Fakulatas Hukum salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta.

Sedangkan Korban, berinisial FP mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta itu sempat menyerahkan uang senilai Rp400 ribu kepada pelaku.

"Setelah akrab, pelaku meminta uang Rp2 Juta, namun karena korban hanya punya Rp400 Ribu, pelaku tetap terima," kata Kepala Bidang Humas Polda DIY, AKBP Anny Pudjiastuti kepada VIVAnews.com, Sabtu 23 April 2011.

Selain itu, korban mulai curiga ketika menilai pandangan agama pelaku yang tidak terlalu terlalu faham cara beribadah. ( Duren: mending ngangkat kapir FFI jadi messanger nya dehh )

"Karena FP (korban) agamanya kuat, taat salat wajib dan sunnah. Dia (korban) merasa curiga ketika habis salat wajib, lalu salat sunnah. Namun pelaku malah menanyakan, 'kamu Shalat apa lagi, ribet banget sih ibadahmu, (kata pelaku). Menilai pandangan pelaku yang aneh tersebut, korban melapor pada ketua RT, lalu ketua RT melaporkan kepada Polsek Depok Barat, Sleman," ungkap Anny.

Sementara itu, pihak Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakata sedang melakukan penyelidikan dan pengembangan kasus tersebut untuk mengungkap beberapa kelompok NII yang masih dalam incaran.
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: KW9 - Imingi Cewe Cantik- Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby duren » Sat Apr 23, 2011 11:32 pm

Judulnya tak ganti dan inilah kisah 6 series dari detik.com

Awas Gerakan Pencucian Otak NII(1)

Lebih Seribu Orang Jadi Korban Pencucian Otak NII

Image


Jakarta - Kisah Laila Febriani kembali mengingatkan kita bahwa ada sebuah gerakan mengatasnamakan agama selain teroris yang harus diwaspadai. Gerakan ini tidak melakukan pengeboman, tapi melakukan pencucian otak. Mereka berkeliaran di sekeliling kita. Gerakan ini terorganisir rapi dan telah memakan korban yang sangat banyak.

Lian adalah calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Bagian Tata Usaha, Direktorat Bandar Udara, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Perempuan berkerudung ini hilang Kamis (7/4/2011) lalu setelah makan siang dengan temannya. Ia kemudian ditemukan pada Jumat (8/4/2011) di Masjid Ata'awwun, Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Saat ditemukan, Lian dalam kondisi menyedihkan. Ia hilang ingatan.Jangankan ingat keluarganya, namanya sendiri bahkan ia lupa. Yang dia tahu namanya Maryam bukan Lian. Sang suami yang datang menjemput pun tidak dikenalinya. Saat sang suami, Teguh Simanjuntak, mengajaknya salaman, Lian langsung menepis tangannya dengan alasan bukan muhrim. \:D/

Penampilan Lian juga berubah. Ibu satu anak itu yang biasanya mengenakan kerudung berubah menjadi memakai cadar. Ia pun membawa dua buku bertema jihad dan terus-terusan membacanya. "Saya ke sini mau berjihad," kata Lian saat ditanya petugas masjid tentang tujuannya datang ke Masjid Atta'awwun.

Hingga kini Lian masih dalam masa pemulihan untuk mengembalikan ingatannya yang hilang. Polisi belum bisa memintai keterangan CPNS Kementerian Perhubungan itu.

Dari keterangan keluarga dan petugas masjid yang menemukannya, Lian mengaku sempat dibawa ke tempat pengajian yang isinya perempuan bercadar dan laki-laki berjenggot. Ia juga sempat dimandikan oleh kelompok tersebut. Sementara selama perjalanan, mata Lian ditutup dan terus-terusan dicekoki kopi hingga ia muntah-muntah.

Belum ketahuan siapa yang membuat Lian hilang dan kemudian hilang ingatan. Namun keluarga yakin Lian mengalami cuci otak. Karena belum bisa meminta keterangan Lian, polisi pun belum bisa menyimpulkan siapa pelaku cuci otak CPNS Kementerian Perhubungan ini.

Namun sejumlah kalangan meyakini Lian menjadi korban pencucian otak gerakan Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9). Pengamat terorisme yang juga mantan anggota NII Al Chaidar menyatakan NII biasa melakukan pencucian otak pada orang yang mengalami kekeringan spiritual.

"Biasanya mereka tidak menggunakan cara hipnotis. Mereka melakukan brainstorming kepada seseorang yang mengalami kekeringan spiritual untuk jalan menanamkan ideologi," ujar eks anggota NII, Al Chaidar.

Dalam gerakan NII, memang biasanya organisasi yang dilarang oleh pemerintah ini melakukan pencucian otak untuk merekrut anggotanya. Pencucian otak dilakukan untuk menanamkan ideologi hingga si korban bisa dibina sesuai tujuan mereka. Setelah cuci otak dan menjadi anggota NII, korban pun diminta berganti nama.

Kisah Lian sangat mirip dengan yang dialami oleh korban NII. Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center (NCC) Sukanto yakin Lian korban cuci otak NII. NCC sendiri hingga kini sudah menangani lebih dari seribu korban NII.

"Yang face to face 300 orang ada. Belum yang lewat seminar dan konsultasi via email, SMS. Sepertinya seribu lebih. Tiap hari saja kami terima sepuluh laporan lebih,"
\:D/ kata Anto, panggilan akrab Sukanto yang pernah menjabat camat NII untuk wilayah Tebet Jakarta Selatan.

Pencucian otak yang dilakukan NII, menurut Anto, merupakan gerakan yang rapi dan terorganisir. NII memiliki struktur seperti sebuah negara mulai dari presiden yang disebut khalifah sampai pejabat tingkat RT. Meski namanya membawa-bawa Islam, ajaran NII justru menyimpang dari Islam. Nama Islam hanya menjadi kedok untuk tujuan mereka mengumpulkan uang. Tujuan utama gerakan ini hanyalah mengumpulkan uang dengan menghalalkan segala cara. Uang bukan untuk membentuk negara Islam tapi digunakan untuk memperkaya pemimpinnya.

Sayangnya meski korbannya sangat banyak, sangat sedikit kasus korban NII yang ditangani polisi. Kasus korban NII mirip korban perkosaan yang malu melaporkan telah menjadi korban kejahatan gerakan NII. Hingga kini pun polisi belum berbuat banyak untuk menindak gerakan NII ini.


Awas Gerakan Pencucian Otak NII(2)


Misteri Pencucian Dosa Umi Aisyah

Jakarta - Laila Febriani (Lian) kini sudah bisa bercanda dan bermain. Ibu satu orang anak itu bahkan sudah mengingat panggilan lucu ke orang-orang sekitarnya. Meski demikian pihak keluarga terus berupaya mengembalikan secara untuh kenangan-kenangan Lian, terhadap keluarga maupun orang-orang di sekitarnya.

"Kita selalu putarkan video keluarga, perkawinan dan liburan keluarga. Kami harap dengan menonton video ingatan Lian bisa pulih," jelas Novita Hambali, adik Lian, saat berbincang dengan detikcom.

Pasca ditemukan di Masjid Attaawun, Puncak,Bogor, Jawa Barat, akhir pekan lalu, Lian memang praktis tidak mengenal siapa-siapa, termasuk keluarga dan anaknya yang masih berusia 1,5 tahun. Bahkan saat ditemukan pengurus masjid, Lian tidak mengingat alamatnya.

"Saat kami bertanya, Lian tidak mengingat siapa keluarganya juga alamatnya. Dia hanya mengingat nama Umi Aisyah dan wejangan-wejangannya," ujar Imam Masjid Attaawun KH Asep Ruchiyat saat ditemui detikcom.

Asep bercerita, pengurus masjid mulai melihat Lian pada Jumat, 8 April 2011, pukul 15.00 WIB. Saat itu Lian sedang duduk di taman depan masjid. Tatapan matanya kosong dan sudah lebih satu jam Lian yang saat itu mengenakan baju gamis hitam dan bercadar tidak pernah bergeser dari posisi duduknya.

Karena merasa ada yang aneh dengan kondisi si perempuan, Eddy, satpam masjid langsung menghampiri dan bertanya-tanya. Namun jawaban yang keluar dari mulut Lian lebih banyak kata-kata tidak tahu. "Dia hanya bilang sedang menunggu orang yang akan menjemputnya," terang
Asep.

Setelah ditanya-tanya, Lian kemudian minta tolong untuk diantar pulang. Tapi pengurus masjid kebingungan sebab saat ditanya alamatnya Lian terus saja berkata tidak tahu.

Pengurus masjid lalu mengontak petugas Polsek Cisarua. Tapi rupanya beberapa polisi yang datang dan bertanya-tanya ke Lian juga tidak mendapatkan jawaban soal identitas dan keluarganya. Kata Asep, saat ditanya nama asli, perempuan itu hanya mengatakan kalau dirinya bernama Maryam. "Kami saat itu sama sekali tidak tahu kalau perempuan yang ada di masjid adalah orang yang diberitakan hilang di sejumlah media," ujarnya.

Pengurus masjid semakin merasa aneh ketika Lian yang saat itu kondisinya sangat lemah tidak mau disuguhi makanan. Alasannya takut dirinya dilumuri dosa lagi. Pasalnya, Lian mengaku kalau dirinya sudah dibersihkan dosa-dosanya oleh orang yang bernama Umi Aisyah. Bahkan Lian juga mengaku sudah dimandikan di suatu tempat di wilayah Bogor sebagai prosesi pembersihan diri.

Sayangnya Lian tidak mengingat lokasi dimana ia dimandikan. Ia hanya bilang saat datang ke tempat pemandian itu banyak pria berjenggot dan perempuan bercadar. :partyman: Selebihnya Lian tidak tahu lagi.

Polisi dan pengurus masjid akhirnya bisa mengetahui keberadaan keluarga Lian keesokan harinya. Secara tiba-tiba Lian meminta secarik kertas dan pena. Selanjutnya, di kertas HVS yang diberikan, Lian mulai menulis angka 1 sampai dengan 10.

"Setelah menulis dia terlihat coba berkonsentrasi. Dan akhirnya dia menuliskan beberapa angka yang ternyata nomor telepon CDMA. Nomor telepon itu ternyata milik Teguh Simanjuntak, Suaminya.

Dari situlah misteri hilangnya Lian terbuka. Hanya saja polisi sampai saat ini belum bisa mencari tahu siapa orang yang menculik Lian dan mencuci otaknya hingga lupa ingatan.

Beberapa kalangan menduga aksi penculikan dan pencucian otak Lian dilakukan jaringan Negara Islam Indonesia (NII). Dan diduga Lian dibaiat untuk masuk Komandemen Wilayah (KW) 9 NII.

"Kalau dilihat dari ceritanya dia, itu model perekrutan NII. Karena dari dulu model perekrutan mereka sama," kata Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center Sukanto saat berbincang dengan detikcom.

Sebelum diajak hijrah, biasanya korban diajak diskusi bersama beberapa orang. Dalam pertemuan awal itu biasanya tidak langsung berbicara soal agama tapi soal apa saja yang membuat si target tertarik. Di tahap inilah proses doktrin sudah dimulai.

Ketika korbannya mulai respek, mereka langsung meminta korban bersiap diri untuk hijrah ke suatu tempat. Dan sebagai syarat hijrah biasanya mereka meminta korban untuk bersedekah sebagai jalan untuk membersihkan dosa-dosanya selama ini. Setelah berhijrah, korban lantas ganti nama.

Dalam gerakan itu pun, seorang perempuan biasa dipanggil Umi, dan yang laki-laki dipanggil abi. Sementara Lian menyebut perempuan yang mencuci dosanya adalah Umi Aisyah . Nah, dalam kasus Lian, kata Sukanto, modusnya sangat mirip sekali dengan gerakan cuci otak NII.

Namun polisi belum bisa mengaitkan penculikan Lian dengan NII. Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar, polisi belum menemukan bukti keterlibatan NII dalam kasus Lian.

"Kita harus mencari bukti dan keterangan saksi lebih dulu. Yang paling penting kita harus minta keterangan dari korban dulu untuk tahu apa yang terjadi dengan dirinya, korban sampai sekarang belum bisa dimintai keterangan," jelasnya.

Masalahnya, psikolog yang ditugaskan kepolisian belum bisa bertemu Lian lantaran keluarga masih menolak pemeriksaan. Alhasil, tim yang dipimpin Kepala dinas psikologi Polda Metro Jaya AKB Nurcahyo belum bisa bertemu Lian untuk proses penyembuhan sekaligus meminta keterangan.

"Kami tidak berani menanyakan soal kejadian yang menimpa Lian. Karena kami tidak ingin dia shock dan trauma. Makanya kami belum bisa memberi izin kepada polisi untuk memeriksanya. Kami khawatir dengan kondisi Lian," ujar Novita.

Awas Gerakan Pencucian Otak NII(3)

NII Kedoknya Islam, Ajarannya Setan

Image
Sukanto, Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center


Jakarta - Laila Febriani (Lian) yang hilang dari rumah dan menjadi hilang ingatan ditengarai menjadi korban pencucian otak. Pelaku pencucian otak diduga kuat adalah kelompok Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9).

"Kalau saya melihat peristiwa pencucian otak yang terjadi belakangan ini, seperti kasus Lian, ini dilakukan NII. Sebab cara perekrutannya identik dengan kelompok tersebut. Begitu juga targetnya," kata pengamat intelijen Wawan Purwanto.

Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center (NCC) Sukanto menyatakan lebih dari 1.000 orang menjadi korban pencucian otak aliran menyimpang ini. Modus yang dialami para korban NII ini mirip dengan yang terjadi pada Lian.

Sukanto sendiri orang yang sudah malang melintang di NII. Dia direkrut NII setelah lulus SMA pada tahun 1996 dan pernah menjabat sebagai camat NII wilayah Tebet, Jakarta Selatan. Setelah keluar dari NII, Sukanto dan rekannya sesama mantan NII, Ken Setiawan membentuk NII Crisis Centerdidirikan untuk membantu masyarakat yang menjadi korban NII sekaligus sebagai gerakan anti-NII. "Kasus Lian menurut saya ini NII juga. Modusnya sama," kata Ken Setiawan.

Gerakan pencucian otak yang dilakukan NII sangat rapi dan terorganisir. Dalam gerakan ini ada struktur layaknya negara. Pemimpin tertinggi atau presiden dalam NII disebut sebagai khalifah atau imam. Saat ini, khalifah NII dipegang oleh Abdussalam Panji Gumilang, pemimpin Pondok Pesantren Al Zaitun, Indramayu.

Banyak korban NII menyebut khalifah NII saat ini adalah Panji Gumilang. Pun Ketua MUI Ma'ruf Amin yang pada 2002 melakukan penelitian Ponpes Al Zaitun memberikan pernyataan yang sama. "Kami menemukan persamaan kaitan dalam kepemimpinan NII dan Ponpes Al Zaitun, yakni Panji Gumilang," kata Ma'ruf Amin.

Namun Ponpes Al Zaitun menyatakan sejauh ini tidak ada pernyataan Panji Gumilang yang memimpin Ponpes termegah di Asia Tenggara itu sebagai pemimpin NII. Al Zaitun ditegaskan sepenuhnya konsen pada masalah pendidikan. "Beliau tidak pernah ada pernyataan. Beliau sibuk mengurus pendidikan,beliau guru yang mengajar," kata Sekretaris Pesantren Al Zaitun Abdul Halim kepada detikcom.

Selain presiden, NII juga memiliki sejumlah menteri. Saat ini ada 11 kementerian di NII. Kemudian ada gubernur, bupati, camat, lurah hingga ketua RW dan Ketua RT.

"Ya kalau dikonfirmasi ke Al Zaitun mereka pasti akan bilang kita ini lembaga pendidikan. Tapi Panji Gumilang itu memang imamnya NII," kata Sukanto, mantan camat NII wilayah Tebet itu.

Bachtiar Rivai, mantan wakil camat NII untuk wilayah Karanganyar, Kebumen juga menyatakan Panji Gumilang atau Abu Toto merupakan pemimpin NII.

Meski memiliki struktur tidak ubahnya sebuah negara, karena NII merupakan gerakan bawah tanah maka jaringan ini beroperasi dengan sel tertutup. Sesama camat belum tentu kenal dengan pejabat NII lainnya. Anggota seringkali hanya mengenal perekrut dan gurunya. Sementara petinggi negara mereka tidak diberi tahu, mereka hanya diwajibkan percaya saja. Dan dalam NII, semua nama sudah bukan lagi nama aslinya.

"Kalau pemimpinnya Panji Gumilang pernah disebut pas acara NII. Tapi kalau pejabat lain saya tidak tahu karena dirahasiakan, kita hanya diminta percaya saja," kata Bachtiar.

Sama dengan pemerintahan Indonesia, menjadi pejabat di NII juga mendapatkan gaji. Bila pemerintahan membayar gaji dari pajak, NII membayar gaji pejabatnya dari infaq anggotanya yang disebutnya sebagai warga negara. Tentu saja gaji teratas dimiliki oleh khalifah. "Sebagai wakil camat saya mendapat Rp 150 ribu. Itu pada tahun 1996," :vom: ](*,) cerita Bachtiar.

Tapi meski mendapat gaji, uang itu tidak bisa mencukupi kebutuhan Bachtiar. Karena sebagai wakil camat dia juga terkena kewajiban mengumpulkan uang sedekah untuk NII minimal Rp 2 juta sebulan. Bila setoran wajib ke NII tidak memenuhi target, maka sang pejabat pun tidak mendapatkan gaji bahkan dihitung berutang. :rolling:

"Kalau utang tidak mampu dibayar ya berutang lagi. NII ini tidak ada bedanya dengan bank kredit," kata Bachtiar.

Sukanto menuturkan tujuan utama NII yang katanya mendirikan negara Islam semua hanya bohong. Yang sebenarnya tujuan NII hanyalah mengumpulkan uang bagi pemimpinnya."Uang setelah dikumpulkan dari warga dengan berbagai cara ya diserahkan untuk dimiliki atau dikorupsi pimpinan. Tidak pernah itu kemudian sungguh-sungguh akan membangun negara Islam," kata Sukanto.

Demi pengumpulan dana itulah berbagai cara dihalalkan oleh NII. Setiap orang yang direkrut oleh NII diwajibkan melakukan hijrah. Untuk hijrah tersebut harus membersihkan dosa dengan membayar sejumlah uang.

"Jumlahnya tergantung. Sebenarnya kalau di Jakarta Timur tidak banyak bisa hanya Rp 200 ribu untuk biaya hijrah. Tapi masalahnya calon diprovokasi. Kan di situ ada beberapa orang lainnya yang mendoktrin korban dan mereka akan bilang mislanya kalau saya sudah 20 tahun ya kalau membersihkan diri mandi habisnya sekitar Rp 10 juta. Nah di situ korban kemudian hanya mengikut saja," kisah Ken Setiawan.

Setelah membersihkan diri dari dosa, warga NII masih dikenai infaq wajib per bulan. Saat zaman Bachtiar, tahun 1996, ia harus membayar setiap bulan Rp 50 ribu sebagai infaq untuk negara. Selain infaq masih ada banyak biaya lainnya yang harus dikeluarkan seperti uang pembinaan dan sebagainya.

Untuk setoran kepada NII, bila warga tidak lagi bisa membiayai dari uangnya sendiri, mereka diajarkan melakukan berbagai tindakan kriminal. Tindakan kriminal tersebut menjadi halal dengan alasan yang jadi sasaran tindakan adalah orang kafir karena bukan anggota NII. Perbuatan kriminal tersebut mulai dari membuat proposal fiktif, menipu dan bahkan merampok.

Waktu menjadi lurah di Kayu Putih, Distrik Pulo Gadung, Jakarta Timur, Ken Setiawan memimpin pembantu rumah tangga (PRT) yang melakukan penipuan di rumah-rumah mewah. "Saat itu saya bisa mengumpulkan emas semeja dari aksi para PRT itu," kenang Ken yang setelah keluar dari NII sibuk berdagang ini.

Ken yang sudah bertobat dari NII ini menyimpulkan meskipun berkedok Islam, sesunguhnya ajaran NII adalah ajaran setan. Semua cara dihalalkan demi uang.

Awas Gerakan Pencucian Otak NII(4)

Jangan Takut Keluar NII, Ancaman Bunuh Cuma Bohongan

Jakarta - Anda punya teman atau saudara yang tiba-tiba suka bohong, tiba-tiba banyak teman yang sering berkunjung, tiba-tiba jadi super sibuk dan jarang pulang serta sering minta uang tanpa alasan yang jelas? \:D/

Waspadalah! Bisa jadi teman atau saudara anda itu menjadi korban pencucian otak aliran sesat. Suka bohong sampai sering minta uang dengan alasan tidak jelas, menurut Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center Sukanto merupakan ciri-ciri korban cuci otak Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9).

Pengamat intelijen Wawan Purwanto menyatakan gerakan perekrutan dan pencucian otak ini semakin masif sejak 2009. Gerakan ini berupaya merekrut sebanyak-banyaknya anggota. Dalam seminggu 1 anggota diperintah merekrut 7 orang. Jadi dalam sehari harus merekrut 1 orang.

Selain mengumpulkan orang para anggota juga diwajibkan mengumpulkan uang. Dahsyatnya, dari setiap anggota yang direkrut paling tidak bisa dimintai uang sedekah sebesar Rp 3 juta sampai Rp 6 juta.

Sementara menurut Sukanto, di NII setiap anggota dikenai kewajiban merekrut 20 orang setiap bulan.Saat ini NII menurut mantan camat NII wilayah Tebet, Jakarta Selatan ini, anggota NII mencapai sekitar 200 ribu orang. Dengan jumlah anggota itu, NII mampu mendapatkan uang miliaran setiap bulan.

"Di Jawa tengah itu dengan anggota 1.900 orang bisa mengumpulkan uang Rp 2 miliar sebulan. Di Jakarta dengan anggota 1.500 orang terkumpul hingga Rp 9 miliar," kata Sukanto.

Sukanto yang pernah menjabat sebagai camat NII untuk wilayah Tebet, Jakarta Selatan itu menyatakan NII saat ini sudah modern dalam merekrut anggotanya. Mereka juga memakai jejaring sosial baik Facebook maupun Twitter. Namun metode yang dilakukan hampir selalu sama.

Awalnya, aktivis NII akan mendekati targetnya dengan mengajak diskusi. Pertemuan awal itu biasanya tidak berbicara soal agama, tapi bisa soal topik apa saja yang membuat si target tertarik. "Di tahap inilah proses doktrin sudah dimulai," ungkap Sukanto pada detikcom.

Setelah dilakukan pertemuan 2-3 kali, si target akan dipersiapkan hijrah. Namun, target akan diminta memberikan sedekah untuk membersihkan diri dari dosa-dosa mereka selama ini. "Nilai sedekah ini akan disesuaikan dengan tingkat perekonomian si target sendiri. Bisa mulai Rp 100 ribu sampai Rp 10 juta," kata Anto, panggilan akrab Sukanto yang kini sibuk menggelar seminar tentang kesesatan NII.

Setelah itu, target akan hijrah dengan dijemput di suatu tempat dan lalu dibawa dengan mata tertutup. Begitu sampai di lokasi yang dituju, target akan langsung dibina pada malam harinya, sehingga mau menyatakan dirinya masuk warga NII. Pembinaan itu akan dilakukan berjam-jam tanpa henti, sehingga target mau menyatakan diri masuk NII, lalu disumpah (baiat).

Namun modus tersebut merupakan modus dalam situasi normal. Dalam situasi darurat untuk mencapai target, aktivis NII akan melakukan segala cara seperti menculik dan memaksa sesorang untuk dibaiat. "Itulah mengapa banyak orang hilang," kata Sukanto.

Untuk mendapatkan targetnya, tim rekruitmen NII ini akan mencari korbannya ke sejumlah tempat, seperti pasar, mall, sekolah, kampus. Hal ini diakui mantan Camat NII Wilayah Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah bernama Bachtiar Rivai yang sempat menjadi anggota NII tahun 1994-1996. Bachtiar sendiri sempat menjadi warga NII karena pengaruh kakak kelasnya sewaktu kuliah di UGM.

Awalnya Bachtiar berpikir masuk NII akan berdampak bagus bagi keimanannya. Tapi setelah bergabung ternyata tidak ada pembangunan jiwa yang dialaminya. Januari 1996, Bachtiar memutuskan keluar dari NII.

"Ini kan kayak sistem downline MLM. Semakin tinggi jabatannya semakin lama di dalam saya lihat banyak penyimpangan. Kalau salat diejek, ngapain jengkang-jengking salat, mending Tilawah, maksudnya merekrut orang," kata Bachtiar.

Orang yang masuk jaringan NII, kehidupannya akan berantakan. "Saya saat itu tidak semakin baik, malah semakin buruk. Kuliah nggak beres, nilai memburuk, hubungan sama keluarga dan teman buruk dan dingin. Kehidupan tidak nyaman, karena teman banyak yang menjauh,” tutur pria yang terpaksa kuliah hingga 10 tahun ini gara-gara ikut NII.

Kehidupan orang yang masuk NII berantakan karena anggota NII diwajibkan merekrut sejumlah orang setiap bulannya. Belum lagi target uang yang besar. Para anggota itu harus bolos kerja dan kuliahnya untuk memenuhi target NII.

Sukanto mengakui banyak juga warga NII yang keluar karena tidak tahan tekanan ‘jihad’ itu. Jihad dalam NII diartikan mencari uang dan mencari orang. Tapi banyak juga yang tidak memiliki keberanian meninggalkan komunitas dan jaringan itu. Beda dengan Bachtiar, dengan keberanian dan ketegasannya mengatakan pada rekan dan atasannya menyatakan keluar dari NII.

Risiko yang diambilnya sampai saat ini Bachtiar terus menerima terror. "Sampai sekarang teror ada, sebatas SMS saja dikatakan murtad, munafik, menggembosi negara, disebut pengkhianat dan semua yang ada di kebun binatang keluar semua. Tapi saya tak tanggapi itu. Kalau ancaman fisik belum pernah ada. Ya, hanya omongan lewat SMS akan dibunuh," ujarnya. \:D/

Sukanto juga menyemangati orang yang mau keluar dari NII. Selama ini NII memang digembar-gemborkan militan. Namun menurut Sukanto, militan di NII hanya militan bohong-bohongan. Ancaman pembunuhan tidak akan dilakukan karena itu hanya gertak sambal. Hingga kini tidak ada kasus mantan anggota NII dibunuh.

"Yang sudah keluar dan berani melawan, berani bercerita justru dianggap virus sehingga ditinggalkan dan tidak ada pembunuhan," kata Sukanto.


Awas Gerakan Pencucian Otak NII(5)

Pencucian Otak Dilarang dalam Islam :green:

Jakarta - Orang-orang yang menjadi target pencucian otak secara psikologi dipastikan memiliki masalah kepribadian. Masalah kepribadian ini dikarenakan tidak mampu menangani masalah yang ada di dalam dirinya sendiri, keluarga, lingkungan atau memang sedang mencari jati diri.

"Karena dalam kasus ini, yang harus diteliti juga soal ini lebih jauh, karena bias saja persoalan ini terhalusinasi," kata pengamat politik sosial dari Univiersitas Airlangga (Unair) Kacung Marijan pada detikcom.

Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center Sukanto mengungkapkan korban NII umumnya adalah orang-orang yang tertutup dan kurang perhatian. Dengan masuk NII mereka seperti mendapatkan banyak teman dan mendapatkan perhatian.

"Pada awalnya masuk NII mengasyikkan karena mendapat komunitas baru, ada pengganti teman. Kita tiba-tiba menjadi hebat dari yang bukan siapa-siapa, di NII lantas diangkat sebagai rasul. Di NII itu semua anggota adalah rasul. Tapi keasyikan itu tidak akan lama kita akan sadar telah diperas," kata Sukanto yang pernah menjabat sebagai camat NII wilayah Tebet Jakarta Selatan ini.

Sementara itu, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hasyim Muzadi mengatakan praktek pencucian otak sangat dilarang dalam ajaran Islam. :butthead: Karenanya ia meminta agar aparat kepolisian dan keamanan untuk segera memberantas serta serius menyelidiki secara tuntas kasus ini.

"Sebab hal semacam ini mengingatkan saya akan kejadian sebelum tahun 19665. Ini bisa saja dilakukan oleh kelompok ekstrimis Islam, bisa juga dilakukan kaum atheis tak bertuhan yang menyusup kemana-mana dan mengaduk-adukan dengan agama," kata Hasyim.

Hasyim pun mencontohkan kasus kerusuhan Temanggung yang terpancing hujatan seorang pendeta, yang ternyata juga sering menghujat Kristen dan Katolik. Kasus Batu, Malang seorang pendeta menginjak Alquran, ternyata baru masuk agama Kristen dua hari. Kasus penusukan pendeta di Cikeuting, Bekasi dan Cikeusik Pandeglang, semua tidak pernah terungkap dengan benar. Hasyim menambahkan, sejak dari dahulu soal NII ini sudah ada dengan modusnya yang selalu berganti-ganti.

"Tapi kalau untuk urusan bentrokan fisik ya dilakukan dua kelompok ini, ekstrimis Islam dan kaum atheis tak bertuhan itu yang selalu mengobok-obok. Modus pencucian otak memang selama ini belum terjadi, termasuk di kalangan ekstrimis. Tapi ini model seperti ini bisa saja dimanfaatkan oleh kelompok atheis untuk mengesankan ini dilakukan kelompk ekstrimis Islam,” kata Hasyim.

Dalam kasus ini, Hasyim kembali menyatakan agar aparat intelijen Indonesia bekerja secara optimal agar masyarakat tidak terus diadudomba. Selain itu, peran para ulama untuk memberikan pemahaman agama yang benar, termasuk memberikan informasi soal keberadaan ekstrimis dan kaum atheis itu kepada masyarakat.

"Saya kira ini kasus multidimensi. Kontradiktif ya, tidak hanya di dalam agama saja, tapi juga soal ekonomi, perdagangan, politik dan hokum dan soal social lainnya. Nah siapa yang selalu bermain bisnis bencana seperti ini? Ini yang harus diungkapkan," ujarnya.

Pemerintah dalam hal ini Menteri Agama Suryadarma Ali :butthead: meminta agar masyarakat tidak cepat terpengaruh oleh ajaran baru yang berpotensi menyesatkan dan bertujuan jahat.

"Imbauan saya kepada masyrakat agar berhati-hati menerima pandangan-pandangan baru, menerima ajaran baru. Jangan cepat terpengaruh karena pandangan-pandangan baru itu perlu dipikirkan secara tenang, matang, disaring dengan demikian agar bisa kita tentukan apakah itu cocok. Kita masyrakat harus waspada," ujar pria yang akrab disapa SDA itu.

Kepolisian sampai saat ini belum menemukan indikasi keterkaitan NII dalam kasus Lian. Polisi pun belum bisa menduga siapa pelaku pencucian otak karena kondisi kejiwaan Lian yang belum pulih dan bisa dimintai keterangannya.

"Kita tidak bisa menuding siapa pelakunya tanpa fakta," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Baharudin Djafar. :butthead:

Meski demikian Mabes Polri mengimbau semua Polda agar aktif menyelidiki kasus NII. "Kita harapkan semua polda aktif untuk melakukan penyidikan penyelidikan (kasus NII)," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam. :butthead:

Menurut Anton, kasus pencucian otak yang dilakukan NII memang pernah hidup di Indonesia. Saat itu, Polri telah berhasil menumpasnya dan mengembalikan para korban. "Dulu Jabar pernah dibongkar, mudah-mudahan di tempat lain demikian," jelas Anton.

Awas Gerakan Pencucian Otak NII(6)

NII KW 9 Asli Apa Tiruan

Jakarta - "Yang benar juga akhirnya menang. Itu benar, benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar."

Pramudya Ananta Toer, menuliskan kalimat itu dalam novelnya 'Sekali Peristiwa di Banten Selatan'. Novel ini sedikit mengungkap perjuangan TNI bahu membahu bersama rakyat memberantas DI/TII di Banten Selatan.

DI adalah Darul Islam yang didirikan oleh Sekar Marijan Kartosoewiryo dengan tujuan menentang penjajah Belanda di Indonesia. Tapi setelah makin kuat, Kartosoewiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 17 Agustus 1949 dan menamai tentaranya dengan nama Tentara Islam Indonesia (TII).

Kartosuwiryo yang dalam NII disebut sebagai imam atau pemimpin tertinggi memimpin gerakan ini dari tahun 1942 hingga tahun 1962. NII memiliki empat wilayah yakni Jawa Barat dan sekitarnya, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Gerakan NII kocar-kacir setelah pemberontakan di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Gerakan ini dilumpuhkan lewat penumpasan operasi militer yang disebut operasi Bharatayuda. Pada tanggal 4 juni 1962, Kartosuwiryo berhasil ditangkap oleh pasukan Siliwangi di Gunung Geber, Majalaya, Jawa Barat. Akhirnya Kartosuwiryo dijatuhi hukuman mati pada 16 Agustus 1962.

"Setelah dihancurkan pada 1962, NII bisa dikatakan lumpuh untuk yang di Pulau Jawa. Tapi di Aceh dan Sulsel masih jalan, masih bergerilya di hutan dan melakukan perlawanan,"kata peneliti NII Imadadun Rahmat kepada detikcom.

Eksekusi mati atas Kartosuwiryo membuat NII vakum selama 10 tahun. NII kembali bergeliat di bawah pimpinan Tengku Daud Beureueh pada tahun 1974. Tengku Daud Beureueh pada tanggal 20 September 1953 memproklamasikan daerah Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia di bawah pimpinan Kartosuwiryo. Daud memimpin NII hingga tahun 1979.

Setelah Daud, kepemimpinan NII beralih ke kader-kader Kartosuwiryo. Pada tahun 1978, Adah Jaelani meneruskan kepemimpinan NII hingga tahub 1987. Adah ditangkap dan dipenjara pada tahun 1987 dan baru bebas pada tahun 1993.

Imam NII lalu diambil alih oleh Ajengan Masduki. Kiai Jawa Barat ini mengomando NII dari 1987 hingga 1990. Namun Ajengan Masduki kemudian pindah ke Malaysia. Di negeri jiran ini, Masduki bergabung dengan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir :finga: mengembangkan jaringan Jamaah Islamiyah.


"Waktu itu tahun 1990-an awal JI masih tunduk pada NII," kata Imdadun.

Karena Ajengan Masduki pindah ke Malaysia, kepemimpinan NII di Jawa dilanjutkan oleh Haji Karim hingga tahun 1992. Kemudian Haji Karim meninggal dunia, imam NII lalu diambil alih Abu Toto atau Panji Gumilang, pimpinan Pondok Pesantren Al Zaitun, Indramayu. "Kesaksian banyak mantan NII, Panji Gumilang memang menjadi imam NII," kata Imdadun.

Panji Gumilang selama 1992-1994 menjadi imam sementara NII. Pada 1994, setelah Adah Jaelani bebas dari penjara, NII kembali dipimpin Adah. Namun tahun 1996, NII kembali diserahkan pada Panji Gumilang karena Adah sudah tua. "Sampai sekarang Panji Gumilang masih menjadi imam NII," tegas Imdadun.

Lalu NII KW 9 yang ditengarai melakukan pencucian otak terhadap Laila Febriani (Lian) masuk dalam NII yang mana? Apakah NII KW 9 masih melanjutkan perjuangan Kartosoewiryo untuk membangun negara Islam?

Mustofa B Nahrawardaya, Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), menyatakan NII yang masih beroperasi sekarang bukan lagi NII yang murni. NII termasuk NII KW 9 merupakan NII palsu yang disusupi intelijen. ( Duren : Terbukti dari kasus pemilu dll )


"Semenjak pergantian imam dari Kartosoewirjo kepada para penggantinya sebelum terbentuk Komandemen Wilayah IX (atau lebih dikenal NII KW9), NII sudah tidak lagi murni gerakan NII. Gerakan pembentukan negara di bawah bendera agama Islam itu, sudah disusupi (diinfiltrasi) oleh intelijen. Alhasil, NII bentukan intelijen ini sungguh jauh benar karakternya dengan NII yang semua dirintis Kartosoewirjo, Daud Beureuh," kata Mustofa.

Sementara Imdadun menjelaskan NII itu memiliki 10 daerah militer yang disebut komandemen wilayah. NII KW 9 membawahi Jakarta dan sekitarnya dan merupakan gerakan NII yang paling berkembang dan solid dibanding NII lainnya. "KW 9 ini ya jaringannya Al Zaitun itu pimpinan Panji Gumilang itu," kata Imdadun.

Sementara itu, NII juga memiliki banyak kelompok sempalan. Kelompok sempalan ini misalnya yang dikembangkan oleh Ajengan Masduki dan Baasyir serta Abdullah Sungkar. Pada tahun 1990, Masduki dan Baasyir berkonflik. Akhirnya Baasyir dan Abdullah Sungkar mengembangkan JI. Sementara kelompok yang setia pada Ajengan Masduki membentuk jaringan Angkatan Mujahidin Nusantara (AMIN). Kelompok AMIN ini, menurut pengamat militer Wawan Purwanto, juga melakukan pencucian otak dalam merekrut anggotanya.

Sampai saat ini, menurut Imdadun, masih terjadi silang pendapat tentang NII yang asli dan NII yang palsu. Yang jelas NII yang masih murni di bawah kepemimpinan Kartosoewiryo. Setelah Kartosoewiryo dieksekusi mati, NII vakum dan bergeliat lagi tahun 1971 dan mulai terjadi saling klaim tentang NII yang asli.
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: KW9 - Imingi Cewe Cantik- Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby kalangkilang » Sun Apr 24, 2011 1:58 am

@bung duren...

salut atas kerja kerasnya bung.. =D> =D>
saya berharap topik anda ini semakin membuka mata dan hati nurani muslim di indonesia..

salam damai

kalangkilang
User avatar
kalangkilang
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2696
Joined: Sun Sep 26, 2010 12:52 am
Location: lagi menulis dibuku

Re: KW9 - Imingi Cewe Cantik- Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby duren » Sun Apr 24, 2011 6:35 pm

Siapa Panji Gumilag atau Abu Toto ?

Saya mendapat dua versi

Versi I alias versi baik baik :green:

Image
    Nama: Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
    Lahir: Gresik, 30 Juli 1946
    Agama: Islam
    Istri: Khotimah Rahayu
    Anak:
    -Imam Prawoto,
    -Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
    -Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
    -Khoirun Nisa (perempuan),
    -Muhammad Hakim Prasojo,
    -Sofyah Alwida (perempuan),
    -Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
    Ayah:Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam Rasydi)
    Ibu:

    Pengalaman Pendidikan:
    -IAIN Ciputat
    -Pondok Pesantren Gontor
    -Sekolah Rakyat di Gresik
    -Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
    Pengalaman Pekerjaan:
    -Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
    -Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat

Pelopor Pendidikan Terpadu


Syaykh Abdussalam Panji Gumilang adalah personifikasi Ma’had Al-Zaytun. Pendiri dan pemimpin pondok pesantren modern (kampus) ‘Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi serta Pengembangan Budaya Perdamaian’ ini sungguh seorang pelopor pendidikan terpadu (kampus peradaban). Alumni Ponpes Gontor dan IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah :finga: Ciputat ini seorang guru yang mengandalkan manajemen ‘kekitaan’ bukan ‘keakuan’. :rolleyes:

Menurut pria kelahiran Gresik 30 Juli 1946 ini, pendidikan itu harus diciptakan sebagai gula dan ekonomi sebagai semutnya. Jangan malah ekonomi yang diciptakan sebagai gula dan rakyat (pendidikan) jadi semutnya. Bila pendidikan sebagai gula dan ekonomi sebagai semut, maka semut (ekonomi) akan mendatangi orang yang terdidik. Karena semut adalah makhluk yang mengerti kualitas dirinya terhadap gula, sehingga semut tidak akan terkena sakit gula.

Suatu cita-cita mulia dari Syaykh A.S Panji Gumilang, sejak kecil, adalah menjadi guru dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Dengan maksud agar peradaban umat manusia tidak putus, maka dengan berbagai kemampuan yang ada padanya, ia berusaha menyambungnya. Itulah cita-citanya mendirikan pesantren ini, di samping untuk merangkum kehendak bangsa Indonesia sendiri, menjadi bangsa yang diperhitungkan di antara bangsa-bangsa lain.

Pria yang sejak kecil bercita-cita jadi guru, dan yang hingga kini masih tetap seorang guru, ini berpendapat bahwa peradaban tersebut harus disambung dengan manajemen ‘kekitaan’ bukan ‘keakuan’. Sebab menurutnya, keakuan umurnya sangat pendek, hanya terbatas. Tapi kalau kekitaan berumur lama dan tidak pernah putus. “Kekitaan itu mempunyai satu kekuatan yang tidak pernah dapat diruntuhkan oleh siapa pun kecuali oleh yang membuat kita itu sendiri,” katanya lebih jelas. Kekitaan itu pulalah yang dipakainya dalam membangun dan mengelola Ma’had Al-Zaytun ini.

Sedikit berkisah mengenai awal mula adanya ide atau cita-cita pendirian lembaga pendidikan ini. Dia mengata-kan bahwa sebagaimana orang pada umumnya selalu punya cita-cita untuk berlaku, berbuat dalam kebaikan, demikian juga halnya dengan dirinya.
Dimotivasi sosok ayahnya yang mempengaruhi menguatnya cita-cita menjadi guru dan mendirikan lembaga pendidikan terpadu. Ayahnya, seorang pemimpin, seorang Kepala Desa. Walaupun hanya sebagai kepala desa, namun ayahnya ini ditakdirkan oleh Ilahi menjadi orang yang suka mendidik lingkungan, sampai-sampai mendirikan sebuah sekolah yang dinamai orang ketika itu ‘Sekolah Arab’ karena setiap hari mengajarkan baca Al-Qur’an, dan menulis Arab.

Di samping itu, Sang Ayah juga seorang pejuang. Sebagai seorang pejuang, Sang Ayah sengaja mempunyai banyak nama, sekali waktu dipanggil Panji Gumilang, Syamsul Alam, Mukarib, atau Imam Rasyidi. Melihat Sang Ayah yang demikian, tumbuh perasaan bangga dan senang pada diri Panji Gumilang kecil. Bangga melihat orang tuanya yang kepala desa, yang konon setiap hari harus lapor kepada Belanda, tapi sekaligus juga pejuang dan mendirikan sekolah.

Dalam kebanggaan Panji Gumilang kecil itu, timbul juga rasa penasaran melihat sikap ayahnya. “Pihak mana dipilih oleh orang tua ini?” begitu pertanyaan dalam hatinya saat itu. Maka ia akhirnya bertanya, “Ayah! Kenapa harus laporan ke Ndoro Asisten Wedana?”.
“Karena dia yang menjadi pimpinan di kecamatan ini,” jawab Sang Ayah.
“Mengapa ayah ini kok ikut berjuang?”
“Karena kita akan merdeka”.
“Mengapa Ayah membuat sekolah?”
“Karena kamu dan kawan-kawanmu harus pintar nanti”. Begitu kira-kira jawaban Sang Ayah saat itu, yang semakin membanggakan hatinya.

Akhirnya kalau petang, Panji Gumilang kecil masuk dalam sekolah yang didirikan orang tuanya itu. Sedangkan pagi masuk ke Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Dasar sekarang. Sejak dari sanalah tumbuh cita-citanya ingin jadi guru. Bahkan walaupun orang tuanya menginginkannya jadi kepala desa, ia tetap bersikeras menjadi guru.

Awal keinginannya menjadi guru, terpantik ketika dirinya masih kecil yakni antara tahun 1952 atau 1953, saat ada program pemberantasan buta huruf (PBB). Ketika itu ia masih kelas satu SR. Begitu pulang sekolah ia ditanya orang tuanya, “Kamu diajar apa tadi?” Kemudian ia jawab, “Ini pak, diajari baca po,lo,wo, go, ro, no, go, sos, ro, to, mo, ho,…”. Masa itu yang diajarkan bukan a,b,c,d, tapi po, lo, wo, dan seterusnya. Orang tuanya pun tanya lagi, “Kamu sudah bisa nulis?” Dijawabnya, “Bisa pak”. Lalu ayahnya menganjurkan: “Nanti malam, kamu mengajar ya…!”

Ia pun lantas mengajar pemberantasan buta huruf orang-orang yang sudah sepuh. Ia merasa bangga dan senang. Pagi-pagi ditanya Pak Guru, disuruh menulis, ia bisa. Malam harinya, ia mengajar beberapa orang buta huruf, sekaligus mengulang pelajaran yang diterima di sekolah pada pagi harinya. Mengajar orang-orang sepuh itu, membangkitkan perasaan sangat senang.

Saat itu suasana belajar dan mengajar itu membuatnya sangat senang. Maka kalau ia dapat nilai 10 atau 9, ia langsung menempelkannya di pipi, lalu lapor pada orang tuanya, “Pak, ini 9!” katanya mengenang.

Sejak itu, rasa senangnya jadi guru pun tumbuh. Orang-orang sepuh itupun menjadi melek huruf. Hal ini menanamkan rasa bangga tersendiri baginya.

Bersamaan setelah tamat SR, sekolah yang tadinya dibina oleh orang tuanya, akhirnya diambilalih sebuah yayasan. Orang tuanya sudah tidak mengurus lagi. Pengambilalihan Madrasah ini berkesan bagi diri dan keluarganya. Bersamaan dengan itu, ia pun kemudian meninggalkan Gresik, kampung kelahirannya itu. Tidak mau tinggal di sana lagi. Tekadnya, ia harus belajar jauh entah ke mana. “Biar bagaimanapun saya harus belajar jauh. Jauh dari kampung,” itulah yang selalu ada di benaknya.

Tepatnya pada tahun 1961 ia pun melanjutkan sekolahnya ke Ponpes Gontor. Di sana, di samping belajar, ia juga sudah sangat tertarik mengamati cara mendidik dari berbagai guru. Sehingga ketika suatu kali ia mendapat didikan yang keras dari seorang guru yakni pernah ditempeleng, juga pernah dicukur rambutnya, kenangan itu masih diingatnya sampai sekarang. Bukan karena dendam, tapi karena ia tidak setuju dengan cara mendidik seperti itu.

Pengalaman itu akhirnya begitu cepat menanamkan hal positif dalam hatinya. “Kalau saya punya tempat pendidikan, saya akan memberi kebebasan, tidak akan aku cukur rambutnya, tidak akan aku hukum dalam bentuk kekerasan fisik, aku hanya akan beri isyarat agar dimengerti,” begitulah kata hatinya ketika itu yang akhirnya dibuktikannya kemudian sepanjang karirnya sebagai guru, terutama di Ma’had Al-Zaytun.

Mengenang masa sekolah di Gontor, ia mengatakan bahwa walaupun dulu tempat itu terasa sangat jauh sekali, namun ia sangat mengagumi sekolahnya tersebut. Gresik dan Gontor yang berjarak 210 km itu terasa tambah jauh karena bus waktu itu masih bus kayu yang setiap 10 km harus diengkol lagi. Sehingga jika naik bus, subuh berangkat, magrib baru tiba.

Sekolah di Gontor sangat membanggakannya. Selama enam tahun sekolah di sana, ia banyak memetik hikmah, pelajaran dan ilmu yang kemudian sebagian ditularkannya dalam mendidik santri di Ma’had Al-Zaytun ini. Bahkan karena kebanggannya dengan Pesantren Gontor tersebut, anaknya yang pertama sampai yang keempat di sekolahkannya di sana.

Selesai dari Gontor, pada tahun 1966 ia datang ke Jakarta bertepatan setelah peristiwa Gerakan 30 September, sehingga suasananya masih belum tenang. Karena itu, orang tuanya awalnya tidak terlalu mengijinkan, karena konon kata orangtuanya, Jakarta adalah tempat kekerasan. “Semua bisa terjadi di Jakarta, kamu belum punya kawan di sana, karena kami tidak punya kawan di sana,” begitu ucapan orang tuanya. “Saya ingin membuat kawan bertambah di sana, doakan saja,” jawabnya meyakinkan orang tuanya.

Di Jakarta, ia kemudian masuk ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Ciputat, di mana saat itu masih belum seperti sekarang ini. Jalan ke Pasar Jumat sampai ke Ciputat itu masih tanah merah. Kendaraan dari Kebayoran Lama ke Ciputat juga hanya ada sampai pukul empat sore.

Mendidik sudah merupakan bagian dari hidup pria ini. Dalam membangun kehidupan manusia, baginya pendidikanlah yang terutama dan harus diutamakan. Maka hampir tidak ada waktunya yang terlewat selain dari mendidik dan mendidik. Sampai hari ini dia mendidik. Ketika kuliah di IAIN, ia membuat sekolah di Rempoa. Waktu itu dinamakan Darussalam. Ia mengajar di Madrasah serta di sekolah lain yang berdekatan dengan Madrasah itu. Malamnya mengajar, paginya sekolah. “Hingga hari ini saya adalah seorang guru,” katanya bangga.

Selama di IAIN, ia mulai sering berkumpul dengan kawan-kawannya, dan mulai merencanakan mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bisa mewakili kemajuan Indonesia. :rolleyes: Keinginan-keinginan itu semakin kuat tapi tak pernah kunjung terwujud. Namun walaupun begitu, dia terus bergerak dan berkarya.

Dalam upayanya itu ia pernah membuat gambar dan lain sebagainya, kemudian didagangkannya pada kawan-kawannya. Namun kawan-kawannya tidak begitu percaya, bahkan menganggap idenya itu suatu ide yang tidak masuk akal. “Ah…kamu ini gila, bagaimana kita bisa membuat seperti ini,” begitulah kadang sambutan kawannya ketika itu.

Namun ia tetap yakin, “Oh…bisa kalau kita buat, kalau nggak kita buat, memang nggak bisa,” katanya menjawab temannya. “Kapan?” tanya kawannya itu lagi. “Jangan tanya kapan, tapi mau apa tidak?” jawabnya lagi pada kawannya. Ternyata kesabaran dan upayanya meyakinkan kawan-kawannya itu ber-hasil juga. Akhirnya, mereka banyak yang mau.

Kemudian ia mulai mencari lokasi ke seluruh Indonesia, sampai ke Lampung, Kalimantan. Walaupun menemukan tempat yang luas tapi susah untuk dibangun. Maka ketika ia menemukan lokasi di Mekar Jaya, menurutnya sama seperti menerka kelahiran sendiri, tidak tahu akan lahir kapan dan di mana.

Pembelian tanah yang menjadi lokasi Ma’had Al-Zaytun ini hanya diawali dengan berbincang-bincang di ujung kampung Mekar Jaya itu. Seseorang bertanya, mau beli tanah? Ia jawab jalan-jalan saja. Walaupun sudah berusaha untuk tidak memberitahu bahwa ia sedang cari tanah, namun karena orang itu mengetahui ada tanah mau dijual, akhir-nya seolah membujuknya. Ia pun merespon dan bersedia meninjau dan akhirnya cocok.

Awalnya tanah yang dibeli hanya 65 ha. Namun dengan bantuan kawan-kawannya, kemudian bisa terbeli seluas 1.200 ha( Duren: HEHEHE ). “Untuk memulai segala sesuatu itu harus dari kita, apa yang ada pada kita, kita dagangkan, kita dirikan tempat ini bersama-sama. Untuk 65 ha lahan pada tahun 1996 itu, kita membelinya bersama sekitar 30 orang kawan-kawan,” katanya menjelaskan.

Menurutnya, lokasi Al-Zaytun sekarang pun bukan suatu yang direncanakan. Sebelumnya mereka merencanakan tempat yang agak lebih dekat dengan Jakarta. Mereka sudah mendapatkan tempat yakni yang sekarang ditempati oleh pabrik Texmaco di Subang, Purwakarta. Ketika itu sudah setuju, hargapun sudah setuju, namun suatu yang tidak dipahami terjadi, akhirnya tidak jadi membeli tempat itu.

Begitu panjang perjalanan untuk memulai citi-citanya itu namun itu semua tidak dianggapnya begitu susah. Kalau hari ini orang belum mau, tidak usah dikatakan susah, begitu prinsipnya. “Hanya bikin orang percaya, yang tentunya kadang ada yang sehari sudah percaya, ada yang setahun, ada yang sebulan. Tapi yang jelas, kita tidak akan pernah berhenti mengajak untuk kebaikan,” katanya.


= Semangat Pesantren & Keluarga


Ma’had Al-Zaytun yang dimulai pada tarikh 13 Agustus 1996 yang merupakan usaha unggulan Yayasan Pesantren Indonesia. Lembaga pendidikan yang diresmikan oleh Presiden Habibie 27 Agustus 1999 ini dalam pendidikannya mempunyai landasan semangat pesantren yaitu kemandirian atau enterpreneurship namun dipadukan sistem modern. Pesantren spirit but modern system.

Prinsip dan spiritnya adalah mendidik dan membangun secara mandiri semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Sementara, nilai-nilai modern dimaksud adalah yang berazas kepada ciri-ciri modern itu yakni:

pertama, bergerak berdasar ilmu;
kedua, program oriented;
ketiga, kenal prosedur;
keempat, mempunyai organisasi yang tegas/kuat;
kelima, mempunyai etos kerja yang tinggi dan mempunyai disiplin yang ketat dan tegas.

Tujuannya membuat pendidikan seperti ini, tidak lain ingin mencerdaskan bangsa, supaya bangsa ini dan semua warganya menjadi cerdas, menjadi bangsa yang bajik dan bijak. Bajik dan bijak dalam arti bangsa yang suka terhadap kebenaran, juga bangsa yang mampu menghormati orang lain, bangsa yang sanggup secara mendalam menghormati apa yang dinamakan kemanusiaan.

Pendidikan ini juga diharapkan bisa menghasilkan putra-putri bangsa yang sanggup menguasai ‘science & technology’ dengan segala perkembangannya. Dan yang paling inti yakni sebagai warga bangsa, putra-putri bangsa itu mampu hidup di dalam negara ini dengan penuh tanggung jawab dan mampu menciptakan kestabilan dan keselamatan negara. Dan terakhir, sanggup hidup dalam tatanan antar bangsa yang hidup dalam peradaban yang sempurna. “Nah, itu cita-citanya. Jadi tidak terlalu jauh. Kalau dalam bahasa Al-Qur’an-nya disebut dengan basthotan fil ‘ilmi wal jismi,” katanya. ( Duren : KATANYA \:D/ )

.....................
Mengenai biaya, mereka sebelumnya memperbolehkan membayarnya pakai lembu. Cuma karena saat itu situasi rupiah goyang terhadap dollar, mereka menghargakan dengan menggunakan dollar. Ketika itu, pertama dihargakan US$ 1.500 untuk enam tahun dengan perhitungan US$ 1 sebesar Rp 4.500, padahal ketika itu sudah Rp 9.000-10.000, setelah dipotong sesuai kurs maka jumlahnya pun US$ 1.500.

Banyak orang yang bertanya, “Apa cukup biaya ini? Bagaimana mengelola uang sebanyak itu untuk seorang santri selama 6 tahun?” Namun untuk menjawab pertanyaan itu ia mengatakan, “Kalau dianggap cukup atau tidak, jumlah itu tidak cukup sebab ini memang cuma mampu untuk menghidupi satu tahun, tapi kita bertekad, yayasan ini mau memberikan subsidi untuk anak bangsa ini,” katanya.

Namun sebagai pesantren, ia pun memberikan persyaratan-persyaratan di antaranya, yang diperbolehkan masuk menjadi santri hanya anak-anak yang sudah berumur 12 tahun, tamat sekolah dasar, sudah boleh dan mampu membaca Al-Qur’an. Dengan demikian nantinya agak sedikit ringan dalam proses pendidikannya. Persyaratan itu dipenuhi juga. Dan ternyata di awal penerimaan saja, 1.600-an orang pendaftar yang datang sedangkan yang bisa diterima baru 1.200 orang saja. Seiring dengan perjalanan waktu, dalam tempo 5 tahun, santri sudah berjumlah 7.000-an lebih, persisnya 7.329 orang.

Sebelum menerima santri, guru telah direkrut lebih dulu. Guru yang pertama direkrut sebanyak 150 orang dari berbagai universitas yang ada di Indonesia. Kurikulumpun disesuaikan dengan kurikulum nasional ketika itu maupun dari Departemen Agama.


Dalam penerimaan santri, motto dan tujuan Ma’had selalu dijelaskan. Motto yang dimaksud adalah, bahwa Ma’had Al-Zaytun merupakan pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan pengembangan budaya perdamaian.

Dalam proses pendidikannya, Ma’had Al-Zaytun sengaja mengekspos sebuah laboratorium alam untuk ditanamkan ke benak anak-anak didiknya. Ini dilakukan agar nanti para santri berinovasi. Misalnya, bila diekspos perahu, maka akan timbul dalam pikiran mereka, dulu kami buat sendiri itu yang namanya perahu, kenapa sekarang harus beli? Akhirnya mereka akan buat sendiri sebab ilmu ada, pengalamannya juga ada. Hal tersebut terbersit dalam pikiran Syaykh karena mengenang masa kecilnya yang pernah diekspos oleh orang tuanya menjadi guru pemberantasan buta huruf sehingga membuatnya berinovasi sepanjang hidup.

Sedangkan globalisasi 2020 yang menjadi sangat hangat diperbincangkan belakangan ini, bagi Al-Zaytun hanyalah suatu fase langkah, artinya, tahun 2020 itu dipersiapkan sedemikian rupa menuju tahun-tahun berikutnya, karena tahun, bukan hanya 2020 saja. Jadi 2020 menurutnya hanyalah satu langkah menuju langkah berikutnya, step by step.
............
Menanggapi pernyataan betapa spektakulernya pembangunan yang dilakukan Al-Zaytun selama lima tahun ini. Ia hanya mengatakan, “Kalau sudah ditarik rodanya, kereta itu akan berjalan dengan sendirinya”. Diibaratkannya, kalau ban mobil itu sudah berjalan, justru harus pandai menyetirnya. Jadi sudah tidak ada yang berat lagi. Maka dalam menyetir Al-Zaytun ini, ia mengaku bahwa itu dilakukannya bersama dengan sahabat-sahabatnya. “Sekali waktu kita berhenti di pokok-pokok yang rindang, sekali waktu kita berhenti di padang yang terang,” ucapnya.

Sedangkan mengenai tantangan yang dihadapinya selama ini, ia hanya mengatakan bahwa hidup tanpa tantangan, tidak akan menemukan manisnya hidup. Menurutnya, tan-tangan hidup adalah ciri bahwa kita di-beri kesempatan untuk mengatasinya.

Memang sesuatu yang tidak dimengerti jika masih ada yang merasa curiga dengan kehadiran Ma’had Al-Zaytun ini, sebab menurut apa yang dilihat dan dialami dan diterima oleh penulis sendiri (Ensiklopedi TokohIndonesia.com) apa yang dicurigai oleh sebagian orang itu sangat jauh dari kenyataan yang ada. :-({|=

Bahkan dalam suatu pembicaraan ketika ETI mengatakan bahwa wartawan ETI yang datang saat itu mungkin ada perbedaan aliran dengan Syaykh sendiri. Syaykh malah mengatakan bahwa tidak ada perbedaan, selaku ciptaan Tuhan kita ini semua sama, paling tidak sama-sama satu bangsa Indonesia. Menurutnya sebagai satu bangsa Indonesia, berarti sudah punya keyakinan, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Dan kejayaan kita ini justru ada di kebhinekaan tersebut. Ini yang harus kita syukuri.

Satu kiat dari Syaykh ini dalam mengatasi berbagai tantangan itu adalah dengan terus bergerak, bergerak maju, membangun, menata, mendidik. Tantangan itu menurutnya harus diatasi dengan cara demikian. Dan harus ditampilkan dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan begitu tantangan itu justru akan memberikan satu nilai.

Termasuk berbagai pemberitaan dan buku yang menyudutkannya. “Bukan tidak dihiraukan. Sebanyak buku yang ada, itu kita baca semua, dan kita katakan, oh…ini disini nih yang harus kita lalui, oh… ini disini yang harus kita singkirkan, oh…disini yang harus kita laju ke depan. Itu kita jadikan tantangan, dan kita siap mengatasinya,” katanya terbuka.

“Kalau reaksi kita tuangkan dalam bentuk tulisan, itu tidak punya makna apa-apa, dan akan mendapatkan warisan dari buku ke buku. Kita menginginkan reaksi itu dalam bentuk karya nyata, sehingga bangsa ini nanti menikmati karya bangsanya yang nyata itu. Kemudian mengenai masalah adanya orang mengatakan disini sesat dan sebagainya atau yang berbentuk macam-macam tadi, sejarah nanti yang akan membuktikan. Kalau kita yang menulis sejarah, kita bisa melihat dan merasakan. Kalau sejarah yang menulis dirinya sendiri, kehancuranlah yang terjadi,” katanya lebih jelas.

Jadi menurutnya, jika sejarah itu ditulis sendiri dengan karya nyata, maka sudah pasti akan menulisnya dengan sebaik-baiknya. “Ini namanya karya sastra. Sebab sastra itu macam-macam, bukan cuma tulis saja. Sastra itu termasuk seni dalam mengelola apapun. Kebetulan saya mendalami sastra karena sekolah di sastra dulu,” ujarnya.

Yang lebih jauh lagi, ada orang sempat menduga bahwa Al-Zaytun didirikan dalam rangka mendirikan Negara Islam Indonesia. Menanggapi dugaan-dugaan seperti itu Syaykh hanya mengatakan bahwa orang menduga boleh saja. Bahkan ia mengatakan bahwa diduga sesat pun ia takkan pernah membantahnya. Menduga mau mendirikan negara Islam Indonesia pun ia tidak pernah membantahnya.

Tapi menurutnya, di dunia ini tidak boleh duga-duga, tapi harus berpikir modern. Setiap bergerak harus berdasar ilmu. “Sekarang, antara ilmu dan duga tadi, ketemu apa tidak? Jika itu ketemu maka ‘ilmu’ yang salah dan ‘duga’ yang betul. Tapi di dunia ini, duga itu tidak akan bisa mengalahkan ilmu,” ucapnya.

Ketenangan Syaykh dalam menghadapi segala tantangan tersebut sungguh menunjukkan kedewasaannya sebagai pemimpin. Namun walaupun begitu ia tetap merasa tidak berbeda dengan yang lainnya. Ia tidak merasa lebih unggul. Ia merasakan dan menjalani hidup ini dengan bijaksana. Apa yang diperintahkan konsep kehidupan, dilakukan. Apa yang dilarang oleh konsep kemanusiaan, dijauhi. Selamat. Itu saja caranya menjalani hidup. Dan keyakinannya, Tuhanpun akan suka.

Jika ada pertanyaan mengenai darimana dana pembangunan Ma’had tersebut, ia menganggap pertanyaan itu wajar saja. Tapi hendaknya jangan mengukur orang lain dengan ukuran diri sendiri. Sebab jika seseorang mengukur ukuran orang lain dengan dirinya, kadang tidak pas. Jadi kalau mengukur dengan parameter umum, maka hasil yang telah dicapai Al-Zaytun menurutnya masih wajar-wajar saja.

Demikian modernnya pendidikan Ma’had Al-Zaytun tersebut sehingga banyak yang melakukan studi banding ke sana. Seperti IPB misalnya, mereka melakukan praktek lapangan di sana.

Guru-guru yang terbagus dari IPB juga mengajar di Ma’had ini. Karena diberi kebebasan, di Ma’had ini mereka merasa punya kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Sehingga sesuatu yang belum dibuat di IPB sudah dibuat di Al-Zaytun. Misal-nya, di IPB belum mengembangkan embrio transfer, tapi Ma’had Al-Zaytun sudah berhasil melakukannya. Di IPB belum mengembangkan bibit sapi unggul, di sana sudah dikembangkan dan sudah disebar. Akhirnya dengan demikian guru-guru itu penuh dengan persiapan dan kompetensi.

Sedangkan mengenai dana, menurut Syaykh hal tersebut merupakan hal yang gampang sebab setiap melompat (penemuan/pengembangan satu ilmu) selalu ada harganya. Jadi jika ada suatu lompatan, orang akan memberi apresiasi, hasilnya dibagi. “Jadi dana itu nggak susah, yang susah itu kalau kita tidak pernah berpikir mendanai ini,” katanya.

Dan yang lebih membanggakan, saat ini Departemen Agama mengakui bahwa Ma’had ini merupakan tempat pendidikan yang digolongkan terbaik. ](*,) Sertifikat penghargaan itu diberikan Januari 2004 lalu. Demikian juga dalam ujian-ujian sekolah menengah pertama, Al-Zaytun juga merupakan yang terbaik di Jawa Barat. Hal ini jelas merupakan suatu sejarah juga, yang bisa terjadi karena ditulis dan diukir.

Dukungan Keluarga
Dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang pendidik, diakuinya bahwa keluarganya sungguh sangat membantu. Sebagaimana lazimnya, seseorang yang memangku pemimpin pesantren biasanya memiliki istri lebih dari satu, namun pria setia ini tidak terpikirkan untuk menambah atau malah mengganti istri yang sangat disayangi itu. “Istri saya dari sejak pertama sampai hari ini, itu-itu juga,” begitu katanya agak bercanda.

Khotimah Rahayu, juga sering dipanggil dengan Faridah Al Widad, istri yang memberinya tujuh orang anak itu, juga seorang guru. Istrinya pada awalnya adalah seorang guru PNS. Lain dengan dirinya, ia tidak mau menjadi pegawai negeri. Dengan sangat senang ia pada pagi harinya mengajar, sore dagang, bertani, memborong tanaman entah padi dan sebagainya atau membo-rong kayu-kayuan yang ditanam orang, diambil terus dibelah. Atau dagang hewan seperti kerbau dan lembu. Itulah dulu pekerjaannya sehari-hari.

Khotimah yang berasal dari Banten, Kampung Menes, Kecamatan Menis, Kabupaten Pandeglang, keresidenan Banten (sekarang menjadi propinsi Banten), menjadi guru bukanlah secara kebetulan atau takdirnya yang sudah begitu, namun sebagai anak dari seorang guru (orang tua dari Ibu Khotimah Rahayu), dalam dirinya sudah tumbuh satu kecintaan pada profesi pendidik itu.
................
Dalam mendidik, ayah dari Imam Prawoto, Ahmad Prawiro Utomo (sering dipanggil dengan Ahmad Zaim), Ikhwan Triatmo (sering dipanggil dengan Abdul Hamid), Khoirun Nisa (perempuan), Muhammad Hakim Prasojo, Sofyah Alwida (perempuan), Karim Abdul Jabbar (alm), ini selalu berusaha menunjukkan kasih sayang seorang ayah. Ia tidak mau berlaku otoriter apalagi menghukum dengan cara mendera fisik, maka di Al-Zaytun pun ia memberlakukan santrinya dengan bebas, sebebas-bebasnya, namun berdisiplin setinggi-tingginya.

Disiplin yang dimaksud Syaykh, yang sangat memperhatikan kesehatannya dan tidak merokok ini, adalah seperti aturan tidak bisa merokok dan narkoba. Sejak awal di sana telah diambil langkah-langkah pencegahan masuknya narkoba dengan melakukan test, baik ketika masuk maupun saat keluar pesantren.
................
Dalam perjalanannya yang masih panjang membangun Ma’had Al-Zaytun, Syaykh sangat mensyukuri rahmat Tuhan yang diterimanya hingga saat ini. Ia makan dengan menu yang teratur dan sehat serta rutin melakukan olahraga murah, naik turun masjid. Pola makan dan gaya hidupnya ini bisa menurunkan berat badannya dalam jumlah yang sangat signifikan dari 104 kg menjadi 85 kg sekarang ini.


Visi Kenegaraan

Membangun negara, tak ubahnya dengan menanam pohon jati. Dibutuhkan kerelaan dan keiklasan yang murni untuk mau bersusah payah, namun dengan sadar ia tahu hasilnya tidak akan sempat dinikmatinya namun dinikmati oleh generasi berikutnya.
.........................
Di samping itu, Syaykh yang suka olahraga murah yakni naik turun masjid, ini mengatakan bahwa bangsa ini juga harus dekat ke masyarakat desa. Menata pendidikannya, menata perikehidupannya, untuk didekatkan ke masyarakat kota. Dengan demikian, tidak ada kecemburuan sosial antara masyarakat kota dan desa. Dan pelan-pelan desanya menjadi kota, kotanya seperti masyarakat desa. Akhirnya Indonesia yang sangat luas ini menjadi berekosistem.
.......................
Di negeri ini, jika pemimpin masih belum sadar mengenai pentingnya mengutamakan pendidikan, menurut Syaykh rakyat tidak harus menunggu sama-sama sadar baru berbuat. “Tatkala kapal mau tenggelam, harus ada satu yang berani tidak tenggelam. Jangan semua mau tenggelam. Kalau semuanya tenggelam selesailah kapal kita ini. Jangan nunggu rame-rame,” katanya mengibaratkan.

Syaykh sangat prihatin melihat cara pemikiran bangsa ini. Bukan hanya pemimpin tapi juga guru sendiri. Seperti yang belakangan ini terjadi di Kabupaten Kampar. Dimana mau menumbangkan bupati saja, seluruh guru meliburkan sekolah. Anak disuruh demonstrasi, guru disuruh demonstrasi. Ini cara berpikiran yang belum sehat.

Padahal seorang guru itu dalam menghadapi gubernur atau bupati cukup dengan diplomasi guru saja. Guru yang punya Metodik Didaktik dimana untuk menaklukkan murid yang **** saja bisa pintar, apalagi bupati yang sudah pintar. Jadi menurutnya tidak perlu meliburkan sekolah sampai berpekan-pekan di luar hari libur sekolah. Itu sudah kebiasaan yang tidak bisa ditolerir.
........................
Dalam perjalanannya yang masih panjang membangun Ma’had Al-Zaytun, Syaykh sangat mensyukuri rahmat Tuhan yang diterimanya hingga saat ini. Ia makan dengan menu yang teratur dan sehat serta rutin melakukan olahraga murah, naik turun masjid. Pola makan dan gaya hidupnya ini bisa menurunkan berat badannya dalam jumlah yang sangat signifikan dari 104 kg menjadi 85 kg sekarang ini. ( Duren : Ngecapnya percis oknum ORBA yahh ) :rock:


Pembawa Damai dan Toleransi

Pemimpin Ma’had Al-Zaytun ini adalah seorang beriman pembawa damai dan toleransi. :finga: Di pondok pesantren modern ini, dia telah mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian. Bukan hanya dalam teori, wacana atau slogan, tetapi dalam aplikasi dan keteladanan. Sebagai pemangku pendidikan pesantren, dia selalu menunjukkan keteladanan dalam membimbing santrinya untuk membina persaudaraan dengan siapa pun tanpa membedakan asal-usul dan agamanya.

Tidak banyak, bahkan mungkin belum ada, pemimpin pondok pesantren yang secara khusus mencetak kartu ucapan Selamat Natal untuk dikirimkan kepada para pendeta dan pimpinan gereja, baik yang sudah dikenal maupun belum dikenalnya. Bahkan sebaliknya, justru ada ulama yang mengharamkannya. :rock:

Pria kelahiran Gresik 30 Juli 1946 berdarah Madura dan Bugis bernama lengkap Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang ( Duren: jadi ingat dengan yang gangguin netter bocor nih :finga: ) ini sejak masih belajar di Pondok Pesantren Modern Gontor, sudah mengimpikan berprofesi sebagai guru yang tanpa kekerasan. Dia tidak suka kekerasan. Dia ingin Indonesia memasuki zona damai dan demokrasi. Dalam perjuangan yang panjang tak kenal lelah, pada usia memasuki lima puluhan tahun, lulusan Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini berhasil mewujudkan impiannya membangun sebuah lembaga pendidikan pesantren spirit but modern system.

Yakni, Ma’had Al-Zaytun yang bermotto: Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Budaya Perdamaian. Sebuah motto yang merupakan padanan dari visi dan obsesi dirinya sendiri bersama sahabat-sahabatnya. Dia berobsesi dari Ma’had Al-Zaytun memancar persaudaraan, toleransi dan perdamaian ke seantero Indonesia Raya bahkan ke seluruh penjuru dunia.

Patutlah para sahabatnya, tidak kecuali sahabat yang nonmuslim, menyebutnya seorang tokoh pembawa damai dan toleransi. Pendeta Rudolf Andreas Tendean, yang baru saja memimpin rombongan Keluarga Besar Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Koinonia, Jakarta, berkunjung ke Ma’had Al-Zaytun, adalah satu dari sekian banyak orang yang merasakan bagaimana sosok Syaykh Abdussalam Panji Gumilang membawa damai dan toleransi dalam komunikasi, pergaulan dan persahabatan mereka.

Adalah Syaykh Panji Gumilang yang memulai (berinisyatif) menyebar damai dan persaudaraan dalam persahabatan mereka. Manakala, dia mengirim kartu ucapan Selamat Natal kepada sejumlah pendeta dan pimpinan gereja. Kartu Natal yang menjadi awal berkembangnya damai dan toleransi sehingga kedua umat beriman itu saling mengunjungi dan saling memahami.

Taiwan dan Amerika
Bukan hanya kali ini Syaykh Panji Gumilang mengambil inisyatif damai, toleransi, persaudaraan dan persahabatan. Persahabatan yang kental juga telah lebih awal dijalin oleh Syaykh dengan komunitas Taiwan di Indonesia. Ditandai kunjungan Kepala Kantor Perwakilan Dagang dan Ekonomi Taiwan di Indonesia sejak dipimpin oleh Mr. Sui Chi Lin hingga pejabat yang baru Mr. David Y.L. Lin. Kantor itu, merupakan kantor perwakilan negara Taiwan, setingkat dengan kantor duta besar, di Indonesia. Oleh karena masih terdapat perbedaan sikap pandang politik antara RRC dan Taiwan (yang dulu disebut China Taipei) hal itu membuat pemerintah Indonesia yang menjalin hubungan diplomatik dengan keduanya berada pada posisi sulit.

Persahabatan dengan komunitas Taiwan ini, bermula pada tahun 1997 dari pertemuan Syaykh AS Panji Gumilang dengan dua orang pengusaha Tionghoa, yakni Mr. Liang dari Taiwan, yang kemudian di Ma’had Al-Zaytun dianugerahi nama Luqman, dan Mr. Hendra. Waktu itu, terjadi kerusuhan yang membuat banyak warga etnis Tionghoa menjadi korban dan ketakutan. Syaykh membuka tangan untuk memberikan perlindungan kepada keduanya.

Ketika itu, Syaykh AS Panji Gumilang menjamin: “Selama Anda di Ma’had Al-Zaytun tidak akan ada yang menyentuh.” Tak dinyana, ternyata sikap persahabatan yang ditampilkan Syaykh ketika itu mengalirkan simpati yang mendalam dari komunitas bisnis Taiwan terhadap Ma’had Al-Zaytun. Sejak itulah, persahabatan antara kedua komunitas terjaga hingga kini.
………………………
Juga dibicarakan tindak lanjut pengembangan bahasa Mandarin di Ma’had Al-Zaytun yang pernah dirintis semasa Kantor Perwakilan Taiwan dipimpin oleh Mr. Sui Chi Lin . Mr. David Lin dan para pemuka komunitas bisnis Taiwan (Taiwan Bussines Club) di Indonesia itu pun merespon dengan mengemukakan kemungkinan-kemungkinan kerja sama yang bisa segera diwujudkan. Mr. David Lin berjanji akan mendorong setiap warganya di Indonesia, baik itu yang bergerak di bidang industri, agribisnis atau pendidikan, untuk menyumbangkan pikiran, tenaga dan modal bagi kemajuan Ma’had Al-Zaytun.

Begitu pula persahabatan dengan John Rath, Second Secretary Kedutaan Besar AS yang juga sebagai Atase Politik AS, bersama rombongan berkunjung dan berdoa di Ma’had Al-Zaytun. John Rath, Atase Politik negara adi daya, itu ketika berkunjung ke Ma’had Al-Zaytun bertutur, masyarakat Amerika tetap ingin bersahabat dengan Indonesia. Bahkan John Rath berdoa di dalam bangunan Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin ](*,) agar persahabatan Indonesia dan Amerika selalu abadi. “Kami berdoa untuk kejayaan sekolah ini serta orang-orang yang bersama sekolah ini, hari ini dan di masa yang akan datang,” kata John Rath. Perwakilan negeri Uncle Sam, negara adi daya, itu ternyata tertarik untuk melihat dari dekat kampus ini. Pasalnya, di kedutaan AS pihaknya banyak mendengar perkembangan Al-Zaytun yang menggabungkan aspek modern dan tradisi Islam. John Rath dan rombongan, tamu dari negara super power itu, disambut dengan penghormatan yang layak di Ma’had Al-Zaytun. Para eksponen Yayasan Pesantren Indonesia, guru, koordinator dan beberapa perwakilan santri dari seluruh propinsi termasuk dari Malaysia dan Afrika, turut menghadiri acara tersebut. Sama seperti tamu-tamu lainnya, John Rath dan rombongan dibawa meninjau ke seluruh fasilitas pendidikan dan ke pelosok kampus hingga melongok penyimpan makanan alias cold storage. Tentu saja juga ke Masjid Rahmatan lil ‘Alamin yang tengah dibangun. Masjid terbesar di dunia berkapasitas 150 ribu jama’ah.

Di ruang tengah Masjid Rahmatan lil ‘Alamin, John Rath memanjatkan do’a.”We thanks our Lord in this opportunity to come together, to improve our friendship to hopefully built to ties our mutual understanding and ritual friendship to the lasting hope live longer than all of us. We thanks God for this opportunity visit this school, to so many people which obiously take so much effort. God given a strength. We pray for the school and we pray to the succes to the school and people who associated with the school, today and the future. Our Lord, we ask for your blessing and also to the wisdom, guidance, and the patience to perceive through very top science and good science and we ask for your guidance to all things. Here we pray. “

(Kami bersyukur kepada Allah karena kesempatan kebersamaan hari ini untuk menumbuhkan persahabatan dan membangun pemahaman yang mutual, termasuk persahabatan ritual yang akan berkelanjutan, yang usianya lebih panjang dari pada usia kami semua. Kami bersyukur kepada-Mu ya Allah atas kesempatan mengunjungi sekolah ini dan juga kepada mereka yang telah bersusah-payah membangunnya. Allah telah memberikan kekuatan-Nya. Kami berdoa untuk kejayaan sekolah ini serta orang-orang yang bersama sekolah ini, hari ini dan di masa yang akan datang. Ya Allah, kami memohon rahmat-Mu juga hikmah dan hidayah-Mu serta kesabaran untuk meraih sains yang tinggi dan ilmu pengetahuan yang baik. Dan kami mohon petunjuk-Mu untuk semua hal. Di sinilah kami berdoa”). ( Lord kok berobah jadi aweuloh ? \:D/ )

Sahabat Sejati
Memang, dalam pandangan Syaykh Panji Gumilang, persahabatan sejati akan selalu menghasilkan manfaat bagi siapa saja, terutama bagi para pelakunya. Apalagi jika persahabatan dikelola dengan cerdas, tulus dan bersahaja. Menurut Doktor HC dari IPMA London ini, persahabatan adalah pintu masuk terbaik untuk menuju perdamaian di muka bumi. Dengan persahabatan, katanya, tak hanya perdamaian yang diperoleh, melainkan pintu kesejahteraan pun menjadi terbuka lebar.

Bagi dia dan Ma’had Al-Zaytun, persahabatan bukan hanya sekadar kata manis yang enak didengar. Tetapi, segenap civitas akademika Ma’had Al-Zaytun telah membuktikan dalam pergaulan kesehariannya. Hal mana ma’had ini senantiasa menjalin persahabatan dengan siapa pun yang mau tanpa memandang perbedaan agama, kultur atau afiliasi politik.

Menurutnya, toleransi adalah akidah dalam beragama. “Pengakuan adanya kekuatan Yang Maha Tinggi, yaitu Tuhan Allah/God/Yahweh/Elohim, ( Duren : ente blom kenal FFI yah ) [-X yang disertai ketundukan itu, merupakan fitrah/naluri yang dimiliki oleh setiap manusia. Kendati demikian, manusia tetap memerlukan adanya pemberi peringatan agar tidak menyeleweng dari fitrahnya, mereka adalah para nabi dan rasul,” ujarnya.

Dia menjelaskan, perasaan tunduk kepada Yang Maha Tinggi, yang disebut iman, atau i’tikad, yang kemudian berdampak pada adanya rasa suka (rughbah), takut (ruhbah), hormat (ta’dzim) dan lain lain, itulah unsur dasar al-din (agama). Al-din (agama) adalah aturan-aturan atau tata-cara hidup manusia yang dipercayainya bersumber dari Yang Maha Kuasa untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Berbagai agama telah lahir di dunia ini dan membentuk suatu syareat (aturan) yang mengatur kehidupan manusia, yang termaktub di dalam kitab-kitab suci, baik agama samawi (yang bersumber dari wahyu Ilahi) maupun yang terdapat dalam agama ardli (budaya) yang bersumber dari pemikiran manusia. Semua agama-agama, baik samawi maupun ardli, memiliki fungsi dalam kehidupan manusia. Berbagai fungsi tersebut adalah: (i) menunjuki manusia kepada kebenaran sejati; (ii) menunjuki manusia kepada kebahagiaan hakiki; dan (iii) mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan bersama.
………………………..
Syaykh Panji Gumilang, ketika menyambut kunjungan Keluarga Besar Gereja Protestan Indonesia bagian Barat, Jemaat Koinonia Jakarta, mengatakan hendaknya semua umat manusia bertaqwa kepada Tuhannya agar mendapat berkat dalam kehidupannya dan selalu terbimbing pada jalan-Nya dan berjayalah mereka dalam kehidupannya.

Berkaitan dengan hal ini, pada kesempatan lain kepada Wartawan Tokoh Indonesia, Syaykh Panji Gumilang mengatakan berinteraksi dengan jiwa toleran dalam setiap bentuk aktivitas, tidak harus membuang prinsip hidup (beragama) yang kita yakini. Menurutnya, kehidupan yang toleran justru akan menguatkan prinsip hidup (keagamaan) yang kita yakini. “Segalanya menjadi jelas dan tegas tatkala kita meletakkan sikap mengerti dan memahami terhadap apapun yang nyata berbeda dengan prinsip yang kita yakini. Kita bebas dengan keyakinan kita, sedangkan pihak yang berbeda (yang memusuhi sekalipun) kita bebaskan terhadap sikap dan keyakinannya,” ujarnya.

Dia pun mengutip dialog disertai deklarasi tegas dan sikap toleran yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam Q.S. 109: “Wahai orang yang berbeda prinsip (yang menentang). Aku tidak akan mengabdi kepada apa yang menjadi pengabdianmu. Dan kamu juga tidak harus mengabdi kepada apa yang menjadi pengabdianku. Dan sekali-kali aku tidak akan menjadi pengabdi pengabdianmu. Juga kamu tidak mungkin mengabdi di pengabdianku. Agamamu untukmu. Dan agamaku untukku.”

Syaykh menjelaskan, sikap toleran membuahkan kemampuan yang sangat signifikan dalam menetapkan pilihan yang terbaik. Mampu mendengar berbagai ungkapan dan menyaring yang terbaik daripada semua itu.
Sikap toleran, jelasnya, juga melahirkan kemampuan mengubah perilaku individu (self correction) terhadap pola yang selama itu dilakukan, yang tak berdaya mengubah masyarakat tradisional, tertutup dan represif, sehingga tujuan yang dicita-citakan dapat dicapai. “Toleran, tidak menciptakan individu yang wangkeng, yang tidak mau mengubah perilakunya, walau tujuannya tidak tercapai. Secara apologi bersikap dan mengatakan bahwa: Tujuan itu tidak tercapai karena belum waktunya, atau nasibnya memang demikian dan tidak mau mengubah diri,” kata Ketua Alumni Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat ini.

Problem Solving
Sikap toleran, katanya, mampu menemukan jalan keluar dan problem solving yang pantas dan mengangkat martabat dan harga diri dalam berbagai bidang kehidupan. Prinsip dan pemahaman yang sama dikemukakannya ketika menyambut Keluarga Besar GPIB Koinonia: “Al-Zaytun mendapatkan ajaran dari Ilahi agar disampaikan kepada seluruh umat manusia untuk menyikapi satu sikap damai dan dan toleran. Al-Zaytun menjabarkan apa yang dipesankan oleh Tuhan melalui para nabi-nabi-Nya, baik Nabi Nuh, Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, tentang agama. Berfirmanlah Tuhan: aqimuddin wa laa tataffarraqu fiihi. Tegakkan agama dari Tuhan ini dan jangan pernah engkau bersengketa dalam memeluk agama itu.”

Dia pun menjelaskan ulang kata Koinonia, seperti diterangkan olh Pendeta Rudy sebelumnya yang bermakna persaudaraan dan persahabatan. “Al-Zaytun pun menciptakan perdamaian dan toleransi yang diterapkan melalui pendidikan,” katanya. Ternyata pesan-pesan ini mengikuti apa yang pernah dipesankan oleh Tuhan baik melalui Nuh, Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa dan kita penerusnya. “Alangkah indahnya sikap umat manusia tatkala menyikapi keagamaan seperti apa yang kita lakukan pada hari ini,” katanya, disambut tepuk tangan hadirin.

“Kita ingin sebagai bangsa Indonesia menerapkan semua makna dan pesan Ilahi ini dipenetrasikan di dalam kehidupan keseharian berbangsa dan bernegara. Alangkah indahnya jika bangsa Indonesia dari sejak dini diperkenalkan cara hidup beragama yang tanpa perpecahan, persengketaan, dan perselisihan yang mengatasnamakan agama itu. Ini pesan Ilahi yang dijalankan oleh Al-Zaytun. Kemudian kita bersama-sama jemaat Koinonia memulainya,” katanya.

Menurutnya, ini adalah laboratorium toleransi yang harus kita buat antar kita semua dan kita ekspose kepada generasi muda Indonesia yang akan meneruskan kepemimpinan bangsa di masa depan agar meneladani, mampu mencontoh apa yang telah dibuat dan dicontohkan dalam laboratorium persatuan dan kerukunan umat beragama di Indonesia melalui Al-Zaytun dan Koinonia ini.

“Kami yakin anak-anakku semua, jika hari ini kalian jadikan satu pelajaran kamu semua tidak akan melupakan pada saat kalian menjadi pemimpin-pemimpin bangsamu kelak. Dua puluh tahun yang akan datang engkau akan menjadi pemimpin di Indonesia ini, paling tidak memimpin dirimu sendiri. Tatkala itu engkau telah mempunyai visi dan misi seperti yang hari ini dipertontonkan oleh Gereja Koinonia dan Ma’had Al-Zaytun bersama-sama dalam satu mejelis seperti ini. Alangkah indahnya, alangkah indahnya,” katanya berseru kepada santri yang menyambutnya dengan tepuk tangan.

Lebih lanjut, Syaykh mengatakan, mari kita jadikan peristiwa ini sebagai satu laboratorium, bukan dalam skala penelitian tapi dalam skala produksi perdamaian. “Kalau hanya skala penelitian bisa diterapkan dalam kompleks yang 1.200 ha ini belum tentu bisa diterjemahkan di tempat-tempat lain. Namun tatkata ini skalanya kita perluas menjadi skala produksi dalam arti memproduksi perdamaian dan toleransi dan sikap saling mengenal, saling bersaudara, antar umat beragama di Indonesia, kami yakin Indonesia ke depan akan mempunyai penduduk yang mengerti keberadaan keagamaan di Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika ini. Kami yakin seyakin-yakinnya,” ujarnya optimis.

Untuk itu, serunya, hari ini kita mulai, besok kita perluas, lusa kita teruskan dan jangan pernah berhenti menciptakan persahabatan, perdamaian dan sikap toleransi di muka bumi ini. “Insya Allah, bangsa Indonesia akan memulai dan akan menjadi contoh bangsa-bangsa di dunia jika kita mulai hari ini dan tidak akan berhenti. Mari kita yang ada di ruangan ini menanamkan sikap ini dan kita tularkan ke lingkungan bangsa Indonesia dan akan menjadi eksponen. Eksponen adalah simbol yang perlu dicontoh, menjadi uswah baik diri kita, baik bangsa kita dan mudah-mudahan bangsa-bangsa lain seperti halnya tumbuhnya demokrasi di Indonesia,” seru Syaykh penuh makna.

Ternyata begitu kita masuk dalam arena demokrasi, bangsa-bangsa lain mempunyai penghormatan besar terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Mengapa, kalau perdamaian persatuan kita pertontonkan dalam permukaan bumi ini sehingga bangsa lain pun akan memberikan hormat yang setinggi-tingginya dan meniru apa yang telah kita lakukan ini.

Domain Perdamaian
Mudah-mudahan dari titik ini, titik tanah Al-Zaytun digabung dengan tanah Koinonia yang ada di Jakarta dan kita tarik garis ke kanan-ke kiri, ke utara-ke selatan, ke timur-ke barat dan akan menjadi domain yang luas dalam terciptanya perdamaian dan toleransi di muka bumi Indonesia ini.

“Ini sambutan sukacita kami kepada rombongan dan atas pimpinan Bapak Pendeta Rudi Tendean. Terimalah sukacita kami ini demi keikhlasan hati untuk persaudaraan dan persahabatan abadi di bumi Indonesia, di bumi Tuhan semesta alam ini,” kata Syaykh pada bagian akhir sambutan selamat datangnya kepada Jemaat GPIB Koinonia.

Sementara itu, pada sambutan pelepasan pada malam harinya, Syaykh mengatakan: “Malam ini sungguh indah. Sangat bersyukur pada Allah, sekian lama kita rindukan kebersamaan di Indonesia, malam ini, diawali dari sejak pagi tadi, tercipta setitik kebersamaan, sebab Indonesia ini luas, penduduknya besar banyak, lahannya sama dengan dari Istambul sampai ke London begitu luasnya. Kalau kita tengok teritori yang ada di Al-Zaytun ini laksana debu setitik di padang pasir yang begitu luas.

Namun, puji Tuhan, sehari ini kita makhluk yang sangat terbatas ini, jumlahnya pun sangat kecil ini, telah diberkati oleh-Nya untuk menciptakan suatu kebersamaan yang memang ini dianjurkan dan diperintahkan oleh Sang Pencipta kebersamaan itu sendiri yakni Tuhan.

Patut disyukuri oleh hamba-hamba Tuhan, oleh makhluk Tuhan yang beriman, mudah-mudah kita dipandaikan oleh-Nya untuk mensyukuri apa yang kita lakukan sejak pagi tadi sampai malam ini dan kita jadikan titik tolak untuk Indonesia Raya ini dapat tercipta persatuan dan kesatuan yang sampai detik ini, persoalan yang satu ini masih selalu menjadi masalah yang krusial, kata orang.

Tetapi ternyata kita mampu dan diberikan kekuatan oleh-Nya, oleh Tuhan, untuk membuat sesuatu yang baru, sesuatu yang belum dilaksanakan banyak orang dan di hari ini, hari Sabtu, kita memulai dan Insya Allah akan dilaksanakan oleh banyak orang bangsa Indonesia.

Kita syukuri. Kalau tadi Pak Pendeta mengatakan tidak ada yang dapat dikalimatkan, ternyata sama. Kami pun punya ungkapan seperti itu, susah untuk mengalimatkan. Maka kalimat yang kita terangkan pagi tadi atau tengah hari tadi sama, kita susah mengalimatkan kejadian ini. Pak Pendeta pun susah mengkalimatkan kejadian ini. Inilah yang dinamakan kalimatun sawa.

Maka indah betul nama yang kita pilih bersama untuk sebuah bangunan, tempat kader bangsa dididik sebagai kenang-kenangan ke depan. Pak Pendeta susah mengkalimatkan sesuatu keindahan ini, kemudian keluarga besar Ma’had Al-Zaytun diwakilii oleh AS Panji Gumilang juga mengatakan susah mengalimatkan. Maka kita menemukan kalimat yang sama, susah mengalimatkan. Maka kita sebut saja, kalimatun sawa. Dan ini yang paling tepat dan itu pesan Ilahi: Engkau mesti menyampaikan kalimatun sawa, ungkapan yang sama, yaitu perdamaian, ungkapan yang sama yaitu persatuan, ungkapan yang sama yaitu persaudaraan umat manusia tanpa terkecuali.” Demikian Syaykh AS Panji Gumilang.

===================
Hadiah Paling Berharga dalam Sejarah Ma'had Al-Zaytun

ImageImage

Mantan Presiden RI, Bapak Pembangunan Nasional, H.M. Soeharto meresmikan ruang kuliah mahasiswa/mahasiswi Universitas Al-Zaytun, yang diberi nama Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto.

Selasa, 23 Agustus 2005, merupakan momen yang sangat bersejarah dan monumental bagi seluruh sivitas akademika Ma’had Al-Zaytun (MAZ). Betapa tidak. Bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-6, Pondok Pesantren Peradaban Berskala Dunia itu mendapatkan kehormatan yang tak akan terlupakan dalam sejarah kehidupannya. Meski secara fisik nyarus rapuh termakan usia dan penyakit yang menggerogoti tubuhnya, H.M. Soeharto yang sangat akrab disapa dengan Pak Harto-tetap berkenan memenuhi undangan untuk mengunjungi MAZ, bersilaturahmi dengan santriwan/santriwati, dan bahkan menginap satu malam di pusat pendidikan budaya toleransi dan perdamaian itu. Sejatinya, ada satu hajatan besar di kampus peradaban terpadu, pesantren spirit but modern system, pada hari itu.Pak Harto meresmikan Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto, salah satu gedung yang dimiliki Universitas Al-Zaytun (UAZ).

UAZ sendiri diresmikan pada Sabtu, 27 Agustus 2005 oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, pejabat negara yang ditunjuk Wakil Presiden (Wapres) H.M. Jusuf Kalla. Sedianya, Wapres Jusuf Kalla sendiri yang akan meresmikan UAZ namun batal lantaran pada hari yang bersamaan beliau harus mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Cirebon, Jawa Barat.

Sejak pukul 7.30 pagi, segenap aktivitas pesantren yang berlokasi di Indramayu, Jawa Barat, itu telah dipusatkan di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, sebuah Monumen Millennium Ketiga, yang memiliki daya tampung 150.000 jamaah. Spanduk besar berkain warna hijau dengan tulisan “Peresmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun oleh Bapak Jenderal Besar H.M. Soeharto” terbentang di atas Mihrab Masjid Rahmatan Lil ‘Aalamin, MAZ.

Sekitar lima ribu orang santri MAZ memenuhi lantai dasar masjid terbesar di dunia, yang pembangunannya menelan biaya sebesar kurang lebih 14 juta dolar AS atau Rp 135 miliar itu. Sementara itu, di bagian luar masjid, sebanyak dua ribu santri berseragam kepanduan berbaris memanjang dua lajur saling berhadapan, dari gerbang luar sampai pintu masuk masjid. Di hadapan mereka terbentang karpet merah yang berakhir di depan panggung kecil, persis di depan mihrab.

Waktu menunjuk tepat pukul 9.30 pagi. Suasana seketika khidmat. Yang dinanti-nantikan rupanya datang jua. Iring-iringan kendaraan yang membawa Pak Harto beserta rombongan memasuki halaman Masjid Rahmatan Lil ‘Alamain. Pak Harto dengan perlahan-lahan sekali menuruni tangga bis milik MAZ yang ditumpanginya. Bertopangan pada tongkat di tangan kanannya, dan tangan kiri dipegang oleh Syaykh Ma’had AS Panji Gumilang, Pak Harto berjalan dengan langkah tertatih-tatih memasuki masjid.

Senyum karismatis Pak Harto menebar ke seluruh hadirin yang menyesaki ruang dalam masjid. Ribuan bendera merah-putih dilambai-lambaikan oleh seluruh santriwan dan santriwati MAZ yang hampir dua jam menanti dengan penuh sabar di dalam masjid yang memiliki luas 99 meter x 99 meter itu, sebagai bentuk penyambutan atas kedatangan Jenderal Besar H.M. Soeharto.

Di barisan belakang, berjalan seiring mengikuti langkah perlahan Pak Harto dan Syaykh MAZ, selain rombongan keluarga, tim medis, para pengawal, dan para eksponen MAZ tampak antara lain dua putri beliau, Hajjah Siti Hardiyanti Rukmana (akrab disapa Mbak Tutut) dan Hajjah Siti Hediati (akrab disapa Mbak Titik), mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat/ mantan Kepala BKKBN/ Ketua Yayasan Damandiri Haryono Suyono, Cakrawardoyo, Ketua Yayasan Super Semar Subagio.
................
“Pada Bapak kita Bapak Haji Muhammad Soeharto, Jenderal Besar TNI, kita sampaikan terima kasih sebesarbesarnya atas kepedulian Bapak terhadap anak bangsa yang sedang membangun, yang sedang meneruskan cita-cita pembangunan yang selama ini Bapak rintis. Doakan kami semua Bapak, sebagai generasi penerus perjuangan bangsa ini mampu meneruskan apa yang menjadi cita-cita dan visi Bapak selama meritis pembangunan Indonesia dari sejak diamanatkan menjadi pemimpin bangsa ini sampai detik ini, dan sampai kapan pun.” Seusai pidato Syaykh MAZ, acara dilanjutkan pembacaan pidato Pak Harto yang dibacakan oleh putrinya Mbak Tutut. Sebelum menyampaikan pidato dari Pak Harto, Mbak Tutut menyampaikan permohonan maaf Pak Harto yang tulus karena tidak bisa berkomunikasi secara langsung, dan membacakan langsung pidatonya.

Mbak Tutut juga mengisahkan sedikit latar belakang sejarah pembangunan gedung perkuliahan tersebut. Pembangunan Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun diprakarsai Syaykh AS Panji Gumilang, selaku pimpinan MAZ. Di satu kesempatan, Syaykh MAZ meminta ijin langsung kepada Pak Harto agar nama beliau dapat dicantumkan sebagai nama gedung tersebut, yang akan dibangun oleh MAZ, Pak Harto memberi izin dan menunjuk Yayasan Purnabakti Pertiwi untuk membantu proses pembangunan. Masih kata Mbak Tutut, Yayasan Purnabakti Pertiwi didirikan oleh almarhumah Ibu Hajjah Siti Fatimah Hartinah (Ibu Tien Soeharto), pada 23 Agustus 1983. Yayasan yang bertujuan menyelenggarakan kegiatan yang bersifat pendidikan sosial maupun agama itu diketuai oleh Ibu Tien Soeharto sampai akhir hayatnya.
Tanggal 23 Agustus kiranya punya makna khusus bagi MAZ. Alasannya, tanggal dan bulan peresmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun (23 Agustus 2005) bertepatan dengan ulang tahun Yayasan Purnabakti Pertiwi yang ke 32. Dan lebih kebetulan lagi, menurut Mbak tutut, tanggal 23 Agustus adalah hari kelahiran almarhumah Ibu Tien Soeharto.
Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto memiliki luas 25.000 m2 dan berlantai delapan itu direncanakan akan dipergunakan sebagai ruang kuliah laboratorium Fakultas Pertanian Terpadu, laboratorium Fakultas Teknik, laboratorium Fakultas Kedokteran, laboratorium Fakultas Teknologi Informasi, laboratorium Fakultas Bahasa dan Ilmu Pendidikan, ruang pimpinan perkantoran serta ruang serba guna.
....................
Sebagai tanda peresmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun, Pak Harto didaulat untuk membuka tabir prasasti. Kemudian, acara dilanjutkan dengan mengunjungi dan membuka pintu Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto di Universitas Al-Zaytun, sekitar 300 meter dari Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Pak Harto membuka pintu gedung tersebut sebagai simbol dimulainya pemanfaatan gedung tersebut. AF,MS, LPS
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: KW9 - Imingi Cewe Cantik- Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby duren » Sun Apr 24, 2011 9:30 pm

Siapakah Panji Gumilan alias Abu Toto ?

Versi 2 - underground

NII KW9 : Siapa Abu Toto atau AS Panji Gumilang?

Image

Pada kesempatan wawancara dengan Harian Pelita saat berkunjung ke Ma’had Al-Zaytun kurang lebih satu bulan sebelum diresmikan oleh BJ Habibie (27 Agustus 1999), AS (Abdus Salam) Panji Gumilang sempat menyatakan dirinya adalah pria kelahiran Indramayu.

Dalam kesempatan lain, kepada sahabatnya di Rabithah Alam Islami dahulu (Ustadz Rani Yunsih, kini almarhum) Abdus Salam Rasyidi alias Abu Toto mengaku sebagai pria kelahiran Banten.

Sedangkan pada kesempatan BKSPPI mengadakan musyawarah di Ma’had Al-Zaytun tahun 1999, Kyai Khalil Ridlwan sempat menanyakan nama asli, alamat di Jakarta dan nomor HP AS Panji Gumilang, ia hanya menjawab: ”… nanti juga tahu.” Padahal Abu Toto dan Kyai Khalil Ridlwan adalah teman sekelas (satu angkatan) ketika menjadi santri di Pondok Modern Gontor, Ponorogo.

Berdasarkan pengakuan (testimoni) beberapa nama yang dicantumkan Al Chaidar dalam bukunya, yang semuanya mengaku pernah terlibat dan bersama-sama dengan Abu Toto, Abu Ma’ariq atau Toto Salam dalam gerakan NII KW-9, termasuk Al Chaidar sendiri, sebenarnya telah cukup sebagai dasar yang kuat untuk memastikan bahwa yang bernama AS Panji Gumilang yang kini menjadi Syaikh Ma’had Al-Zaytun dan foto close up maupun postur penuh dirinya yang terpampang di berbagai media massa, itulah Abu Toto, atau Toto Salam atau Abu Ma’ariq, Imam KW-9 yang dimaksud dalam testimoni mereka.

Demikian pula dengan Ma’had Al-Zaytun, ma’had itulah salah satu pembangunan yang dimaksudkan, selain untuk pembangunan asykariyah (ketentaraan dan persenjataan) dan lembaga formal struktural NII, dalam gerakan pengumpulan dana, melalui istilah harakat Qurban, harakat Ramadlon, Infaq, Shadaqah, Qiradl, Istighfar dan lain sebagainya.

Berdasarkan hasil investigasi Penulis ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, maupun investigasi ke kampung halaman isterinya di Menes (Pandeglang, Banten) yang telah ditinggalkan mereka sejak tahun 1994, identitas asli AS Panji Gumilang adalah sebagai berikut:

    1. Nama asli: Abdul Salam bin Rasyidi
    2. Tempat/tanggal lahir: Desa Dukun, Sembung Anyar, Gresik, 27 Juli 1946.
    3. Pendidikan:
    SR (Sekolah Rakyat), Lulus Tahun 1958/9.
    Siswa Pondok Modern Gontor, masuk Tahun 1961.
    Mhs. Fak. Adab IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
    4. Istri: Khotimah Binti E. Said alias Maysaroh
    5. Lahir: Menes, 25 April 1944.
    6. Lulus:
    Tsanawiyah Mathla’ul Anwar th1963.
    Pegawai Negeri, sebagai Guru di Mathla’ul Anwar)
    7. Anak-anak: Imam Prawoto, Wushtho, Iwan, Anis dan 2 adiknya.

Nama belakang ‘Prawoto’ dari nama Imam Prawoto diambil dari nama samaran Abdus Salam saat di-bai’at atas permintaan sendiri dan kemudian dikenal dengan panggilan Abu Toto. Imam Prawoto kini menjabat sebagai sekretaris Yayasan Pesantren Indonesia Ma’had Al-Zaytun. Sedangkan Anis bt Abdul Salam kini juga menjadi Guru di Ma’had Al Zaytun.

8. Pengalaman Organisasi dan Sepak Terjang Abu Toto

    Anggota Mathla'ul Anwar dan menjadi guru 'Aliyah sejak tahun 1969/70 di Menes. Dan anggota HMI sejak di IAIN Ciputat.

    Tahun 1971 s/d 1978 Anggota/Ketua GPI Cabang Menes, Pandeglang, Banten.

    Tahun 1978 dibai'at menjadi anggota NII KW-9 sebagai mas'ul Imarah (Pendidikan), dan berganti nama menjadi Prawoto.

    Tahun 1978 Ditahan Laksusda Bandung (8 bulan), kasus GPI (SU MPR) dan keluar pada tahun yang sama.

    Tahun 1979 meminta surat tugas dakwah sebagai muballigh Rabithah Alam Islami ke negeri Sabah Malaysia atas rekomendasi Pak Natsir Alm. Dan non aktif dari organisasi Mathla'ul Anwar.

    Tahun 1981-1987 buron dan sekaligus menjadi Da'i/Muballigh di Sabah sambil membawa lari dana (kas) NII sebesar Rp 2 miliar. Pada waktu penggerebegan di rumahnya ditemukan dokumen Marxisme cetakan Libya serta buku DaS Capital. Maka sejak saat itu oleh aparat setempat, Abdul Salam dianggap telah terlibat dalam gerakan PKI.

    Tahun 1987 kembali dari Sabah Malaysia, bergabung kembali dengan NII KW-9/LK (Lembaga Kerasulan) daerah Menes, Pandeglang (Banten), dengan nama panggilan Syamsul Alam atau Abu Toto alias Toto Salam.

    Tahun 1989, langsung di bawah struktur Haji Karim, Komandan KW-9 (dan bertugas serta bertindak sebagai kepercayaan H Karim).

==========
Dari acara bedah buku di Pemda Indramayu hari Selasa tanggal 2 Okt 2001

RIWAYAT ABU TOTO : Syaykh "resmi" AL ZAYTUN

November 26, 2004 Syaykh AS Panji Gumilang, pria berperawakan tinggi besar dan berkulit agak gelap, adalah putra daerah kelahiran desa Sembung Anyar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Ia lahir tanggal 27 Juli 1946. Tamat Sekolah Rakyat di Gresik tahun 1959, masuk Pondok Modern Gontor tahun 1961 dan memperoleh gelar sarjana dari fakultas Adab IAIN Ciputat, Jakarta tahun 1969. Lantas sempat menjadi guru Aliyah di Perguruan Mathla’ul Anwar, Menes, Pandeglang (Propinsi Banten), selama 8 tahun dan berhenti di tahun 1978.

AS Panji Gumilang terlahir bernama Abdus Salam bin Rasyidi. Namanya diganti menjadi Prawoto setelah menyatakan bai’at dan bergabung dengan gerakan NII Wilayah IX pimpinan Seno alias Basyar (alm) di tahun 1978. Ketika itu ia diangkat menjadi pejabat mas’ul jajaran Imarah untuk daerah Banten. Pernah di tahan di POMDAM Bandung selama 8 bulan dalam kasus GPI (Gerakan Pemuda Islam dalam peristiwa SU-MPR th 1978).

Di dalam tahanan, Abdus Salam satu sel dengan Shaleh As’ad dan Mursalin Dahlan. Sejak itulah Prawoto menjadi “fundamentalis” NII. Setelah menjalani masa tahanannya, ia bersentuhan secara intensif dengan para elite NII seperti Adah Djaelani, Aceng Kurnia, Tachmid Rahmat Basuki Kartosuwiryo, Toha Machfudz dan lain-lain yang kala itu dalam status buron setelah tertangkapnya HISPRAN (Haji Ismail Pranoto, awal Januari 1977) dan 23 tokoh komandemen gerakan NII di Jawa Timur. Kasus Hispran ini dikenal dengan nama Koji atau Komji (Komando Jihad).

Ketika para tokoh elite NII Adah Djaelani cs maupun elite NII Wilayah IX tertangkap, juga Seno dan H. Abdul Karim Hasan cs secara bersamaan tertangkap pada Agustus tahun 1981 di Jakarta, Prawoto kabur dan buron ke negeri Sabah Malaysia dengan membawa dana jama’ah, yang menurut sahabatnya berjumlah 2 miliar rupiah. Di Sabah Prawoto memperkenalkan dirinya sebagai pengusaha kayu dan besi tua (dari Indonesia) yang mengalami kebangkrutan.

Prawoto alias Abdus Salam Rasyidi dalam menjalani masa buron tersebut seringkali mondar mandir Banten-Jakarta-Sabah. Tempat Prowoto Abdus Salam Rasyidi singgah di Jakarta adalah di rumah kediaman Ustadz Rani Yunsih, Bidara Cina, Cawang. Sedangkan untuk ongkos tiket kembali ke Sabah seringkali dicukupi oleh HM Sanusi (yang waktu itu masih berdomisili di jalan Bangka, Mampang). Bantuan itu berhenti ketika HM Sanusi mendapat mushibah dijebloskan ke penjara oleh rezim ORBA (1985) dengan tuduhan terlibat kasus peledakan BCA (yang terjadi Oktober 1984).

Tahun 1987 Prawoto alias Abdus Salam kembali ke rumahnya di Menes, Pandeglang (kini provinsi Banten), dan bergabung kembali bersama H. Abd Karim Hasan, M.Ra’is Ahmad dan Nurdin Yahya dalam kelompok gerakan NII LK (Lembaga Kerasulan). Tahun 1990 Toto Salam –nama panggilan barunya– dipercaya H Karim, Komandan I Wilayah IX untuk menjadi Ka Staf I Wil IX.

Tahun 1992 melakukan kudeta internal di Wil IX lantas menobatkan diri menjadi Komandan Tertinggi NII (Mudabir bin yabah) dan menetapkan wilayah IX sebagai Ummul Qura (Ibukota) NII. Nama baru pun dibuat, diantaranya adalah Syamsul Alam, Nur Alamsyah, Syamsul Ma’arif, Abu Toto, Toto Salam dan Abu Ma’ariq (nama yang terakhir ini digunakan untuk membuka account pada Bank CIC, tempat kelompok ini menyimpan dana jama’ah).

Tahun 1993 Abu Toto Ma’ariq diadili melalui Musyawarah karena perilakunya yang buruk dan berkhianat terhadap kawan sendiri. Antara lain mengakibatkan H Muhammad Ra’is Ahmad ditangkap dan ditahan dalam waktu yang cukup lama. Selain itu, Abu Toto Ma’ariq dinilai tidak pantas memimpin KW IX. Musyawarah pimpinan KW IX akhirnya memutuskan Abu Toto dipecat dari jabatan Mudabir bin yabah (komandan sementara) hasil kudeta tahun 1992 tersebut. Tetapi Abu Ma’ariq membandel, ia tetap berjalan dengan orang-orangnya dan justru akhirnya mampu membangun KW IX membesar.

Selama kurun waktu sejak menjadi Mudabir bin yabah antara tahun 1992-1994 Abu Ma’ariq berhasil menghimpun dana jama’ah yang jumlahnya fantastis melalui qoror-qorornya yang akhirnya berlaku hingga sekarang.

Tahun 1994, hampir 1000 orang anggota NII wilayah Pandeglang (Banten) yang telah menyatakan keluar dari struktur kepemimpinan Abu Toto –serta berhasil memecat Toto di tahun 1993 – ditangkap aparat keamanan. Oleh para mantan NII KW IX tersebut pengakuan dan keterangan diarahkan kepada Abu Toto (artinya mengakui diri mereka sebagai anak buah Toto Salam yang keluar dari jamaah pimpinan Toto Salam). Serta merta Abu Toto sekeluarga kabur dan meninggalkan rumah kediamannya di Menes Pandeglang (Banten) hingga saat ini. Dari kejadian tersebut berbagai pihak mulai menyadari bahwa Abu Toto adalah pemain tingkat tinggi yang bermain dengan pihak aparat. Nampaknya permainan itu berjalan terus hingga sekarang.

Antara tahun 1994-1995 program dan mobilisasi pembebasan tanah di Indramayu untuk rencana pembangunan Ma’had Al Zaytun mulai berlangsung dan selanjutnya berjalan cepat. Tahun 1996, Abu Toto dilantik Adah Djaelani untuk secara resmi menjadi pengganti Adah Djaelani selaku Presiden, Imam dan Komandemen Tertinggi NII. Tahun 1997 meletakkan batu pertama pembangunan Ma’had Al-Zaytun dan sejak saat itu seluruh nama alias yang berendeng itu ditanggalkan, yang ada hanya satu nama baru yaitu AS (Abdus Salam) Panji Gumilang (yang bermakna Abdus Salam Pembawa Bendera Kejayaan NII). Seluruh komunitas ma’had Al Zaytun haram untuk menyatakan ada dan kenal dengan nama-nama samaran atau nama alias AS Panji Gumilang sebelumnya. Dan hanya ada satu sebutan untuk AS Panji Gumilang yang diperbolehkan yaitu Syaykhul Ma’had.

Selama ini, Abu Toto Abdus Salam AS Panji Gumilang pernah mengaku sebagai putra daerah kelahiran Indramayu, di lain waktu ia pernah mengaku sebagai putra daerah kelahiran Kulon (Banten), dan di lain waktu lainnya ia pernah mengaku sebagai putra daerah kelahiran Bogor. Itulah “kehebatan” Abdus Salam yang sebenarnya asli kelahiran Sembung Anyar, Gresik (Jawa Timur).

Toto juga pernah menyatakan, “Masa lalu silahkan berlalu. Masa depan sajalah yang perlu dilihat dan diperhatikan.” Padahal, sampai kini ia masih menerapkan dan mengembangkan doktrin sesat NII yang diajarkan Kartosuwiryo, Adah Djaelani dan H. Karim Hasan. Bahkan, kualitas kesesatannya pun kini semakin menjadi-jadi.

[Dinukil dari makalah Umar Abduh pada acara bedah buku di Pemda Indramayu hari Selasa tanggal 2 Okt 2001]


==========

Archive for Desember 26, 2004
Sejarah Terbentuknya Al Zaytun

Islam wal Muslimin memiliki sejarah permusuhan yang cukup panjang dan lama dengan para penyelenggara kekuasaan di Indonesia, bahkan sejak sebelum zaman kemerdekaan republik ini. Ketika Soekarno berkuasa telah terjadi pengkhianatan bila tidak boleh disebut sebagai penelikungan terhadap kesepakatan politik (Piagam Jakarta) terhadap para tokoh kubu Islam dalam hal pemberlakuan hukum Islam secara konstitusional. Kalah di medan politik kubu Islam yang lain meretas jalan melalui politik kekerasan, maka dimulailah pertarungan betulan antara sebagian kubu Islam dengan kubu nasionalis dan berakhir secara berdekatan dalam tahun, dengan gugurnya Kartosuwiryo dan Abdul Qahhar Mudzakkar.

Pertarungan kubu Islam versus penyelenggara kekuasaan selanjutnya bergeser dalam konteks ideologis, setelah itu pun musuh bebuyutan kubu Islam, Komunisme pun tersungkur kalah. Pergantian penyelenggara kekuasaan oleh Soeharto memunculkan kekuatan baru bernama SEKBERGOLKAR, dan sejak masa itulah dimulai program pembusukan terhadap kekuatan kubu Islam dengan memecahnya menjadi sebagian berada di permukaan yaitu dalam PARMUSI (Partai Muslimin Indonesia) sebagian lain diarahkan tetap dalam semangat bawah tanah yang bersymbol perlawanan dan kekerasan.

Dalam PARMUSI disusupkan orang-orang MuNas (Muslim Nasionalis) seperti HS Mintareja sedangkan kubu garis keras (NII) disusupi pion-pion intelijen, bahkan kebangkitan kembali NII tersebut dimusyawarahkan oleh para tokoh NII bersama Kolonel Pitut Soeharto dan jajarannya di markas Inteljen militer Senopati, kedua-duanya dibawah kordinasi Ali Murtopo - Soeharto. Kubu permukaan maupun kubu bawah tanah sepenuhnya terkendali, Ali Murtopo lantas menggarap sumber-sumber daya yang bisa dijadikan basis underbouw kekuatan ABRI-GOLKAR seperti Islam Jama’ah, Jama’ah Muslimin, Ahmadiyah dan

Aliran Kepercayan (Kejawen) serta kubu kristen-katholik.

Dan akhirnya kubu Islam permukaan nyaris mati kutu karena mati langkah, sedang kubu Islam bawah tanah terus digarap dengan serius karena bisa mendatangkan simpati dan bantuan dari Barat yang yahudi zionis. 8-[ NII yang tadinya mati dan remuk eksistensinya disulap Ali Murtopo menjadi segar dan malah trengginas (lincah). Bergeraknya kubu bawah tanah Muslim garis keras makin membuat ciut nyali kalangan kubu Muslim permukaan untuk bergerak, namun kalangan muslim muda PII & GPI yang mudah panas nampaknya terbawa gaya kubu muslim bawah tanah.

Gerakan kubu muslim bawah tanah nyaris mutlak berani seperti dahulunya lagi didalam mencanangkan jihad dan perlawanan terhadap penyelenggara kekuasaan. Dan boleh jadi, ibaratnya bila telah terjadi kebakaran, tanpa disiram bensin pun apa saja barangkali bisa ikut terbakar. Dalam kondisi yang seperti inilah Ali Murtopo dan Soeharto memainkan peran kepenguasaan ABRI dan legitimasi Pemerintahan GOLKAR dalam aksi pemadaman kebakaran, korban pun berjatuhan.

Rekayasa kekerasan akhirnya melahirkan simpati dunia internasional maupun lembaga HAM, dan penyelenggara kekuasaan Indonesia pun ditekan dan memaksa penguasa ORBA saat itu harus merubah strategi dan modus permusuhan dan program penghancuran Islam wal Muslimin. Yang terlihat oleh kita tokoh pemeran karakter policy Ali Murtopois yang berani tampil kedepan publik hanyalah LB Murdani, sedangkan untuk masa berikutnya hingga kini tidak satupun tokoh militer yang berani tampil secara terang-terangan memerankan sosok Ali Murtopo. Kita memang bisa merasakan adanya kehadiran, permainan dan karakter Ali Murtopo tetap dominan dan eksis di tengah kehidupan politik dan keagamaan kita, namun kita tak mampu melihat serta membuktikannya secara jelas dan nyata.

Dari sekian lama tempo dan kesempatan berkuasa yang telah diberikan ummat, maka sejak awal kemerdekaan republik ini hingga sekarang belum pernah sedetikpun ada yang memberi bukti atas rasa dan sikap tanggung jawabnya sebagai penyelenggara kekuasaan dalam memberikan informasi dan pendidikan, pembinaan dan bimbingan perlindungan serta jaminan keamanan dalam ber-Islam atau beragama secara benar. Yang ada justru sikap dan perlakuan yang bertentangan dengan fithrah Islam serta hak-hak dasar ummat. Inilah bukti adanya unsur kesengajaan dan adanya program penghancuran Islam wal Muslimin oleh para penyelenggara kekuasaan.

Dan dari sinilah awal munculnya kebencian ummat Islam terhadap setiap para penyelenggara kekuasaan di negeri ini, sehingga bila ummat lantas sadar kemudian mengambil sikap dan tindakan sendiri dalam urusan informasi, pendidikan, organisasi serta kepemimpinan internal Islam dan bisa juga lebih jauh dari itu yaitu bersikap oposisi atau merebut kekuasaan, maka hal itu adalah merupakan sesuatu sangat wajar. Dan itulah yang akhirnya terjadi dalam sejarah kejahatan yang luar biasa dari setiap penguasa bangsa kita hingga hari ini.

Keislaman ummat pun nyaris bebas mencari identitas dan jati diri berdasarkan kemampuan masing-masing yang corak maupun alirannya serba memiliki keterbatasan yang sangat bervariasi. Yang bisa kita saksikan, dengan keislaman ummat seperti itu penguasa negeri ini serta merta bersegera memanfaat sepenuhnya keadaan tersebut dan me-manage-nya secara rapi dan apik melalui management by conflict. Sikap berhadap-hadapannya ummat Islam dengan penguasa pun sangat bergantung pada policy yang digariskan dan diambil oleh penyelenggara kekuasaan.

Maka semenjak dunia internasional menekan penyelenggara kekuasaan di negeri ini agar jangan terlalu sadistis dan biadab dalam mendekadensikan ummat Islam maka policy kekerasan pun mulai ditinggalkan. Namun esensi permusuhan terhadap Islam wal Muslimin ternyata malah lebih ditingkatkan, yaitu dengan melalui pemberian dukungan fasilitas dan finansial terhadap setiap potensi kelompok muslim yang beraliran sesat dan bersifat merusak esensi Islam wal Muslimin maupun kelompok muslim yang ingin melakukan perbaikan dan tidak merusak pun sama-sama dilakukan, akibatnya pun ternyata sangat dahsyat.

Hampir setiap kelompok muslim rame-rame mengubah haluan policy dan orientasi gerakannya kepada dakwah, pendidikan dan ekonomi serta memberdayakan eksistensi kekelompokan berdasarkan pembaruan sistem managemen atau beralasan konsolidasi internal. Demikian pula halnya seluruh komunitas NII.

Sejak taktik dan strategi perjuangan NII berubah tahun 1990, dari aksi perlawanan dan kekerasan bersenjata digantikan dengan dakwah, pendidikan serta pembinaan. Maka gerakan NII menetapkan modus pendidikan sebagai cover resmi bagi gerakan NII di permukaan. Seluruh faksi yang ada dalam NII rame-rame dan berlomba melakukan persiapan kearah itu. Perubahan taktik dan strategi ini sesungguhnya dipelopori oleh faksi Abdullah Sungkar kemudian disusul oleh faksi Ajengan Masduqi dan dikonkretkan oleh faksi Adah Djaelani – Abu Toto melalui Al-Zaytun.

(Duren : Abdullah Sungkar dan kawan-kawan pada tahun 1971 mendirikan Yayasan Pondok Pesantren "Al-Mu'min" di daerah Ngruki, Solo. Pada tahun 1977, )

Faksi Abu Toto-Adah Djaelani yang secara material memiliki dana yang bisa dibilang cukup dan berlebih, baik dari hasil memeras dan menipu anggota jama’ah sendiri atau ummah maupun hasil dari menjual proposal kepada penguasa Orde Baru Soeharto untuk menggelar sarana pendidikan ummat dan sekaligus sebagai komitmen untuk mengakhiri ekstremitas gerakan NII di Indonesia. Komitmen yang terjadi antara penguasa ORBA dengan gerakan NII faksi Abu Toto-Adah Djaelani di saat Soeharto berada diujung ajal kekuasaannya

Secara politis sejak lahirnya ICMI, Soeharto merubah kebijakan politiknya kepada ummat Islam. Di bawah pengaruh Habibie, Faisal Tanjung dan R Hartono yang saat itu demikian bersemangatnya mengambil hati ummat Islam khususnya melalui pesantren, ORBA sepertinya menginginkan tutup buku dalam keadaan happy ending – husnul khatimah.

Semangat memberdayakan ummat melalui program pencerahan pendidikan dan pesantren, ICMI saat itu memang sangat bersemangat sekali ingin mengakhiri kejumudan dan keterbelakangan serta sekaligus mengeleminir ekstremitas ummat Islam terhadap kekuasaan dan sistem Pancasila.

Situasi yang seperti itulah mengantarkan terjadinya kompromi simbiosis-mutualistis antara ORBA dan NII maupun gerakan Islam yang lain terjebak dalam lubang biawak untuk yang kesekian kalinya. Sama-sama lelah dalam menjaga stamina konsistensi ideologis yang sama jahat dan dzhalimnya, yang satu mewakili kubu nasionalisme jahiliyyah yang lain mewakili kubu Islam jahiliyyah pula, :rolling: dua-duanya mengaku benar menurut perasaan serta pemikirannya. Di satu sisi ORBA bertekad untuk melunakkan ekstremitas gerakan perlawanan NII maupun yang lain, sedang di sisi lain NII dan gerakan Islam yang lain bertekad memanfaatkan sikap lunak tersebut untuk merekrut atau paling tidak bisa mempengaruhi para tokoh (a’immatal muslim) ORBA.

Karena sama-sama bernafsunya, akhirnya bertemulah dua kepentingan yang sebenarnya berbeda itu dalam satu kesepakatan jahiliyyah, yang antara keduanya berprinsip saling memanfaatkan dan menunggu kelengahan untuk akhirnya bisa saling menaklukkan. Abstraksi dalam orientasi maupun tujuan kerja sama antara ORBA – NII, pada hakekatnya tetap bermuara untuk merugikan Islam wal Muslimin secara substansi maupun global – integral.

Sarana pendidikan Al Zaytun oleh pihak ORBA dikumandangkan sebagai bentuk dan wujud kepeduliannya mencerahkan dan mencerdaskan ummat atau bangsa walaupun dalam hakekat adalah tetap untuk mendekadensikan sekaligus menguasai mereka. NII memanfaatkan sarana pendidikan Al Zaytun sebagai etalase multi fungsi (poleksosbud hankam, Ideologi & Gerakan) diantaranya untuk memperoleh kesempatan menata dan memancangkan kaki-kaki gerakan organisasi kelembagaan NII dimasa depan, hingga sampai disetiap ibukota propinsi hingga kabupaten atau distrik, sehingga dapat digunakan sebagai dalih yang kankret dan kuat bagi komunitas internal NII maupun berbagai pihak yang ditargetkan sebagai sasaran rekruitmen, untuk meyakinkan tentang telah demikian konkret dan meluasnya jaringan kordinasi NII yang sudah siap untuk mengambil alih kekuasaan politik sewaktu-waktu dari penguasa NKRI.

Secara gradual jaringan pendidikan Al Zaytun dengan seluruh penguasa propinsi (Gubernur) sudah terjalin demikian erat, artinya untuk program pendidikan seluruh penguasa propinsi Republik Indonesia hingga daerah telah setuju dan siap untuk menyelenggarakan sistem pendidikan Al Zaytun atau NII. Karena setiap propinsi nantinya akan didirikan ma’had Al-Zaytun yang fasilitas dan pelayanannya sama persis dengan ma’had Al Zaytun Indramayu. Dan disetiap daerah kabupaten telah berdiri kordinator Yayasan Pesantren Indonesia yang tugasnya untuk memberikan layanan bagi persiapan calon peserta didik yang ingin menyekolahkan putra-putrinya di ma’had Al Zaytun. Dan kini di setiap kabupaten telah dipersiapkan pelayanan bagi persiapan tersebut melalui penyelenggaraan pendidikan tingkat asas (tingkat Sekolah Dasar) dengan nama SD-NII (Sekolah Dasar Negeri Islam Indonesia).

Kesimpulannya, secara kordinasi, jalinan gerakan NII Al Zaytun dengan aparat pemda maupun teritorial (TNI/POLRI) sudah tertata rapi. \:D/

Bagaimana tingkat hubungan erat antara Soeharto, ORBA dan NII Al Zaytun? Abu Toto tokoh sentral NII Al Zaytun diketahui sering keluar masuk rumah Soeharto di Cendana. Saking dekatnya, Tutut pun tidak keberatan hadir ke Haurgeulis Indramayu ketika diminta Abu Toto untuk meletakkan batu pertama pada awal pembangunan ma’had Al-Zaytun tahun 1997.

Menurut penuturan Prof. DR. A Malik Fajar, mantan Menag era Habibie yang ikut serta meresmikan pembukaan pembelajaran di ma’had Al-Zaytun tahun 1999, dalam acara Multaqa Nasional BKSPPI di Sawangan Bogor 24 Juni 2001, pak Harto mengirimkan banyak sapi dari Tapos untuk Al Zaytun.

Sa’adilah Mursyidlah yang menyerahkan, seraya menceritakan kronologis pemberian sapi Tapos tersebut. Bahwa saat itu pak Harto telah menawarkan kepada seluruh pesantren, pesantren mana saja yang mau mengajukan permintaan sapi dan dana untuk pesantren ke Cendana, pak Harto pasti akan memberikan. Kebetulan penawaran tersebut tidak ada satu pesantren pun yang menanggapi kecuali pesantren Al Zaytun, maka akhirnya sapi dan sejumlah dana tersebut diberikan ke ma’had Al Zaytun semuanya oleh Sa’adilah Mursyid. Padahal ihwal penawaran seperti itu dari Cendana belum pernah didengar oleh seorang pun dari kalangan atau komunitas pesantren, tapi mungkin saja itu ulah dan permainan pribadi Sa’adillah Mursyid belaka, Allahu a’lam.

Di sisi lain komunitas Al-Zaytun sendiri menyatakan bahwa pembangunan Al-Zaytun dan segala macamnya tersebut adalah atas kepedulian Soeharto yang mengalihkan dana IGGI kali yang terakhir pasca JP Pronk, yang entah jumlahnya berapa trilyun rupiah untuk dimanfaatkan bagi kepentingan ummat Islam, karena konon selama ini sebagian dana IGGI tersebut dialokasikan untuk kepentingan program kristenisasi. Benar tidaknya pernyataan diatas oleh komunitas Al-Zaytun malah dipersilahkan membuktikan sendiri atau klarifikasi langsung kepada JB Sumarlin dan Soeharto di Cendana.

Ketika penulis mencoba mencari tahu dan klarifikasi masalah diatas melalui upaya investigasi-penelusuran kesana kemari, sampai hari ini belum memperoleh akses secuilpun, bahkan banyak kalangan menyarankan kepada penulis agar tidak terpengaruh oleh upaya penyesatan lebih lanjut dari kelompok sesat Al Zaytun ini.

Al Zaytun dan Persiapan Hankam :

Menurut cerita penduduk sekitar ma’had pada awal pembangunan yang dikerjakan di kawasan tersebut adalah pekerjaan penggalian tanah dengan tingkat kedalaman serta luas areal tanah yang digali yang sempat disaksikan warga sangatlah dalam dan besar, dan mereka menyebutnya sebagai bunker atau basement. Padahal sampai hari ini pihak diluar ma’had belum ada yang mengetahui letak basement atau bunker tersebut disebelah mana dan dibawah gedung apa. Pihak ma’had Al-Zaytun pun sampai hari ini tidak pernah menginformasikannya. Lantas kalau sampai hari ini ruangan bawah tanah tersebut tidak bisa diketahui dengan jelas tentang fungsi atau kegunaannya, maka perkiraan awam pun tentu akan menyatakan, berarti ma’had Al-Zaytun memiliki sesuatu yang sangat dirahasiakan dalam menata dan membuat ruang bawah tanah. Pertanyaannya, untuk menyimpan apakah kira-kira ruangan bawah tanah yang ada di ma’had Al-Zaytun tersebut?

Gerakan NII secara ideologis sebenarnya tidak pernah mengenal apa itu istilah toleransi, kompromi dan atau menyerah kalah serta melakukan infiltrasi dan mengakui eksistensi kekuasaan politik de facto NKRI, demikian pula terhadap kelompok Islam yang lain diluar NII digeneralisir sebagai bagian dari NKRI.

Langgam indoktrinasi gerakan NII adalah revolusioner dan non kooperasi, shibghah damarkasinya tegas berdasarkan furqan, sehingga jihad adalah menjadi trade mark fundamentalisme kemuslimannya. Membahas dan membicarakan jihad senantiasa mengacu pada terminologi qital fie sabilillah, dan terminologi jundullah-militansi tentara (lasykar) Islam. Demikian pula halnya gerakan ideologis NII Al-Zaytun maupun NII lainnya dalam konsep jihad mengacu kepada aspek persiapan perang merujuk kepada ayat 60 surah Al Anfaal: “Dan persiapkanlah olehmu (wahai kaum muslimin) untuk menghadapi kaum kuffar itu sekuat dayamu dari pada kekuatan kuda-kuda yang ditambat untuk menggentarkan musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian maupun yang lainnya.” :finga:

Dalam rangka membangun dan memelihara semangat jihad serta kesiapan berkorban yang istiqamah atas militansi NII inilah, secara teratur indoktrinasi kemiliteran dan disiplin organisasi ditanamkan kepada setiap warga NII pada strata tertentu, disamping melakukan latihan fisik ketentaraan mereka pun melakukan latihan menembak secara periodik.

Dalam hal ini pihak komunitas Al Zaytun secara resmi mengajukan latihan untuk keperluan tersebut kepada penguasa teritorial Indramayu. :-k Namun dikarenakan tidak mendapatkan rekomendasi resmi dari yang berkompeten, aparat teritorial pun akhirnya tidak bersedia memberikan pelatihan menggunakan senjata api bagi komunitas ma’had. Akan tetapi pada akhirnya pelatihan tersebut malah diberikan oleh pihak Polresta Indramayu. Saat hal ini dikonfirmasikan melalui telephon, pihak Polresta Indramayu ternyata sempat membenarkannya. :shock:

Dan alasan dari pihak Ma’had latihan tersebut diperlukan khusus untuk komunitas satuan khusus TIBMARA (Pasukan Keamanan Ketertiban dan Kesejahteraan), padahal dalam kenyataannya latihan kemiliteran tersebut justru publikasinya sangat ditonjolkan melalui media cetaknya majalah Al Zaytun. Adanya persiapan maupun latihan kemiliteran dalam strata tertentu komunitas ma’had Al Zaytun seperti ini membuat mereka memiliki sikap besar kepala dan rasa percaya diri berlebihan, selebihnya adalah lahirnya ketha’at patuhan yang luar biasa kepada garis komando. Sekalipun mereka pada prakteknya ditempatkan dalam posisi sebagai sipil atau mungkin lebih rendah dari itu.

Dan dengan doktrin kemeliteran itulah komunitas NII mengancam dan menakut-nakuti para anggotanya atau warga NII agar tidak pernah berpikir atau berangan-angan keluar maupun mengundurkan diri apalagi berkhianat. Walaupun dalam prakteknya telah puluhan ribu warga atau anggota NII yang keluar atau mengundurkan diri bahkan diantara mereka ada yang berani menentang balik, tokh dalam kenyataannya tidak satu pun diantara mereka yang mendapatkan sanksi sekalipun sekedar dipukul atau dijewer kupingnya.Kalau ancaman sanksinya sih, tembak mati atau potong leher.

======
TERBUKTI .. Islam membuat muslim nyaman dengan kedunguan !!
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: KW9 - Imingi Cewe Cantik- Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby duren » Mon Apr 25, 2011 12:10 am

Mana nie muslim dan muslimahnya ..
Singgah dunk kemari , ente ente blom kadung jadi korban KW9 kan :green:


Ok .. kita blogwalking dan muter muter dulu deh tuk sekedar tau tentang buku ini :

Image

Buku ini disebut pengarangnya MUHIDDIN M DAHLAN berdasarkan kisah nyata .
Bahkan di blog ini menulis sbb :

BUKU MANTAN NKA NII KW 9

Image


Dia muslimah yang taat, badannya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar, hampir semua waktunya dihabiskan untuk sholat, baca Al Qur’an, dan berdzikir. Dia memilih hidup yang sufistik demi ghirah kezuhudannya kerap dia hanya mengkonsumsi roti ala kadarnya di sebuah pesantren mahasiswi. Cita-citanya hanya satu untuk menjadi muslimah yang kaffah.

Tapi di tengah jalan, ia diterpa badai kekecewaan. Jama’ah yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam di Indonesia yang diharapkan menghantarkannya ber-Islam secara kaffah, ternyata malah merampas harta, studi, masa depan, dan juga nalar kritisnya. Setiap tanya yang ia ajukan dijawab dengan dogma dan bentakan !

Buat temen2 yang pernah ter”jebak” dalam kegiatan NII NKA KW 9, baca buku itu deh, lumayan buat ngembali’in rasa percaya diri yang ilang.

Bisa pesan ke alamat :
Image

============

Pertemuan dengan Tuan Rushdie di (blog) Neraka

Siapa perempuan pertama yang diciptakan tuhan sebagai pasangan Adam? Hawa? Bukan! Maia nama perempuan itu. Ia adalah perempuan pertama sebelum Hawa di Taman Eden. Ia perempuan yang cantik, molek, padat dan menggairahkan. Adam yang kalap termakan birahi akhirnya memerkosa Maia. Maia berontak, ia tak ingin takluk di bawah kekuasaan Adam. Ia ingin gaya bersetubuh perempuan di atas.

Gila, liar, begitulah sosok Muhidin M Dahlan, penulis novel ?Adam dan Hawa? (2005). Dalam novel ini penulis mengisahkan awal penciptaan manusia dalam versi lain, yang tak pernah diceritakan di kitab suci manapun. Awal kejadian manusia itu dibangun dengan imajinasi yang nakal, mengusik dan tentu saja akan membuat berang sebagian orang. Bagaimana tidak, masak Adam diciptakan dari ketiak tuhan sebelah kanan!

Benar saja, tak lama setelah novel itu diterbitkan, penulis dihadiahi somasi oleh Majlis Mujahidin Indonesia (MMI). Muhidin dituduh telah meneror tuhan, menghina nabi muhammad, dan oleh karenanya dia harus minta maaf. Segenap sumpah serapah juga telah jauh hari dialamatkan kepadanya, ketika novelnya ? Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur? (TIAMP) diterbitkan pada tahun 2003. Novel ini merupakan seri pertama dari trilogi ?Adam dan Hawa? dan ?Kabar Buruk dari Langit?.

TIAMP berkisah seorang muslim taat, berjilbab, yang hendak menjadi pelacur oleh karena kekecewaannya kepada tuhan. Terlebih setelah kehormatannya direnggut justru oleh ketua sebuah organisasi islam yang diharapkan akan memberinya pencerahan. Sedang ?Kabar Buruk dari Langit? membongkar sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia yang penuh intrik dan melibatkan pertumpahan darah antara golongan pemeluk islam syariat dan hakikat (penganut faham Wahdatul Wujud, manunggaling kawulo gusti).

Dalam sebuah diskusi bedah buku TIAMP di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM), salah seorang pembicara dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menuduh Muhidin sebagai seorang marxis dengan kebencian kepada tuhan yang luar biasa. Muhidin disebutnya sebagai ?Nabi Kegelapan? bahkan disumpahi masuk neraka dan murtad.

Siapakah Muhidin M Dahlan, benarkah tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya itu?

Muhidin adalah seorang pendatang asal Sulawesi yang kini tinggal di kota pelajar Yogyakarta. Ia sempat kuliah di Jurusan Sejarah Peradaban Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Teknik Pembangunan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Namun keduanya tak diselesaikan. Ia hanya mencicipi kuliah sampai semester tiga di UIN Sunan Kalijaga. Oleh rekan di kampusnya ia biasa disapa Gus Muh. Alumni Sekolah Teknik Mesin (STM) ini sebelumnya sangat awam dengan dunia sastra. Ia juga seorang muslim taat. ?

Saya itu aktivis islam baik-baik. Dulu saya ingin sekali mendirikan negara islam. Tapi terbentur oleh wacana pluralisme Cak Nur dan 'komplotannya'. Jadilah saya urung niat. Saya pernah di PII, PMII, dan HMI MPO. Saya dapatkan di sana adalah perbenturan wacana keislaman yang plural: dari fundamentalisme ke sekularisme religius; dari kanan ke kiri. Dari wacana khilafah sampai sosialisme religius...? akunya.

Indrian Koto, penyair muda yang kini menjadi rekan karib Muhidin, menceritakan ihwal perkenalannya di blog dengan penulis yang memberikan kata pengantar dalam beberapa karya Pramoedya Ananta Toer itu. Waktu itu Koto masih duduk di semester awal di UIN. Sama seperti Muhidin, ia juga seorang pendatang di Jogja. Ia awam dengan kota ini. Kali pertama ia mengenal Muhidin dari sebuah foto close-up hitam-putih yang dipajang mendampingi esainya yang dimuat di sebuah majalah kampus.

?Masa orang kayak begini diributkan? Tampangnya biasa aja tuh,? pikirnya.

Selanjutnya, Koto diperkenalkan sosok Muhidin melalui sebuah cerpen Phutut EA yang salah satu tokohnya diduga Muhidin. Dalam cerpen itu diceritakan Muhidin diminta kawannya untuk meminum bir. Dia meminumnya sambil memejamkan mata. Tak urung, aksinya itu menuai ledekan dari teman-temannya.? Kau bayangkan, dia terpaksa minum bir. Hanya bir, dan dia harus menelan bagai obat. Ah, bukankah orang ini menulis banyak soal selangkang, kenapa dengan minuman saja takut,? tulis Koto. :rolling:

Begitulah Muhidin. Sosok yang terkesan liar itu, dalam kesehariannya ternyata tak se-"seram" dan se-"liar" seperti yang ditangkap oleh para pembaca dari beberapa karyanya yang kontroversial itu. Malah penolakan-penolakan atas karyanya di lain pihak justru melambungkan namanya. Novelnya TIAMP, per Maret 2007 telah dicetak ulang hingga 12 kali. \:D/

Tapi tak mudah Muhidin mencapai kesuksesannya ini. Ia harus melewati masa-masa sulit ketika novelnya itu menuai banyak kritik dari berbagai pihak. Ia harus bolak-balik Jogja-Jakarta. Ia menyiapkan tanggapan sejumlah kritik yang menyudutkannya. Bahkan, anda bisa membayangkan, betapa tegang dirinya, ketika dalam forum diskusi sebagian massa emosional, dan berteriak ingin membunuhnya!

?Menceritakan sisi lain dari dunia islam ini kan nggak mesti yang baik-baik saja, mentang-mentang dunia agama. Nah saya membidik dunia itu. Yang ngamuk-ngamuk itu, karena mereka tutup mata bahwa ada sisi lain dari jalan dakwah ini, ada negative film dari dunia yang seolah-olah 100 % suci dan benar ini,? terangnya.

Ide menulis Gus Muh datang dari mana saja. Novelnya TIAMP, seperti yang diakuinya, merupakan kisah nyata. Ini merupakan hasil wawancaranya dengan seorang teman yang aktif di organisasi pergerakan kampus, yang suatu kali ingin menjadi pelacur. Oleh karenanya novel ini dapat dirampungkannya dalam waktu yang relatif singkat. Satu minggu mentranskip hasil wawancara, seminggunya lagi menulis.

?Adam dan Hawa? lain lagi. Dia duduk setiap malam selama sepekan di depan Benteng Vredeburg Jogja sampai subuh, lalu menulis ulang kisah Adam yang tak terceritakan dalam Kitab Suci. Dengan hati berbunga-bunga dia menuliskannya, bahkan tertawa terbahak-bahak sendiri seperti orang gila di Malioboro. Untuk menangkap bentuk Pohon Quldi, dia melihat secara seksama pohon beringin di depan kraton itu.

Yang melelahkan adalah ?Kabar Buruk dari Langit?. Penggarapan novel ini memakan waktu yang cukup lama jika dibanding dua novel sebelumnya. Tak hanya itu, ia harus mendaki Merapi. Untuk apa? Menulis!

?Nyaris tiap hari selama 10 bulanan menulis novel gemuk Kabar Buruk dari Langit. Tiap hari naik. Sendirian pakai tenda. Sesekali nginep. Tapi lebih banyak tidaknya. Kalau sudah nyaris tenggelam matari, baru turun. Ini penting karena butuh konsentrasi penuh. Novel ini tentang kesunyian,? kenangnya.

Kisah kontroversial Muhidin rupanya mengikuti jejak pendahulunya, Salman Rushdie. Penulis novel ?Satanic Verses? (1988) ini sempat menghebohkan dunia islam gara-gara karyanya yang mengobok-obok wilayah sejarah penyampian wahyu dari malaikat Jibril ke Muhammad yang disebutnya sebagai "Ayat-ayat Setan".

?Keberanian (dan juga rasa nekad!) saya mengumpul dalam menuliskan sebagian manuskrip Kabar Buruk dari Langit dan Adam Hawa kala itu, tatkala bersamaan dengan usainya saya ?ngaji? kitab Tn Rushdie yang konon ?berbahaya? itu, The Satanic Verses,? tulisnya dalam blognya, akubuku.blogspot.com.

akubuku.blogspot.com disebutnya sebagai blog neraka. Berisi sehimpun ulasan atau komentar atas apa yang pernah ditulisnya dalam beberapa buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini bukan hadir sebagai pembelaan atas karya-karyanya, tapi juga, di lain pihak dimuat ulasan-ulasan yang justru menyudutkannya. Baginya kritik harus dibalas dengan kritik, buku harus dijawab dengan buku. Tidak asal main tuduh apalagi dengan cara kekerasan.

?Ini bukan surga. Di sini, perkelahian selalu berlaku. Maka bertahanlah secara kreatif. Jangan merunduk. Kalaupun merunduk, janganlah terlalu terbenam. Kalaupun terbenam, janganlah terlalu lama...? pesannya kepada pembaca


=================
Resensi dari seorang pembaca

Image

TUHAN IJINKAN AKU MENJADI PELACUR (TIAMP) : Memoar Luka Seorang Muslimah


Buku ini pertamakali kubaca sekitar tahun 2003- 2004. Saat itu masih susah untuk dapet buku ini, soalnya sempat mau dibakar segala setelah muncul kontroversi. Aku dapat dari nitip seorang kawan yang jalan-jalan ke Jogja. Itupun dia dapetnya mesti muter seluruh toko buku dan cuma dapet satu, yang tinggal satu-satunya. Harganya 28.000. Aku tahu buku itu dari seorang teman.

Pertamakali membaca buku ini, aku merasa ditelanjangi. Semua kalimat yang ditulis seperti menterjemahkan apa yang aku alami. PERSIS…!!! Pemberontakannya pada Tuhan, Ketidak percayaannya pada Cinta, Perkawinan, dan Laku-laki. Semua sedang kualami. Aku dalam kondisi depresi dan kecewa yang berat. Hanya saja aku belum menentukan pilihan akan kemana membawa alur perahu kehidupanku, Tokoh di buku ini sudah, Dia memilih menjadi pelacur sebagai bentuk pemberontakan dan sekaligus aktualisasi atas kekecewaanya.

Nidah Kirani, dalam kegamangan hatinya menemukan komunitas islam kanan yang mendekatkannya pada konsep-konsep ketuhanan dengan sandaran hati. Nidahpun tersentuh, terpesona dan jatuh hati pada kesantunan dan kelembutannya. Maka totalitaspun diberikannya. Namun yang diterimanya kemudian, bukan kepuasan melainkan kekecewaan. Kesadarannya memberontak ketika banyak hal yang ditemuinya saling bertentangan. Banyak kemunafikan, manusia-manusia bertopeng di sekitarnya. dia pun mulai mempertanyakan eksistensi Tuhannya.

Dalam kekecewaannya, Nidah berkelana. Dari satu organ ke organ lain. Mengeksplorasi habis-habisan kecerdasannya. Mengungkapkan semua ide dan hasrat ingin tahunya. Bertemu satu laki-laki ke laki-laki lainnya. Dan pertahanan diri yang lemah mendorongnya untuk memenuhi hasrat nafsu manusiawinya, BERCINTA,BERSETUBUH dengan dalih pemberontakan. (Padahal sebeneranya hanya cara lain untuk melampiaskan kejenuhan, kekesalan,kekecewaan, dan kebuntuan hati)

Laki-laki yang ditemuinya, yang menidurinya, adalah figur-figur yang dalam penampakannya menampilkan sisi-sisi idealis, sisi sisi religius,sisi-sisi yang ‘BAIK’. Hal ini yang menjungkir balikkan lagi keyakinan dan kepercayaannya. Yang tampang ustadz, menidurinya, yang seniman menidurinya, yang aktivis menidurnya. Dalam suasana hati yang luluh lantah, kepercayaannya pada laki-laki, perkawinan,dan cinta pun menjadi Nihil.

Dan dengan perasaan nista, putus asa, marah, kecewa, dia berusaha untuk bangkit dan tak mau kalah. Maka dicarinya pembenaran-pembenaran yang dapat menguatkan hatinya. Hingga dia pun dapat berdiri tegak, mengangkat dagu, dan menantang dunia, tuhan, dan realitas. Di perantarai seorang dosen pembimbing skripsinya , Nidah menasbihkan diri untuk melacurkan diri. Sebagai bentuk pemberontakannya pada Tuhan terkasihnya
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: KW9 - Imingi Cewe Cantik- Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby duren » Mon Apr 25, 2011 11:18 am

Keluar sejenak dari KW9 tuk meluaskan wawasan tentang NII dan segala teori KONSPIRASINYA .

NII KW1


Kita akan membahas berbagai sisi NII , maksud NNI KW1 adalah NII Kwalitas No 1 :rolleyes: :green:

===============

Organisasi NII Sudah Wassalam, NII 'KW1' Sengaja Dibuat Intelijen

Jakarta - Isu Komandemen Wilayah (KW) 9 Negara Islam Indonesia (NII) kembali meruyak pasca linglungnya Liana Febriani alias Lian.

Mustofa B Nahrawardaya, Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), mensinyalir, aparat sengaja memelihara isu NII untuk digunakan sebagai wahana penutup terhadap kasus lain yang menjadi sorotan masyarakat.

"Jika anda familiar dengan istilah NII (Negara Islam Indonesia), wajar saja. Karena pemerintah melalui berbagai cara sukses melakukan propaganda bahaya laten NII," pendapatnya dalam keterangan tertulis kepada detikcom, Kamis (14/4/2011). Menurutnya, tidak seperti isu PKI yang kini sudah mulai berlalu, isu NII tampaknya akan terus digelindingkan dengan bermacam latar belakang tujuan.

Bagaimana Mustofa bisa menyimpulkan demikian? Ada baiknya kita baca pokok pikiran pengurus Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah yang juga staf Ahli DPR RI ini:

1. Semenjak pergantian imam dari Kartosoewirjo kepada para penggantinya sebelum terbentuk Komandemen Wilayah IX (atau lebih dikenal NII KW9), NII sudah tidak lagi murni gerakan NII. Gerakan pembentukan negara di bawah bendera agama Islam itu, sudah disusupi (diinfiltrasi) oleh intelijen. Alhasil, NII bentukan intelijen ini sungguh jauh benar karakternya dengan NII yang semua dirintis Kartosoewirjo, Daud Beureuh, Hingga kepemimpinan NII era saudara Seno/Basyra yang tertangkap aparat sebelum awal tahun 80-an.

2. Dengan sentuhan intelijen, gerakan NII tidak lagi bisa bergerak sesuai tujuan NII semula, karena gerakan NII bentukan intelijen disetting sedemikian rupa sehingga mengubah karakter NII yang berpedoman Al Qur'an dan Hadits menjadi NII modifikasi dengan tujuan merusak citra NII. Banyak simpatisan NII yang kemudian tidak lagi ingin meneruskan menjadi kader NII karena mengira organisasinya sudah keluar dari tujuan.

3. NII bentukan intelijen saat itu, sengaja dipelihara untuk menghabisi NII yang murni. Pembantaian terhadap citra NII, sarat dengan kepentingan politis. Dengan adanya NII bentukan intelijen, sangat mudah mengadu domba masyarakat dengan aktifis NII. Masyarakat pun dibuat jengkel dan marah terhadap NII, karena intelijen terus menerus mengkampanyekan karakter NII yang suka mencuri, membaiat dengan cara khusus, mengkafirkan orang, pengumpulan dana secara massal terselubung, atau perekrutan menggunakan model indoktrinasi. Padahal NII rintisan Kartosoewirjo tidak mengajarkan seperti itu.

4. Upaya propaganda hitam intelijen terhadap NII tidak berhenti hingga kini. Korban-korban rekrutan NII sengaja diciptakan agar mengesankan masih eksisnya NII. Padahal, kepolisian sudah menerima banyak laporan korban rekrutan NII, namun terbukti sampai sekarang polisi juga belum bisa menemukan dan menangkap gembong NII. :-k Patut diduga, aparat sengaja memelihara isu NII untuk digunakan sebagai wahana penutup terhadap kasus lain yang menjadi sorotan masyarakat. Apabila memang serius menghentikan praktek makar NII, pemerintah pasti sudah melibasnya. Termasuk Kapolda Metro Jaya, apabila memang sudah lama mengendus keberadaan NII, segera saja tangkap dan adili dengan fair. Pembiaran ngambangnya isu NII sama persis dengan pembiaran isu terorisme yang bertujuan untuk menyambut propaganda anti radikalisme agama oleh Amerika.

5. Kesimpulannya, NII yang ada saat ini tidak lain tidak bukan adalah "NII KW1" (baca: NII Kwalitas Nomor 1) alias NII kloningan yang pola indoktrinasi, perekrutan, struktur, kepemimpinan, dan pola publikasinya, dilakukan sangat mirip dengan aslinya. Masyarakat awam yang menjadi korban perekrutan akan mengira ini adalah ulah NII. Padahal bukan.

"Tidak hanya ada merek tas lokal dengan sebutan produk KW1, namun kini pun ada NII KW1 yang sulit membedakan dengan NII aslinya. Maka dari itu, seandainya ada anggota keluarga yang konon menjadi korban perekrutan NII dengan ciri-ciri linglung, atau bicaranya ngelantur soal pria berjenggot, soal pengajian, soal ustadz, soal jamaah, soal NII,....eits, jangan langsung menuduh itu kerjaan NII . Kasihan NII aslinya. Sudah tidak ada, masih juga difitnah. Kasihan kan?" tutupnya. :-s

===============
Konspirasi ?!?! ..
Yok kita duga duga pada kemana aja tuh para NII KW1, dan kita mulai dari sini :finga:

Surat Yusuf Supendi 'Seret' JK dan Wiranto

Jakarta - Di dalam surat pengaduannya kepada pimpinan KPK, Yusuf Supendi memaparkan dugaan skandal keuangan yang dilakukan elite politisi PKS. Di dalam surat itu juga dia cantumkan nama Wiranto dan Jusuf Kalla. Apa peran dua tokoh politik tersebut?

Berikut kutipan salinan surat yang ditandatangani Yusuf Supendi. Salinan dia bagikan langsung kepada wartawan sebelum meninggalkan Kantor KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (21/3/2011):

Pada kesempatan ini saya menyampaikan kepada Ketua dan Pimpinan KPK serta seluruh jajaran penegak hukum perihal masalah keuangan terkait elite PKS. Antara lain;

1. Uang mahar sebanyak Rp 40 miliar yang bersumber dari Adang Daradjatun dan digelapkan oleh Anis Matta sebesar Rp 10 miliar.

2. Uang sebanyak Rp 21 miliar yang dipublikasikan di Tempo edisi 31 Desember 2006 halaman 149. Elite PKS Hilmi Aminuddin mengatakan "Secara resmi PKS belum menerima uang dari Wiranto". Jika tidak resmi bagaimana?

3. Uang sebanyak Rp 34 miliar dari Jusuf Kalla pada Pilpres 2004 yang dikelola Luthfi Hasan Ishaaq, bendahara PKS.


Saya memilih kata 'mengelola Rp 34 miliar', saya tidak pernah memakai kata 'menerima' sebab masing-masing punya makna dan implikasi tersendiri. Yang saya sampaikan adalah pengelolaannya, bukan penerimanya dari Jusuf Kalla.

Saya menyerahkan bahan permulaan sejumlah dokumen untuk dipelajari. Sebuah amplop kecil untuk dipelajari berisi surat sakti, alat bukti terkait dana Rp 10 miliar, nama-nama selusin saksi terkait penggelapan yang dilakukan Anis Matta, nama pemegang bukti fisik manipulasi data donatur ke KPU.

Pada kesempatan ini pula saya menuntut KPK;

A. Segera melakukan langkah hukum terhadap elite PKS yang dikomandoi Saudara Hilmi Aminuddin (pembuktian terbalik).
B. Segera tindak lanjut kasus daging sapi bermasalah: Main Daging Pentolan PKS, Renyah 'Daging Berjanggut'.
C. Segera tindak lanjuti dugaan gratifikasi elite PKS.
D. Segera koordinasi ke KPU dan kepolisian terkait dana donatur Rp 50 miliar. Oleh karena itu KPU atau kepolisian agar memblokir Kantor DPP PKS dan mengamankan semua bukti fisik agar tak terjadi penghilangan data.

Insya Allah terutama saat konfrontasi, saya siap hadir.

Siapa pun operator ancamaman kekerasan yang dapat menghilangkan nyawa, aktor interlektualnya adalah Luthfi Hasan, Presiden PKS. Dan patut diduga sutradaranya adalah Hilmi Aminuddin yang berpengalaman di NII.

Demikian hal yang saya sampaikan. Atas perhatian Ketua dan Pimpinan KPK serta segenap penegak hukum, saya ucapkan banyak terimakasih.

Jakarta, 21 Maret 2011
Yusuf Supendi"


Sekadar diketahui, Jusuf Kalla telah menjawab tudingan Yusuf Supendi. "Dana itu sama sekali tidak benar," kata JK kepada detikcom.

========
Siapakah Hilmi Aminuddin yang katanya berpengalaman di NII tersebut ??

I'll be back :snakeman:
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: NII KW1 ( NII Kwalitas no 1 )

Postby duren » Mon Apr 25, 2011 1:45 pm

NII KW1
================
Ternyata Yusuf Supendi adalah teman kuliah Hilmi di Arab Saudi !! :shock:
Bahkan menurut pengakuan Yusuf , dia lah yang ngetik skripsi Hilmi

Misteriusnya Hilmi Aminudin

ImageImage

Jakarta - Hilmi Aminudin hingga kini masih menjadi sosok yang misterius. Ia dikenal sebagai Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tapi, siapa Hilmi? Apa latar belakangnya sehingga bisa memimpin PKS? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Beda dengan petinggi parpol lain yang biodatanya mudah dicari, biodata Hilmi pun sulit ditemukan.

Kepemimpinan Hilmi tidak bisa dipungkiri menjadikan PKS sebagai partai yang sukses. Partai ini berhasil mendudukkan kadernya di DPR, memiliki sejumlah menteri dan sejumlah pejabat daerah. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari strategi Hilmi yang menjadi pemimpin tertinggi partai. Hilmi menjadikan PKS sebagai partai yang moderat dan terbuka.

Namun seperti pepatah, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus. Mungkin demikian yang berlaku bagi PKS. Setelah kisah sukses mendudukkan kadernya di DPR dan pemerintahan, PKS pun diterjang isu tidak sedap. Dan isu itu dihembuskan justru oleh pendiri partai itu sendiri, Yusuf Supendi.

Hilmi cs dituding telah menggelapkan uang partai. Yusuf tidak main-main dengan tudingannya. Ia telah melaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia melaporkan Sekjen PKS Anis Mata atas penggelapan dana Rp 10 miliar dari total Rp 40 miliar sumbangan Adang Daradjatun dalam Pemilukada 2007. Dia juga melaporkan Luthfi Hasan atas pengelolaan dana Rp 34 miliar dari Jusuf Kalla (JK) pada Pemilu Presiden 2004. Saat itu, Luthfi adalah bendahara PKS.

Dan tentu saja Yusuf juga membidik Hilmi, yang tidak lain adalah pimpinan puncak partai. Sebagai Ketua Majelis Syuro, Hilmi dianggap paling bertanggungjawab atas terjadinya skandal penggelapan dana partai. "Saya punya bukti dan puluhan saksi atas kasus penggelapan dana ini," tegas Yusuf.

Yusuf menyebut Hilmi menjadi kaya raya secara drastis. Hilmi pulang setelah lulus kuliah di Arab Saudi hanya mengontrak rumah di Tanah Abang dan memiliki motor. Lalu pada tahun 1990-an, ia pindah ke Cipinang. Tahun 1995, Hilmi baru membangun rumah di Cipinang. Dalam ingatan Yusuf, tahun 2003 hingga 2004, Hilmi dan keluarga belum hidup berkecukupan. Sang istri masih berjualan jilbab dan baju muslim di Kalimalang.

Mulai tahun 2004-an, kekayaan Hilmi meningkat pesat. Setelah memiliki vila di Anyer, Hilmi kemudian membangun vila mewah di Lembang, Bandung.Vila di Bandung inilah yang belakangan menjadi gunjingan. Lahan vila seluas 5 hektar tersebut dibeli setelah Pemilu 2004 dan mulai dibangun pada 2009. Dibandingkan rumah atau vila di sekitarnya, vila Hilmi yang terdiri dari 8 bangunan ini terlihat paling mewah.

Darimana kekayaan itu diperoleh Hilmi hingga kini masih misterius. Karena sebagai pemimpin partai, Hilmi menolak digaji. Sementara pekerjaan atau pun bisnis Hilmi tidak ada yang diketahui merupakan binsis yang besar. Yusuf pun sejak tahun 2005 meminta dilakukan audit investigasi keuangan partai. "Makanya saya bilang, kaya drastis," kata Yusuf.

Yusuf menuding Hilmi telah menggelapkan dana miliaran rupiah dari capres pada Pemilu 2004 maupun Pemilu 2009.Terhadap tudingan Yusuf, Hilmi telah membantahnya. Ketua Majelis Syuro itu menyebut Yusuf sakit hati karena dipecat dari partai. "Itu fitnah," kata Hilmi.

Selain isu kekayaan, Hilmi juga diisukan merupakan binaan, bahkan ada juga yang menuding merupakan anggota intelijen. Isu ini terkait orangtua Hilmi, Danu Muhamad Hasan, yang merupakan tokoh gerakan DI/NII yang menjadi binaan intelijen. Hingga kini isu tersebut belum ditanggapi Hilmi.

Banyak wartawan yang mengejar Hilmi, namun petinggi PKS ini susah ditemui. Wasekjen PKS Mahfudz Siddiq mengungkapkan selama ini Hilmi memang bukan orang yang gampang ditemui. "Jangankan wartawan, kader dan pimpinan PKS juga susah ketemunya," kata Mahfudz. Susahnya menemui dan meminta pernyataan Hilmi semakin menjadikan Ketua Majelis Syuro PKS ini sosok yang misterius.


Vila Hilmi Paling Mewah, Dikelilingi Kebun 5 Hektar


Jakarta - Puncak Punclut, Lembang, Jawa Barat, dikenal punya view yang indah. Dari kawasan tersebut dapat dilihat pemandangan kota Bandung. Tidak heran di kawasan tersebut mulai tumbuh vila dan rumah makan untuk tempat istirahat sambil melihat kota Bandung dari ketinggian.

Salah satu pemilik vila di kawasan itu adalah Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di kawasan ini, tepatnya di kampung Babakan Bandung, Rt 03/09, Pagerwangi, Lembang, Bandung Utara, Hilmi punya kompleks vila yang mewah. Sejumlah bangunan mewah berdiri di atas lahan perbukitan yang curam.

Untuk mencapai kompleks vila milik Hilmi jarak yang ditempuh sekitar 15 kilometer dari Kota Bandung via Dago.Sementara dari Lembang jaraknya hanya sekitar 5,8 kilometer. Kalau ingin menuju vila Hilmi dari Kota Lembang, harus melewati Pasar Panorama, Lembang. Dari situ jalanan terus menanjak melewati Komplek AURI, serta sejumlah rumah makan yang menyajikan menu nasi timbel. Di sepanjang perjalanan juga terlihat hamparan lahan pertanian sayur-mayur, seperti tomat, cabai, kol dan bawang.

Menurut Ganjar Nugraha, Ketua RW 10, Desa Pagerwangi, Lembang, luas bangunan kompleks vila milik Hilmi sekitar 5.000 meter persegi. Sedangkan lahan hijaunya, yakni perkebunan luas yang dimiliki mencapai 5 hektar. "Lahan untuk vila dibeli 5 tahun lalu. Kalau untuk perkebunan sayur dibeli sekitar tahun 2009," terang Ganjar saat berbincang-bincang dengan detikcom.

Ganjar yang sudah 3 tahun menjabat sebagai Ketua RW di situ mengaku tahu persis kapan Hilmi mulai membeli lahan dan kemudian membangun kompleks vila mewah di perbukitan itu. Soalnya Ganjar adalah orang yang mengatarkan Hilmi bertemu dengan pemilik lahan sebelumnya.

Kata Ganjar, sebelum dibeli Hilmi lahan perkebunan tersebut milik Prof Jamhur Sule, salah satu alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Dan kebetulan Ganjar yang mengurusi lahan milik sang profesor tersebut.

"Pak Jamhur itu dulu junjungan (atasan) saya. Sebelum saya jadi Ketua RW. Jadi sayalah yang mengantarkan Pak Hilmi menemui Pak Jamhur saat ingin membeli tanah itu 5 tahun lalu," jelasnya.

Saat itu Hilmi membeli lahan seluas 5.000 meter dengan harga Rp 150.000 per meternya. Harga tersebut memang relatif murah untuk kawasan yang punya view yang indah. Tapi memang saat itu, ujar Ganjar, jalan yang melintas di lokasi tersebut masih jelek alias rusak. Sehingga harga tanah di situ masih murah.

Kini setelah jalan alternatif itu sudah mulus dengan aspal yang dihotmix, harga tanah di kawasan itu secara cepat merangkak naik. Saat ini harga tanah untuk lahan yang ada di pinggir jalan sekitar Rp 400 ribu-Rp 500 ribu per meter perseginya. Sedangkan harga tanah yang lokasinya di dalam alias tidak bisa dilalui mobil harganya berkisar Rp 150 ribu-Rp 300 ribu.

Dijelaskan Ganjar, jalan alternatif Dago-Lembang mulai dihotmix tahun 2009, berbarengan dengan pembangunan kompleks vila milik Hilmi. Dan di tahun yang sama, Hilmi juga mulai membeli lahan-lahan pertanian yang ada di sekitar kompleks, hingga luas lahan itu mencapai 5 hektar.

Sekadar gambaran, penduduk Desa Perbawangi jumlahnya 876 kepala keluarga. Menurut Kepala Desa Pagerwangi Ruspandi, mayoritas penduduk desa bekerja sebagai buruh tani. Adapun lahan pertanian kol, cabai, tomat dan bawang yang terhampar di kawasan Puncak Punclut sebagian besar milik orang-orang dari Kota Bandung dan sekitarnya.

Dibandingkan dengan vila dan rumah penduduk sekitar yang masih sederhana, vila Hilmi terlihat mencolok dan paling mewah. Vila ini juga paling luas dibandingkan vila lainnya.

Hilmi sendiri mulai terdaftar sebagai warga RT 3/RW 10, Desa Pagerwangi, sejak 2006. Nah, sejak itu Hilmi menjadi bagian dari 120 kepala keluarga yang tinggal di RW 10. Sejumlah warga yang ditemui detikcom mengatakan mengetahui sosok bos PKS yang tinggal di wilayah tersebut. Hanya saja warga mengaku jarang berbicara atau bertatapan langsung dengannya.

"Ustad seringnya berada di dalam rumah. Sekalipun keluar ia mungkin ke Kota Lembang atau ke luar kota. Kalau pergi untuk jarak dekat biasanya dia memakai mobil Avanza. Kalau jarak jauh, seperti ke Jakarta Ustad suka naik mobil jip, " ujar Yati, pemilik warung yang letaknya sekitar 50 meter dari komplek vila milik Hilmi.

Kompleks vila itu mulai sering dikunjungi orang, umumnya kader-kader PKS, sejak 2010. Kompleks vila itu kemudian diberi nama Padepokan Madani Centre. Padepokan ini digunakan sebagai balai pendidikan dan pelatihan kader-kader PKS dari seluruh Indonesia.

"Materi pelatihan macam-macam. Bisa tentang pendidikan, rumah tangga Islam, serta pendidikan anak. Semua jenjang kader bisa ikut pelatihan di sini," jelas Reza Mahdi pengurus Madani Center kepada detikcom.

Dijelaskan Reza, luas lahan di kompleks Madani Center sekitar 1,3 hektar. Adapun fasilitas yang dimiliki berupa ruang pertemuan, kantin dan kamar menginap yang bisa menampung 100 orang. Selain itu komplek tersebut juga dilengkapi playground untuk permainan anak-anak berupa ayunan, perosotan, jungkat-jangkit, dan flying fox.

Vila Hilmi Dilengkapi Bengkel, Kantin & Ruang Pelatihan

Jakarta - Sebuah mobil jip Pajero Sport warna putih dan tiga mobil jip merek Nissan Terano tampak terparkir di garasi rumah yang ada di dalam kompleks vila Madani Centre. Rumah itu dihuni Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Rumah berlantai 2 tersebut berada di sisi sebelah kiri ketika memasuki pintu gerbang kompleks atau berseberangan dengan pos keamanan kompleks.

Seorang petugas keamanan kompleks vila yang ditemui detikcom mengatakan, mobil-mobil jip itu adalah milik Hilmi. Sudah sejak lama Hilmi menyukai mobil jip. Bahkan untuk memantau kondisi mobil-mobil jipnya tersebut Hilmi juga memiliki seorang montir pribadi. Si montir punya nama panggilan Abah.

Nah, selain bertugas merawat mobil jip milik Hilmi, Abah juga dipercaya untuk mengelola sebuah bengkel khusus untuk perbaikan mobil jenis jip. Bengkel ini terletak di depan jalan menuju gerbang kompleks Madani Centre. Bengkel ini merupakan salah satu usaha yang dimiliki Hilmi.

Usaha bengkel tersebut juga dibangun berbarengan dengan kompleks vila yang dibangun Hilmi di kawasan itu, pada 2009 silam. Setahun kemudian, 2010, kompleks vila itu kemudian dijadikan tempat pelatihan dan pendidikan para kader PKS dengan bendera Padepokan Madani Centre.

Dari kejauhan, kompleks vila tersebut terlihat begitu mewah. Dari pantauan detikcom, di kompleks itu ada 8 bangunan yang terdiri dari 1 kantin, 1 ruang pelatihan, dan 6 rumah kayu yang dicat warna hijau untuk tempat menginap. Selain itu kompleks tersebut dilengkapi mushola.

Memang bisa dibilang, kompleks vila tersebut terlihat paling mewah dibandingkan bangunan rumah atau vila yang ada di Desa Pagerwangi, Lembang, Bandung Utara. Malah ada kabar menyebutkan, selain berdiri bangunan mewah, kompleks vila tersebut juga dilengkapi kolam renang bahkan jacuzzi (tempat berendam).

Bukan itu saja, di kompleks tersebut juga disebut-sebut memiliki sebuah safe deposite box yang panjangnya 2 meter. :prayer: Kotak tersebut kabarnya digunakan sebagai tempat penyimpanan uang cash yang berasal dari kader-kader PKS maupun sumbangan dari donatur.

Namun kabar itu langsung dibantah Pengurus Madani Centre Reza Mahdi. Menurut Reza, tidak ada kolam renang apalagi jacuzzi di kompleks itu. "Tidak ada jacuzzi dan kolam renang di kompleks Madani. Sebab tidak mungkin membangun kolam renang karena kontur tanahnya yang sangat miring," terang Reza.

Soal deposite box yang panjangnya 2 meter Reza juga membantahnya. Kata Reza, yang dimiliki sangat kecil tidak ada 1 meter panjangnya. Dan di kotak itu tidak pernah disimpan uang melainkan koran-koran bekas. "Kita tidak punya deposite box sepanjang 2 meter seperti yang diisukan. Lagi pula apa ada kotak deposit yang sebesar itu?" kata Reza balik bertanya.

Namun saat diminta menunjukan kotak deposit yang dimiliki Madani Centre, Reza menjawab, kotak tersebut sudah dijual karena selain tidak pernah digunakan kondisinya juga sudah rusak.

Kompleks vila milik Hilmi Aminudin menjadi sorotan lantaran hebohnya pengakuan Yusuf Supendi. Mantan petinggi PKS dan pendiri Partai Keadilan ini dituding telah menggelapkan dana miliaran rupiah dari capres di Pemilu 2004 maupun Pemilu 2009. Begitu juga dana miliaran dari Adang Darajatun, calon gubernur DKI Jakarta pada 2007 yang didukung PKS.

Hilmi telah membantah tudingan Yusuf tersebut. Menurut Hilmi, Yusuf melakukan fitnah karena sakit hati dipecat dari partai."Itu fitnah," kata Hilmi beberapa waktu lalu.

Meski Hilmi membantah, Yusuf yakin dengan tudingannya. Pendiri Partai Keadilan (PK) itu mengklaim memiliki bukti dan saksi yang cukup untuk membuktikan tudingannya. Yusuf pun telah melapor ke KPK. Sementara kesaksian warga sekitar, Hilmi membeli aset baik yang ada di Desa Pagerwangi maupun Desa Cibodas sekitar lima tahun lalu. Sementara vila mulai dibangun sekitar 2 tahunan lalu.

Di Desa Pagerwangi Hilmi membangun Kompleks Vila yang bernama Padepokan Madani Centre. Di lokasi ini digunakan sebagai tempat pelatihan dan pendidikan kader-kader PKS.

Sementara di Desa Cibodas, tepatnya di Jalan Cisarongge, Kampung Dadap, Hilmi membangun lembaga pendidikan Nurul Fikri. Bangunan di kompleks pendidikan ini juga sangat mewah dibanding bangunan yang ada di sekitarnya. Selain berdiri bangunan tempat belajar mengajar, kompleks Nurul Fikri juga memiliki ruang laboratorium, asrama serta lahan hektaran yang digunakan untuk kegiatan outbond. Kantor lembaga pendidikan Nurul Fikri berada di kompleks Madani.

Tapi sayangnya, ketika detikcom mendatangi kediaman Hilmi Aminuddin di Kompleks Madani, Jumat (1/4/2011), petugas keamanan melarang masuk dengan alasan Hilmi sedang tidak ada di tempat. Hilmi yang berkali-kali ditelepon tidak mengangkatnya. Pernah satu kali telepon diangkat dengan suara perempuan, dan hanya memanggil nama Hilmi dan lantas menutup telepon. Sementara di-SMS, Hilmi pun tidak mau menjawab.

Menurut pengurus Madani Center, Reza Mahdi, kompleks Madani Centre merupakan tempat pelatihan khusus bagi kader PKS. Di areal kompleks ada bangunan untuk tempat pemberian materi pendidikan atau pelatihan, ada juga yang dijadikan tempat untuk menginap. Kapasitas hunian di kompleks tersebut maksimal 100 orang.

Sebagai sarana penunjang kompleks itu juga menyediakan kantin. Luas bangunan kantin cukup besar dan menyajikan beragam menu makanan. Jadi kader PKS yang ingin makan tidak harus keluar dari kompleks. Cukup membeli makanan di kantin tersebut sebab beragam menu makanan halal sudah ada di sana.


Bagaimana Hilmi Aminudin Bisa Kaya Drastis?


Jakarta - "Hilmi ini kaya drastis," kata Yusuf Supendi.

Sosok Hilmi Aminudin sangat dihormati oleh jamaahnya. Ia merupakan pendiri gerakan dakwah atau yang diera 1980-1990-an dikenal dengan sebutan harakah tarbiyah. Kini Hilmi adalah Ketua Majelis syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di tangan Hilmi lah, keputusan partai berjargon bersih dan peduli itu ditentukan.

Hilmi akhir-akhir ini jadi sorotan setelah Yusuf Supendi membuka borok elit PKS. Yusuf, yang juga pendiri PKS itu meminta Hilmi bertanggung jawab dalam kasus penggelapan dana partai. Hilmi telah membantah tudingan Yusuf. Namun belakangan Hilmi yang dikenal sering tampil bersahaja itu diketahui memiliki vila mewah di Pagerwangi, Lembang, Jawa Barat. Kompleks vila yang diberi nama Padepokan Madani ini memiliki luas lahan 5 ribu meter ditambah perkebunan yang mengelilinginya seluas 5 hektar.

Vila Hilmi ini tidak pelak menjadi gunjingan. Bagaimana Hilmi bisa memiliki vila mewah itu?

Yusuf yang mengaku sangat mengenal Hilmi pun dibuat bertanya-tanya soal kekayaan Ketua Majelis Syuro PKS tersebut. Yusuf dan Hilmi sama-sama kuliah di Arab Saudi. Bedanya Hilmi kuliah di Universitas Islam Madinah, sementara Yusuf di Ryad. Saking akrabnya, Yusuf memanggil Hilmi dengan sebutan akang Hilmi. Sedangkan istri Hilmi, Hj Nining dipanggilnya teteh. "Saya sangat kenal banget karena saya yang mengetik skripsinya Pak Hilmi," kata Yusuf.

Hilmi lulus kuliah dan pulang ke Indonesia sekitar tahun 1978. Pulang dari Arab Saudi, Hilmi memulai karirnya dengan berdakwah. Tapi karena Hilmi tidak memiliki Pondok Pesantren seperti kebanyakan ulama di Indonesia saat itu, Hilmi pun berdakwah dari masjid ke masjid, atau dari satu kelompok pengajian ke kelompok pengajian lainnya.

Sejak pulang dari Madinah, Hilmi mengontrak rumah di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Lalu tahun 1990, Hilmi mulai tinggal di Cipinang, Kalimalang. Dan tahun 1995 membangun rumah dan tinggal di Kalimalang hingga tahun 2000. Tahun 2003-2004, Yusuf mengenang hidup Hilmi masih sederhana. Sang istri masih berjualan jilbab dan busana muslim. Yusuf tahu hal itu, karena istri Yusuf juga bersama Hj Nining berjualan busana muslim.

Namun setelah tahun 2004, kehidupan Hilmi berubah drastis. Pria yang biasa dipanggil ustad Hilmi itu memiliki vila di Anyer dan kemudian Vila di Bandung itu yang kini menjadi sorotan. "Saya tahu persis perkembangan Hilmi, ketika dulu ia punya motor, lalu bagaiaman dia ganti mobil kijang dan sekarang berkembang dengan Cherokee," kata Yusuf.

Mengikuti perkembangan Hilmi, Yusuf merasa ada yang aneh dengan peningkatan kekayaan putra Danu Muhamad Hasan itu. Bagi Yusuf, kekayaan Hilmi sangat drastis perkembangannya. Sepengetahuan Yusuf, Hilmi bukan dari keluarga yang kaya raya. Jadi kemungkinan mendapatkan warisan sangat besar juga tipis. Keluarga istri Hilmi juga bukan keluarga berlebih. Mertua Hilmi di Cibeureum, Bandung, Jawa barat mengesankan hidupnya sederhana.

Pengamat PKS Imdhadun Rahmat menuturkan Danu yang merupakan tokoh DI/NII Kartosuwiryo bukanlah orang yang kaya raya. Apalagi bagi mantan keluarga anak buah Kartosuwiryo susah hidupnya. Mereka bergerilya di hutan, ketika menyerah kehidupan mereka pun diawasi. Dibina itu artinya tidak boleh mati tapi tidak boleh kaya. Banyak yang pada jatuh miskin.

"Saya tak tahu kalau dari sisi istrinya, kalau Pak Danu bukan orang kaya. Kalau gambaran orang kaya itu kan punya perusahaan, tanah luas, Pak Danu tidak seperti itu. Dulu ia dekat dengan tentara tapi tidak sedahsyat itu beliau memanfaatkan kedekatannya itu untuk bisa menjadi kaya raya. Karena kan setelah kasus komando jihad itu pada ditangkapi Pak Danu termasuk yang ditangkapi," terangnya.

Selain bukan dari keluarga kaya, Hilmi pun tidak memiliki bisnis yang besar. Menurut Imdadun, Hilmi tidak memiliki background pengusaha. Sedangkan Yusuf memberi kesaksian Hilmi sebenarnya tidak boleh berbisnis. Sebab Hilmi yang menjabat sebagai Muraqib Aam, yaitu pemimpin tertinggi di jamaah Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI), Hilmi harus bekerja full time, tidak boleh nyambi kerjaan lainnya. Artinya jamaahlah yang wajib menggaji Hilmi. Tapi Hilmi tidak pernah mau digaji.

Pada 1992, pemerintah Uni Emirat Arab pernah menawarkan kafalah atau tunjangan kepada Hilmi sebesar US 3.000 per bulan. Namun Hilmi juga menolaknya dengan alasan akan menurunkan martabat dan gengsi. "Pertanyaannya apakah bisnis politik tidak termasuk tijaroh? Itu yang banyak dipertanyakan orang. Saya juga bingung, di partai tidak mau digaji, bantuan dari Uni Emirat Arab tidak mau, bisnis juga nggak," ungkap Yusuf. :-k

Tapi meski dilarang berbisnis, Yusuf tahu Hilmi memang memiliki bisnis. Tapi kecil saja. Yakni bisnis bengkel. Dari bisnis itu, Yusuf yakin Hilmi tidak akan mungkin bisa sekaya sekarang. "Iya ada di Kalimalang, tapi berapa sih? Karena bengkel dominan bukan untuk bengkel umum, tapi untuk mobil partai. Saya tahu itu nggak seberapa," ujar Yusuf lagi.

Yusuf mulai mempertanyakan kekayaan Hilmi pada tahun 2004. Saat itu Yusuf ke vila tersebut bersama pimpinan PKS lainnya untuk bertemu dengan Wiranto, yang saat itu maju sebagai calon presiden (capres) 2004. Yusuf meminta Hilmi agar mengklarifikasi kepemilikan vila di Anyer tersebut agar tidak menimbulkan fitnah.

"Pada tanggal 29 Juni 2004 malam, ketika saya bilang ke Kang Hilmi, ini villa Anyer apabila Hilmi meninggal akan menjadi masalah. Tanya Hilmi tanya Salim, saya ingat betul itu. Karena saya tahu sumber dananya, pembangunan dari mana, uang untuk berojol dan pembangunan kolam renang dari Uni Emirat Arab Rp 800 juta. Ini kalau tidak dilakukan kejelasan, kalau Hilmi meninggal dikhawatirkan akan terjadi fitnah," kata Yusuf.

Lalu pada April 2005, Yusuf meminta kepada Dewan Syariah PKS untuk melakukan audit investigasi keuangan jamaah. Dipisahkan mana uang milik jamaah, mana milik pribadi atau partai. Tapi ternyata pertanyaan Yusuf itu membuat marah Hilmi. "Saya mempersoalkan itu karena saya sayang sama Partai dan sayang sama Hilmi," kata Yusuf.

Wakil Sekjen PKS Mahfudz Siddiq meminta vila Hilmi baik di Anyer maupun di Lembang tidak perlu dipersoalkan. Villa Anyer itu, kata Mahfudz, milik Yayasan Nurul Fikri, yang salah satu pendirinya Hilmi Aminuddin juga, yang saat itu dipimpin oleh Suharna. Yayasan Nurul Fikri ini sendiri sudah memiliki sekolah untuk tingkat TK dan SD di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Sementara sekolah dan pesantren untuk tingkat SMP dan SMA itu berada di Anyer, Banten.

Sedangkan vila di Lembang yang dinamai Padepokan Madani dirintis Hilmi dengan bantuan sejumlah donatur. Selain ada rumah Hilmi, di kompleks vila ini juga ada Training Center bagi kader PKS. "Beliau ini orang yang hubungannya luas. Ketika mendirikan Padepokan Madani, karena hubungan yang luas ini banyak sekali yang membantu dalam pembangunan, termasuk banyak kader yang membantu. Jadi ini sebenarnya padepokan itu proyek dakwah, karena rumahnya sendiri yang memang di areal itu, tapi memang sangat sederhana," ungkap Ketua Komisi I DPR ini kepada detikcom.

Imdadun punya pendapat sendiri soal asal kekayaan Hilmi. Menurut pengamat PKS itu, kekayaan Hilmi kemungkinan terkait dengan jabatannya di PKS. "Sebagai pimpinan tertinggi partai pasti beliau juga mendapatkan reward yang juga besar. Misalnya ketika anak buahnya menjadi pejabat kan pasti ada sedekahnya untuk pimpinan atau guru," ujar Imdadun.
Pengamat dan dosen Studi Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) Yon Machmudi meminta masalah vila mewah Hilmi diklarifikasi. "Harus diklarifikasi apakah itu fasilitas pribadi atau sebagai fasilitas yang disediakan untuk menampung berbagai kegiatan partai. Saya lihat fasilitas itu dipakai untuk kegiatan-kegiatan pelatihan para fungsionaris partai. Apakah itu dibangun dengan dana pribadi saya tidak tahu informasinya,” tandasnya.

Sayang hingga kini Hilmi belum bersedia berkomentar. Ditelepon tidak diangkat. Di-SMS pun tidak membalas. Sementara didatangi di kediamannya, petugas keamanan melarang detikcom masuk dengan alasan Hilmi sedang tidak ada di rumah.


Mahfudz Siddiq: Ustad Hilmi Bukan Binaan Intelijen

(Duren : Ini anak buahnya loh yang di wawancarai ..yahh jelas bela komandan )

Jakarta - Wasekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq menegaskan vila mewah Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Amindin di Lembang, Bandung, Jawa Barat, merupakan proyek dakwah. Kompleks vila yang dinamai Padepokan Madani itu dibangun dari dana sumbangan.

"Proyek Padepokan Madani di Lembang betul-betul sumbangan sana-sini, orang-orang yang mendukung dakwah, ada yang nyumbang bangunan ada yang nyumbang macam-macam. Artinya memang itu diperuntukkan untuk dakwah dan umat," kata Mahfudz kepada detikcom.

Selain isu soal vila mewah, Hilmi yang merupakan putra tokoh DI/NII Danu Muhammad Hasan, juga sering disebut-sebut sebagai binaan intelijen. Pengamat PKS Imdadun Rahmat meyakini Hilmi memang merupakan binaan intelijen. Namun penulis buku 'Ideologi Politik PKS' itu yakin Hilmi tidak menjadi anggota intelijen.

Mahfudz juga membantah Hilmi merupakan binaan intelijen dan mendapat banyak dana dari kegiatan mata-mata. "Yang saya tahu selama saya berinteraksi dengan beliau tidak punya hubungan apa-apa dengan BIN dan lain sebagainya," tegas Mahfudz.

Berikut wawancara detikcom dengan Mahfudz Siddiq:

Sebenarnya bagaimana sosok Hilmi Aminuddin bagi anda dan kader PKS lainnya?
Ya, kalau PKS mengenal Ustad Hilmi sebagai muasis, sebagai pendiri atau perintis dakwah di era tahun 1980-an awal, yang kemudian dalam perjalanan berkembang menjadi Partai Keadilan dan Partai Keadilan Sejahtera sekarang. Dan karena beliau perintis dan pendiri, dan jadi partai melakukan regenerasi kepemimpinan, makanya kepemimpinan partai diserahkan kepada Nurmahmudi, Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring, Lutfhi Hasan. Dan beliau sekarang memimpin Majelis Syuro. Dan sekarang tidak terlalu banyak terlibat urusan-urusan operasional PKS.

Ada isu Hilmi Aminudin bagian dari intelijen atau binaan intelijen, bagaimana tanggapan anda?
Ya tidak juga. Karena kalau mau dikait-kaitkan itu merupakan bagian dari sejarah di masa lalu yang berkaitan dengan orang tuanya yang sudah almarhum. Orang tuanya saat itu akhirnya mengambil jalan moderat. Jadi Ustad Hilmi sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa dengan bagian sejarah orang tuanya itu.

Apakah benar Ustad Hilmi merupakan sosok yg mengubah wajah PKS menjadi lebih moderat?
Jadi kalau Ustad Hilmi sendiri, karena setelah beliau menyelesaikan kuliahnya di Madinah, banyak melakukan evaluasi dan komparasi mengenai gerakan-gerakan Islam yang berkembang di era tahun 1980-an. Sebenarnya pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh Ustad Hilmi pemikiran yang justru yang mengembalikan orisinalitas konsepsi dan politik Islam itu sendiri.

Ketika ramai ada isu insklusivitas Islam, keterbukaan Islam, beliau tegaskan ini bukan strategi, ini bukan taktik, tapi ini merupakan prisnsip dari ajaran Islam itu sendiri. Saat gerakan Islam berkembang, saat gerakan Tarbiyah tahun 1990-an berkembang, beliau ini merupakan muasis-nya, pendirinya.

Soal isu vila mewah di Lembang ini bagaimana?
Setelah gerakan tarbiyah menjadi partai politik, beliau melakukan kaderisasi kepemimpinan, dan tidak terlibat lagi memimpin operasional partai. Sejak itu beliau konsentrasi di Majelis Syuro. Nah, keluarga ibunya itu ada di Bandung, akhirnya beliau memutuskan untuk banyak mengisi waktunya dan harinya di Bandung bersama keluarga besarnya. Kemudian beliau pindah ke Bandung dan mulai merintis yang disebut Padepokan Madani, semacam Training Center untuk PKS sendiri dan bagi kalangan manapun untuk menggunakannya.

Dana pembangunan sendiri dari mana saja?
Beliau ini orang yang hubungannya luas. Ketika mendirikan Padepokan Madani, karena hubungan yang luas ini banyak sekali yang membantu dalam pembangunan, termasuk banyak kader yang membantu. Jadi ini sebenarnya padepokan itu proyek dakwah, karena rumahnya sendiri yang memang di areal itu, tapi memang sangat sederhana. Padepokan itu proryek dakwah untuk acara pengkaderan, kehumasan, dan tiap hari ada saja yang pakai, bahkan dipakai secara terbuka untuk umum.

Beliau juga mengembangkan program kemasyarakatan. Misalnya beliau membuat Klinik Sapi di sana. Jadi sapi-sapi warga di sekitar Lembang ada yang dibeli, ada yang diobati di treatment secara medic, kalau sapinya sudah sehat dikembalikan ke masyarakat. Sehingga sekarang ini beliau sangat dikenal betul oleh masyarakat.

Padepokan ini bukan pribadi. Kalau vila di Anyer itu kan juga bukan punya dia. Tapi itu merupakan Yayasan Nurul Fikri, beliau kan ikut mendirikan Yayasan Nurul Fikri yang dulu dipimpin Pak Suharna sekarang ketuanya Ustad Fahmy Alaydroes. Kemudian sekolahnya TK dan SD di Kelapa Dua, Depok. Lalu Yayasan Nurul Fikri ini juga membangun sekolah dan pesantren setingkat SMP dan SMA di Anyer itu.

Rumah Ustad Hilmi di Cipinang, Kalimalang tidak dijual itu masih ada, sekarang ditinggali salah satu anak beliau yang saya tahu.

Bagaimaa soal dana pembangunan proyek dan kekayaan Hilmi atas bantuan intelijen?
Yang saya tahu selama saya berinteraksi dengan beliau tidak punya hubungan apa-apa dengan BIN dan lain sebagainya. Proyek Padepokan Madani di Lembang betul-betul sumbangan sana-sini, orang-orang yang mendukung dakwah, ada yang nyumbang bangunan ada yang nyumbang macam-macam. Artinya memang itu diperuntukkan untuk dakwah dan umat. Akhirnya kita terus bolak-balik ke sana.

========
Siapakah Hilmi Aminuddin yang katanya berpengalaman di NII tersebut ??

I'll be back :snakeman:
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Re: KW9 - Imingi Cewe Cantik- Rekrut Muslim Kaya / **** / Lemah

Postby duren » Mon Apr 25, 2011 9:01 pm

Underground version .. yahoogroups/dll :snakeman:

===========

Rumus utama binaan intel

Bila dia ditangkap lalu dibebaskan maka kemungkinan besar dia sudah jadi "anjing suruhan" " ( Guk guk guk ) , bila dia istiqamah pasti dikubur. Dan bila dia dibebaskannya tahun 1970-1988 maka 100 % dipastikan dia binaan intel karena era 1970-1988 adalah era Ali Moertopo dan L.B Moerdani dua Jendral yang paling anti islam, mereka tidak akan membebaskan anggota ekstrim kanan kalau tidak berguna untuk menghancurkan gerakan islam.Dan dua jendral inilah yang membuat metode penghancuran gerakan islam dengan menggunakan islam radikal.
..................
Bagi yang pernah aktif di Pengkaderan Inti IM, memang tercium sekalirencana dan pola gerakannya yang penuh rahasia dan membuat jaringan tanpa nama terkesan didesain dan dirancang oleh suatu gerakan intelejen dan kayaknya sangat tidak mungkin dirancang oleh perorangan........


Mengenal Sejarah PKS


Soeripto

Adalah kader Milsuk (Militer Sukarelawan) dan intelijen binaan Pangkowilhan ( Wijoyo Suyono, Soerono atau Wahono), tetapi secara kronologi mengaku ditarik Kharis Suhud (Kodam Siliwangi) pada tahun 1967 - 1970 dan secara struktur komando berada dibawah Yoga Sugama yang saat itu dikomandani Sutopo Yuwono. Sebagai kader intel Soeripto berada satu level dengan Agum Gumelar (Satu-satunya jenderal TNI yang pernah menyatakan diri akan bergabung dgn Partai Keadilan, namun sehari kemudian pernyataan tsb diralatnya sendiri bahwa yg dimaksudnya partai Keadilan adalah Pertai Keadilan dan Persatuan / PKP dibawah pimpinan Edy Sudrajat). Soeripto dalam berbagai media menceritakan riwayat hidupnya dalam dunia intelejen dengan gamblang, sekalipun sudah mengaku menjadi mantan sejak tahun 1970 akan tetapi beberapa sumber menerangkan bahwa Soeripto tetap mangkal di kantor BAKIN yang lama karena mengikut dan tetap bersama Roedjito. Menurut beberapa teman dekatnya Soeripto juga tak segan- segan nekad mengklaim mewakili KADIN ketika berkunjung ke China agar dapat sambutan dan fasilitas istimewa dari pemerintah China.

=================

Harokaha Ikhwanul Muslimin atau Harakah Tarbiyah


Dalam perkembangan pergerakan Islam di Indonesia, pada tahun 1984 muncul kubu Helmi Aminuddin bin Danu Muhammad Hasan. Helmi Aminuddin pernah menjadi Menlu NII komando Adah Djaelani. Pernah ditangkap oleh Kopkamtib pada tahun 1980 dan sempat ditahan pihak militer selama kurang lebih 3 tahun namun kemudian dilepaskan dari Rumah Tahanan Militer Cimanggis tanpa melalui persidangan pada tahun 1984.

Selanjutnya Helmi Aminuddin menyatakan keluar dari struktur maupun ajaran NII komando Adah Djaelani, kemudian ditampung dan dipelihara oleh mantan tokoh Bakin (Soeripto). Soeripto menjadi sponsor sekaligus promotor dan bertindak sebagai pemberi tugas kepada Helmi Aminuddin antara lain untuk mengadopsi ajaran dan manhaj serta berhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa di Timur Tengah sekitar tahun 1985. Maka pergilah Helmi Aminuddin ke Timur Tengah untuk mengadopsi gerakan Ikhwan tsb sekalipun alasan kepergiannya kesana Helmi mengatakan untuk menyelesaikan studinya yang belum rampung.

Sepulangnya dari Timur Tengah Helmi Aminuddin mulai mengibarkanbendera gerakan IM-Ikhwanul Muslimin di Indonesia seraya melakukan klaim sebagai representasi gerakan Islam kaffah, universal
dan menafikan seluruh gerakan Islam lain yg bersifat lokal di Indonesia. Pada tahun 1991 Helmi Aminuddin diangkat sebagai Mursyid atau elite komando organisasi gerakan Ikhwanul Muslimin untuk kawasan Asia Tenggara. Eksistensi gerakan ini cepat berkembang secara signifikan khususnya di kawasan Ibu kota DKI Jakarta. Tetapi awal awal tahun 1998 nama Helmi Aminuddin tiba-tiba raib dari blantika gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang bermarkas di Yayasan Al-Hikmah di kawasan Jl.Bangka Jakarta Selatan, juga di Yayasan Iqra' di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur sebagai basis sentral pemukiman elite mereka, serta Yayasan Nurul Fikri di kawasan Depok. Bahkan Helmi sempat diisukan dipecat atau dima'zulkan kehabitat lamanya (NII), ada juga isu yang menyebut Helmi telah bergabung ke kelompok Syi'ah.

Akan tetapi pada kenyataanya Helmi Aminuddin bin Danu Muhammad Hasan sebenarnya tetap menjadi orang nomor satu dan terpenting dalam kelompok gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin ini, hanya mungkin di masa kini keberadaan namanya dirasa perlu untuk sementara waktu secara resmi ditarik dari peredaran gerakan Ikwan, bahkan nama Helmi Aminuddin tidak diakui keberadaanya oleh para elite dan komunitas PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang ada sekarang. Mungkin inilah cara mereka menyembunyikan struktur (Siriyyatu Tandzhim) pergerakan Ikhwanul Muslimin di Indonesia.

Kini Helmi Aminuddin mengkonsentrasikan diri secara khusus mengelola pesantren dan Islamic village di kawasan Cinangka Banten atas kucuran dana diantaranya sebagaian dari Bimantara, dari Timur Tengah serta dari Soeripto sebagai akses dana Orde Baru Cendana. Helmi Aminuddin memanage / mengendalikan gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia dari balik layar. Pada tahun 1998 berkat dibidani tangan dingin Soeripto mantan Bakin tsb gerakan Tarbiyyah Ikhwanul Muslimin Indonesia berhasil ikut partisipasi merayakan pesta demokrasi dengan menjadi salah satu kontestan. Saat itu gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin Indonesia merubah manhajnya dan berubah bentuk menjadi Partai Keadilan (PK) dan kemudian bermetamorfosis lagi menjadi PKS (Partai Keadlian Sejahtera). Meskipun terbentuknya PKS ini menuai pro dan kontra ditubuh gerakan Ikhwan, tetapi melalui Musyawarah Syuro mereka perubahan menjadi partai PK saat itu mendapat mayoritas suara, sehingga secara resmi gerakan Ikwan telah berubah menjadi partai (Partai Keadilan).

Di tahun 1987 - 1988 aparat intelejen memang sedang getol menggarap dengan serius dengan memberi peluang bagi lahirnya dua kubu kekuatan dakwah yang mengatasnamakan Islam namun secara subtansi saling bertentangan,

Yang pertama adalah kekuatan dakwah Islam Ikhwanul Muslimin Mesir di bawah sponsor dan control tokoh Bakin Soeripto. :partyman:

Sedang yang kedua adalah kekuatan dakwah beraliran NII KW IX Abu Toto yang sesat dan bermisi merusak Islam umumnya dan khususnya melemahkan NII yang sebenarnya, yaitu yg menjadi musuh nomor wahid NKRI. :finga:

PKS sebagai metamorfosis dari gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia secara resmi berdasarkan konstitusi Pancasila dan UUD '45 walaupun asas partainya Islam.

Dalam hal ini Soeripto tetap tidak bersedia menjawab soal hubungan dan kedekatannya dengan Danu Muhammad Hasan di awal Orde Baru maupun dengan sang putra Danu, yaitu Helmi Aminuddin yang disebutnya sebagai ustadz muda (mursyid Ikhwanul Muslimin Asia Tenggara) yang dimulai tahun 1984 selama beberapa tahun di rumah Mas Ton ( Hartono Mardjono) hingga akhirnya berubahn menjadi Partai Keadilan di tahun 1999 dan pada tahun 2003 menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Soeripta sebagai kader BAKIN oleh komunitas Ikhwanul Muslimin Indonesia sangat diyakini telah bersih / tobat dan berasil dibina dan dimanfaatkan oleh elite Ikhwan. Padahal siapa yang dimanfaatkan dan siapa yang memanfaatkan menjadi tidak jelas. Harap diingat bahwa dunia intelejen tidak mengenal apa yang diistilahkan dengan pension, demikian halnya Soeripto, masih belum terbukti pemihakannya terhadap Islam sebagai sebuah kontra RI.

Berita diatas pernah diklarifikasi oleh para tokoh dan pengurus PKS secara apologi diplomatis yg dialamatkan ke Majalah Dewan Rakyat melalui Majalah SAKSI. Padahal akurasi data dan informasi tentang berita diatas sebenarnya bias dikonfirmasikan kepada sekitar 15 tokoh yg salah satu diantaranya sudah almarhum, yaitu Bung Hartono Mardjono.

Tulisan diatas bukan sebagai fitnah, tetapi sebagai bahan renungan dan penyelidikan bagi setiap muslim dan muslimah yg dengan ikhlas berjuang dalam Islam akan tetapi masih buta hebatnya serta rumitnya dunia intelejen musuh. Saya yakin para ikhwan di PKS banyak yg ikhlash berjuang, tapi keikhlasan tsb sangat disayangkan kalau dimanfaatkan atau dibiaskan musuh. Beberapa ikhwan di PKS pernah bilang kalau sampai tingkat DPC keberadaan ikhwan diragukan, dalam arti sudah banyak intel disana. Namun yang harus diwaspadai bahwa intel itu justeru menyusup lewat atas, langsung menempel kalangan elite atau atasan sehingga bias mempengaruhi kebijakan-kebijakan / langkah-langkah perjuangan. Sebagai contoh dikalangan ikhwan PKS sudah sangat kental dikenal dan difahami kalau dalam dunia politik sekarang adalah kondisi yg pada jaman Rosulullah tidak dialami, sehingga dengan bermetamorfosisnya Tarbiyah IM menjadi Parpol adalah suatu ijtihad yg tidak melanggar syar'I dan meminimalisir pertumpahan darah. Tapi bisa jadi itulah salah satu pengaruh kebijakan intel untuk menumpulkan ghiroh dan membelokkan cita-cita perjuangan Islam secara perlahan. Tapi jangan salah menilai bahwa perjuangan Islam itu harus radikal dan membabi buta, itu salah !!! akan tetapi belajarlah dan pelajarilah sejarah .

Wallohi a'lam bi shawab . Yang benarnya dari Allah dan kesalahan semata-mata datang dari
kelemahan saya .Wassalaamu'alaikum wr.wb.

Some one

==============

Saya ambil dari site Era Muslim ... biar muslimnya pada yakin gitchu loh :finga:

Simak footnote :
[3] / [4] / [11] & [12] => NII KW_1

[7] => NII KW_9

NII, Komando Jihad dan Orde Baru : The Untold Story





Berbicara tentang Komando Jihad, tidak bisa lepas dari gerakan NII (DI/TII) pimpinan SM Kartosoewirjo ( SMK ). Karena, seluruh tokoh penting yang terlibat di dalam gerakan Komando Jihad ini, adalah petinggi NII (DI/TII) pimpinan SMK yang dieksekusi pada September 1962 di sebuah pulau di Teluk Jakarta.

Boleh dibilang, gerakan Komando Jihad merupakan salah satu bentuk petualangan politik para pengikut SMK pasca dieksekusinya sang imam. Sebelumnya, pada Agustus 1962, seluruh warga NII (DI/TII) yang jumlahnya mencapai ribuan orang, mendapat amnesti dari pemerintah. Termasuk, 32 petinggi NII (DI/TII) dari sayap militer, belum termasuk Haji Isma'il Pranoto (Hispran) dan anak buahnya, yang baru turun gunung (menyerah kalah kepada pasukan Ali Moertopo) pada 1974.

Dari 32 petinggi NII (DI/TII) yang telah menyerah [1] kepada pihak Soekarno tanggal 1 Agustus 1962 itu, sebagian besar menyatakan ikrar bersama, yang isinya:
"Demi Allah, saya akan setia kepada Pemerintah RI dan tunduk kepada UUD RI 1945. Setia kepada Manifesto Politik RI, Usdek, Djarek yang telah menjadi garis besar haluan politik Negara RI. Sanggup menyerahkan tenaga dan pikiran kami guna membantu Pemerintah RI cq alat-alat Negara RI. Selalu berusaha menjadi warga Negara RI yang taat baik dan berguna dengan dijiwai Panca Sila." [2]

Sebagian kecil di antara mereka tidak mau bersumpah setia, yaitu Djadja Sudjadi, Kadar Shalihat, Abdullah Munir, Kamaluzzaman, dan Sabur. Dengan adanya ikrar tersebut, maka kesetiaan mereka kepada sang Imam telah bergeser, sekaligus mengindikasikan bahwa sebagai sebuah gerakan berbasis ideologi Islam, NII (DI/TII) sudah gagal total. Dan sisa-sisa gerakan NII pada saat itu (1962) dapat dikata sudah hancur lebur basis keberadaannya.

Setelah tiga tahun vakum, ada di antara mereka yang berusaha bangkit melanjutkan perjuangan, namun dengan meninggalkan karakter militeristik dan mengabaikan struktur organisasi kenegaraan NII. Mereka inilah yang meski sudah menerima amnesti namun tidak mau bersumpah-setia sebagaimana dilakukan oleh sebagian besar mantan petinggi NII lainnya.

Gerakan tersebut menamakan diri sebagai gerakan NII Fillah (bersifat Non Struktural). Kepemimpinan gerakan dijalankan secara kolektif oleh Kadar Shalihat dan Djadja Sudjadi. Munculnya kelompok Fillah atau NII non struktural ini, ditanggapi serius oleh pihak militer NKRI. Yaitu, dengan menciptakan "keseimbangan", dengan cara melakukan penggalangan kepada para mantan "mujahid" NII yang pernah diberi amnesti dan telah bersumpah setia pada Agustus 1962 lalu.

Melalui jalur dan kebijakan Intelijen, pihak militer memberikan santunan ekonomi sebagai bentuk welfare approach (pendekatan kesejahteraan) kepada seluruh mantan "mujahid" petinggi NII yang menyerah dan memilih menjadi desertir sayap militer NII.



Nama-nama Tokoh Penting di Belakang Gerakan Komando Jihad.

Nama Danu Mohammad Hasan [3] yang pertama kali dipilih Ali Murtopo untuk didekati dan akhirnya berhasil dibina menjadi 'orang' BAKIN, pada sekitar tahun 1966-1967. Pendekatan intelijen itu sendiri secara resmi dimulai pada awal 1965, dengan menugaskan seorang perwira OPSUS bernama Aloysius Sugiyanto. [4] Tokoh selanjutnya yang menyusul dibidik Ali Murtopo adalah Ateng Djaelani Setiawan.



Tokoh lain yang diincar Ali Murtopo dalam waktu bersamaan yang didekati Aloysius Sugiyanto adalah Daud Beureueh mantan Gubernur Militer Daerah Istimewa ACEH tahun 1947 yang memproklamirkan diri sebagai Presiden NBA (Negara Bagian Aceh) pada 20 September 1953, dan menyerah, kembali ke NKRI Desember tahun 1962.

Selanjutnya pendekatan terhadap para mantan petinggi sayap militer DI-TII yang lain yang berpusat di Jawa Barat dilakukan oleh Mayjen Ibrahim Aji, Pangdam Siliwangi saat itu. [5] Mereka yang dianggap sebagai "petinggi NII" oleh Ibrahim Aji itu di antaranya: Adah Djaelani dan Aceng Kurnia. Kedua mantan petinggi sayap militer DI ini pada saat itu setidaknya membawahi 24-26 nama (bukan ulama NII). Sedangkan mereka yang dianggap sebagai mantan petinggi sayap sipil DI yang selanjutnya menyatakan diri sebagai NII Fillah –antara lain adalah Kadar Shalihat, Djadja Sudjadi dan Abdullah Munir dan Kamaluzzaman– membawahi puluhan ulama NII.

Pengaruh dan Akibat Kebijakan Intelijen Ali Murtopo – ORDE BARU.

Baik menurut kubu para mantan petinggi sayap militer maupun sayap sipil NII, politik pendekatan pemerintah orde baru melalui Ibrahim Aji yang menjabat Pangdam Siliwangi tersebut, sangat diterima dengan baik, kecuali oleh beberapa pribadi yang menolak uluran pemerintah tersebut, yaitu Djadja Sudjadi [6] dan Abdullah Munir. Para mantan tokoh sayap militer dan sayap sipil DI selanjutnya menjadi makmur secara ekonomi. Hampir masing-masing individu mantan tokoh DI tersebut diberi modal cukup oleh Letkol Pitut Suharto berupa perusahaan CV (menjadi kontraktor) dilibatkan dalam proyek Inpres, SPBU atau agen Minyak Tanah.

Kebijakan OPSUS dan Intelijen selanjutnya menggelar konspirasi dengan meminta para mantan laskar NII tersebut mengkonsolidasikan kekuatan melalui reorganisasi NII ke seluruh Jawa dan Sumatra. Pada saat itu Ali Murtopo masih menjabat Aspri Presiden selanjutnya menjadi Deputi Operasi Ka BAKIN dan merangkap Komandan OPSUS ketika mendekati detik-detik digelarnya 'opera' konspirasi dan rekayasa operasi intelijen dengan sandi: “Komando Jihad” di Jawa Timur.

Dalam waktu yang bersamaan Soeharto menyiapkan Renstra (Rencana Strategis) Hankam (1974-1978) sebagaimana dilakukan ABRI secara sangat terorganisir dan sistematis melalui penyiapan 420 kompi satuan operasional, 245 Kodim sebagai aparat teritorial dan 1300 Koramil sebagai ujung tombak intelijen dalam gelar operasi keamanan dalam negeri yang diberi sandi Opstib dan Opsus.

Sementara, pada saat yang bersamaan di tahun 1971-1973 tersebut Ali Murtopo juga melindungi sekaligus menggarap Nurhasan al-Ubaidah Imam kelompok Islam Jama'ah yang secara kelembagaan telah dinyatakan sesat dan terlarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971, namun pada waktu yang sama justru dipelihara serta diberi kesempatan seluas-luasnya melanjutkan kiprahnya dengan missi menyesatkan ummat Islam melalui lembaga baru LEMKARI (Lembaga Karyawan Islam) di bawah naungan bendera Golkar dan berganti nama menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang berlanjut hingga sekarang.

Dari sinilah pendekatan itu berkembang menjadi makin serius dan signifikan, ketika Ali Murtopo mengajukan ide tentang pembentukan dan pembangunan kembali kekuatan NII, guna menghadapi bahaya laten komunis dari utara maupun dalam rangka mengambil alih kekuasaan. Ide Ali Murtopo ini selanjutnya diolah Danu Mohammad Hasan dan dipandu Letkol Pitut Suharto, disambut Dodo Muhammad Darda, Tahmid Rahmat Basuki (anak SMK) dan H.Isma'il Pranoto (Hispran).

Keberadaan dan latar belakang Letkol Pitut Suharto yang memiliki kedekatan hubungan pribadi dengan Andi Sele di Makassar, juga dengan H. Rasyidi [7] di Gresik Jawa Timur, pada tahun 1968 akhirnya ditugaskan Ali Murtopo untuk mengolah hubungan dan keberadaan para mantan petinggi NII yang sudah dirintisnya sejak 1965 tersebut dengan kepentingan membelah mereka menjadi 2 faksi.

Faksi pertama diformat menjadi moderat untuk memperkuat Golkar, dan faksi kedua diformat bagi kebangkitan kembali organisasi Neo NII.

Keterlibatan Pitut Suharto yang akhirnya dinaikkan pangkatnya menjadi pejabat Dir Opsus di bawah Deputi III BAKIN terus berlanjut, Pitut tidak saja bertugas untuk memantau aktifitas para mantan tokoh DI tersebut, tetapi Pitut sudah terlibat aktif menyusun berbagai rencana dan program bagi kebangkitan NII, baik secara organisasi maupun secara politik termasuk aksi gerakannya.

Ketika BAKIN membuat program pemberangkatan atau pengiriman pemuda (aktifis kader) Indonesia ke Timur Tengah –seperti Mesir, Syria, Libya dan Saudi Arabia yang diantara alumninya kemudian terkait dengan konflik Moro (MNLF) dan kelompok perlawanan Aceh– Pitut Suharto-lah yang ditunjuk Ali Murtopo untuk mengelola (membimbing, memantau, mengurus dan menyelesaikan) masalah tersebut, sekalipun keberangkatan para kader aktifis Indonesia ke Negara-negara Timur Tengah tersebut terbukti hanya untuk mempelajari pola-pola gerakan Islam di sana, sembari mempelajari syari’ah sebagai cover, dan melakukan pelatihan militer.

Tetapi antisipasi yang dilakukan pihak pemerintah Indonesia pada saat itu terlampau maju dan cepat, sekitar tahun 1975 keberadaan kedutaan Libya di Jakarta dipaksa tutup. Tetapi skenario Opsus terhadap kebangkitan organisasi NII terus digelindingkan. Bahkan Pitut Suharto (pihak intelijen/orde baru) justru menggunakan isu politik Libya di mata Barat dan bangkitnya NII tersebut dijadikan sebagai isu sentral terkait dengan “bahaya laten kekuatan ekstrim kanan” di Indonesia.

Image

Ali Moertopo malaikatnya mbah Suharto



Kebijakan Abbuse of Power Intelijen Ali Murtopo.

Bersamaan dengan kebijakan itu (memanfaatkan situasi politik terhadap Libya tersebut) strategi Opsus yang dilancarkan melalui Pitut Suharto berhasil meyakinkan para Neo NII tersebut untuk sesegera mungkin menyusun gerakan jihad yang terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra untuk melawan dan merebut kekuasaan Soeharto. Semakin cepat hal tersebut dilaksanakan semakin berprospek mendapat bantuan persenjataan dari Libya, yang sudah diatur Ali Murtopo.

Berkat panduan Letnan Kolonel TNI AD Pitut Suharto [8] kegiatan musyawarah dalam rangka reorganisasi NII yang meliputi Jawa-Sumatra tersebut berlangsung beberapa hari, hal itu justru dilaksanakan di markas BAKIN jalan Senopati, Jakarta Selatan. Di sinilah situasi dan kondisi ( hasil rekayasa BAKIN-Ali Murtopo dan Pitut Suharto melalui kubu Neo NII Sabilillah di bawah Daud Beureueh, Danu Mohammad Hasan, Adah Djaelani, Hispran dkk) berhasil didesakkan kepada kubu Fillah yang dipimpin secara kolektif oleh Djaja Sudjadi, Kadar Shalihat dan Abdullah Munir dkk untuk memilih kepemimpinan.

Hasil musyawarah kedua kubu (Fillah dan Sabilillah ini) yang dilakukan pada tahun 1976 ini menetapkan, kepemimpinan NII diserahkan kepada Tengku Daud Beureueh sekaligus membentuk struktur organisasi pemerintahan Neo NII yang terdiri dari Kementrian dan Komando kewilayahan (dari Komandemen Wilayah hingga Komandemen Distrik dan Kecamatan) namun tanpa dilengkapi dengan Majelis Syura maupun Dewan Syura.

Provokasi dan jebakan OPSUS terhadap para mantan tokoh DI berhasil, Struktur organisasi NII kepemimpinan Daud Beureueh berdiri dan berlangsung di bawah kendali Ali Murtopo yang saat itu menjabat sebagai Deputi Operasi Ka BAKIN melalui Kolonel Pitut Suharto.

Gerakan dakwah agitasi dan provokasi neo NII Sabilillah disponsori Pitut Suharto dan Ali Murtopo mulai berkembang ke seantero pulau Jawa. Muatan dakwah, agitasi dan provokasi para tokoh Neo NII bentukan Ali Murtopo-Pitut Suharto hanya berkisar seputar pentingnya struktur organisasi NII secara riil.

Karenanya kegiatan seluruh anggota kabinet Neo NII adalah melakukan rekrutmen melalui pembai'atan secepatnya untuk mengisi posisi pada struktur wilayah (Gubernur sekaligus sebagai Pangdam = Komandemen Wilayah) dan posisi pada struktur Distrik (Bupati sekaligus sebagai Kodim = Komandemen Distrik) seraya menebar janji akan segera memperoleh supply persenjataan dari Libya sebanyak satu kapal[9] yang akan mendarat di pantai selatan Pulau Jawa.

Sasaran rekrutmen (pembai'atan) dilakukan hanya sebatas mengisi posisi pada komandemen distrik struktur Neo NII, maka sasaran rekrutmen dipilih secara tidak selektif di antaranya adalah para tokoh pemuda Islam dan ulama atau kiai yang nota bene sangat awam politik maupun organisasi.

Tugas rekrutmen untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan oleh H. Isma'il Pranoto dan H. Husein Ahmad Salikun. Di Jawa Timur aktifitas rekrutmen bagi kebangkitan Neo NII yang dilakukan oleh H. Isma'il Pranoto tersebut sama sekali tidak terlihat ada tindak lanjut apapun, baik yang berbentuk pelatihan manajemen dakwah dan organisasi maupun yang bersifat fisik baris berbaris, menggunakan senjata atau merakit bom. Tetapi hanya terhitung selang sebulan atau dua bulan kemudian, aparat keamanan dari Laksus tingkat Kodam, Korem dan Kodim menggulung dan menyiksa mereka tanpa ampun.

Jumlah korban penangkapan oleh pihak Laksusda Jatim yang digelar pada tanggal 6-7 Januari 1977 terhadap para rekrutan baru H. Isma'il Pranoto mencapai sekitar 41 orang, 24 orang di antaranya diproses hingga sampai ke pengadilan.

H. Ismail Pranoto divonis Seumur Hidup, sementara para rekrutan Hispran yang juga disebut sebagai para pejabat daerah struktur Neo NII tersebut, baru diajukan ke persidangan pada tahun 1982, setelah "disimpan" dalam tahanan militer selama 5 tahun, dengan vonis hukuman yang bervariasi. Ada yang divonis 16 tahun, 15 tahun, 14 tahun hingga paling ringan 6 tahun penjara.

H. Ismail Pranoto disidangkan perkaranya di Pengadilan Negeri Surabaya tahun 1978 dengan memberlakukan UU Subversif PNPS No 11 TH 1963 atas tekanan Pangdam VIII Brawijaya saat itu, Mayjen TNI-AD Witarmin [10] . Sejak itulah UU Subversif ini digunakan sebagai senjata utama untuk menangani semua kasus yang bernuansa makar dari kalangan Islam.

Nama Komando Jihad sendiri menurut H. Isma'il Pranoto merupakan tuduhan dan hasil pemberkasan pihak OPSUS, baik pusat maupun daerah (atas ide Ali Murtopo dan Pitut Suharto)( Duren : Baca > Belajarlah Tangani Teroris dari Pitut Suharto ) . Sementara penyebutan yang berlaku dalam tahanan militer Kodam VIII Brawijaya – ASTUNTERMIL di KOBLEN Surabaya, mereka dijuluki sebagai jaringan Kasus Teror Warman (KTW).

Sementara keberadaan Pitut Suharto sendiri sejak tanggal 6 Januari 1977 – saat dimulainya penangkapan terhadap H. Isma'il Pranoto dan orang-orang yang direkrutnya sebagai kelompok Komando Jihad– Pitut justru pergi menyelamatkan diri dengan menetap di Jerman Barat, dan baru kembali ke Indonesia setelah 6 atau 7 tahun kemudian.

Di Jawa Tengah sendiri aksi penangkapan terhadap anggota Neo NII rekrutan H. Isma'il Pranoto dan H. Husen Ahmad Salikun oleh OPSUS, seperti Abdullah Sungkar maupun Abu Bakar Ba'asyir dan kawan-kawan berjumlah cukup banyak, sekitar 50 orang, akan tetapi yang diproses hingga sampai ke pengadilan hanya sekitar 29 orang. Penangkapan terhadap anggota Neo NII wilayah Jawa Tengah rekrutan H. Isma'il Pranoto dan H. Husen Ahmad Salikun berlangsung tahun 1978-1979.

Di Sumatera, aksi penangkapan secara besar-besaran berdasarkan isu Komando Jihad ini terjadi sepanjang tahun 1976 hingga tahun 1980, dan berhasil menjaring dan memenjarakan ribuan orang.

Sementara penangkapan terhadap para elite Neo NII –yang musyawarah pembentukan strukturnya dilakukan di markas BAKIN (jalan Senopati, Jakarta Selatan)– seperti Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad Hasan , Aceng Kurnia, Tahmid Rahmat Basuki Kartosoewirjo, Dodo Muhammad Darda Toha Mahfudzh, Opa Musthapa, Ules Suja'i, Saiful Iman, Djarul Alam, Seno alias Basyar, Helmi Aminuddin Danu [11] , Hidayat, Gustam Effendi (alias Ony), Abdul Rasyid dan yang lain dengan jumlah sekitar 200 orang, mereka ditangkap Laksus sejak akhir 1980 hingga pertengahan 1981.

Namun dari sekitar 200 orang anggota Neo NII yang ditangkap OPSUS tersebut, hanya sekitar 30 elitenya saja yang dilanjutkan ke persidangan, \:D/ selebihnya dibebaskan bersyarat oleh OPSUS termasuk beberapa nama yang menjadi tokoh komando KW-9

[12] ,Kecuali satu nama tokoh yang dibebaskan tanpa syarat, yaitu Menlu kabinet Neo NII yang bernama Helmi Aminuddin bin Danu, salah seorang alumni program pemberangkatan atau pengiriman pemuda (aktifis kader) Indonesia ke Timur Tengah (Madinah, Saudi Arabia) oleh Bakin.

(Duren : Yang akhirnya kita kenal menjadi tokoh NII KW-1 alias mbahnya PKS ) :partyman:

Akan tetapi isu dan dalih keterkaitan dengan bahaya kebangkitan NII, Komando Jihad dan Teror Warman berdasarkan hasil pengembangan penyidikan pihak keamanan terhadap mereka yang pernah ditangkap maupun yang diproses ke pengadilan, oleh pihak OPSUS digunakan terus untuk melakukan penangkapan-penangkapan secara berkelanjutan dan konsisten.

Sekitar medio 1980 OPSUS Jawa Timur melakukan penangkapan terhadap 5 tokoh pelanjut Komandemen Wilayah Jawa Timur, Idris Darmin Prawiranegara. Kemudian dilanjutkan dengan penangkapan berikutnya pada medio 1982, terhadap orang-orang baru yang direkrut Idris Darmin di wilayah jawa timur dengan jumlah sekitar 26 orang.

Kesimpulan :
Secara substansi, makna kebangkitan Neo NII yang lahir dibidani dan buah karya operasi intelijen OPSUS tersebut, sangat tidak layak untuk dinilai dan atau diatasnamakan sebagai wujud perjuangan politik berbasis ideologi Islam (apalagi sampai dikategorikan sebagai jihad suci fii sabilillah).

Misi dan orientasi kiprah gerakan reorganisasi yang dilakukan para mantan tokoh sayap militer NII tersebut adalah lebih didorong oleh dan dalam rangka memperoleh materi dan kedudukan politis, kemudian bertemu-bekerjasama (bersimbiosis mutualistis) dengan para tokoh intelijen BAKIN yang benci terhadap Islam. Dengan demikian gerakan Komando Jihad, Kebangkitan Neo NII maupun para mantan tokoh sayap militer DI tersebut sulit dinilai sebagai perjuangan yang murni untuk tegaknya Islam.

Perjuangan dan usaha para pihak atau pribadi yang dilakukan karena semangat dan ketulusan untuk memperjuangkan Islam, yang tidak didorong dalam rangka memperoleh jabatan politis atau sarana materi sebagaimana halnya sikap dan tindakan para mantan tokoh sayap sipil DI tersebut, menunjukkan posisi mereka sebagai korban pengkhianatan para mantan tokoh sayap militer DI sendiri dalam berpolitik.

Seluruh bentuk kerugian atau efek negatif yang menimpa masyarakat Neo NII adalah karena provokasi dan agitasi para mantan tokoh sayap militer DI, yang secara sadar dan sukarela menyetujui dan mendukung kebijakan intelijen OPSUS (orde baru). Oleh karenanya merekalah yang harus bertanggungjawab atas hancurnya gerakan dakwah Islam dan citra negatif citra negatif dakwah. Dalam hal ini, ada tiga pihak yang harus bertanggung jawab :

Pihak ke I adalah aparat teritorial pemerintah Orde Baru, mulai dari tingkat Kodim, Korem hingga Kodam yang pada masa itu disebut sebagai aparat Laksusda (DanSatgas Intel atau Intel Balak = Intelijen Badan Pelaksana) yang bertugas melakukan penangkapan, penyiksaan hingga pemberkasan terhadap jaringan gerakan Islam (Neo NII, Komando Jihad, Teror Warman, Teror Imran* dan Usrah) yang menjadi target obyek operasi intelijen. Pihak berikutnya adalah para pemrakarsa, pembuat skenario dan sutradara dari operasi intelijen yang dirancang oleh sayap intelijen yang berkuasa penuh di bawah struktur Kopkamtib.

Pihak ke I bisa juga disebut sebagai kekuatan bayangan dari struktur kekuasaan yang ada saat itu namun diformat memiliki kewenangan penuh untuk merancang program, mekanisme dan pengelolaan (mengendalikan) terhadap perjalanan sistem politik, ekonomi dan pemerintahan yang berlaku. Pihak ke I sangat dimungkinkan untuk melakukan kerjasama dan menerima order, baik dari penguasa domestik maupun asing, mengingat hukum Politik, kepentingan kekuasaan dan intelijen selalu mengglobal, sesuai peta dan kubu ideologi yang eksis di dunia atau berlaku universal.

Oleh karena itu pihak ke I diberi kewenangan luar bisa, baik dalam menyusun grand 'scenario' hingga tingkat pelaksanaan (juklak) yang dilakukan secara rahasia dan rapi, selanjutnya dikordinasikan penerapan aturan mainnya dengan lemhannas dan departemen-departemen maupun kementrian. Dengan demikian tugas, peran dan keberadaan pihak ke I menurut garis besar haluan negara merupakan hal yang legal dan wajar, sekalipun untuk kepentingan itu harus mengorbankan apa saja (abuse of power: terhadap demokrasi dan HAM) atau membuat sandiwara dan rekayasa apa saja. Itulah hukum yang berlaku dalam dunia politik, kepentingan kekuasaan dan intelejen.

Selanjutnya, pihak ke I lainnya adalah mereka yang menjadi inisiator membangkitkan neo NII, dalam rangka memberikan stigma negative terhadap umat Islam, menciptakan beban psikologis kepada umat Islam Indonesia yang hingga kini diposisikan sebagai produsen gerakan radikal bahkan pelaku teror. Sebagai aparat negara seharusnya mereka menggali potensi rakyat dan memberdayakan potensi tersebut ke tempat semestinya, bukan justru dijadikan instrumen politik untuk menggapai kekuasaan dan atau mempertahankan kekuasaan.

- Pihak ke II adalah pihak yang secara sengaja dan sadar menjalin hubungan dengan pihak ke I, yang dikenal dan dipahami sebagai pejabat intelejen militer sekaligus sebagai pejabat pemerintah dan Negara yang licik dan kejam.

- Pihak ke III, adalah orang-orang yang bersedia direkrut dan memposisikan dirinya sebagai pihak yang secara sadar telah terdorong dan termotivasi untuk berjihad secara ikhlas di jalan Islam namun terperosok dan terlanjur masuk ke dalam struktur gerakan Neo NII. Posisi mereka adalah sebagai korban tak sadar dari abuse of Power, sistem dan kebijakan politik maupun intelejen Orde Baru.

Keterangan Tambahan Mengenai Teror Imran:

Munculnya kasus Jama'ah Imran pada pertengahan tahun 1980 berlangsung melalui proses yang berdiri sendiri. Dalam artian, tidak ada keterkaitan dan tidak ada hubungan –baik secara ideologi maupun sikap politik– dengan eksistensi gerakan Neo NII atau Komando Jihad dan Teror Warman.

Memang sempat terjadi "interaksi" antara anggota Jama'ah Imran dengan beberapa elite KW-9 (Komandemen Wilayah 9) dalam struktur Neo NII atau Komando Jihad hasil ciptaan Ali Murtopo dan Pitut Suharto tersebut.

Bentuk "interaksi" yang terjadi pada akhir 1980-an itu, bukanlah "interaksi" yang kooperatif tetapi justru saling kecam dan saling ancam. Hal ini terjadi, karena H.M. Subari (alm) yang merupakan elite (orang struktur) Neo NII KW-9 pernah mengatakan, "dalam satu wilayah tidak boleh ada 2 Jama'ah dan 2 Imam yang berlangsung secara bersamaan, kecuali salah satunya harus dibunuh."



FOOTNOTE :

[1] Padahal, amanat/wasiat sang imam (SMK) adalah tidak boleh menyerah.

[2] Rahmat Gumilar Nataprawira, RUNISI (Rujukan Negara Islam Indonesia). Dipertegas juga oleh pernyataan lisan dari Abdullah Munir dan tertulis dari Abdul Fatah Wirananggapati (pemegang amanah KUKT dari SMK 1953).

[3] Mantan Panglima Divisi atau Komandan Resimen DI-TII, pada saat sidang pengadilan Militer – MAHADPER, Agustus 1962 mengaku salah dan memberi kesaksian yang isinya menyalahkan sikap dan kebijakan politik SM Kartosoewiryo. Hubungan ini kemudian memberi OPSUS buah menguntungkan yang tidak disangka-sangka. "Saya berperan sebagai petugas pengawas Danu," kenang Sugiyanto, "dan di bulan Maret 1966, kami menggunakan dia dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang sedang bersembunyi di Jakarta." Selanjutnya sejak tahun 1971, Danu Muhammad Hasan dan Daud Beureueh sering terlihat di jalan Raden Saleh 24 Jakarta Pusat (salah satu kantor Ali Murtopo), terkadang di Jalan Senopati (Kantor BAKIN), ada kalanya di Tanah Abang III (Kantor CSIS).

[4] Menurut Sugiyanto hubungan ini kemudian memberi OPSUS bunga menguntungkan yang tidak disangka-sangka. "Saya berperan sebagai petugas pengawas Danu," kenang Sugiyanto, "dan di bulan Maret 1966, kami menggunakan dia dan anak buahnya untuk memburu anggota BPI yang sedang bersembunyi di Jakarta." (lebih jelasnya lihat Kenneth Conboy, Intel: Inside Indonesia's Inteligence Services).

[5] Seperti pengakuan Ules Suja'i: "Soal pak Adah yang santer diisukan menerima jatah minyak dari militer, memang dulu itu saya tahu pak Adah pernah menerima jatah minyak dan oli dari RPKAD (KOPASSUS sekarang, pen), karena setiap pasukan itu kan memiliki jatah dari Pertamina, nah oleh RPKAD jatah tersebut diberikan ke pak Adah. Itu mah lewat perjuangan. Saya sendiri dengan pak Adah memang pernah dipanggil oleh Ibrahim Aji mendapat surat supaya dibantu oleh Pertamina lalu masuk ke Pertamina pusat jawabannya kurang memuaskan, malah kalau saya sendiri sampai ke WAPERDAM sampai ketemu Khaerus Shaleh, ya Alhamdulillah berhasil."

[6] Djadja Sudjadi akhirnya tewas dibunuh Ki Empon atas perintah Adah Djaelani. Ironisnya, hingga akhir hayatnya Ki Empon meninggal dalam keadaan miskin dan serba susah sedangkan Adah Djaelani hidup terpandang dan lumayan sejahtera sebagai petinggi yang lebih dihormati dari AS Panji Gumilang di lingkungan mabes NII di Ma'had Al-Zaytun, Indramayu.

[7] H. Rasyidi, adalah bapak kandung Abdul Salam alias Abu Toto alias Syaikh A.S. Panji Gumilang, yang kini menjadi syaikhul Ma'had Al-Zaytun yang dikenal sebagai "mabes" NII yang kental dengan nuansa misteri intelejen. Abu Toto alias Abdul Salam Panji Gumilang sendiri sejak mahasiswa menjadi kader intelejen kesayangan Pitut Suharto.

[8] Pitut Suharto pensiun dengan pangkat Kolonel, kini berdomisili di Surabaya.

[9] Janji serupa ini juga berulang pada diri Nur Hidayat, provokator kasus Lampung (Talangsari) yang terjadi Februari 1989. Nur Hidayat dkk ketika itu yakin sekali bahwa rencana makarnya pasti berhasil karena akan mendapat bantuan senjata satu kapal yang akan mendarat di Bakauheni, Lampung.

[10] Witarmin, menurut penuturan H Isma'il Pranoto di masa pergolakan DI-TII adalah sebagai komandan Batalyon 507 Sikatan yang sempat dilucuti oleh pasukan TII di bawah komando H. Ismail Pranoto.

[11] Helmi Aminuddin adalah putera Danu Mohammad Hasan, alumni Universitas Madinah, yang dikirim Bakin ke Saudi Arabia dalam Program pemberangkatan para pemuda ke Timur Tengah, yang ketika kembali ke Indonesia aktive dalam pergerakan.

[12] Pada tahun 1984, para para elite NII Komandemen Wilayah IX (yang ditangkap OPSUS pada pertengahan tahun 1980 hingga pertengahan tahun 1981, bersama dengan para pimpinan Neo NII, Adah Djaelani-Aceng Kurnia) dibebaskan bersyarat dari Rumah tahanan militer Cimanggis, tanpa melalui proses hukum (Pengadilan), mereka itu adalah: Fahrur Razi, Royanuddin, Abdur Rasyid, Muhammad Subari, Ahmad Soemargono, Amir, Ali Syahbana, Abdul Karim Hasan, Abidin, Nurdin Yahya dan Muhammad Rais Ahmad, dan Anshory; kecuali Helmi Aminuddin bin Danu M Hasan yang dibebaskan tanpa syarat.

Mohamad Fatih.


Referensi:

Dengel,Holk H., Darul Islam dan Kartosuwiryo (terj.), Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996.
Jackson, Karl D., Kewibawaan Tradisional, Islam dan Pemberontakan: Kasus Darul Islam Jawa Barat, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989.
Kansil, C.S.T. dan Julianto S.A., Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia, Jakarta: Erlangga, 1982.
Kuntowidjojo, Dinamika Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia, Yogyakarta: Shalahuddin Press, 1985.
Van Dijk, C. Darul Islam: Sebuah Pemberontakan (terj.), Jakarta: Pustaka Grafiti Utama, 1989.
Horikoshi, Hiroko, “The Darul Islam Movement in West Java : An Experience in Historical Process”, Indonesia, Nr.20, 1975.
Simatupang, T.B. dan Lapian, “Pemberontakan di Indonesia: Mengapa dan Untuk Apa”, Prisma, 1978.
Basri, Jusmar, Gerakan Operasi Militer VI: Untuk Menumpas DI-TII di Jawa Tengah, Jakarta: Mega Bookstore dan Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata SAB., n.d.
Dinas Sejarah Militer TNI-AD, Penumpasan Pemberontakan DI-TII/SMK di Jawa Barat, Bandung: Dinas Sejarah TNI-AD.
Komando Daerah Militer VII Diponegoro, Staf Umum I, Bahan Perang Urat Syaraf Terhadap Gerombolan D.I. Kartosuwirjo.
Wawancara dengan beberapa tokoh terkait peristiwa Komando Jihad.


=============

NII di proklamirkan SMK ( Kartosoewirjo )

Sempalannya terpecah pecah di daerah menjadi NII DI/TII :

    1. Daud Beureueh di Aceh
    2. Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan
    3. Amir fatah di Jawa Tengah
    4. Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan





"Dijinakin " oleh Ali Murtopo cs .. :

    1. Di setting menjadi partai politik

    NII KW_1 => Hilmi Aminuddin => Ikhwanul Muslimin => PK => PKS

    user => Pejabat Reformis ex ORBA - Pejabat Reformasi - Arab



    2. Mesin suara => mesin uang => di standby bila chaos

    NII KW_9 => Panji Gumilang atau Abu Toto => Al-Zaytun, Indramayu

    user => Pejabat Non Reformis ex ORBA - Arab




Yang GA mau "jinak" / di luar system :
    1. Jemaah Imran 1980an
    2. Kelompok Abu Bakar Ba'asyr cs
    3. Kelompok latihan Aceh - Sumut
    4. Kolaborasi dll





New Kid On the Blok ( NKOB )

Peternakan milik "Juniornya Ali murtopo" user = Bandit2 Pej. Reformasi :rofl:
    _ FPI
    _ FBR
    _ ....



Liar ga punya emak ?? :vom:

Kelompok yang donaturnya langsung dari Arab ??
    _Kelompok lama , murid murid Dr Azhari / Nurdin Top dkk
    _NKOB ... kelompok Pepi cs
    _.....??

NKOB tanpa dukungan keuangan dari Arab ??
    _M Syarif bom Cirebon
    _.... ??


============
Sekali lagi :

Simak footnote :
[3] / [4] / [11] & [12] => NII KW_1 :vom:

[7] => NII KW_9 :vom:
Last edited by duren on Mon Apr 25, 2011 11:17 pm, edited 1 time in total.
User avatar
duren
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 10809
Images: 14
Joined: Mon Aug 17, 2009 9:35 pm

Next

Return to Pengaruh Islam Terhadap Muslim



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users