Manado - ‘’SUDAH dua kali saya ke Manado, khusunya tanah Minahasa. Sepintas saya lihat, kita satu rumpun. Suku Minahasa di Sulawesi dan suku Dayak di Kalimantan banyak persamaannya.’’ Demikian diungkapkan Presiden Dewan Adat Dayak Kalimantan DR Bernabas Sebilang, yang datang ke daerah ini menghadiri apel adat dalam rangka HUT ke-4 Brigade Manguni, Kamis 9 Maret.
Peringatan HUT BM yang dipusatkan di lapangan DR Sam Ratulangi Tondano sekitar pukul 14:00 wita kemarin itu, berlangsung spesial. Dikarenakan, perayaan pasukan Manguni yang diawali dengan upacara khusus ini, ternyata menghadirkan tokoh adat Dayak Kalimantan. Kehadirannya di tanah Toar Lumimuut ini, seakan menyatukan integritas Dayak dengan Minahasa untuk mengawal NKRI di tengah kondisi porak-poranda krisis ekonomi.
Barnabas Sebilang yang juga Kepala Adat Dayak, kepada Manado Post, mengaku senang kalau sering-sering ke daerah ini. Bahkan ia mengaku, sebetulnya ada kegiatan adat yang lebih penting di Kalimantan dan ia harus hadir. Tetapi Barnabas mengaku, lebih memilih datang ke Minahasa atas undangan Tonaas Brigade Manguni Wilayah Kalimantan Farry A. Malonda.
Dan kali ini, Barnabas mengaku membawa tiga ahli dari Kalimantan untuk meneliti akar budaya dan adat Minahasa. ‘’Saya kepala adat. Saya yakin kita satu rumpun. Kita banyak persamaan, mulai dari postur tubuh, warna kulit, dan agama. Nama-nama orang Minahasa juga, banyak persamaan dengan nama-nama orang Dayak,’’ ujar Barnabas. Karena itu ia mengaku, tertarik untuk menelusuri akar budaya orang Minahasa .
Lantas bagaimana dengan keberadaan adat Minahasa saat ini? Barnabas mengaku melihat Minahasa hanya sepintas lalu. Walapun hanya di permukaan, namun ia menilai adat Minahasa sudah diambang pintu.
Pengaruh perkembangan teknologi dan budaya Barat (modernisasi) di Minahasa sangat besar. Sehingga yang tampak dari orang Minahasa, lebih moderen. Bukan tidak tahu budaya, tetapi terlalu mengutamakan atau fokus ke dunia moderen. Sehingga Barnabas mengajak orang Minahasa mempelajari bagaimana rakyat Dayak mempertahankan adat dan budayanya.
‘’Orang Minahasa perlu banyak belajar soal adat di Dayak. Di Dayak, seratus persen berlaku hukum adat. Tidak ada hukum negara,’’ katanya. ‘’Kita boleh mengikuti modernisasi seperti Jepang, tetapi mereka tidak meninggalkan adat dan budayanya,’’ tambah Barnabas mencontohkan. Barnabas datang ke Minahasa bersama Panglima Komando Pertahanan Adat Dayak Kalimantan Timur Yulianis Henoq Sumual, kepala bidang Ekonomi Ir. Tandi Sunarto dan ditemani Tonaas BM Borneo Farry A Malonda.
Kepala adat Dayak itu menjadi tamu kehormatan pada upacara perayaan HUT ke-4 BM di lapangan Sam Ratulangi Tondano. Kota Tondano Kamis kemarin, seakaan dikuasai pasukan Manguni dalam apel siaga yang dipimpin oleh Tonaas BM Dicky Maengkom.
Tampak hadir Tonaas BM Samarinda Johan Langoi, Tonaas BM Jabotabek Rico Giroth, Wakil Bupati Minahasa Rull Kuron, asisten I Pemprov Drs Is Gobel, Tonaas BM seluruh DPD seSulawesi Utara, serta juga rombongan tokoh-tokoh adat Dayak lainnya.
Presiden Dayak DR Barnabas Sebilang yang diberikan kesempatan memberikan sambutan mengatakan, sangat tertarik dengan BM di Sulut yang memiliki nilai dan cita-cita yang sama untuk mempertahankan NKRI ini. Ia mengakui, sangat bangga hadir dan bisa bersatu dengan Brigade Manguni yang ada di Sulut ini yang diakuinya, punya nilai idialisme yang tinggi untuk NKRI. Walaupun ada kesibukan namun saya berusaha hadir, karena ini bentuk kerja sama antar daerah,’’ tegas Barnabas dengan pakaian kebesaran Dayak kemarin.
Tonaas Borneo Farry Malonda menambahkan, BM ini harus dijaga kesatuannya dan BM yang ada di Kalimantan kini sudah cukup besar kekuatannya dan menjaga hubungan baik dengan tokoh-tokoh adat Dayak Kalimantan, ini semua adalah implementasi dari ditanda tanganinya MoU Kerja sama dalam bidang Ekonomi, Budaya, Sosial dan Pertahanan Adat antara dua Suku besar yaitu Minahasa di Sulawesi Utara dan Dayak di Kalimantan, Nota kesepahaman ini ditanda tangani oleh DR. Bernabas Sebilang selaku Presiden Dewan Adat Dayak Kalimantan, Tonaas BM Wilayah Kalimantan Farry A. Malonda, Panglima Pertahanan Adat Dayak Kalimantan Lukas Kapung SH. Drs. Vreeke Runtu selaku Ketua Dewan Adat Minahasa dan Tonaas Wangko BM Dicky Maengkom pada Tanggal 13 Maret 2005 di Wanua Urongo tepian Danau Tondano. Sampai saat ini, 2 kekuatan tersebut sangat sinergis dalam ikut Membangun bangsa khususnya di Bumi Borneo dan Sulut. ‘’Dengan peringatan HUT ini, persatuan dan kesatuan BM dan Dayak dimantapkan,’’ tegas Malonda. Usai upacara dilanjutkan dengan aksi dana untuk disumbangkan bagi korban bencana di Sulut dan selanjutnya dilakukan rally show menuju Kota Manado. (FM)








