. FFI | Document | Artikel | Forum | Wiki | Glossary | Prophet Muhammad Illustrated

Ahmad Sumargono : Hapus Aliran Kepercayaan

Benturan dan bentrokan antara Islam dengan agama-agama dan peradaban lain di seluruh penjuru dunia.

Ahmad Sumargono : Hapus Aliran Kepercayaan

Postby Laurent » Wed Jan 02, 2008 5:41 am

Artikel ini sdh berusia 10 thn lebih tapi masih relevan dgn situasi saat ini . Tampaknya bahwa pd Penghujung Orde baru , telah tjd upaya penghancuran Aliran Kepercayaan.

Edisi 37/02 - 15/Nop/1997
Nasional

Wawancara Zahid Hussein:
Apakah dengan Membunuh Organisasi, Aliran Kepercayaan Akan Mati

--------------------------------------------------------------------------------

Sekelompok orang yang menamakan diri Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) Rabu, 5 November lalu, mendatangi gedung DPR-RI. Mereka meminta kepada MPR agar aliran kebatinan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dicabut dari GBHN 1998. Jika tidak, menurut KISDI, akan menimbulkan ekses buruk: masih banyak penganut aliran kepercayaan yang ngotot bertahan dan menolak kembali ke agamanya masing-masing. Pendeknya, KISDI khawatir aliran ini akan membentuk agama baru.

Tentu saja ini perkara sensitif bagi negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Tapi, benarkah para penghayat itu berniat mengembangkan alirannya menjaid semacam agama baru? Zahid Hussein, 73 tahun, Ketua Himpunan Penghayat Kepercayaan, mencoba menjelaskan permasalahan tersebut kepada Iwan Setiawan dari TEMPO Interaktif, lewat bincang-bincang, Jumat, 14 November lalu, di ruang kerjanya, Gedung Granadi, Kuningan, Jakarta.

Berikut petikannya.

--------------------------------------------------------------------------------

Aliran kepercayaan kembali diributkan KISDI di DPR, 5 November lalu. Apa tanggapan Anda?


Inilah repotnya, mereka yang meributkan kepercayaan kepada Tuhan biasanya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kepercayaan kepada Tuhan itu.
Apa yang dimaksud dengan aliran kepercayaan kepada Tuhan itu?


Kita harus memahami dulu apa itu kepercayaan kepada Tuhan YME, yaitu suatu keyakinan bahwa manusia dan dunia seisinya diciptakan oleh Tuhan. Karena itu kita wajib untuk selalu mempercayakan diri kita kepada Tuhan. Artinya, agar hidup kita selalu patuh kepada Tuhan. Jika kita tidak menyimpang dari aturan-aturan Tuhan, bisa dikatakan bahwa kita beriman kepada Tuhan.
Jadi kalau kita bicara tentang ketuhanan, yang kita bicarakan adalah masalah rohani bukan rasio. Jika kita memakai rasio, tidak akan ketemu. Biasanya ia akan membanding-bandingkan, agama yang satu dengan yang lain, misalnya. Karena rasio adalah alat untuk lahiriah, Tapi rohani adalah masalah gaib, seperti jiwa, batin atau nyawa. Jadi untuk dapat memahami masalah rohani harus juga memakai alat rohani, yaitu hati nurani.

Bukankah agama juga telah mengajarkan apa yang Anda ungkapkan itu?


Rasio itu mempunyai bentuk, rupa dan warna. Sedangkan rohani itu rasa, yang tidak berbentuk, berasa maupun berwarna. Percaya pada Tuhan YME itu karena kita menyadari bahwa manusia itu ciptaan Tuhan, dan akan kembali kepada Tuhan. Hidup itu cuma sementara, jadi kalau kita hidup, jangan hanya memburu materi semata. Materi adalah alat untuk kepentingan jasmani. Masalah rohani adalah masalah keimanan pada Tuhan YME.
Sejak kapan aliran kebatinan dan kepercayaan ini berada di Indonesia?


Sejak sebelum Indonesia merdeka, aliran kepercayaan telah tumbuh subur di Indonesia, bahkan sejak jaman kerajaan di abad pertengahan. Dari dokumen dapat diketahui bahwa sebelum agama-agama masuk ke Indonesia, masyarakat telah mengenal aliran kepercayaan. Tepatnya, kepercayaan terhadap Tuhan dimulai sejak manusia lahir di dunia. Ingat saja, kita kan tidak diajar oleh orang tua untuk bersedih.Secara alami saat sedih kita ingat Tuhan. Jadi sejak lahir, kepercayaan manusia terhadap Tuhan telah terbentuk.
Kenapa kini perhatian pemerintah terhadap aliran kepercayaan mulai berkurang?


Menurut saya, pasang surutnya perkembangan aliran kepercayaan adalah hal yang biasa dan alami. Tetapi memang akibat perkembangan zaman, masyarakat saat ini sebagian besar lebih mementingkan materi dari yang bersifat rohani.
Apa perbedaan pokok antara agama dengan penghayat kepercayaan?


Saya tidak membeda-bedakan agama dengan penghayat kepercayaan, tapi lebih ditekankan pada sisi keimanannya. Karena hal ini adalah masalah rohani. Jika kita hanya mencari perbedaan, cuma akan menimbulkan percekcokan. Jika dicari persamaannya akan timbul persatuan. Jadi kalau kita bahas kepercayaan Tuhan YME, akan terbukti bahwa kami juga mempercayai satu Tuhan. Di Indonesia bermacam agama bisa rukun, karena bertemu dalam keimanan kepada Tuhan. Saya sendiri Islam dan nenek moyang saya, kyai besar.
KISDI meminta agar aliran kepercayaan dicabut dari GBHN, karena khawatir akan menjadi semacam agama baru. Mungkinkah ini terjadi?


Lucu, kan? Mengapa mesti takut? Apa yang ditakutkan dan siapa yang mau bikin agama baru? Jangan-jangan yang merasa takut justru berniat mengembangkan agama baru. Penganut penghayat itu biasanya diam. Lihat saja yang terjadi di desa terpencil, banyak petani salat di pematang tanpa baju, berpuasa senin kamis, atau kadang semedi. Itu semua kan "laku", yang jika dihayati, akan ada artinya bagi rohani. Orang yang ramai meributkan kepercayaan kepada Tuhan, biasanya justru yang tidak menghayati keberadaan Tuhan.
Menurut KISDI, selama ini banyak penganut aliran kepercayaan yang menolak untuk kembali ke agamanya masing-masing. Benarkah?


Semua agama berkembang dengan baik di Indonesia, mulai dari Hindu, Budha, Islam, Katholik maupun Kristen. Bahkan ada yang khas dalam masyarakat kita, tidak sedikit keluarga yang orang tuanya Islam, bahkan seorang Haji, yang anaknya beragama lain, seperti Kristen atau Budha. Agama-agama itu dapat hidup berdampingan dengan baik, karena menyadari bahwa semuanya menuju Tuhan yang sama, keimanan yang sama.
Jadi aliran kepercayaan itu bukannya membuat orang lari dari agamanya, justru mereka semakin tekun beribadah.Ibaratnya, aliran kepercayaan memberi bekal orang beragama agar semakin dekat dengan Tuhan.

Lalu, apa persamaan agama dengan aliran kepercayaan?


Jika orang menjalankan ibadah agama dengan baik, artinya ia beriman kepada Tuhan. Sama dengan penghayat kepercayaan yang benar-benar menghayati keberadaan Tuhan. Jadi keimanan terhadap Tuhan inilah yang menjadi persamaan setiap orang beragama dengan seorang penghayat.
Agama sudah diatur dengan berbagai macam aturan. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sendiri bukanlah agama, tetapi dalam agama jika kita percaya pada Tuhan, disebut beriman. Dalam iman inilah terletak persamaan agama dan penghayat kepercayaan, bahwa mereka sama-sama mempercayai Tuhan. Tidak ada agama yang tidak mengakui bahwa Tuhan itu satu, Esa.

Apa yang Anda maksud dengan iman di sini?


Iman menyangkut keyakinan rohani, penghayatan akan keberadaan Tuhan. Jadi bukan ilmu pengetahuan yang dapat didefinisikan secara pasti.
Ada aliran kepercayaan yang mempunyai tata cara ritual khas. Bagaimana ini menurut Anda?


Memang dari sekian banyak aliran penghayat, ada yang masih melakukan tata cara khusus seperti itu, tetapi jumlahnya tidak banyak, sedikit. Jadi jangan, karena ulah sedikit orang saja, lantas seluruh penganut penghayat dicap sama, itu tidak adil. Sebagai perbandingan, lihat saja kejahatan yang banyak terjadi sekarang ini, semua pelaku kejahatan itu pasti beragama. Apakah dengan demikian ajaran agamanya salah? Tidak, yang salah adalah manusianya, begitu kan? Dan ada hukum yang berlaku, jika memang melanggar hukum ya ditindak saja.
Mengapa PPP lewat ketua FPP MPR, Yusuf Syakir, menolak pencantuman penghayat kepercayaan dalam GBHN?


Keputusan itu lebih bernuansa politik, dibandingkan rohani. Seperti anda tahu, PPP adalah partai politik, jadi jika mereka menolak pencantuman penghayat kepercayaan dalam GBHN, mereka mengambil keputusan itu dengan pertimbangan rasio, seperti untung-rugi, menang-kalah. Padahal masalah penghayat kepercayaan adalah masalah yang tidak cukup jika didekati dengan rasio saja. Karena tidak hanya menyangkut manusia, tetapi juga Tuhan, jadi juga harus memakai hati untuk mendekati masalah penghayat kepercayaan ini.
Bukankah dengan mencantumkan aliran kepercayaan ke dalam GBHN, maka mereka berlindung di balik legalitas GBHN?


Justru sebaliknya. Maksud pemerintah memberi wadah kepada aliran kepercayaan agar perkembangan kepercayaan itu dapat diketahui dan dikontrol. Karena kenyataannya, sejak dulu penghayat telah ada dan hidup dalam masyarakat. Di tahun 50-an, penghayat kepercayaan tidak diberi wadah atau perkumpulan, justru aliran sesat tidak dapat diketahui. Sehingga terjadi munculnya aliran sesat yang dipimpin mbah Suro di tahun 60-an.
Bagaimana perkembangan aliran kepercayaan setelah diberi tempat oleh pemerintah?


Pada tahun 1970, aliran penghayat kepercayaan dihimpun dan dibina oleh pemerintah. Jadi jika terjadi sesuatu yang kurang baik, ada yang bertanggung jawab. Penghayat ini berada di bawah departemen P & K, Direktorat Bina Hayat. Pada tahun 1970 dibentuk HPK (Himpunan Penghayat Kepercayaan) Saat itu jumlah perkumpulan penghayat kepercayaan ada 200 buah. Hingga saat ini jumlah penghayat kepercayaan ini ada jutaan.
Bagaimana jika penghayat kepercayaan tidak diberi tempat lagi oleh pemerintah, atau dicabut dari GBHN?


Jika Pemerintah menganggap bahwa penghayat tidak memerlukan wadah lagi dan dicabut, ya, kami juga akan mengikuti keputusan itu. Tetapi saya yakin bahwa bagaimanapun juga penghayat kepercayaan tetap akan hidup dalam masyarakat, walaupun tidak mempunyai wadah lagi. Terbukti bahwa penghayat kepercayaan mampu bertahan hidup sejak lama, pertanyaan saya adalah: Apakah dengan "membunuh" wadah atau organisasi, juga akan mampu membunuh aliran kepercayaan itu? Mungkinkah rasio mampu "membunuh" hati?

--------------------------------------------------------------------------------
Copyright © PDAT

http://www.tempointeraktif.com/ang/min/02/37/nas1_1.htm
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby Laurent » Wed Jan 02, 2008 5:42 am

Edisi 37/02 - 15/Nop/1997
Nasional

Wawancara HA. Sumargono:
"Aliran ini Akan Merongrong Kewibawaan Islam"

--------------------------------------------------------------------------------

Sekali lagi aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang populer dengan nama aliran kebatinan kembali dipersoalan di gedung DPR/MPR. Pasalnya, Fraksi Persatuan Pembangunan yang rajin menginterupsi aliran yang sudah tertera dalam GBHN sejak 1973 ini, mendapat dukungan dari Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI). Dukungan ini disampaikan berupa unjuk rasa pada hari Rabu, 5 Nopember pekan lalu, di gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta.

Langkah KISDI ini jelas mendukung FPP yang meminta kepada MPR supaya aliran kebatinan atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME) dikeluarkan dari GBHN 1998. Kabarnya permohonan ini disampaikan langsung oleh HA. Sumargono, pelaksana harian KISDI kepada anggota FPP MPR, Jusuf Syakir. "KISDI menyampaikan bahan tertulis kepada FPP MPR, isinya antara lain menjelaskan kepercayaan terhadap Tuhan YME bukanlah agama, dan perkembangannya jangan mengarah pada agama baru," kata alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

Lebih lanjut, ayah lima anak –yang rajin mengerahkan massa untuk berunjuk rasa dengan tema keagamaan-- ini menerangkan supaya pembinaan terhadap kelompok ini harus diarahkan pada pembinaan budi luhur bangsa. "Jangan karena faktor didukung dan dilegitimasi GBHN, maka aliran ini makin bertumbuh pesat. Saya khawatir banyak kompensasi yang akan diminta bila aliran ini masih dipertahankan di GBHN," kata orang Jawa Tengah ini.

Ditemui oleh TEMPO Interaktif dirumahnya, di kawasan jalan Kampung Rambutan, Jakarta, pada Kamis, 13 Nopember lalu, Sumargono bertutur panjang lebar mengenai keberatan KISDI terhadap aliran kepercayaan ini. Berikut petikannya :


--------------------------------------------------------------------------------

Apa latar belakang KISDI menolak aliran kepercayaan dikeluarkan dari GBHN?


Target KISDI selalu soal ideologis. Karena sejak masuknya aliran kepercayaan ke dalam GBHN di tahun 1973, tidak bisa dilepas begitu saja. Jelas ini menimbulkan satu kekhawatiran, sebab dengan masuknya aliran kepercayaan ini ke dalam GBHN menimbulkan komplain dari masyarakat yang mayoritas Islam. Mengapa demikian? Karena masyarakat yang dominan Islam dan awam jadi ikut-ikutan masuk aliran kepercayaan.
KISDI meminta mereka agar melakukan pembinaan penganut kepercayaan untuk kembali ke induk masing-masing. Berulang kali kami minta supaya ini dicabut dari GBHN yang memberikan legitimasi bagi aliran ini, tapi tetap saja hal itu tidak terjadi. Bahkan setelah 20 tahun berlalu, para penganut aliran kebatinan ini tetap ngotot bertahan dan menolak keras kembali kepada agamanya masing-masing. Karena itulah KISDI merasa perlu supaya dicabut dari GBHN yang jelas-jelas jadi kekuatan legitimasi aliran ini.

Apa bukti-bukti yang menunjukkan para penganut aliran kebatinan ini memanfaatkan legalitas GBHN?


Bukti-bukti itu ada. Selama ini peganut aliran kepercayaan memanfaatkan legalitas GBHN untuk memperkokoh posisi mereka. Memang benar mereka tidak membentuk agama baru. Akan tetapi mereka membentuk suatu sistim ritual, sistim sosial tersendiri seperti tata cara perkimpoian, tata cara permakaman jenazah, dan siaran kepercayaan di TVRI. Bukti mutakhirnya adanya sejumlah anggota MPR 1998-2003 yang menolak mengucapkan sumpah menurut agama. Akan tetapi hanya mengucapkan janji. Berarti di MPR saat ini ada orang-orang yang tidak beragama. Mereka jelas menolak disebut atheis. Tetapi mereka berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Bagaimana sebenarnya sejarah aliran kepercayaan itu lahir di Indonesia?


Sejak tumbangnya PKI tahun 1966, kelompok-kelompok komunis ini mencari payung untuk perlindungan. Mereka menggunakan alternatif berlindung di bawah pergerakan Islam, Kristen, dan sebagainya. Kemudian para penganut aliran kepercayaan ini memiliki semacam perasaan trauma dan dendam yang membuat mereka jadi atheis. Penyebabnya karena orang-orang komunis ini banyak yang dibunuh oleh orang Islam.
Dengan masuknya kaum komunis di kalangan organisasi formal seperti pergerakan Kristen, Islam, dan sebagainya, menimbulkan semangat baru tumbuhnya aliran kepercayaan atau kebatinan. Bahkan mereka bertumbuh sangat pesat setelah mendapat legitimasi dari GBHN dan para pejabat yang mendukungnya. Berkat legitimasi ini mereka semakin tumbuh besar. Apalagi didukung oleh sikap politik orang-orang seperti Ali Moertopo, Djatikusumo, Soedjono Humardhani pada tahun 1973.

Apa saja dahulu yang dilakukan oleh kelompok Ali Moertopo untuk memperkuat aliran kepercayaan diterima masyarakat Indonesia?


Waktu zamannya Ali Moertopo, jelas sekali permainan politik dan sikap keberpihakannya terhadap Islam. Apalagi dengan dimasukkan ke dalam GBHN hingga memungkinkan mereka mendominasi dan bisa mempersiapkan konsep draf. Misalnya, pelajaran-pelajaran agama diganti dengan Pendidikan Moral Pancasila. Anggaran belanja yang berkaitan dengan agama dikurangi dari 1 miliar diturunkan menjadi 800 juta. Itu bisa diotak-atik berkat masuknya aliran kepercayaan ke dalam GBHN.
Mengapa baru sekarang aliran kebatinan ini diributkan?


Siapa bilang? Sejak dulu umat Islam protes ke DPR, terutama FPP yang paling gencar. Ini terjadi di tahun 1983, 1988, dan 1993, mereka terus menerus menggugat aliran kepercayaan ini, dan terus-menerus juga kalah. Mungkin belajar dari kekalahan demi kekalahan itu, dalam Sidang Umum MPR kali ini PPP melunakkan sikapnya. PPP tidak menuntut aliran kepercayaan dikeluarkan dari GBHN, tapi hanya menuntut agar aliran kepercayaan dikeluarkan dari bidang agama dan dimasukkan ke budaya.
Mengapa tidak sekalian dimusnahkan?


Saya melihat ada catatan setelah umat Islam ikut menentang, sampai PPP juga walk out, maka tahun 1978 Pak Harto berpidato bahwa aliran kepercayaan itu bukan agama dan harus dikembalikan kepada pemeluk agamanya. Jangan sampai aliran kepercayaan ini menjerumus ke agama baru. Di situ baru umat Islam tenang, tetapi melihat perkembangannya, sejak tahun 1973 sampai sekarang, aliran kepercayaan bertumbuh subur, kami agak khawatir.

Memang dalam Islam sendiri ada aliran tasawuf dan sebagainya, itu tidak masalah. Tetapi sekarang tuntutan mereka setelah dua puluh tahun lebih dan berjumlah kurang lebih 246 aliran yang harus dibina makin berkembang. Tidak salah bila dimasukkan ke bagian budaya. Tujuannya biar itu menjadi kebudayaan, bukan sebagai bentuk agama baru atau aliran kepercayaan.
Apa sebenarnya yang dikhawatirkan umat Islam tentang aliran kepercayaan ini?


Ada dan bisa saja menimbulkan kekuatan politik. Dasarnya setiap keyakinan keagamaan tidak bisa lepas dari kekuatan politik. Dia harus memperjuangkan eksistensinya, karena itulah dia berpolitik. Bahkan di Kristen pun juga merupakan perjuangan politik. Bila traumatis terhadap komunis sudah hilang, maka mereka tidak mau lagi mengerjakan hal-hal yang menurutnya penting. Tetapi menggerakkan massa pendukungnya untuk tujuan politik dan merusak tatanan yang ada dengan kemauan mereka.
Apalagi orang yang anti agama, seperti Gumirat dan Susilowati. Lihat saja caranya memaksakan menikah tanpa agama. Begitu ditolak oleh Catatan Sipil karena tidak memeluk satu agama, lalu diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Di PTUN mereka menang dan ini akan menunjukkan kewibawaan hukum kita sudah amburadul. Secara tidak langsung sistim pernikahan macam begitu mengajarkan kita kumpul kebo dan zinah.

Bila mereka sudah menjurus ke sana, suatu saat ada kemungkinan besar dalam situasi politik yang benar-benar utuh, mereka akan tampil sebagai kekuatan politik. Dari sisi ini kami melihat sebagai perongrongan akidah agama. Sebab umat Islam yang awam melihat kebatinan ini yang sedemikian pesat, maka bukan tidak mungkin dari segi dakwah akan merekrut mereka.

Lihat saja paranormal-paranormal di mal-mal. Memang itu hak mereka, tapi sebagai orang Islam, kita punya kewajiban mencegah jangan sampai umat Islam ini jadi pengikut mereka. Apalagi dengan prosesi pemakaman yang mudah cukup di Catatan Sipil, ditolak di Catatan Sipil bisa menang di PTUN. Cukup dengan alasan adat, mereka bisa menikah. Kita sendiri punya kewajiban dan kepentingan untuk mencegah hal itu.

Bukankah sikap Anda hanya didukung FPP, sedangkan fraksi lain tidak meributkannya?


Karena suasana FKP dan FPP berbeda maka sikapnya pun juga berbeda. Kalau FKP heterogen, sikapnya jadi tidak jelas. FPP sikapnya jelas karena kami berjuangnya all out. Ini dilegalisir supaya kewibawaan hukum tidak terlantar. Agama Yahudi saja tidak kami akui, apalagi aliran kepercayaan.
Bukankah pengikut aliran kepercayaan ini banyak berasal dari orang yang mempunyai agama Islam, Kristen dan lainnya?


Itu benar. Bahkan dalam konstitusi GBHN disebutkan agar mereka dikembalikan ke agama asalnya. Saya cenderung mengatakan, okelah, itu keyakinan dan diyakini. Tetapi untuk mengikuti konstitusi, kita harus memilih salah satu agamanya: Islam, Kristen atau lainnya. Sebab di Catatan Sipil itu tidak boleh mereka mencatat tanpa agama dengan adat. Ini sudah memaksakan hukum. Apalagi kalau dia ngotot. Karena sudah keyakinan, jadinya bersikukuh. Sebab anggapannya, inilah agama saya. Bila dibiarkan kewibawaan hukum kita hancur, anarkis, maka akan jadi satu kekuatan politik.
Bukankah aliran kepercayaan ini sudah begitu lama mendapat tempat dari pemerintah?


Karena dia mendapat legalitas GBHN, makanya sampai ada perlakuan istimewa masuk di acara televisi. Masuknya aliran kepercayaan karena ada unsur politis yang ingin mengeliminir kekuatan Islam dengan konsep tadi. Pelajaran agama dikurangi, dan supaya tidak fanatik diganti dengan PMP. Buat saya sebagai orang Islam, aliran ini akan merongrong kewibawaan Islam, karena yang tersedot mayoritas masyarakat Islam. Sasaran mereka terutama orang Islam yang "awam." Mereka sangat menginginkan karena umat Islam tidak 90 persen proporsional. Dia jadi tidak awam lagi karena bergeser menjadi aliran kepercayaan dan tidak mau dicatat sebagai orang muslim.
Bukankah itu menunjukkan ajaran yang ditawarkan aliran kepercayaan punya nilai lebih?


Memang kondisi masyarakat Islam yang awam ini akhirnya jadi ikut-ikutan tertarik. Menarik karena ini pertarungan dakwah. Umat Islam tidak bisa merekrut yang awam, maka begitu awamnya jadi enak, terus saja ikut-ikutan. Filosofi dan konsep hidupnya jadi berbeda, dan mungkin itu yang ditawarkan.
Apa perbedaan mendasar antara aliran kepercayaan dengan agama Islam?


Berbeda jauh sekali. Umat Islam ajarannya tauhid dan tidak bergantung kepada siapa-siapa kecuali kepada Allah SWT. Islam selalu mengajarkan bergantung kepada sesuatu yang bukan Allah adalah syirik. Ini yang diterapkan oleh aliran kepercayaan dengan mempercayai keris, alat pusaka, percaya dukun dan sebagainya. Ini membuat mereka jadi animisme. Kalau dia belum Islam, silakan saja. Tetapi kewajiban kami bertarung dalam hak-hak asasi dan berikhtiar sebisa mungkin. Jika mereka masuk dengan jalur GBHN, kami tolak.
Apa yang akan Anda perbuat bila keinginan KISDI tidak terpenuhi?


Karena kami sudah melakukan sebisa mungkin, bila tidak bisa, ya, sudah. Yang penting kami sudah start dan berusaha sehingga tanggung jawab saya kepada Allah sudah selesai. Saya tidak memaksakan. Dakwah tidak ada paksaan tapi iklim kondusif harus kita jaga.
Aliran kepercayaan ini banyak diyakini oleh para pejabat kita?


Betul, memang banyak pejabat yang ikut mendukung aliran ini. Presiden Soeharto sendiri masih percaya hal begitu. Bedanya, Pak Harto tidak melepaskan agamanya. Di Islam sendiri sebetulnya banyak bentuk yang seperti itu misalkan zikir, tahlilan, puasa setiap Sabtu Pon. Itu tidak apa-apa, karena Pak Harto tidak melepaskan agamanya.
Mengapa kata aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus dihilangkan?


Di sini letak permasalahannya yang menimbulkan interpretasi. Bila kita melihat UUD 45 pasal 29, jelas aliran kepercayaan tidak ada di situ. Cuma ada kata-kata melaksanakan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing dan kepercayaannya itu. Jadi kita harus merujuk pada agama supaya penggunaannya tak dipenggal dengan kata kepercayaan. Maka ini diartikan oleh mereka sebagai legitimasi kebatinan.
Adakah bukti kuat jika mereka bisa menghalangi Islam?


Oh, bisa saja banyak pejabat yang menganut paham ini akan berkuasa dan mempengaruhi dengan policy-nya. Sebagai orang muslim yang yakin kepada keyakinannya, ya, harus berkiprah. Kita harus bersuara. Bila tidak, pola-pola dan influence-nya tidak mengacu secara Islami lagi. Hak saya menyatakan ini dan minta kepada DPR/MPR untuk memperhatikannya. Ini mengandung keyakinan dan tidak bisa begitu saja kita biarkan.
HP

Copyright © PDAT

http://www.tempointeraktif.com/ang/min/02/37/nas1_2.htm
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby Laurent » Wed Jan 02, 2008 5:44 am

Edisi 37/02 - 15/Nop/1997
Nasional


Sempalan di Atas Jagad Nusantara

--------------------------------------------------------------------------------
Di luar perseteruan KISDI dan Perhimpunan Penghayat Kepercayaan, ternyata tumbuh berbagai sempalan agama. Semuanya tumbuh dalam Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Mengapa mereka dilarang?
--------------------------------------------------------------------------------

Kontroversi pengakuan aliran kepercayaan dalam GBHN mencuat lagi, setelah dipicu protes KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam). Puluhan massa pendukung KISDI mendatangi FPP/MPR, 5 Nopember lalu. Mereka menuntut agar aliran kepercayaan dikeluarkan dari GBHN. Sebab kelompok ini dinilai telah memanfaatkan legalitas GBHN untuk memperkuat posisinya.

Selain itu, KISDI juga meneriakkan agar Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan (DPPK) yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dibubarkan dan pembinaan aliran kebatinan ini diserahkan kembali kepada induk agamanya. Protes itu disampaikan berkaitan dengan tengah dibahasnya naskah GBHN 1998 oleh MPR. "Keberadaan mereka jelas akan merongrong kewibawaan Islam," ujar Ketua Pelaksana Harian KISDI HA Sumargono, sengit. (lihat wawancara Sumargono: "Aliran ini Akan Merongrong Kewibawaan Islam").

Buktinya, menurut Soemargono, aliran kebatinan ini tetap bertahan dengan keyakinannya. Mereka menolak untuk kembali ke agamanya masing-masing. Bahkan mereka terang-terangan membentuk sistem sosial dan ritual tersendiri, seperti misalnya cara menikah, bersumpah, mengurus mayat dan lain-lain. Tapi tuntutan ini justru ditentang Zahid Hussein, Ketua Himpunan Penghayat Kepercayaan. Menggugat keberadaan mereka dalam GBHN, atau bahkan menumpas wadahnya, bukan berarti lantas melumpuhkan mereka—yang sudah tumbuh beratus tahun. (lihat wawancara Zahid Hussein "Apakah dengan Membunuh Organisasi, Aliran Kepercayaan Akan Mati?" )

Ketua FPP Yusuf Sayakir menambahkan, sebenarnya pihaknya telah berjuang untuk menolak masuknya aliran kebatinan dalam GBHN pada tahun 1978—dan fraksi ini paling ngotot memperjuangkannya sampai kini. Ini lantaran dampak negatif yang mereka rasakan dengan bertenggernya aliran itu sejak tahun 1973. Tapi gagal, dan aliran ini tetap melenggang didukung GBHN dan kebijakan pemerintah. Sampai kini mereka, selain diwadahi, juga bernaung dalam sebuah direktorat tersendiri dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI

Namun, yang menarik dicermati, bagaimana sesungguhnya kisah tumbuhnya aliran-aliran ini dalam agama?

Aliran dalam Islam:

Rasululalh pernah bersabda, suatu saat umatnya terbelah menjadi 73 firqah, alias golongan . Repotnya, umat Islam lalu berlomba membentuk dan membanggakan golongan yang paling benar. Bagi umat Islam, aliran kepercayaan bagai duri dalam daging. Sempalan-sempalan agama yang dianggap menyesatkan itu hidup subur dan beragam.

Aceh yang sering disebut Serambi Mekah, menjadi daerah paling rawan dan hampir tak pernah diam, dari hilir-mudiknya aliran sempalan. Aliran sesat Bantaqiyah, misalnya. Mereka diduga punya satu sambungan ajaran Hamzab Fansyuri yaitu ajaran Wujudiyah, yang sejak abad 16 merupakan aliran paling terkenal di daerah itu. Ajaran ini mengumbar tata cara ibadah mirip ajaran Syekh Siti Jenar yang menyebarkan fana fillah alias musnah dalam Allah dan Anal Haq atau Akulah Tuhan—ajaran yang digagas sufi kontroversial Al-Hallaj.

Sempalan lainnya, Pasukan Jubah Putih, menyerbu masjid Nurul Huda Meulaboh dan Sligi pada 1984. Ajaran serupa juga dilakoni oleh pasukan yang menamakan diri Gerakan Ma’rifatullah pimpinan Ilmas Lubis di Aceh Barat. Bersama sederet aliran lain, keduanya lantas dilarang.

Ketua Badan Koordinasi Penelitaan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor pakem) secara resmi meminta agar Kejaksan Tinggi Aceh membubarkan seluruh kegiatan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang menjurus ke jalur sesat. Pimpinan LDII nekad mengisolir pengikutnya dari umat Islam lain. Mulai dari sholat berjamaah dan berjabat tangan. Mereka bahkan beranggapan bahwa tempat duduk yang baru ditempati umat islam lainnya, dianggap haram tanpa disucikan dulu.

Pada tanggal 28 Januari 1983 Tarekat Saufiyah Sumaniyah yang konon warisan Syeikh Ibrahim Bonjol, diberangus. Aliran ini menganggap haji tidak wajib, cukup mensucikan diri.

Tak lama berselang, di Kuala Simpang tokoh bernama Abdul Majid Abdulah, bersama pengikutnya bersyiar menggegerkan: orang tua dan kakek Nabi Muhamad sebagai kelompok kafir yang kelak menjadi kerak neraka. Aliran ini, termasuk jenis non tarekat, mengharamkan surat yasin dan wirid. Sebaliknya persentuhan laki dan perempuan setelah wudu, dianggap sah-sah saja untuk menjalankan salat. Yang lebih aneh, daging anjing dihalalkan. Aliran yang dibabat tanggal 7 Pebruari 1983 ini memiliki kitab sendiri, bernama Subulus Salam.

Larangan juga berlaku bagi ajaran Ilman Lubis tahun 1982. Aliran sesat yang tumbuh di pulau Simeulu, Aceh Barat, menerangkan kiblatuliman terdiri kiblat tubuh, nyawa, hati, dan sirr. Bulan Juli 1978, dua aliran lagi di bumihanguskan di Aceh Tenggara. Ahmad Arifin sang pemimpin menganggap alam raya sudah ada sebelum Allah. Sebentar kemudian giliran pasukan pengikut Ma’rifatulah di Banda Aceh, dibekuk.

Di Jawa, Islam Jamaah dibubarkan pada 1971. Para bekas penganutnya lari ke Lemkari yang sebagian besar mengikuti ajaran Ubaidah. Pemimpin aliran ini. Pos terbesarnya ada di Jawa Timur, bercirikan mode celana ‘anti banjir’ dan mengharamkan bermakmum dengan orang di luar jamaah mereka.

Jakarta tak mau ketinggalan. Aliran Ingkar Sunah, yang melarang adzan, ini berhasil menyedot masa. Tapi, 30 September 1983, pengikutmya berhasil diringkus aparat. Sementara Teguh Esha, penulis novel Ali Topan Anak Jalanan, bereksperimen menciptakan tata cara sholat baru. Rekaatnya berjumlah 19 sehari. Dikemas dalam bacaan bahasa Indonesia, plus adegan silat. Teguh menyebut dirinya Rasul, dan berseru bahwa hadis itu dusta

Di Jawa Barat, tak kurang dari 120 aliran dilarang hidup. Di antaranya, yang tumbuh di bumi priangan Bandung, aliran Ahmadiyah, tamat pada tahun 1983. Ada pula segerombolan orang Sumedang yang nekad menyembah matahari. Yang terakhir, konon, punya kitab sendiri yang dibuat oleh penciptanya, Mai Kartawinata: Pedoman Baru Dasar Perjalanan, dan Budi Jaya, semuanya dalam bahasa Sunda. Kitab itu disusun dari kumpulan wangsit yang diperoleh saat bersemedi di Purwakarta.

Di Subang muncul aliran serupa. Lebih drastis lagi, ajaran ini menganggap Islam agama impor. Buat apa salat dan puasa yang bikin kurus? Di Garut muncul Ahmadiyah Qadian, yang dituding bertentangan dengan Islam, kemudian memicu munculnya Ahmadiyah baru, dengan embel-embel Lahore. Terakhir muncul tarekat Idrisiyah, yang mengajarkan zikir sampai pingsan. Menurut MUI, aliran-aliran itu di luar jamaah Islam.

Seseorang pimpinan aliran sesat juga muncul di Klaten, Jawa Tengah. Ki Kere Klaten, begitu ia menamakan dirinya. Tahun 1983, ia harus rela pasukannya dihantam pemerintah. Menyusul kemudian, golongan Islam Alim Andil pada 1981. Aliran Subud yang merupakan terusan ajaran mendiang Subud, juga dibredel tak lama kemudian.

Di Ranah Minang lahir aliran Jamiyatul Islamiyah. Pengikutnya mencapai 50 ribuan menyebar hingga ke Ambon. Aliran ini menyumpah jamaah dengan menginjak Alquran, menghilangkan kata Muhammad dalam syahadat sehingga artinya menjadi "akulah ini rasul". Sedang di Sulawesi Selatan, tiap musim haji sekolompok orang pergi ke gunung Bawakaraeng dan bertawaf mengelilingi tugu Beton Triagulasi yang dipancang oleh Belanda. Tahun 1987 angin topan dan banjir menghajar para haji itu : 13 orang tewas .

Beberapa aliran kepecayaan dan kebatinan, yang dilegalkan oleh GBHN, terhimpun dalam DPPK. Diantaranya Sumarah dengan kitab suci Sesanggaman, Pangestu dengan Pusaka Sasengko, Jati Kawruh Kasunyatan dengan Kawula Gusti Murid Sejati dan ajaran Ngesti Tunggal. Pangestu sendiri dilahirkan oleh R Soenarto Mertowerdojo tanggal 14 Februari 1932 dan resmi jadi organisasi pada 1949. Mereka merupakan aliran pertama yang punya organisasi di alam kemerdekaan Indonesia. Sedangkan aliran Sumarah, disebut bukan kepecayaan, tetapi paguyuban menuju ketentraman lahir batin. Aliran ini dikenalkan pertama kali oleh Raden Soekino Hartono.

Sebenarnya terdapat banyak persamaan dari aliran-aliran legal itu. Sebagai organisasi aliran, mereka lahir dari rintisan seseorang yang kelak menjadi sesepuhnya, yang akan membibing pengikutnya untuk tumbuh. Yang lebih penting adalah meyakini Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut DR.Kunto Wijoyo dosen Sejarah Fakultas Sastra UGM, munculnya berbagai aliran sesat disebabkan tipisnya keimanan seseorang, dan ketidaktahuan tentang agama yang benar.

Aliran dalam Agama Kristen:

Kebanyakan aliran dalam agama ini diimpor dari Amerika. Children of God adalah yang paling menggemparkan. Pasalnya istilah "kasih" diterjemahkan sebagai kebebasan seksual. Aliran ini disapu pada tanggal 12 Maret 1984. Sebelumnya Sidang Jemaat Kristus yang dikembangkan Raja Dame Sihotang dibredel tahun 1980. Di Jabar, Aliran Kepribadian diberangus pada 1972. Menyusul kemudian Aliran kepercayaan Manunggal dan ajaran Siswa Alkitab Saksi Yehova yang masing-masing tamat riwayatnya pada 31 Juli dan 7 Desember 1976. Madrais yang berpendapat agama tak lebih kuat dibanding kebatinan, turut dibabat.

Sementara di Jawa Barat berdiri Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU). Paguyuban yang dibentuk Djatikusumah 11 Juli 1981, ini menghendaki surat pernyatan keluar dari agama yang semula dianut bagi calon anggotanya. Ajarannya masih percaya Yesus tapi tidak terhadap gereja sebagai jalan.

Aliran dalam Agama Budha:

Yang paling terkenal aliran Nichiren Sosu Indonesia (NSI), dari Jepang, yang lantas menyerang seluruh sekte lain. Diresmikan oleh Alamsyah Ratu Prawiranegara, di Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat, akhirnya menjadi aliran legal. Sementara Budha Mahayana hasil kreasi Bikhu Surya Karma Chandra dilarang pada 21 Juli 1978 lantaran tidak mendapat dukungan masyarakat karena tidak menerima doktrin Ketuhanan Yang Maha Esa. Patung sesembahannya tak hanya satu patung Budha tapi juga diletakkan patung lain 10 kali lebih besar sebagai perlambang Awalokitesshwars alias Kwan In

Aliran dalam Agama Hindu:

Hare Khrisna, aliran yang mempunyai ajaran baik, tetapi dianggap lebih cocok untuk sanyasin yaitu yang sudah lepas dari keduniawian. Mereka banyak diprotes karena bermaksud meniadakan segala bentuk upacara keagamaan di Bali dan menimbulkan perpecahan di kalangan umat Hindu. Aliran ini cuma mengakui Khrisna sebagai Tuhan. Akhirnya dibekukan pada 1971.

Aliran Sadar Mapan tercipta pada bulan April1984, lantaran Hardjanto, pemimpinnya, dipecat dari Parisada Hindu. Pusatnya ada di Tengger, Jawa Timur, dengan penganut berjumlah kurang lebih satu juta orang.

AS

http://www.tempointeraktif.com/ang/min/02/37/nas1.htm

Mungkin Aliran Kepercayaab Sengaja tdk Diakui Agar Islam tetap mjd Mayoritas di indonesia
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby Laurent » Fri Jan 11, 2008 6:56 am

Takut ya , Islam tak jadi mayoritas jika agama2 Asli Indonesia diakui Keberadaannya ya
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby Adadeh » Fri Jan 11, 2008 7:00 am

Tidak sepenuhnya terjadi seperti itu setelah Orde Baru. Buktinya, Presiden Megawati malah menetapkan Kong Hu Cu sebagai agama resmi yang diakui Pemerintah. Jika Kong Hu Cu (bukan asli berasal dari Indonesia) bisa jadi agama resmi, mengapa aliran2 kepercayaan lain yang asli dari Indonesia tidak bisa diakui? Saya pikir ini tinggal tunggu waktu saja. Siapa tahu Presiden seperti Mega akan memimpin Indonesia lagi setelah SBY.
User avatar
Adadeh
Translator
 
Posts: 8460
Images: 414
Joined: Thu Oct 13, 2005 1:59 am

Postby Hand15 » Fri Jan 11, 2008 11:36 am

Saya lebih berharap Gus Dur jadi presiden (tapi kayaknya sih gak mungkin)
Hand15
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 382
Joined: Wed Oct 05, 2005 2:40 am

Postby johnlegend » Fri Jan 11, 2008 12:11 pm

jgn gus dur ah.. nanti golongan fpi mmi dll ngga bisa bergerak dengan bebas.. tar ngga ada kasus penutupan gereja..

kasih sekali lagi deh kasus2 kyk gini dalam 5taon mendatang.. gw yakin banget.. makin banyak yg eneg n murtad..
johnlegend
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2058
Joined: Fri Dec 21, 2007 2:14 am

Postby Laurent » Sun Jan 13, 2008 9:00 am

Adadeh wrote:Tidak sepenuhnya terjadi seperti itu setelah Orde Baru. Buktinya, Presiden Megawati malah menetapkan Kong Hu Cu sebagai agama resmi yang diakui Pemerintah. Jika Kong Hu Cu (bukan asli berasal dari Indonesia) bisa jadi agama resmi, mengapa aliran2 kepercayaan lain yang asli dari Indonesia tidak bisa diakui? Saya pikir ini tinggal tunggu waktu saja. Siapa tahu Presiden seperti Mega akan memimpin Indonesia lagi setelah SBY.


SKg MUi Bilangnya bikin Agama Baru aja, nggak usah2 bawa nama2 Islam spt kasus-nya Ahmadiyah, tetapi yg nggak ada kaitannya dgn Agama Islam tetap aja difatwa Sesat spt Kasusnya Dayak Segandu itu
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby Laurent » Wed Mar 05, 2008 7:56 am

Ini lagi salah satu Kelakuan Muslim Indonesia selain Pembakaran Gereja & Penyerangan Ahmadiyah. Tampaknya ini Ketakutan Muslim Radikal jika Aliran Kepercayaan Asli indonesia spt Kejawen, DayaK segandu, Parmalim, Alukta, Kaharingan, dll diakui keberadaanya oleh Pemerintah Indonesia, Islam tdk mjd Mayoritas lagi sebab Kemayoritasan Islam di indonesia justru berada di atas penderitaan para penganut Aliran Kepercayaan yg terpaksa mengaku sebagai Islam karena tdk boleh mencantumkan aliran kepercayaannya di kolom KTP
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Postby spongbob83 » Sat Mar 08, 2008 5:13 am

Islam KTP banyak tuh.....
sebenarnya kalo mo sensus nya lebih jelas kenapa islam di indonesia ga maju ya karena itu... ISLAM KTP.... emang kalian yang atheis di KTPnya ditulis apa hayoooooo........:lol:
spongbob83
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 41
Joined: Thu Mar 06, 2008 8:24 pm
Location: CenterMind

Postby somad » Sat Mar 08, 2008 5:22 am

spongbob83 wrote:Islam KTP banyak tuh.....
sebenarnya kalo mo sensus nya lebih jelas kenapa islam di indonesia ga maju ya karena itu... ISLAM KTP.... emang kalian yang atheis di KTPnya ditulis apa hayoooooo........:lol:

Anda ini ngomong apa?
Apa hubungannya kesemua itu dengan aliran kepercayaan?
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby spongbob83 » Sat Mar 08, 2008 5:34 am

ya pasti ada.... bukankah ktp ada kolom agama.... ya to.... islam, kristen,katolik,hindu,budha... kalo kepercayaan ... yang mana... wong kepercayaan jawa ama sunda beda... masak di ktpnya ditulis sama.. bener tuh... database agama di catatan sipil rubahlah dengan memasukkan semua aliran kepercayaan habis itu disensus lagi.. nanti akan dapat dihasilkan data agama penduduk indonesia yang valid... sehingga tidak ada lagi ISLAM KTP.... karena memang yang berbahaya adalah ISLAM KTP itu sendiri....
spongbob83
Pandangan Pertama
Pandangan Pertama
 
Posts: 41
Joined: Thu Mar 06, 2008 8:24 pm
Location: CenterMind

Postby somad » Sat Mar 08, 2008 9:15 am

spongbob83 wrote:ya pasti ada.... bukankah ktp ada kolom agama.... ya to.... islam, kristen,katolik,hindu,budha... kalo kepercayaan ... yang mana... wong kepercayaan jawa ama sunda beda... masak di ktpnya ditulis sama.. bener tuh... database agama di catatan sipil rubahlah dengan memasukkan semua aliran kepercayaan habis itu disensus lagi.. nanti akan dapat dihasilkan data agama penduduk indonesia yang valid... sehingga tidak ada lagi ISLAM KTP.... karena memang yang berbahaya adalah ISLAM KTP itu sendiri....

Anda menulis panjang lebar namun tetap tidak bisa dimengerti
APA HUBUNGANYA DENGAN PENGHAPUSAN ALIRAN KEPERCAYAAN
Seperti yang diminta oleh GOGON.
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby osho » Sat Mar 08, 2008 12:12 pm

seharusnya masalah intern sendiri yang harus dibina...
bila takut dan merasa banyak umat agama mereka yang lari ke aliran kepercayaan...
ini membuktikan bahwasannya pelajaran dari agama-agama yang mereka yakini itu belum mampu membina umat beragama mereka sendiri
kalau tak ampuh jangan salahkan mereka lari ke kepercayaan, kebathinan, dll.
sudah dikatakan
agamamu agamamu, agamaku agamaku...
User avatar
osho
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 2136
Joined: Fri Feb 02, 2007 8:29 am
Location: osho

Postby somad » Sat Mar 08, 2008 3:21 pm

pinginkaya wrote:seharusnya masalah intern sendiri yang harus dibina...
bila takut dan merasa banyak umat agama mereka yang lari ke aliran kepercayaan...
ini membuktikan bahwasannya pelajaran dari agama-agama yang mereka yakini itu belum mampu membina umat beragama mereka sendiri
kalau tak ampuh jangan salahkan mereka lari ke kepercayaan, kebathinan, dll.
sudah dikatakan
agamamu agamamu, agamaku agamaku...

I'm with you Pinginkaya
Jadi letaknya masalah bukan di Aliran Kepercayaan!
Paranoida intern yang belum tentu terbukti adalah biang keladinya
Kenapa mikirnya jadi pada terbalik yah?
User avatar
somad
Lupa Diri
Lupa Diri
 
Posts: 1026
Joined: Tue Sep 20, 2005 11:25 pm
Location: Indo

Postby openyourmind » Sat Mar 08, 2008 7:20 pm

bukankah islam itu selalu exclusive...I mean kebalikan pada umumnya.
User avatar
openyourmind
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 3051
Joined: Fri Oct 20, 2006 8:42 am

Postby Jeleme_Lengeh » Thu Apr 17, 2008 11:49 pm

Aliran kepercayaan yang minoritas ditakuti karena berpotensi untuk menggoyang agama mayoritas yang ada.
Jeleme_Lengeh
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 122
Joined: Fri Apr 04, 2008 10:24 pm

Postby Laurent » Wed Apr 30, 2008 8:36 am

osho wrote:seharusnya masalah intern sendiri yang harus dibina...
bila takut dan merasa banyak umat agama mereka yang lari ke aliran kepercayaan...
ini membuktikan bahwasannya pelajaran dari agama-agama yang mereka yakini itu belum mampu membina umat beragama mereka sendiri
kalau tak ampuh jangan salahkan mereka lari ke kepercayaan, kebathinan, dll.
sudah dikatakan
agamamu agamamu, agamaku agamaku...


Betul sekali, Lagi pula Indonesia yg berbhineka Tunggal Ika & multikultural mana mungkin 90% penduduknya beragama Islam. saya Rasa dr 90% , sebagian besar-nya terpaksa memeluk & bahkan mengaku sbg Islam krn Agama mereka tdk diakui oleh negara.
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Re:

Postby kirana zulfa » Fri Feb 24, 2012 6:03 pm

Laurent wrote:Ini lagi salah satu Kelakuan Muslim Indonesia selain Pembakaran Gereja & Penyerangan Ahmadiyah. Tampaknya ini Ketakutan Muslim Radikal jika Aliran Kepercayaan Asli indonesia spt Kejawen, DayaK segandu, Parmalim, Alukta, Kaharingan, dll diakui keberadaanya oleh Pemerintah Indonesia, Islam tdk mjd Mayoritas lagi sebab Kemayoritasan Islam di indonesia justru berada di atas penderitaan para penganut Aliran Kepercayaan yg terpaksa mengaku sebagai Islam karena tdk boleh mencantumkan aliran kepercayaannya di kolom KTP



Meskipun sekarang sudah ada UU Adminduk yang mengakomodasi kepentingan aliran kepercayaan, tapi di beberapa daerah masih sulit juga warga penghayat mengosongkan kolom agamanya.
kirana zulfa
Mulai Suka
Mulai Suka
 
Posts: 180
Joined: Tue Feb 22, 2011 6:30 pm
Location: Negri tandus bernama Saudi Arabia

Re: Ahmad Sumargono : Hapus Aliran Kepercayaan

Postby Laurent » Wed May 02, 2012 8:10 pm

Hamid Fahmy Zarkasyi: "Tuntutan Aliran Kepercayaan Memicu Chaos" .
Kamis, 31 Maret 2011 00:01 yudy . . Cyber Sabili-Jakarta. “Dikasih Hati Minta Ampela.” Itulah sikap aliran kepercayaan di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 150 paguyuban. Pasalnya, payung hukum berbentuk Peraturan Bersama Mendagri dan Menbudpar No 43–41 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelayanan Kepada Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, ditambah Peraturan Mendagri No 12 Tahun 2010 tentang Pedoman Pencatatan Perkawinan Di Negara Lain, masih dianggap kurang.

Padahal, kedua peraturan yang menjabarkan UU No 23 Tahun 2007 tentang Administrasi Kepedudukan ini, sudah mengakomodasi penganut aliran kepercayaan. Mulai dari legalitas lembaga, dibolehkannya mencantumkan identitas sebagai penganut kepercayaan di KTP, disahkannya tata cara perkawinan oleh Catatan Sipil, pelaksanaan ibadah, hingga penguburan yang mereka yakini. Tapi mereka tetap menuntut diakui sebagai agama tersendiri.

Kenapa mereka menuntut yang bukan haknya? Bukankah aliran kepercayaan hanyalah produk budaya bukan agama? Adakah komprador yang mengasong mereka? Jika ada, apa tujuan dan targetnya? Lantas, apa sikap umat Islam? Untuk menemukan jawabannya, Wartawan Sabili Dwi Hardianto mewawancarai Dr Hamid Fahmi Zarkasi, Direktur INSISTS yang juga Wakil Rektor Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor Ponorogo di Grand Alia Hotel, Jakarta, Kamis (27/1/2011). Berikut petikannya:

Apa yang melatari tuntutan bahwa aliran kepercayaan harus diakui sebagai agama?
Masalah ini harus dilihat dalam konteks isu kebebasan yang sedang dikembangkan Barat. Termasuk di dalam isu kebebasan adalah kebebasan memeluk agama apa pun, termasuk kebebasan untuk tidak beragama. Ide seperti ini ingin mereka terapkan di negara-negara Islam, termasuk Indonesia. Kita harus hati-hati, karena ide ini akan melemahkan agama-agama, bukan hanya Islam tapi juga agama lain. Jika diterapkan, setidaknya akan menimbulkan dua akibat.

Pertama, menyuburkan sikap apatis atau sikap fobia pada agama. Kedua, menyuburkan gerakan sempalan yaitu menyempal dari agama dan mendirikan agama baru. Efek selanjutnya, akan menyebabkan chaos dan kekacauan sosial di masyarakat. Sebab agama bukan lagi institusi yang berwibawa dan dihormati tapi sudah dipermainkan. Aliran sesat saja sudah membikin agama repot, apalagi ditambah aliran-aliran baru. Chaos inilah yang dikhawatirkan umat beragama. Ini bukan masalah kebebasan, tapi kebebasan yang menganggu ketentraman masyarakat. Ini yang menjadi masalah.

Kalangan liberal menyebutnya sebagai aliran (agama) lokal Indonesia?
Bahasa liberal memang itu atau disebut juga local wisdom (kebijakan lokal). Pertanyaannya, standar wisdom-nya dari mana, jika aliran kepercayaan itu meyempal dari suatu agama? Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana hubungan antara aliran-aliran kepercayaan dengan agama tsb jika ia dianggap menyimpang dari ajaran sebuah agama? apakah mengakuinya menjadi sebuah agama akan menyelesaikan masalah.

Kalangan liberal mengatakan sebuah aliran termasuk local wisdom atau bukan, standarnya juga bukan agama induknya, tapi kebudayaan setempat. Persoalannya, kebudayaan lokal itu juga tidak wise (tidak bijak), karena aliran itu adalah hasil manipulasi ajaran agama yang dicampur dengan kultur setempat. Akibatnya, tentu merusak ajaran agama aslinya (induknya). Apakah ini tidak termasuk penistaan agama. Contohnya adalah aliran Wektu Telu di NTB. Mereka menyebut dirinya “Islam Wektu Telu”, padahal, ajarannya jelas menyimpang dari Islam.

Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata mencatat, terdapat lebih dari 150 aliran kepercayaan di Indonesia. Bagaimana jika semuanya minta diakui sebagai agama?
Ini masalahnya. Secara teknis adiministrasi pemerintahan akan menimbulkan banyak masalah. Pasalnya, perlakuan negara terhadap agama-agama yang ada saja sangat terbatas, bagaimana mungkin pemerintah mengakui 150 lebih agama. Jika semuanya masuk di bawah Kementrian Agama, berapa banyak perangkat dan anggaran yang harus disiapkan untuk 200 an lebih agama. Apalgi jika masing-masing agama itu meminta rumah ibadah masing-masing dan meminta hari libur nasional pada setiap perayaan hari besar mereka.

Lebih serius lagi, ide ini akan menimbulkan chaos, kerusuhan sosial dan kultural di masyarakat. Jika misalnya agama yang diakui resmi itu mengajarkan tindakan a-moral seperti aliran Children of God tahun 80an, siapa yang akan menghakimi. Persoalan kerukunan antar umat beragama dan penistaan pada agama tertentu oleh sekelompok orang yang saat ini sedang terjadi, pemerintah tak sanggup menyelesaikannya. Contoh, persoalan Ahmadiyah dengan Islam, Kristen Katolik dan Protestan dengan Saksi Yehovah, sampai sekarang belum bisa dituntaskan. Padahal, persoalan keduanya hampir sama, Ahmadiyah dan Yehova sama-sama melakukan penistaan terhadap induk agama masing-masing. Ini saja sudah menjadi masalah, kenapa harus menambah masalah baru dengan mengakui ratusan aliran kepercayaan itu menjadi agama.

Apa inti ajaran aliran kepercayaan di Indonesia? Adakah kesamaan di antara mereka?

Tidak semuanya sama. Hanya saja intinya sama yaitu menyembah Tuhan. Tapi konsep Tuhan dalam aliran kepercayaan itu tidak jelas. Mulanya terpengaruh oleh ajaran para Sufi, tapi kemudian disalah fahami dan dicampur dengan kepercayaan lokal. Selain itu ada pula yang murni dari kepercayaan lokal pengaruh animisme dan dinamisme yang diangkat menjadi ritual-ritual khusus dan mendapatkan pengikut. Ini sebenarnya digolongkan sebagai religi yang merupakan cultural product dan bukan revealed religion (agama yang diwahyukan). Jadi aliran kepercayaan di Indonesia umumnya hanya campuran dari agama dan budaya. Jika aliran kepercayaan ini disejajarkan dengan agama-agama yang sudah umum dipeluk umat manusia di seluruh dunia, jelas tidak akan diterima. Aliran-aliran itu tidak layak disebut sebagai institusi agama. Sebab unsur-unsur dasar sebagai agama tidak selalu ada pada semua aliran itu.

Salah satu alasan mereka menuntut, karena Hindu, Budha, dan Konghucu tidak memiliki kriteria sebagai agama?

Pemerintah mengakui enam agama karena keenamnya diakui oleh dunia internasional. Paling tidak dalam studi agama-agama, Budhisme, Hinduisme, Konfucianisme, Kristen Katholik dan Protestan serta Islam diakui sebagai agama, sedangkan aliran-aliran kepercayaan sempalan dari berbagai agama tidak pernah dikaji sebagai agama. Maka aliran kepercayaan yang anggotanya hanya puluhan atau ratusan orang, berada di kota kecil di Pacitan atau di Banten misalnya, tidak dikenal secara nasional apalagi internasional, kemudian menuntut diakui sebagai agama, jelas tidak layak kriteria. Jadi, pengakuan negara terhadap enam agama yang ada dan hidup di Indonesia juga berdasar pada pengakuan masyarakat internasional. Maka dari itu pemerintah tidak perlu mengakomodasi aliran kepercayaan yang sangat lokal itu menjadi agama baru, hanya karena alasan kebebasan dan HAM. Yang lebih urgen untuk dipertimbangkan adalah konsekuensi sosial dan kultural yang bakal timbul jika aliran kepercayaan diakui sebagai agama.

Bukankah disebut agama jika memenuhi sejumlah kriteria?

Kriteria saja bisa dipenuhi. Tapi pengakuan masyarakat tidak memandang kriteria. Karena kriteria agama atau religion di dunia ini tidak pernah komprehensif. Jika definisi agama mengacu pada unsur-unsur yang sempurna seperti diciptakan oleh Tuhan (Allah), memiliki kitab suci, memiliki nabi, sistim teologi atau doktrin, syariah, dan seperangkat ritual lainnya, maka banyak agama yang tidak masuk. Sebaliknya, jika hanya mengacu pada definisi paling sederhana misalnya agama adalah kepecayaan pada yang kudus dan ghaib semua aliran bisa jadi agama. Tapi lagi-lagi pengakuan masyarakat tidak selalu dimiliki oleh semua aliran. Sementara, agama seperti Hindu, Budha, dan Konghucu (Tao) misalnya mungkin tidak memenuhi kriteria lengkap sebagai agama, tapi pengakuan masyarakat sangat besar. Jadi kriteria harus didukung oleh pengakuan masyarakat, bukan pemerintah. Tapi untuk menguji kelayakan aliran kepercayaan menjadi agama sangat sulit. Apa standar yang bisa diterima dan siapa yang menentukan itu tidak mudah.

Jadi, keputusan pemerintah menetapkan enam agama resmi, tepat?

Ini keputusan negara yang sangat bijak, sehingga tak perlu ditambah lagi. Sekali lagi saya katakan jika semua aliran kepercayaan diresmikan menjadi agama, secara teologis akan berhadapan dengan agama yang ada. Secara sosial-politik juga akan menganggu hubungan antar umat beragama, bahkan menimbulkan chaos di masyarakat.

Kementrian Budaya dan Pariwisata menyatakan, aliran kepercayaan adalah produk budaya bukan agama. Karena itu, pengelolaannya tidak di Kementrian Agama tapi di Kemenbudpar. Sudah tepat?
Sangat tepat. Karena memang aliran-aliran itu adalah produk budaya dan tidak bisa disejajarkan dengan agama. Maka dari itu mereka itu harus diperlakukan sebagai budaya dan bukan agama. Tapi masalahnya, kalangan liberal dan kelompok anti-agama selalu berusaha untuk menyamakan aliran kepercayaan dengan agama dan duduk sederajat dengan agama-agama lain di Kementrian Agama. Bahkan, mereka juga menuntut adanya lembaga perkawinan sendiri, penguburan sendiri, masuk dalam kurikulum pendidikan dari SD–SMA, tempat ibadah sendiri, dan fasilitas lain.

Sebenarnya, mereka tak memerlukan itu, karena tanpa disamakan dengan agama mereka telah dengan bebas menjalankan kepercayaan mereka selama ini. Diantara yang mereka jalankan selama ini adalah sama dengan ritual keagamaan. Jika mereka menuntut kuburan sendiri, lembaga perkawinan sendiri, termasuk identitas di KTP dan tanda pengenal lain justru menimbulkan masalah baru bagi mereka. Dengan identitas baru itu mereka justru akan menjadi ekslusif.

Siapa kira-kira yang mengusung ide aliran kepercayaan sebagai agama?
Yang sangat antusias mengusung local wisdom adalah kelompok liberal. Ide ini sejalan dengan arus globalisasi dan postmodernism. Tujuannya adalah untuk memarginalkan agama. Strateginya adalah dengan membuat pluralitas agama-agama di seluruh dunia. Metodanya dengan menghidupkan berbagai aliran kepercayaan lokal di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia dan mengakui semuanya benar. Jika agama menjadi banyak, maka semua agama adalah sumber kebenaran-kebenaran. Jika kebenaran jumlahnya banyak, maka tidak ada yang bisa mengklaim sebagai pemegang kebenaran. Itulah tujuan pluralisme agama, kebenaran ada di mana-mana. Caranya dengan menciptakan pluralitas terlebih dulu, baru kemudian dijustifikasi sebagai pluralisme. Jadi, tren post modern adalah relativism, equality (persamaan), nihilism, dan religious pluralism (pluralisme agama). Konsep-konsep ini, secara teoritis sudah mereka ciptakan dan secara Sosiologis juga sudah digembar-gemborkan di mana-mana.

Padahal konsep mereka sebenarnya tidak jelas?

Betul. Misalnya, apakah pluralism itu relativism atau toleransi? Terkadang seperti toleransi dan terkadang seperti relativisme. Mereka menuntut kita agar toleran pada keberadaan mereka, tapi disaat lain mereka agar kita juga toleran terhadap kebenaran yang dipercaya orang lain. Berarti kita diminta mengakui kebenaran versi mereka. Ini yang menjadi masalah, karena termasuk dalam relativism (tidak ada kebenaran). Jika hanya toleran tentang keberadaan mereka di lingkungan kita, bagi umat Islam tidak ada masalah. Tapi kalau harus mengakui kebenaran agama lain itu bukan Islam saja yang menolak, semua agama pasti menolak. Padahal Indonesia adalah negara paling toleran di banding Barat.

Saya sudah ke beberapa negara Eropah, mereka mengatakan toleransi agama di Indonesia tak didapatkan di negara Eropah manapun. Umat Islam Indonesia juga cukup pluralis dalam arti toleran. Sedangkan orang Barat umumnya tidak tahan hidup bersama orang Muslim. Bunyi azan saja di Barat diharamkan, apalagi tablig akbar di stadion. Di Indonesia, natal bersama secara nasional adalah anugerah toleransi umat Islam, yang di Barat hanya mimpi. Umat Islam bukan hanya biasa dan tahan hidup berdampingan dengan non Muslim, tapi juga memberi kebebasan kepada mereka untuk hidup menjalankan agama mereka. Jadi, toleransi seperti apa lagi yang diinginkan Barat di Indonesia?

Apa kepentingan kalangan liberal mengangkat isu ini?

Kepentingannya adalah untuk memarginalkan agama-agama. Mengangkat aliran kepercayaan menjadi agama adalah menciptakan pluralitas institusi agama. Targetnya, menciptakan sebanyak-banyaknya kebenaran agama, termasuk kebenaran lokal. Sehingga, yang benar tidak hanya agama resmi yang diakui pemerintah. Jika ini diakui negara, setiap orang bebas mempunyai kepercayaan sesuai keyakinannya di daerah masing-masing. Akhirnya, tidak ada lagi agama dan kepercayaan yang dominan, serta tidak ada mayoritas yang kata mereka menekan minoritas.

Target lanjutnya, semua orang sama. Inilah yang disebut nihilism. Nihil dari agama, kebenaran, dan nilai. Sehingga, tidak ada kebenaran di dunia ini, karena kebenaran versi Barat adalah tidak ada kebenaran. Inilah gagasan akhir dari post modernisme. Ide ini sangat efektif untuk menekan apa yang oleh mereka disebut sebagai fundamentalism. Mereka menganggap, fundamentalism itu ekslusif, tidak ada yang benar kecuali dirinya sendiri. Dengan adanya pluralisme mereka berharap tidak akan ada lagi orang yang bisa mengklaim bahwa dirinya yang paling benar, karena semuanya benar.

Apakah orientalis ikut bermain?
Ada temuan baru dari kajian di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ternyata, munculnya aliran kepercayaan di Indonesia, khususnya di Jawa tidak lepas dari pengaruh dari kolonial Belanda. Kajian ini menemukan fakta bahwa pengarang Kitab Dharma Gandul (salah satu kitab rujukan penganut aliran kepercayaan) itu tidak jelas. Ketika ditelusuri, ada fakta yang menunjukkan bahwa kitab ini dibuat oleh kalangan orientalis yang datang bersama Belanda. Tujuannya, agar orang Jawa memiliki rujukan kepercayaan yang menyimpang dari Islam. Kemudian, ajaran ini dihidupkan menjadi aliran kepercayaan yang berasal dari orang Jawa.

Bagi umat Islam, apakah ini menunjukkan kegagalan dakwah?
Bukan kegagalan, tapi ketidaksempurnaan dalam menjalankan dakwah. Sejarahnya, ketika Islam masuk ke Indonesia berawal dari fiqih. Yang penting orang memeluk Islam terlebih dulu, dengan hanya menjalankan shalat atau ritual lain di dalam Islam. Tapi, konsep ketuhanannya masih bercampur dengan pemahaman animisme dan dinamisme. Oleh dai-dai kita, kondisi ini dibiarkan, mungkin mereka sadar bahwa yang penting Islam dulu, baru kemudian iman.

Pada periode dakwah selanjutnya Islam disebarkan oleh para penganut sufi (tasawuf). Para penganut sufi ini mengajarkan konsep Tuhan pada orang-orang yang masuk Islam sebatas menjalankan ibadah. Konsep Tuhan kalangan Sufi ini seringkali difahami secara salah oleh mereka. Mungkin karena wacana kamu Sufi tentang Tuhan terlalu canggih bagi orang-orang Melayu yang awam, sementara kepercayaan mereka pada mitologi masih cukup kuat. Akibatnya pemahaman masyarakat menjadi salah. Jadi, kalangan sufi tidak salah dalam membawa konsep Tuhan ke Indonesia, tapi penerimaannya yang salah. Konsep wahdatul wujud misalnya, difahami sebagai Manunggaling Kawula Gusti (Menyatunya Tuhan dan Hamba) atau disebut aliran ittihad. Padahal konsepnya tidak begitu. Jadi, ada dua sebab mengapa muncul banyak aliran kepercayaan di Indonesia. Pertama, ketidaksempurnaan dakwah Islam pada awal penyebaran di Indonesia, khususnya di Jawa. Kedua, kuatnya kultur Jawa yang tetap bertahan di dalam pikiran sebagian masyarakat Jawa.

Apa sikap umat Islam menyikapi tuntutan aliran kepercayaan ini?
Umat Islam tidak perlu menanggapi dengan gerakan massif, cukup persuasive saja. Dalam konteks dakwah, kita harus meningkatkannya di pedesaan dan daerah terpencil, karena aliran kepercayaan akan hilang sendiri dengan pendidikan yang benar dan terstruktur. Katakanlah, orang tua mereka penganut aliran kepercayaan, ketika anaknya berpendidikan, apalagi masuk pesantren, insya Allah anak ini tidak mengikuti ajaran yang dianut orang tuanya.

Yang dikhawatirkan, legalisasi pemerintah seperti sekarang ini justru memberikan peluang aktivitas dan kebangkitan mereka. Padahal, selama ini aktivitas mereka nyaris tak terdengar lagi. Jumlah pengikutnya juga tinggal sedikit. Tapi ketika dilegalkan dan diberi tempat, akan muncul unsur-unsur luar yang bermain di wilayah ini. Kelompok ini akan terus membesar-besarkannya hingga terjadi terjadi konflik horisontal di masyarakat.

Bagaimana metoda dakwah yang tepat bagi penganut kepercayaan?

Metode dakwah untuk penganut aliran kepercayaan adalah pendekatan teologis (tauhid), bukan syariat. Pasalnya, penganut aliran kepercayaan sangat konsen pada masalah ketuhanan. Bagi mereka, syariat itu tidak ada artinya tanpa hakikat. Para dai harus masuk ke dalam konsep hakikat itu. Karenanya, dai kita harus cerdas dan menguasai materi-materi teologi. Kita kenalkan konsep Tuhan dalam Islam agar akidah mereka lurus. Jika sejak awal kita kedepankan syariah, fiqih, dan simbol Islam, seperti jilbab, pakaian Muslimah, dan lainnya itu bagus, tapi tidak semua orang siap dengan cara begitu. Akan lebih mendasar jika dakwah pada mereka itu mengedepankan konsep tauhid dalam bahasa yang sederhana hingga yang sangat filosofis. Sebab wacana kalangan aliran kepercayaan adalah ketuhanan. Oleh sebab itu para dai harus memiliki konsep yang mengungguli mereka. Insya Allah, lama-lama mereka luluh juga.

Data Pribadi:
Nama : Hamid Fahmy Zarkasyi

Lahir : Gontor Ponorogo, 13 September 1958

Jabatan : Rektor Universitas Cordova Sumbawa Barat, Pembantu Rektor III ISID Gontor.

Pendidikan :1) Kulliyat al-Mu’allimin Al-Islamiyah, Pondok Modern Gontor, 1977. 2) Bachelor of Art, Fakulti Tarbiyah Institut Pendidikan Darussalam, Pondok Modern Gontor, 1982. 3) Master of Art in Education, (MAEd) Institute of Education and Research, University of the Punjab Pakistan, 1986. 4) Master of Philosophy (M Phil), Faculty of Theology, The University of Birmingham, United Kingdom, 1998. 5) PhD Di ISTAC-IIUM, Kuala Lumpur, Malaysia, 2006.

Aktivitas: 1) Dosen pada Institut Pendidikan Darussalam, Pondok Modern Gontor, 1988-sekarang. 2) Pembantu Rektor III, Institut Studi Islam Darussalam, 1990-1996; 2006-sekarang. 3) Pengurus Pusat Jaringan Informasi Pengkajian Islam (JIPI). 4) Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Jakarta Indonesia. 5)Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA. 6) Direktur CIOS (Center for Islamic and Occidental Studies) ISID Gontor. 7) Ketua Program Kaderisasi Ulama (PKU) ISID-Pondok Modern Gontor-MUI. 8) Direktur Program Pascasarjana ISID Gontor.

1.1.2.3.4.

http://www.sabili.co.id/wawancara/hamid ... micu-chaos
Laurent
Kecanduan
Kecanduan
 
Posts: 5656
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am

Next

Return to Islam vs Agama & Peradaban Lain



 


  • Related topics
    Replies
    Views
    Last post

Who is online

Users browsing this forum: No registered users